I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 55



Mentari pagi menerobos masuk melalui celah gorden lipat di dalam ruangan Juleha yang mendapatkan kunjungan rutin dokter yang menanganinya. Program untuk mematikan sel kanker yang bersarang di rahimnya sudah mendapatkan treatment akhir.


Kondisi Juleha semakin menunjukkan perubahan signifikan, walaupun pada intinya kanker bisa saja sewaktu-waktu menjalar kembali dan menyerang pada sisi lain organ tubuh manusia.


Wajah pucat Juleha berangsur menjadi segar walaupun tidak dipungkiri bahwa rasa sakit itu terkadang datang menyerangnya, "Dokter, apakah jadwal kepulangan saya ke Indonesia sudah dekat?"


"Nyonya Juleha, saya akan melakukan konsultasi dengan ahli onkologi di rumah sakit asal anda yang menangani anda sebelumnya di Indonesia untuk perawatan lanjutan sekembali anda ke Indonesia. Untuk selanjutnya, kami akan menghubungi team pendamping anda untuk kepulangan anda ke Indonesia." Dokter ahli Onkologi itu menjelaskan dengan cara simple kepada Juleha.


Juleha tersenyum lega mendapatkan jawaban itu. Dalam pemikirannya hanya ingin segera pulang ke tanah air dan menyelesaikan segala permasalahannya dengan John Norman dan keluarga Palupi yang sesungguhnya.


'Riris anakku, apa yang kau lakukan saat ini nak? Seharusnya sejak awal kamu tahu siapa Palupi yang sebenarnya. Ibu berharap seharusnya kamu tidak melakukan perbuatan hina seperti yang ibu lakukan selama hidup ini nak, walau kini semua sudah terlambat.' Batin Juleha menyesali perbuatannya.


'Semoga waktuku masih panjang, dan diberi kesempatan untuk menimang cucu, anak darimu Riris' batin Juleha menari-nari, lamunan tentang masa depan Riris yang tidak menentu. Hingga mata sayu Juleha terlelap kembali karena pengaruh obat yang beberapa menit lalu ia konsumsi.


Layar CCTV selalu aktif di ruang rawat Juleha. Dr Frans sejak beberapa menit lalu mengawasi setiap pergerakan Juleha dari ruang kerjanya. Ia menatap schedule tugas yang berada di map di atas meja kerjanya, lalu mengambil ponsel miliknya dan menelepon sahabatnya.


Dokter Anita yang sedang memeriksa pasien dikejutkan oleh suara deringan ponselnya, namun memeriksa pasien adalah tugas utamanya. Selesai memeriksa pasien, Dokter Anita segera mengangkat telponnya setelah terbaca nama Dokter Frans yang menelponnya. Panjang lebar sahabatnya itu menjelaskan progres pengobatan nyonya Juleha. Dokter Frans menawarkan diri untuk mendampingi nyonya Juleha kembali ke Indonesia, karena dokter Frans akan menghadiri seminar di rumah sakit di kota S.


Kata sepakat telah didapat, Dokter Frans akan mengawal nyonya Juleha kembali ke Indonesia dengan biaya perjalanan ditanggung John Norman. Setidaknya ada penghematan biaya perjalanan. Percakapan keduanya berakhir dengan masuknya pesien berikutnya untuk diperiksa Dokter Anita.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Ray datang ke villa, karena akan menyiapkan proses pengambilan tas milik Anthony yang disembunyikan Juleha. Kedatangan Ray disambut Palupi dan mengajak Ray sarapan bersama keluarganya. Nyonya Anne dan Beldiq sudah duduk di ruang makan, mereka mempersilakan Ray duduk dan makan bersama. Ray tersenyum melihat hidangan yang tersaji di meja makan. "Gak salah nih, kita makan soto ayam?" Tanya Ray yang dijawab dengan senyum lebar Merry. "Tenang Tuan Ray, justru Nona Gulizar ingin memperkenalkan ragam sarapan ala Indonesia." Jawab Merry sambil terkikik.


Merry kemudian meracik soto di mangkok sambil menjelaskan isi dari mangkok tersebut. Beldiq diminta mencicipi kuah soto untuk memastikan suka atau tidak dengan kuah bening yang kaya aroma rempah. "Wow, this is delicious. I like it." Komentar Beldiq.


"Hati-hati Mer, wong bule ora doyan sambel." Celetuk Ray yang disambut tawa Palupi. Acara sarapan berlangsung dengan gembira penuh canda yang membuat wajah Palupi berseri-seri.


Selesai sarapan, Palupi membantu Merry membereskan meja makan. Sementara itu Anne dan Beldiq mengajak Ray ke ruang kerja milik John. Mereka berbincang tentang strategi pengambilan tas milik Anthony.


Di dapur, Palupi membantu Merry menyiapkan camilan dan teh untuk mereka yang sedang berdiskusi di ruang kerja. Dengan trampil tangan berjari lentik itu menyiapkan semua keperluan untuk membuat pisang goreng bakwan jagung untuk teman ngeteh. "Non, biar saya saja yang bikin bakwannya. Nona sekarang duduk saja ya." Ujar Merry setelah selesai mencuci piring dan perabotan dapur.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba terdengar dering ponsel Palupi. Bergegas Palupi melihat nama dan wajah yang muncul di layar ponselnya. "Good morning baby." Sapa si penelepon. "Kemana aja? Dah seminggu gak ada khabar?" Jawab Palupi dengan cemberut. "Maafkan aku yang sibuk dan baru sempat nelpon." Sambil senyum melihat wajah yang tak ramah gadis pujaannya. "Ayolah baby, senyum dulu dong, nanti hilang lho cantiknya." Goda John lewat video call, dengan memainkan alisnya. Dan tiba-tiba layar ponsel Palupi mati kehabisan daya.


Tak lama kemudian telepon rumah berdering. Merry mematikan kompor dan setengah berlari meraih gagang telepon. "Selamat pagi. Kediaman Tuan Norman di sini." Sapa Merry yang mendengarkan suara dari seberang. Tak lama kemudian meletakkan gagang di samping pesawat telepon dan memanggil Palupi. "Dari siapa? Kok jam segini ada yang nelpon pakai telepon rumah." Tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Iya, halo. Siapa ya?" Palupi agak bingung karena si penelepon tak langsung menjawab, justru terdengar suara musik mengalun. Palupi diam dan mendengarkan lagu yang disetel lawan bicaranya hingga selesai. Palupi tahu bahwa yang meneleponnya adalah John. Tak lama lagi berhenti. "John, kalau gak mau bicara kututup nih." Ancam Palupi. "Wait, honey. Kenapa tadi tiba-tiba kauputus videonya?" Tanya John setengah jengkel. "Tadi lowbat loh, terus mati, maaf ya." Percakapan mereka berlangsung 15 menit. Wajah Palupi merona setelah meletakkan gagang telepon di tempatnya.


Ponsel Ray tiba-tiba berdering. Mengejutkan ketiga orang yang sedang bincang serius di ruang kerja. "Yes cinta, ada apa?" Tanya Ray kepada istrinya. "Mas, apa Nyonya Anne ada di dekatmu?" Tanya Dokter Anita lebih lanjut. "Iya sayang, kamu masih ngobrol membahas rencana berikutnya." Nyonya Anne dan Beldiq hanya senyum-senyum mendengar interaksi sahabat adiknya itu. "Tolong nyalakan speakernya, aku mau kasih berita gembira buat Nyonya Anne.


Tak lama terdengar suara Dokter Anita, "Selamat pagi Nyonya Anne. Besok lusa Nyonya Juleha akan kembali ke Indonesia. Dia akan dikawal oleh sahabat saya, Dokter Frans yang kebetulan akan ke kota S menghadiri konferensi medis di rumah sakit tempat Nyonya Juleha dirawat." Ketiganya tersenyum lebar mendengar penjelasan Dokter Anita.


"Wow, as soon as possible." Sahut Beldiq mendengar penuturan Dokter Anita. "Baiklah sayang, tentunya pihak rumah sakit sudah menyiapkan penjemputan bukan?" Jawab Ray kepada isterinya. "Itu sudah pasti. Baiklah, bye semua." Dokter Anita langsung mematikan sambungan telponnya, karena harus memeriksa pasien rawat inap yang jadi tanggung jawabnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di tempat berbeda, Riris mengemudikan mobilnya dengan santai. Tiba-tiba matanya menangkap Tomo yang sedang membonceng seorang wanita dari arah berlawanan. Riris yang masih terganggu emosinya sejak kemarin sore oleh ulah petugas PLN, sontak dia mencari arah putar balik untuk mengejar Tomo. Tak lama setelah memutar balik, Riris tancap gas mengejar Tomo yang ternyata gagal ditemukannya. Riris meminggirkan mobilnya sambil memukul setirnya karena jengkel.


TBC ๐Ÿ˜‰


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐Ÿ˜‰, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐Ÿ‘.


Salam Sayang Selalu By; RR ๐Ÿ˜˜