
"Dik... tunggu... Eh... kok bisa kita ketemu di sini, kamu makin cantik saja dik. Ibu merindukanmu kapan kamu pulang dik?" Suara cempreng dan gaya tubuh yang meliuk-liuk bagaikan uler keket khas Riris menyapa Palupi dan Liana yang dibikin seakrab mungkin.
Liana terbengong menyaksikan pemandangan yang ada di depannya. Perempuan bar-bar seperti Riris bisa berubah semanis ini? Aneh sekali, walaupun terasa asing di matanya namun ia berusaha menepis rasa benci itu jauh-jauh.
"Apa maumu nona? Jangan mencari gara-gara ataupun berbuat onar di sini, karena aku sedang tidak mood dan tak sedikit pun ingin berdebat denganmu." Suara lirih Liana membuat Tomo menggenggam tangan Riris, sebagai isyarat untuk menyingkir saja.
"Oh... sist..., sudah lupa ya? Saya Riris, mbaknya Palupi tentu sudah kenal, kan? Bukannya tempo hari kita pernah hampir saja saling tonjok? He he he... tapi yang lalu biarlah berlalu, kita baikan ya." Riris sendiri berbicara dengan senyum melebar, sambil mengulurkan tangannya.
Mendapati sikap Riris yang cengengesan, membuat Liana geram dan membentak Riris.
"Jangan memancing kemarahanku ya! Sebaiknya kamu enyah dari hadapanku. Sebab, sewaktu-waktu aku bisa berubah pikiran, dan tak segan-segan aku akan melakukan sesuatu padamu." Bentak Liana yang berusaha meredam kemarahan yang menyelimuti hatinya, saat teringat kejadian tempo dulu.
"Liana, sudahlah! Jangan kau tanggapi, dan jangan bikin kegaduhan! Bisa jadi mommyku masih di sekitar sini." Palupi mencoba mencairkan suasana.
"Dih kakak cantik, saya tidak akan membuat kemarahan kakak, loh..." Riris menowel lengan Liana dengan jahil, sedangkan Liana berusaha untuk tidak meladeni Riris.
"Palupi pulanglah, ibu sudah ada di rumah dan kami selalu merindukan kehadiranmu di tengah-tengah kami." Sekali lagi Riris berusaha mencari celah untuk menjadi akrab dengan Palupi. "Sudahlah, aku minta maaf atas semua perbuatan dan kelakuanku selama ini, jadi kamu mau ya berbaikan dengan dengan Mbak?"
Tomo yang dari tadi mengekor di belakang Riris, hanya menatap tak berkedip ke arah Palupi bergantian ke arah Liana 'oh... sempurna ciptaan-Mu Tuhan...' batin Tomo melawan rasa mesumnya kepada dua wanita di depannya saat ini.
Liana yang tidak sabar dengan sikap Palupi yang lemah dengan ucapan manis Riris, segera menarik tangan Palupi mengajaknya berjalan ke mobil yang ada di parkiran. Mereka segera pergi meninggalkan Riris di tempat itu, tanpa menghiraukan ucapan lawan bicaranya.
"Huh...dasar wanita jadi-jadian, pingin aku santet saja dia biar tahu rasa. Huhh, jadi orang kok sok banget ish... Sebel,"
"Aakhh...sudah, sudah! Aku aku juga sudah bilang kamu itu cari penyakit saja. Kalau begini caranya orang tidak akan simpati padamu Ris," sungut Tomo sambil melangkah meninggalkan Riris yang mematung sendiri sambil berkacak pinggang menatap kepergian Palupi.
"Liana... Mbak Riris sepertinya sudah berubah dech. Aku kasihan kepadanya. Bagaimana kalau suatu hari kita bertandang ke rumah ibu, apa kau setuju?"
"No my dear... Orang seperti Riris itu termasuk tipe orang yang mempunyai kebiasaan buruk. Dan itu akan sulit kembali menjadi baik, tidak mudah. Menjadikan orang jahat jadi orang baik itu bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Jadi, manusia yang berwatak buruk tidak mudah dilawan dengan ucapan saja. Mulai sekarang kamu harus bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk." Liana menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Palupi.
"Ingat...! Semua tidak instan, dan itu semua memerlukan proses. Begitupun dengan perubahan sikap dan sifat seseorang, berubah itu tidak mudah. Ingat itu!"
Palupi berjalan di samping Liana sambil sesekali melihat ke belakang, lalu menundukkan kepalanya menahan air mata yang sudah susah ia bendung. "Aakhh .. rumit, aku benci situasi ini."
"Sudah, sudah... Lupakan kejadian yang baru saja terjadi. Kalau ada waktu kita pergi ke tempat nyonya Juleha, gimana, hmm?" Liana membuka sedikit peluang untuk membuat reda kegundahan hati Palupi karena sikap Riris yang baru saja ia lihat.
Sementara itu Riris sibuk dengan dering ponselnya, suara Bambang dari seberang telepon. "Iya Oom, apa khabar? Sudah pulang dari luar negeri? Dibawain oleh-oleh nggak Oom? Jawaban manja Riris membuat Bambang tersanjung.
Riris yang sedang bertelepon ria terlonjak kaget dan menjatuhkan ponselnya ketika suara klakson mobil dengan tiba-tiba mengejutkannya dari samping tempat dia berdiri. Liana tertawa ngakak dibalik setir saat melihat kejadian yang dianggapnya lucu. Mau tak mau Palupi ikut tertawa melihat keusilan Liana mengganggu Riris.
"Kurang ajar!" Teriak Riris dan buru-buru mengambil ponselnya yang terjatuh. "Ada apa?" Teriak Bambang karena tiba-tiba hilang komunikasi, padahal masih tersambung. "Ah, itu Oom, ada orang ngagetin pakai klakson pas di sampingku." Adu Riris kepada Bambang. "Oh iya, Oom memerlukan aku sekarang?" Kembali sikap Riris me mode manja.
Bagi Riris, Bambang adalah salah satunya ATM berjalan yang tak pernah pelit dan selalu menghujani dengan uang dan hadiah. Sedangkan Riris bagi Bambang adalah bunga yang sedang mekar dan tak segan memberi servis yang membuatnya serasa kembali muda dan bergairah. Hubungan yang saling menguntungkan seperti halnya dikenal dengan istilah 'mutualism symbiosis.'
Riris girang hatinya, seolah tiap ada permasalahan bagi dia, itu bagaikan sebuah lagu yang bisa didengar atau diganti dengan lirik yang beda setelah dia bosan. Riris terbeban untuk menuntaskan pemikirannya bagaimana dirinya bisa mendekati Palupi melancarkan dendam terselubung yang dirancangnya. Kini Riris sudah mengalihkan pikirannya untuk mendapatkan keuntungan finansial dari Bambang dengan imbalan tubuhnya, dan mendapatkan kenikmatan yang bisa ia ciptakan di atas ranjang.
"Mas Tomo, kamu di mana?" Riris menelepon Tomo saat menyadari Tomo sudah menghilang.
"Sayang, rupanya kita harus berpisah. Aku harus mengurusi bebas fiskal dan mengoreksi serta memperbaiki beberapa dokumen milik TKW yang ada kesalahan cetak." Dusta Tomo untuk menghindari kebodohan Riris. Bagaimanapun juga, Tomo sadar bahwa Riris akan melibatkan dirinya dan membawanya ke dalam masalah. "Okelah.... Kalau gitu besok saja Riris temui Mas di kontrakan ya! Sekarang Riris juga ada kepentingan, bye sayang...." Riris mematikan sambungan teleponnya dan tersenyum puas.
Tak berselang lama mobil yang Riris kendarai melaju mengarah ke tempat di mana Bambang telah menunggunya. "Hi Oom.... Riris kangen..." Riris begitu saja memeluk Bambang yang sedang duduk menikmati minuman yang dia pesan sebelumnya.
Bambang menatap intens ke arah Riris, lalu kembali menyesap kembali isi gelasnya dan menarik nafas pelan. "Riris, gadis binalku kamu semakin cantik saja." Ujar Bambang sambil tangannya menggerayangi tubuh Riris dengan remasan lembutnya. Sedangkan Riris begitu menikmati ulah tangan si gendut tua itu.
"Tapi kamu agaknya harus aku kirim ke Timur Tengah, karena janjimu ternyata tidak tepat hhmmm." Kembali Bambang menyesap gelas yang masih ia genggam.
"Maksudnya Oom?" Mata Riris membelalak lebar mendengar perkataan bambang. "Mana adikmu yang sudah kamu janjikan padaku? Sepertinya kamu sudah lupa hhmmm." Bambang menarik dengan sedikit kasar tubuh Riris ke dalam pangkuannya. "Oom... di... dia..., sudah..."
"Sudah hidup dengan laki-laki lain? Iya kan?... Jadi sebagai penggantinya, semua fasilitas yang aku berikan kepadamu sekarang aku batasi. Atau kamu aku antar sebagai TKW? Pilih salah satu." Bambang menyela ucapan Riris, dan memberikan gertakan kepadanya.
Sebenarnya Bambang sudah terlebih dahulu mengetahui siapa yang berada di belakang Palupi dan siapa Palupi sebenarnya dari salah satu rekan yang membantunya dalam bidang domestic worker yang selama ini saling bekerja sama. Saat mengetahui kebenaran informasi yang didapat, Bambang ketakutan sendiri, dan dia tak mau terlibat dengan kebodohan yang dilakukan Riris. "Oom... saya tidak mau menjadi TKW. Saya janji akan memberi yang lebih baik lagi di ranjang Oom asal jangan jadi TKW di Saudi Arabia, saya takut Oom," Riris merajuk sambil menunduk.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
TBC π
yang mau Riris jadi TKW angkat jempol donk π€£π