
Tomo masih berusaha membujuk Riris, "Sayang, kami tadi hanya jalan bareng. Aku hanya membantunya mencari keperluan yang dia butuhkan.
Riris mendorong dada Tomo dan berlalu dengan emosi yang memuncak.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula pikir dia.
'nggak Palupi, nggak mas Tomo, semua membuatku merasa di permalukan saja, apapun itu! Aku akan membalas semuanya, aku tidak boleh kalah begini seorang Riris harus tampil sesuai impianku' batin Riris menggelinjang liar penuh iri dan dengki.
Laju mobil yang ia bawa melintas di jalan, Basuki Rahmat. Senyum licik kembali tersungging di bibir merahnya, rencana jahat yang selalu ia susun telah memberikan kepuasan tersendiri baginya.
Satu jam kemudian sampailah ia pada tempat yang ia tuju. Sebuah perumahan elite di sudut kota S, Bambang yang telah menunggunya dengan hasrat dan kerinduan untuk sebuah pelampiasan.
"Hii om... Maaf lama menunggu, uh... udah kangen aja ya!" Riris menghampiri dan memeluk Bambang yang sudah menunggunya dari sekian waktu lalu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, pergulatan penuh rasa dan emosi asmara anak manusia yang tanpa ikatan itu, membawa mereka ke dalam lautan kenis*taan, desa*han dan jeritan kenik*matan membaur dengan peluh kepuasan mereka.
"Oom..."
"Iya sayang, kenapa? Istirahat dulu ya, kita atur nafas dulu, Oom capek sayang." Jawab Bambang tanpa mau tahu apa yang akan Riris katakan.
"Bukan itu Oom... Bukankah Riris akan bermalam di sini dengan Oom, Riris hanya mau sedikit mengajukan keberatan dengan sikap Tomo."
Riris memulai jurus mulut licinnya yang ember itu, Bambang sebagai pendengar hanya bisa janji saja dengan santainya menyikapi keluhan Riris yang ia nilai sangat childish.
"Itu nanti bisa Oom atur, kamu tenang saja," jawab Bambang sambil menoel hidung Riris.
"Lalu dengan gadis yang kamu janjikan itu bagaimana?
"Oom gak mau tahu bagaimana caranya dan dengan apa kalian mendapatkan gadis itu, ingat ya... Oom mau amannya saja. Berapa pun yang kamu inginkan untuk melancarkan usahamu, akan Oom siapkan."
Hati Riris langsung berbunga-bunga dan merasa tersanjung dengan janji Bambang. Dalam bayangannya sudah bermain bagaimana cara dia akan membohongi Palupi. Riris akan memanfaatkan sakitnya ibunya. Demi mendapatkan uang, apapun akan ia lakukan walaupun ia saat ini sedang dalam bahaya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Palupi yang masih di dalam ruang rawat Juleha yang sedang dalam dilema. Otak dan perasaan hatinya tidak sinkron.
Sebenci apapun dia kepada Juleha, namun ketika melihat kondisi sebenarnya, hatinya tak tega dan merasa tersentuh juga, "Ibu....ibu harus sehat kembali. Sedikit banyak Lupi sudah paham siapa Lupi dan siapa ibu, tapi percayalah Bu! Kami bukan manusia tanpa hati dan kejam."
"Lupi belum pernah bertemu dengan mommy biologis Lupi bu, tapi..., bisa jadi dalam waktu dekat mommyku akan datang dan menemui Lupi. Akan kuajak beliau menjenguk ibu di sini. Berjuanglah, ibu harus sehat. Lupi janji akan sering menjenguk ibu di sini, betulkan Liana?"
Mata cantik Palupi menatap ke arah Liana yang masih asyik dengan gadgetnya untuk memberikan semua arahan pekerjaan yang ia pasrahkan kepada orang kepercayaannya di dalam usaha butiknya yang mulai berjalan lancar.
Senyum penuh kharisma wanita mandiri Liana lemparkan ke arah Juleha, "iya nyonya, harus kembali sehat, dan kita akan segera menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan apa yang pernah kita lakukan kemarin."
Lembut suara Liana, akan tetapi menohok dan bikin sesak dada bila dihayati setiap ucapan yang terluncur di bibir manis Liana.
"Nak... Semoga sakit ibu ini segera mendapatkan obat sebagai penawar rasa sakit yang ibu derita sebagai teguran dari Tuhan. Ibu ingin bertemu dengan beliau, ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan, maafkan ibu, Nak." Isak Juleha sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Ibu... Tenanglah Bu! Dengan kondisi ibu saat ini, Lupi yakin Mommy bukanlah wanita yang kejam." Palupi mengelus tangan kurus Juleha dan matanya menatap lekat ke arah Juleha.
Palupi mundur beberapa langkah memberi ruang untuk sang perawat. Setelah melakukan Pamit dan sedikit pesan kepada Juleha mereka berempat berlalu keluar dari ruang rawat Juleha, berjalan melalui koridor rumah sakit menuju tempat parkir.
"Nona... Mohon maaf ada telpon dari tuan Ray." Albert mengulurkan ponsel miliknya kepada Palupi.
Palupi menatap ke arah Liana seakan meminta persetujuan darinya. Yang merasa ditatap mengedipkan matanya saja.
"Hallo,"
"Nona Gulizar, ini Ray. Mungkin hari ini kita akan hang out hingga sedikit larut, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan, dan sekaligus mengenalkan seseorang padamu." Suara berat Ray terdengar dari seberang.
"Ke mana kita akan pergi Ray, aku tidak paham tempat sebesar ini," Palupi menjawab dengan nada polos yang ia miliki.
"Semua sudah disiapkan, nanti John mungkin akan join dengan perbincangan kita."
Mata Palupi secara tidak sadar terbeliak antara senang dan bingung dengan ucapan Ray. "A..apa John akan pulang malam ini?" Tanya Palupi begitu saja ia ucapkan.
"Nanti akan aku jelaskan, Non tenang saja." Ray yang di seberang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya atas kepolosan Palupi yang benar-benar menggemaskan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Di tempat berbeda, Tomo kembali menggandeng gadis calon TKW untuk masuk ke dalam Mall. "Mas Tomo, boleh tanya nggak?" Dengan malu-malu gadis itu bertanya tanpa berani melihat ke arah wajah Tomo.
"Hmmm, tanya apa?" Jawab Tomo sambil meraih pinggang ramping yang ada di sampingnya. Mereka menyusuri Mall dengan santai sambil melihat-lihat barangkali ada yang bisa mereka beli.
"Mas, apa betul gadis galak itu calon isteri Mas Tomo?" Sambil melirik dan menunggu jawaban, tangannya menarik Tomo berbelok ke counter jam tangan.
Mereka melihat-lihat jam tangan yang ada di dalam kaca etalase yang menarik perhatian gadis itu.
"Mas, aku mau lihat jam yang itu." Tunjuknya kepada pelayan toko. "Kamu mau jam itu?" Tanya Tomo. "Iya Mas. Itu cantik sekali, pasti bagus kalau kupakai."
"Baiklah, coba kita tanya berapa harganya." Jawab Tomo. Setelah melihat label harga dan ternyata hanya dua ratus ribuan, Tomo segera membayar dan mengambil jam tersebut.
Tomo menerima kotak berisikan jam pilihan si gadis, dan memasukkan ke dalam saku celananya sambil senyum-senyum.
"Lho kok dikantongi Mas?" Tanya Atikah gadis calon TKW yang sedang 'dipepet' Tomo untuk jadi korban ke sekian sebelum dikirim ke luar negeri.
"Iya, ini nanti mas kasihkan tapi ada syaratnya." Tomo mulai memainkan strategi untuk menjerat gadis polos yang baru masuk ke dalam penampungan calon TKW.
Tomo mengabaikan peringatan Riris, karena Tomo yakin Bambang tak akan mempermasalahkan, sepanjang Tomo mampu menjalankan tugas dan pekerjaannya dengan baik.
...****************...
Duh.... ini sebenarnya yang jahat siapa sih? ๐ณ
selingkuh ternyata setiap saat ingin merengkuh ๐คฃ๐คฃ
TBC.....