I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 97



Ray dan Anita sedang berdiskusi tentang kondisi kesehatan Juleha. Tak terbersit dalam pikiran mereka menentang atau menolak cara dan bentuk nyonya Anne dalam menyikapi kasusnya Juleha. Ada pertimbangan psikologis di dalam mengambil keputusan mengobati Juleha yang sudah sakit parah. "Mas tahu nggak kenapa nyonya Anne lewat John memutuskan mengobati bu Juleha yang sudah jelas-jelas menculik anaknya?" Tanya Anita kepada Ray, suaminya.


"Kalau aku, sudah jelas yang namanya kejahatan itu ya harus dihukum. Apapun alasannya keadilan harus ditegakkan." Jawab Ray, yang sejak dulu menentang langkah John untuk mengirim Juleha dirawat di rumah sakit.


"Nah itu bedanya pandangan laki-laki dengan perempuan, terutama perempuan yang sudah menikah dan punya anak, Mas. Sejahat-jahatnya Juleha, dia masih tetap seorang ibu. Jadi dia merasa memiliki tanggung jawab untuk membesarkan dan merawat Palupi walau bukan anak kandungnya. Dia menjual gelang perhiasan milik ibunya Palupi untuk merawat dan membesarkan Palupi.


Jadi, walau Palupi membiayai dirinya sendiri lewat tangan Juleha. Dia tetap tumbuh dan berkembang menjadi remaja putri yang boleh dibanggakan Anne sebagai ibu kandungnya." Panjang lebar penjelasan yang diberikan Anita kepada Ray yang berpandangan pragmatis.


"Iya, iya, memang isteriku ini paling top se dunia. Gak pingin ya studi lagi jadi psikolog," goda Ray kepada Anita sambil mencubit hidung bangir isterinya.


Donny yang melihat papanya menarik hidung ibunya, merasa tak terima. Dengan tangan kecilnya Donny memukul paha Ray, "Papa nakal," protesnya. Ray meraih putranya dan mengangkatnya sambil menggelitik perutnya dengan gemas. Donny tertawa terkikik dengan ulah papanya.


Sementara itu Donna yang melihat papanya bercanda dengan kembarannya langsung membuang bonekanya dan berlari mendekati papanya dan menarik tangan Ray ke arah karpet bulu yang tebal.


Ketiganya bergelut dan tertawa kegelian karena saling menggelitik. Anita menyaksikan ketiganya dengan hati bahagia penuh syukur. Di sela-sela kesibukan mereka sebagai orang tua yang harus bekerja, mereka berusaha menyediakan waktu untuk berkumpul dan mengisi waktu bersama dengan anak-anaknya.


Anita sebagai dokter tak melalaikan kewajibannya sebagai ibu dan isteri. "Siapa yang mau bantu mama menghias puding?" Kedua anaknya yang masih bergulat dengan ayahnya langsung bangkit dan berlari mendekati ibunya, meninggalkan Ray yang terbengong dan geleng kepala.


"Mama, aku mau kasih mata dino," pinta Donny sambil memegang chip coklat dan memasangkannya di cetakan berisi puding bentuk binatang. "Aku juga, aku juga mau kasih mata buat kitty," ujar Donna tak mau kalah.


"Eh, puding punya papa mana?" Protes Ray mengoda isteri dan anak-anaknya. "Eh, papa sudah besal, ini punya Nana." Tolak Donna sambil menutupi puding yang masih hangat dengan kedua tangannya yang kecil.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Beldiq dan Anne sedang fitting baju pengantin di butik Liana. Anne berputar di depan cermin besar. Liana tersenyum melihat Anne yang bahagia memakai baju rancangannya. "Liana, ini indah sekali. Bisa pas dan cantik jatuhnya." Komentar Anne mengagumi bajunya yang simpel dan elegan disesuaikan dengan cuaca alam Indonesia yang panas. " Ayo keluar, biar tuan Norman melihat." Ajak Liana sambil menuntun calon pengantin ke luar dari ruang pas.


Beldiq terbengong melihat ada bidadari yang datang mendekatinya. Liana tersenyum geli melihat Beldiq tak berkedip melihat wanita pujaannya berjalan mendekatinya. "Wow, so beautiful. Look like an angel." Pujinya melihat penampilan Anne yang memukau. "Ho'oh, tinggal nambahin sayap aja Bos." Ucap Liana terkikik geli. Anne yang dipuji tersipu malu dan mencubit mesra tangan Beldiq yang tengah melingkarkan tangannya memeluk perut Anne.



"Sekarang gantian tuan yang mencoba jas pengantinnya." Liana menggiring Beldiq ke ruang pas untuk mencoba jas English Style yang disesuaikan warnanya dengan gaun pengantin milik Anne.


Setelah mendandani Beldiq, Liana menyilakan Beldiq keluar dari kamar pas. Anne terkesima melihat Beldiq yang melangkah dengan mantab. Aura ketampanannnya langsung menguar mengundang decak kagum karyawan Liana yang melihat pria tampan dengan setelan jas pengantin.


Liana yang melihat pasangan bahagia itu, hatinya teriris. 'Kapan aku dapat merasakan kembali saat-saat bahagia itu? Penghianatan orang yang kusayangi ternyata menorehkan luka yang teramat dalam.' Batin Liana. Perlahan Liana membalikkan badan dan pura-pura sibuk mengambil meteran kain dan mengalungkannya di leher sambil tersenyum. Liana tak ingin terlihat sedih di mata sahabatnya.


John dan Palupi yang menyusul ke butik sudah tak menemukan mommynya. Mereka juga diminta datang untuk fitting baju sarimbit yang akan mereka pakai di acara perkawinan di Bali. John terkagum dengan baju batik berbahan sutra yang lembut.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Tomo sedang merapikan dokumen di meja Bambang. Sudah tiga hari Bambang tidak masuk ke kantor. Hanya sebentar mampir dan meletakkan map warna biru di meja. Karena terburu-buru, Bambang lupa menyimpan map tersebut ke dalam lemari besi.


Dibukanya map itu, Tomo terkejut melihat isi map. 'Buku Nikah. Punya siapa ini?' Tanya Tomo dalam hati. Karena penasaran, Tomo membuka dan membaca Buku Nikah itu.


Duaaaarrrr


Bagai disambar petir, terbata Tomo membaca nama yang tertera di Buku Nikah.


Tomo tak habis pikir dengan temuannya itu. Hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi. 'Apakah bu Laila tahu dengan berita yang mengejutkan ini?' Batin Tomo.


Hatinya langsung gelisah. Segera diambilnya kunci kontak motornya. Dengan ngebut, Tomo sampai di rumah Riris. Tomo mengetuk pintu berulang-ulang, tapi tak ada pergerakan atau suara dari dalam rumah. Sepi, tak ada sahutan. 'Ke mana ya bu Juleha dan Riris?' Keluh Tomo dalam hati.


Riris kembali muntah setelah mencium aroma nasi. Asisten rumah tangga yang melayani, langsung menyingkirkan nasi dan menggantinya dengan rujak. Setelah membersihkan muntahannya di wastafel, Riris kembali duduk di meja makan. Melihat rujak yang tersedia di meja makan, Riris langsung melahap hingga habis."Non, mau makan apa lagi?" Tanya si asisten itu. Tugasnya adalah menjaga dan melayani isteri muda majikannya.


"Mas, belikan mie ayam ceker ya, yang dekat kantormu." Rengek Riris kepada Bambang lewat telpon. "Iya sayang, mas belikan, nanti biar diantar Tomo ke apartemen.


Mendengar jawaban Bambang, Riris langsung menangis dan marah-marah. "Huuu... hu... hu..., aku maunya sekarang, hu... hu..., Mas harus antar sendiri." Bambang kaget mendengar permintaan Riris yang disertai dengan tangisan. 'Haah, kok nangis. Apa memang begitu kalau isteri ngidam, mintanya aneh-aneh?' Bambang menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena memikirkan kelakuan Riris yang aneh.


Bambang menghentikan kegiatannya menandatatangani dokumen dan merapikannya kembali ke dalam map. Diangkatnya pesawat interkom ke pantry dan memanggil OB. "Min, tolong belikan dua porsi mie ayam pakai ceker di seberang kantor." Perintahnya kepada OB.


Setengah jam kemudian, OB membawa kantong pesanan tuannya, dan menyerahkannya kepada Bambang. "Ini Tuan pesanannya." Bambang kemudian memberikan uang pengganti. "Waah Tuan, saya tidak punya kembaliannya." Ujarnya ketika menerima selembar uang warna merah. "Sudah, ambil saja buat ganti ongkos jalan." Jawab Bambang dengan tersenyum.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


To be continued ๐Ÿ˜‰


Salam sayang, sehat selalu bahagia dan sejahtera always ๐Ÿ˜˜


mampir ke karya Rhuji yang baru tentang putri duyung yuk Mak ๐Ÿค—


kali ini mengisahkan tentang fantasiโ˜บ๏ธ