
John memesan taxi online untuk kembali ke hotel tempat Anne dan Beldiq menginap. Tak lama taxi pun datang. John mebukakan pintu bagi Anne dan menyilakannya naik, "sudah kubayar ya lewat aplikasi," kata John kepada sopir yang dibalas dengan memberi jempol. Setelah mereka masuk mobil, John langsung mencegat taxi reguler yang lewat di depannya dan mengajak Palupi pergi ke hotel tempatnya menginap.
Beldiq yang melihat ulah adiknya kemudian langsung mengepalkan tangannya dan mengarahkan kepada John yang dibalas dengan lambaian tangan dengan senyum lebar. Palupi yang berdiri di sebelah John memukul lengan John. "Jangan kurang ajar kepada Daddy," kemudian masuk ke dalam taxi diikuti John sambil meringis merasakan sakit di lengannya.
"Tanganmu kecil begini kenapa pedas pukulanmu," protes John.
Palupi pura-pura tak mendengar ucapan John, dan menyandarkan kepalanya di lengan kiri John yang habis dipukulnya. "Aku ngantuk," ujar Palupi dengan cuek. Yang penting kepala Palupi sudah menemukan tempat bersandar.
Setibanya di hotel, John membangunkan Palupi, "mau jalan sendiri atau kugendong?" Tanya John. "Hiss, memangnya aku anak kecil pake digendong segala..." Tolak Palupi sambil nyengir saat turun dan bergelayut di lengan John.
Mereka ke resepsionis hotel untuk mengambil keycard kamar yang dihuni John, kemudian naik lift menuju kamarnya. Setibanya di kamar, John terkejut melihat Palupi yang tiba-tiba gemetar. "Honey, what's wrong with you?" Ucap John sambil memeluk dan menyentuh kening Palupi, namun suhunya normal.
"Aku..., aku..., gugup. Apakah kau..., kita..., ahhh..., susah mau ngomongnya. Aku malu..." Ucap Palupi yang sudah agak tenang dalam pelukan John.
Dituntunnya Palupi dan didudukkannya di sofa, kemudian John mengambilkan air mineral botol yang langsung disambar Palupi kemudian meminumnya untuk menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan sesaat.
"John, kita kembali ke villa, kapan? Aku harus membereskan pakaianku di apartemennya Liana." Tanya Palupi untuk pengalihkan perhatian John, sekaligus upaya untuk mengurangi ketegangan yang dirasakan Palupi saat awal memasuki kamar John.
John duduk merapat dengan tubuh Palupi. Di raihnya dagu Palupi dan dikecupnya bibir lembut yang dirindukannya. Debaran jantung bertalu-talu. Dengan lembut John melu*mat bibir yang telah menjadi candu. Palupi pelan-pelan mulai menikmati luma*tan. Tubuhnya mulai relax dan tak sadar kedua tangannya telah melingkar di leher John.
Perlahan tangan John meraih pinggang Palupi dan merebahkannya ke sofa. Decap bibir yang beradu semakin intens. Lidah John mulai mengabsen gigi Palupi yang tak sadar telah membuka mulutnya. Keduanya mulai bertukar saliva. John mulai melepaskan tautan bibirnya saat menyadari Palupi kesulitan bernapas.
"Oh dear, jangan menahan napas sayang," ujar John sambil memeluk kekasihnya. Palupi tersenyum malu dan menyelusupkan wajahnya ke dada John.
"Kamu jahat ihh, gak kasih kesempatan aku bernapas," protes Palupi. John tertawa mendengar protes gadis yang telah membuat hari-harinya galau saat mereka terpaksa melakukan Long Distance Relationship.
John tersadar saat melepaskan tautan bibirnya. 'Haiss, gawat nih kalau belalaiku bangun. Begini rasanya pacaran dengan bocil, harus rela menunggu hingga dia dewasa dan layak disentuh.' Keluh John dalam hati.
John bangkit dari sofa, dan mengambil sekaleng soft drink dari kulkas mini, membukanya dan menyerahkan kepada Palupi. Sedang untuk dirinya, John membuka kaleng beer dan meminumnya.
"Mau?" Tawar John yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Palupi. "Kalau Martini mau deh," jawab Palupi sambil nyengir. "Eh, kamu sering minum?" Tanya John penasaran.
"Wee, ya enggaklah. Aku cuma nyicipi satu sloki saat Ibu lupa menyimpan ke lemari botol. "Rasanya manis, tapi habis itu badanku terasa hangat. Aku takut mabuk, terus tidur." Jawab Palupi menertawakan dirinya saat ingat pernah mencuri minum minuman beralkohol milik Juleha.
"Iya, lagi pula di villa dan apartemen juga nggak ada minuman beralkohol. Takut amat sih." Jawab Palupi dengan gusar.
"Aku bersyukur telah menemukanmu. Dan sangat beruntung aku berhasil menyelamatkanmu dari rencana jahat nyonya Juleha dan Riris anaknya." John mengungkapkan peristiwa saat terjadi tawar menawar yang akhirnya disetujuinya setelah Riris bersumpah bahwa Palupi masih virgin.
"Gulizar, sekali lagi aku minta maaf atas kejadian tempo hari, saat pertemuan kita pertama kali. Tak ada niatku melecehkan dirimu. Aku hanya ingin membuktikan kebenaran ucapan mereka yang menjualmu." Ucap John sambil membelai kepala Palupi dan mencium pucuk kepalanya.
"Terus sekarang bagaimana?" Tanya Palupi. "Sekarang ya, kamu sudah kembali kepada keluargamu. Apa kamu mau kita menikah?" Tanya John sambil senyum-senyum dan menggelitik pinggang Palupi.Yang digelitik tak mau kalah. John ditubruk hingga jatuh telentang di sofa.
Wajah mereka saling berdekatan, mata saling menatap intens. Perlahan tangan John meraih kepala Palupi yang badannya jatuh di atas badan John. Palupi menge*cup bibir John yang disambut dengan luma*tan lembut.
John tak berani menci*um dengan kasar, sekalipun timbul keinginan dan hasrat yang menggebu-gebu untuk membalikkan tubuh Palupi ke posisi di bawahnya. John khawatir kebablasan karena ingat pada janjinya kepada Anne untuk bersabar menunggu hingga Palupi dewasa. "Honey, aku sesak." Ujar John, sehingga Palupi bangun dari atas tubuh John sambil tersipu.
John bangkit dari sofa. "Kita pergi ke pantai, apakah kamu mau? Kita melihat sunset. Aku ingin mengabadikannya dengan kamera baruku," ajak John kepada Palupi. "Mau, aku suka pantai. Kelihatannya sudah sore, pasti sunset akan terlihat indah karena langit cerah sekali tadi." Jawab Palupi mengiyakan ajakan John.
John dan Palupi, merapikan diri setelah pergulatan sesaat yang dilakukan keduanya. Palupi terkesiap saat melihat dirinya di cermin, lehernya ada bercak merah hasil kejahilan John. Untung Liana telah menaruh cream di tasnya.
Perlahan Palupi mengoleskan cream di lehernya. Warna merah perlahan memudar tertutup cream. Palupi tersenyum melihat hasilnya. 'Uhh, untung punya Cici yang baik hati,' ucapnya dalam hati.
John dan Palupi keluar dari hotel. Seorang petugas parkir vallet hotel menerima kunci mobil dari John, yang kemudian membawa mobil sedan BMW keluaran terbaru ke depan lobby. Palupi terlihat bingung saat melihat mobil dengan plat nomor sementara. "Eh, ini..., kamu beli mobil John?" Tanya Palupi. John hanya tersenyum dan membukakan pintu untuknya. Keduanya pergi menikmati indahnya sore yang beranjak petang, untuk menikmati sunset di tepi pantai.
Setibanya di pantai, Palupi turun dari mobil dan berlari ke tepian pantai berpasir putih. John yang melihat Palupi berlari hanya tertawa. Hatinya dipenuhi kebahagiaan melihat gadis yang dicintainya tertawa gembira.
Tangannya tak henti menekan tombol kameranya, berulang kali mengabadikan tubuh Palupi yang membentuk siluet terkena sinar mentari jelang tenggelam di ufuk barat.
John berdecak kagum mengamati hasil jepretan kameranya. Tubuh indah itu bagaikan bunga yang bersiap untuk mekar. 'Aahh, aku makin jatuh cinta.' Gumamnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
To be continued π
Salam Sayang Selalu By RR π