
Pagi itu Palupi bangun dengan tergesa-gesa. Dia sudah janji dengan mommynya untuk sarapan bareng di hotel tempat mommynya menginap. Setelah mandi dan berdandan, Palupi mengetuk pintu kamar Liana. "Masuk sayang, Cici sudah siap." Perlahan Palupi membuka kamar Liana. Aroma lembut wewangian tercium Palupi. "Wow, keren... kamarnya cewek banget, hi... hi... hi..." Celetuk Palupi.
Liana tersenyum, setelah mengambil tas dengan warna senada dengan warna bajunya, Liana menggamit tangan Palupi mengajaknya keluar. "Daddy berencana mencari apartemen di mana sayaang?" Tanya Liana sambil menutup pintu unitnya yang otomatis terkunci. "Terserah daddy sama mommy. Pastinya aku mau kuliah dulu di sini sambil belajar bersosialisasi dengan lingkungan yang baru." Jawab Palupi dengan mantab.
Rasa percaya diri Palupi telah terbangun dengan pasti berkat bimbingan Liana. Lift Keduanya turun ke ground tempat Liana memarkir mobilnya. " Hunian di sini juga nyaman ya. Tempat parkirnya di bawah, keamanan terjaga 24 jam. Tidak sembarang orang bisa keluar-masuk." Komentar Palupi saat mengamati apartemen tempat tinggalnya Liana. "Iya, kamu tahu sendiri kan bagaimana kehidupanku. Tidak mungkin aku tinggal di apartemen kelas menengah ke bawah. Ini bukan gengsi, tapi lebih pada keamanan dan kenyamanan." Liana menghidupkan mobilnya dan menjalankannya. Liana membuka kaca mobilnya dan mengetap kartu parkirnya agar palang terbuka dan keluar dari area parkir.
Mereka menyanyi mengikuti lagu yang disetel Liana. Palupi tertawa saat Liana mengganti lyric lagu dengan kata-kata plesetan yang mengundang tawa keduanya. Lalu lintas mulai padat karena jam sibuk di pagi hari. Liana cukup lihay mencari celah untuk masuk ke ruang kosong di depannya, alhasil klakson mobil saling bersahutan, tetapi bukan Liana kalau tak pandai menghindar dari kemacetan.
"Kamu sudah siapin berkas untuk mendaftar kuliah, Non?", tanya Liana yang matanya melihat ke arah depan untuk mencari celah agar mobilnya tetap bisa lebih maju lagi. "Aku mau mendaftar ke Universitas Petra. Aku pingin diterima jadi mahasiswi di Fakultas Bisnis dan Ekonomi. Menurutmu bagaimana dengan pilihanku?"
Palupi sangat ingin mendapat penilaian Liana atas pilihannya itu. "Boleh aku tahu, berapa nilai matematikamu?" Tanya Liana dengan senyum-senyum. "Ih, kok tanyanya nilai matematika sih? Aku tuh sebel banget, nilaiku gak sempurna, cuma 9.8 padahal aku yakin nilaiku 10." Jawab Palupi dengan cemberut. "Alamak, nilaimu segitu kok masih protes, Non."
Liana sontak kagum dengan kecerdasan Palupi. "Iya, sudah jangan ngambeg. Memangnya nilai rata-ratamu berapa kok masih cemberut? Ayolah, jangan malu bilang." Rayu Liana untuk membuat Palupi senyum. "Iya, itu nilai rata-rata 9.8, kan mauku 10 gitu." Percakapan mereka terhenti karena mobil sudah memasuki area parkir hotel.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Di kantor Pengacara, sudah berkumpul Notaris, Ray dan John. Mereka bersama-sama membahas dan meneliti dokumen bukti pembelian dan harga berlian yang dicuri Juleha. Berlian itu adalah hadiah anniversary perkawinan yang disiapkan oleh Anthony untuk dipakai Anne saat romantic dinner. Hati John tergetar saat membaca harganya.
"Bro, kenapa wajahmu terlihat sendu?" Tanya Ray sambil menepuk bahunya. John hanya mengelengkan kepalanya. "Baiklah, saudara-saudara semua. Kapan nyonya Anne dan pak Kapolres siap meluncur ke rumah nyonya Juleha." Tanya Notaris, karena dia harus mengatur waktu temu dengan clientnya.
"Aku akan menelepon pak Kapolres, dan John akan menghubungi nyonya Anne untuk bersiap." Jawab Ray, mengingat waktu yang mepet dan kondisi Juleha saat diperiksa Tim Penyidik kemarin lusa. Perlu gerak cepat, agar usaha yang sudah dirancang Ray dan John tidak sia-sia.
Pukul sepuluh pagi, Kapolres bersama dua anak buahnya bersenjata lengkap tiba lebih dulu di kantor Pengacara. Lima menit kemudian nyonya Anne dikawal Beldiq datang menyusul. Setelah berkumpul semua, mereka ngobrol sejenak. "Dua anak buahku tadi sudah meluncur lebih dulu untuk melakukan pengamanan area, situasi cukup kondusif, jadi kita siap meluncur." Kata Harry.
Tiga mobil beriringan memasuki kompleks perumahan tempat tinggal Juleha. Karena saat itu jam kerja, kompleks terlihat sepi. Kaum ibu sibuk di dapur. Kapolres sengaja datang menggunakan mobil pribadi agar tak mencolok dan menarik perhatian tetangga Juleha. Dua petugas yang dikirim Kapolres segera membuka pintu pagar rumah. Mobil yang dikendarai Ray masuk ke halaman, diikuti mobil Pengacara di belakangnya, sedangkan mobil Kapolres parkir di tepi jalan.
"Sudah cukup bu Juleha, kami datang tidak bermaksud bikin drama. Sekarang bangkitlah! Kami aka mengambil tas yang anda sembunyikan." Gertak Harry. "Maafkan saya pak Polisi, mari ikut saya ke kamar." Akhirnya Juleha dengan masih sesengukan mengajak semua masuk ke kamarnya. Pengurus Lingkungan disuruh duduk di ruang tamu, Harry melarangnya ikut masuk ke kamar.
Dua petugas polisi membantu membongkar tempat tidur Juleha. Mereka kemudian membuka ubin lantai sesuai petunjuk Juleha. Tak lama kemudian mereka menemukan kotak dari kayu jati dan mengangkatnya. Keduanya mengangkat kotak dan membawanya ke ruang tengah krmudian meletakkan di atas meja kayu.
Julega menyerahkan kunci gembok kotak kepada Harry untuk membukanya. Sayangnya gemboknya berkarat sehingga terpaksa dibuka dengan palu. Semua terkejut saat melihat kotak berlapis kulit sehingga isinya terlihat masih bagus dan tidak rusak.
Pengacara kemudian maju dan mengeluarkan tas samsonite asli buatan Amerika. Perlahan tas itu dibuka, di dalamnya ada map berisi dokumen dan kotak perhiasan. Anne tak dapat menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir. Bibirnya bergetar, "Anthony..." serunya saat melihat kotak perhiasan itu. Anne mendekati Juleha, tangannya menampar pipi Juleha, "Kau pembunuh!" Teriak Anne. Beldiq langsung memeluk Anne dan membawanya ke ruang tamu. Bahu Anne terguncang oleh tangisannya. Beldiq tetap memeluk Anne dan berusaha menenangkannya.
Juleha hanya bisa duduk dan menangis. Notaris dan Pengacara mulai mendata isi tas milik Anthony. Perlahan map dibuka, kondisi kertasnya masih bagus dan tidak lembab. Perlahan Notaris mengangkat bundel kertas dan diserahkan kepada John. Saat membaca judulnya John langsung terbengong karena dokumen itu adalah perjanjian jual beli saham perusahaan logistik terbesar di Inggris. Perusahaan yang sudah go public dengan nilai saham yang sangat tinggi. Hanya dua tingkat di bawah freight forwarded 'Allseas Global Logistics,' John menggaruk dagunya yang tak gatal saat membaca lembar demi lembar dokumen itu.
Astaga dua puluh ribu lembar saham milik Mr. Alexander Humprey telah berpindah tangan dan diinvestasikan atas nama Bethany Angelique Gulizar. Ini berarti Gulizar telah menjadi seorang milyarder di usia masih kanak-kanak hingga remaja. John mengembalikan bundel itu ke dalam map setelah dicatat oleh Notaris. Berikutnya pengacara mengambil kotak beludru warna hitam, bertuliskan Gulizar di pelat keemasan di penutup kotak. Dengan hati-hati Pengacara membuka kotak tersebur. Mata semua orang terbeliak saat melihat isi kotak perhiasan itu. Sebuah kalung dengan batu safir berwarna biru lebih dikenal dengan nama 'vivid safir star' bertabur berlian di sekelilingnya. Kemudian sebuah cincin berlian 'Cullinan'. Taksiran harga kalung dan cincin itu saat ini, bernilai lebih dari dua puluh lima milyar.
Setelah mengisi data isi tas ke dalam lembar Berita Acara, Anne dipanggil masuk kembali ke ruang tengah. Juleha diminta tanda tangan begitu pula halnya Anne, di lembar Berita Acara serah-terima barang kepada Anne. Harry dan Ray ikut tanda tangan sebagai saksi.
Proses serah-terima harta peninggalan Anthony Gaozan dari Juleha kepada nyonya Anne Wilson telah selesai. Kotak kayu dikembalikan kepada Juleha. Dua petugas polisi mengembalikan kotak ke bawah tempat tidur dan menutupnya kembali, dan mengembalikan tempat tidur ke posisi semula karena kasihan melihat kondisi Juleha yang sakit tanpa teman.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
To be continued π
Salam Sayang Selalu By; RR π