I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 46



Rumah sakit swasta yang cukup besar di kota S tempat Juleha dirawat memang sudah bekerja sama dengan Mount Elizabeth Hospital di Singapura. Hal ini yang memudahkan Juleha dirujuk ke sana.


Dokter Anita sudah menyiapkan diri untuk mendampingi Juleha selama perjalanan hingga serah terima pasien di sana, setelah Ray mengizinkan untuk menginap semalam di Singapura.


Dari jauh Palupi menyaksikan mobil ambulans itu membawa Juleha yang didampingi perawat kepercayaan dokter Anita menuju Bandara internasional.


Bermacam perasaan menari di benaknya, antara benci dan iba berbaur mengaduk jiwanya yang polos.


Lambaian tangan Juleha sesaat seperti sabetan sembilu, tatkala mengingat nilai harga fantastis tentang penjualan tubuhnya demi kesembuhan Juleha ataupun keinginan riris. 'Ahhh masa bodoh, hidupku terlalu berharga untuk sebuah tangis dan perenungan pada nasib yang harus kujalani'


Anita yang bertugas mendampingi pasien, tersenyum ketika menatap ke arah Palupi yang sedang berdiri mematung. Dia pun mendekati, "Nona, sabar ...! Beliau akan kembali, percayalah. Semua akan menemukan jawabannya sendiri-sendiri."


Tangan itu menepuk lembut bahu Palupi dan melambaikan tangannya sambil berjalan ke arah mobil yang akan mengantarkannya ke bandara. Palupi ternyata mengikuti dan mengantar Dokter Anita hingga mencapai mobilnya.


"Listen to me young lady. Smile, please. I'll be back soon. Ada banyak cerita bahagia untukmu, nantinya. Bye cantik." Ujarnya saat telah memasuki mobilnya masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Liana seorang sahabat sekaligus pendamping Palupi dalam mengisi aktivitasnya sehari-hari, ikut tersenyum ke arah Palupi. Berjalan mendekati dan meraih tangan Palupi lalu membimbingnya menuju tempat yang lebih nyaman.


Riris pun hadir saat ibunya mulai dimasukkan ke dalam ambulans. Dia takut mendekat karena ingat akan ancaman dokter Anita, saat dia berlagak sok baik di depan dokter Anita beberapa hari yang lalu. Hatinya gembira saat mobil yang ditumpangi dokter Anita bergerak mengikuti ambulans menuju bandara.


Terbuka kesempatan bagi Riris untuk mengejar dan mendekat ke arah Palupi. "Hii Lupi, aku ingin bicara sesuatu denganmu...! Albert dan Zaki pun bergegas menghalangi keinginan Riris untuk mendekati Palupi.


Riris melancarkan protes kepada kedua bodyguard tesebut,


"Apa-apaan sih! Dia adikku masa iya mau mendekat saja nggak boleh, kalian itu siapa...? Sungut Riris penuh emosi.


Albert menatap tajam ke arah Riris, "Maaf nona, kami hanya menjalankan tugas saja. Mohon jaga jarak dengan nona Gulizar."


Melihat adanya kericuhan antara Riris dengan kedua bodyguardnya, Liana mendekat mereka sambil menngejek, "Uluh...uluh....kakak cantik ish ish, mau dekat sama adiknya yah... Pake hand sanitizer dulu bisa...! Ada kuman tuh nanti nempel, virus menyebar pula susah cari penawarnya." Liana yang pada dasarnya dari awal sudah menduga Riris bakal berulah, dia lebih dulu meraih pinggang Palupi dan menariknya ke belakangnya dan berdiri sejajar dengannya.


"Mas ganteng Albert sama mas ganteng Zaki biar eiyke aja yang handle uler keket ini yah! Kalian santai aja, hmm."


"Baik, siap laksanakan, kami akan lakukan itu nona Liana."


Liana melemparkan senyumannya kepada dua laki-laki baik itu, lalu kembali berbicara dengan Riris dan palupi. "Apa yang hendak kamu bicarakan dengan nona Gulizar, Riris." Tanya Liana yang sudah kembali ke mode tegas.


"Kita ke food court yang ada di rooftop rumah sakit saja, kebetulan aku sudah lapar." Liana masih tetap mengalihkan ketegangan Palupi pada Riris.


Beberapa pelayan, membantu menyajikan pesanan Liana. "Sudah...? Sekarang katakan kenapa kamu selalu mengejar nona Gulizar, apa kamu tidak lelah?"


"Dia adikku, dan aku ingin mengajaknya pulang ke rumahku. Apa itu salah...?" Riris dngan merasa yakin tanpa rasa bersalah mengucapkan kata kata dengan lancarnya.


Palupi hendak menyahut kata-kata Riris, namun tangan Liana memberikan isyarat untuk tetap diam. "Hallo cantik... Masih ada sisa tidak uang seratus juta rupiah, dari hasil penjualan keperawanan Gulizar waktu itu ...?"


"Heh... Itu urusanku dengan Palupi, siapa kamu, emang kamu yang keluarin duit seratus juta, bukan kan...?" Dengan masih berlagak sok tahu, Riris mencoba menyudutkan Liana.


Riris terkejut mendengar bentakan Liana. Bulu halus di sekujur tubuhnya tiba-tiba meremang dan menyiutkan nyalinya. Namun, hatinya menolak takut. Inilah waktu yang sangat tepat membawa Palupi dan menyerahkannya kepada Bambang.


Riris yang sudah terlanjur termakan mimpinya untuk mendapat uang dari Bambang, masih berusaha merayu Palupi. "Ayolah Palupi, kita pulang. Bukankah kamu tinggal di rumah kita? Untuk apa kamu ikut wanita gak jelas ini?


Emosi Liana spontan tersulut. Dia bangkit dari kursinya sambil mengatakan, "kau omong apa tadi?"


Plaak...


Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Riris yang meninggalkan bekas kemerahan di pipinya yang mulus.


"Heh, dengar bit*ch, kamu tidak pantas menyebut adik kepada nona Gulizar! Mau cari mati kau?"


Dengan wajah penuh kemarahan karena harga dirinya terusik, Liana segera memanggil Albert mendekat. "Lemparkan bocah gak tahu diri ini ke bawah."


Mendengar perintah Liana kepada Albert, Riris sambil memegangi pipinya yang panas akibat tamparan itu, segera bangkit dari kursi dan berusaha lari ke bawah lewat tangga darurat.


"Kalian tega ya..." Pekik Riris dan disaksikan beberapa pengunjung food court itu. Teriak Riris yang tangannya dipegang Albert.


Liana kembali mendekat, lalu membantu Riris berdiri seolah itu adalah kebaikan yang akan ia berikan kepada Riris. Palupi menyaksikan semua dengan wajah datarnya.


"Ingat yah! Kamu jala*ng murahan, fisikku memang begini, tapi hatiku tidak busuk seperti otakmu. Satu lagi perlu kamu ketahui, tidak dengan cara ngang*kang juga aku mendapatkan kekayaan yang aku miliki."


Kemarahan Liana sangat beralasan karena secara tidak langsung Riris menyebut Liana sebagai sembarangan jenky. "Aku lebih terhormat dari kamu dari sudut pandang manapun, dan aku adalah seorang terpelajar dan memiliki karier dalam berusaha. Sekali lagi kamu bilang aku wanita nggak jelas, hari itu juga kamu tamat."


Palupi menyadari Liana tampil dengan karakter yang sangat beda saat ini, ia buru-buru mendekat dan berusaha menenangkan Liana.


Albert bersama Zaki pun bergerak cepat untuk membubarkan beberapa orang yang sedang bergerombol.


Riris pun kabur dengan kemarahan, dan ketakutan menjadi satu.


Nafas Liana tersengal demi menahan emosi, isak tangis yang ia tahan sejak beberapa hari terakhir tumpah juga dalam pelukan Palupi.


"Liana, ada apa denganmu...? Ini tidak seperti biasanya? Ceritakan padaku sungguh tidak etis rasanya bila kau menyimpan sendiri dukamu, sementara kau selalu ada saat aku membutuhkanmu."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TBC...


Liana kamu kenapa 🥺🥺, dimana Liana yang ceria, kenapa kok mewek🥺. Sepertinya aku harus segera up lagi deh Mak 🤣, yuk a-hhh....!


Sambil menunggu mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie😉, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun 👍.