
Gertakan Zaki bukan jalan bagi Riris untuk menyerah begitu saja, dia masih main tawar-menawar dengan Zaki yang sudah hilang kesabarannya. "Mas bodyguard, saya akan memberikan kehangatan dan sentuhan manisku padamu kapanpun kau inginkan, bila kau berikan aku kesempatan untuk berjumpa dengan Palupi dan membawa dia pulang ke rumah kami." Bukannya tertarik dengan penawaran yang diberikan oleh Riris, Zaki semakin kesal dibuatnya.
Tangannya mengepal, matanya menatap dengan penuh kemarahan. Ucapan Riris tidak secara langsung merendahkan martabatnya sebagai seorang suami yang teguh pada sebuah janji kesetiaan. Tak semua laki-laki mudah jatuh dengan rayuan maut untuk melanggar janji. "Pergilah! Sebelum kesabaranku hilang, atau benar-benar akan aku hancurkan wajahmu yang menjijikkan itu dengan tinjuku ini." Zaki mendekati Riris yang berjalan mundur karena dorongan Zaki yang tersulut emosi.
Dua satpam segera melerai dan mengusir Riris untuk segera pergi, "Nona sebaiknya anda tinggalkan tempat ini, atau akan kami laporkan anda dengan tuduhan membuat onar dan merugikan orang lain. "Hhuhhh... kalian..." Riris dengan sewot pergi meninggalkan mereka sambil terus mengumpat tidak jelas. Dengan jalan tergesa-gesa, Riris berjalan menuju parkiran dan kemudian ngebut pulang ke rumahnya.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya akan kembali pada tugas saya untuk mengawal dan mengawasi Nona majikan saya." Zaki memberikan salam untuk kedua satpam yang tidak beda jauh dengan profesi yang ia emban saat ini.
Di dalam mini office store tempat Liana berada, Palupi dengan sabar menemani dan berusaha menenangkan Liana, walaupun kejadian tadi sempat membuat dirinya panik dan khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Liana..., menurutmu apa sih yang mbak Riris inginkan dariku? Dia mengganggap aku adalah saudari tirinya. Apa dia belum tahu jati diriku yang sebenarnya?" Palupi berkata sembari menatap lekat ke arah Liana yang sedang merapikan rambut dan penampilannya yang sedikit berantakan.
"Apakah tidak sebaiknya kalian memberikan sedikit akses untuknya, biar antara aku dan mbak Riris bisa sedikit berkomunikasi. Agar kita tahu apa maunya, mungkin dia memang betul-betul ingin menjadi orang baik? Kita kan juga tidak tahu, Liana."
"Hmm, iya kalau jadi baik, kalau lebih buruk bagaimana coba...? Ini loh yang aku takutkan. Kau itu terlalu polos nona Gulizar, sedikit saja kebaikan kau terima, kau sudah lembek dan melupakan kejahatannya." Liana menatap sendu namun tangannya dengan gemas mengusap rambut pirangnya yang panjang hingga pinggang.
Diam-diam Liana menghubungi Ray dengan nengirim short messages. Dia mendapatkan respon dengan cepat dari Ray, yang intinya mereka akan memberikan akses kepada Riris untuk dekat dengan Palupi. Konsekwensi yang timbul dari kelonggaran yang diberikan adalah menambah jumlah personil bodyguard. Dengan demikian aktivitas Palupi selalu dalam pantauan para bodyguard yang sudah ditugaskan untuk keselamatan Palupi.
Ponsel milik Palupi berdering nyaring, buru-buru ia merogoh dalam tas tangannya, tertulis 'Mommy' rupanya Anne yang telah menghubungi Palupi. "Mommy..." Percakapan berlangsung beberapa saat. Senyum Palupi selalu menghiasi wajah cantiknya. Dari seberang, Anne menelepon memberitahukan, akan segera berkunjung ke tempat tinggal nyonya Juleha setelah John Norman mendarat ke Indonesia.
"Sayang, apakah kau masih bersama Liana? Kalau iya, ajak ia mampir ke villa. Sebab setelah selesai semua urusan dan permasalahan dengan nyonya Juleha, kami akan terbang ke pulau Bali." Anne menceritakan schedule yang dirancang untuk pekan depan setelah John datang ke Indonesia.
Percakapan antara Anne dan Palupi telah usai, sambil duduk di sofa Palupi menarik nafas lega.
Setelah semua sudah kembali rapi, hati dan pikiran Liana sudah tenang, dia kembali mengajak Palupi kembali ke rencana semula, yaitu hunting barang limited edition di store tertentu yang berada di mall itu.
Setelah mendapatkan tas dan sepatu bermerk dengan harga yang lumayan mahal namun cocok untuk Palupi, keduanya pergi ke toko kue untuk membeli roti dan kue sebagai buah tangan dalam kunjungan Palupi ke rumah keluarga Liana. "Aku mau ketemu opa Han. Tahu gak Sist, waktu aku dipeluk opa Han, aku merasa seperti dipeluk opaku. Aku belum pernah merasakan dipeluk oma dan opa."
Mendengar ucapan Palupi, air mata keharuan tiba-tiba muncul di sudut mata Liana dan buru-buru diusapnya. Sambil tersenyum, "boleh kok opa Han jadi opamu. Semua keluargaku jadi keluargamu. Sambil berjalan, Palupi mengajak Liana mampir ke super market yang ada di ground mall untuk membeli pelbagai buah-buahan segar, untuk tambahan.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Sesampainya di rumah, Riris berteriak, "Ibuu..." Juleha yang mendengar teriakan Riris, berjalan pelan keluar dari kamarnya. Juleha hanya mampu geleng-geleng kepala melihat ulah Riris yang masuk ke rumah dengan tampang tak enak dan rambut yang awut-awutan.
"Kamu dari mana? Kenapa kamu berantakan sekali, Nak?" Juleha bertanya dengan pelan. Berbanding terbalik dengan kebiasaannya yang tak sabaran. "Bu, aku tadi ketemu si Lupi. Aku heran deh, kenapa aku gak boleh ajak Lupi pulang. Tuh si cewek jadi-jadian malah ngajak aku berantem. Kenapa Lupi gak boleh kuajak pulang? Ibu diam-diam sudah jual Lupi ke orang bule yang nemui ibu tempo hari? Aku tuh jadi sebel. Aku dah janji ke mamih mau ajak Lupi buat kerja di sana." Omel Riris dengan emosional memberondong ibunya tanpa henti.
Juleha mengelus dadanya. Kembali rasa bersalah menghantam batinnya. Tak disangka kejahatannya terkuak. Bahkan anak semata wayangnya ternyata lebih jahat.
Plaaak... sebuah tamparan mampir ke pipi mulus Riris.
"Ibuuu..." Riris terkesiap dan bingung mendapat tamparan yang mengejutkan.
"Sudah cukup. Apa masih kurang ibu memanjakanmu? Kamu tak berhak mengatur hidup Palupi. Dia sudah kembali..." Juleha terdiam tak sanggup meneruskan kata-katanya. Ada sesal yang menyesak di dada. Riris terkejut mendengar ucapan ibunya. "Maksud Ibu, kembali... apa, Bu?"
Juleha jatuh terduduk di sofa. Baru sekali itu dia menampar anaknya dengan keras. Berat rasanya untuk mengakui kejahatan yang telah dilakukannya kepada keluarga Palupi di depan Riris. Tak terbayangkan bagaimana bencinya Riris kelak, saat tahu ibunya adalah seorang penculik dan pencuri yang diburu Polisi Interpol. Palupi kini ditengarai adalah korban kejahatannya.
"Ibu...jangan bicara menggantung begini, lihat ibu! Seratus juta adalah harga yang terlalu murah untuk nilai keperawanan. Walaupun sekarang Palupi tidak perawan lagi..." Riris menjeda ucapan, ia berjalan ke meja makan dan mengambil air mineral lalu meneguknya dengan tidak sabar, dan kembali duduk sambil menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
"Riris, ibu sakit nak, matikan rokokmu. Ibu sesak nafas, Riris!" Riris pun dengan jengkel kembali mematikan rokok yang baru saja ia nyalakan, sambil bergumam tidak jelas, di sini kembali Juleha merasa melihat cermin pada dirinya.
"Ibu... Seratus juta tidak untuk menikmati selama hidupnya si laki-laki bule itu. Jadi... Sudah saatnya Lupi kembali, dan aku akan menawarkannya kepada Mama Santi. Dia pasti akan menjadi primadona di rumah kaca itu, dan keuntungan akan mengalir deras untukku, ha... ha... ha..."
Sesak kembali melanda nafas Juleha, jantungnya serasa mendapatkan tonjokan yang dahsyat setelah mendengar rencana Riris. Dengan langkah pelan ia memasuki kamarnya dan memasang sendiri alat bantu pernafasan tanpa menghiraukan Riris yang masih saja gila dengan rencananya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
TBC π
yak ampun rumah kaca π±π±π±
sek Mak, aku mo bikin karma yang agak ehem buat Riris, biar tau rasa dia ya Mak π€ lanjutkan Mak πͺ
Salam Sayang Selalu By RR π