
Ingatan beberapa waktu lalu kembali melintas dalam benak Juleha, semua karena keadaan, dan kini kembali juga karena keadaan.
"Palupi...maafkan ibu Nak, tidak menduga ternyata hatimu seluas samudra. Walaupun aku tahu tidak menutup kemungkinan rasa bencimu pada ibu dan mbak Riris begitu dalam."
"Andaikan aku harus menjalani sebuah hukuman dan seberat apapun itu, aku rasa sudah setimpal dengan segala perbuatan yang telah aku lakukan, aku akan menerimanya."
"Lalu bagaimana dengan Riris? Ah.... Ini semua salahku." Tanpa Juleha sadari air mata itu kembali meleleh ke pipinya. Detik berjalan lambat waktu pun membawa sebuah kejenuhan bagi Riris yang sudah memulai aktingnya menjadi perempuan baik-baik, "Ibu berapa lama lagi aku harus menunggu kedatangan Palupi? Ini sudah hampir siang hari, dan mas Tomo harus kembali ke kantornya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya " gerutu Riris menahan emosinya yang sejak tadi sudah ia tekan semaksimal mungkin.
"Ibu kalau begitu sebaiknya Riris sama mas Tomo pulang saja. Kami akan menunggu kepulangan ibu di rumah," berbagai alasan Riris berikan untuk segera bisa keluar dari ruangan itu dengan tetap berusaha berubah menjadi manis di depan siapapun.
Belum juga sempat ia melangkah dari ruangan, pintu terbuka oleh Zaki lalu disusul Palupi dan Nyonya Anne diikuti oleh Beldiq Norman di belakangnya. Mata Riris terbelalak sempurna menatap Palupi lalu berpindah kepada Anne yang melihat ke arah Riris dengan wajah datar.
Sedangkan Tomo matanya sudah tidak bisa dikondisikan, ia melihat ke arah Palupi dari atas ke bawah lalu berpindah ke arah Anne. Tomo dibuat kagum dengan penampilan dua wanita cantik yang berbeda usia itu. Begitu cantik, elegan dan penuh kharisma.
Beldiq yang melihat tingkah Tomo, sebagai lelaki dewasa dan berpengalaman ia hanya melempar senyum miring kepada ulah laki-laki yang di depannya. Berbeda dengan Albert dan Zaki yang langsung memasang tampang garang. Mereka mendekati Tomo, dengan gaya arogan khas bodyguard, "hei... bisa kamu sedikit kondisikan mata kamu itu, atau kami akan mencongkelnya keluar!"
Tentu saja Tomo terkesiap dan buru-buru menurunkan arah pandangannya lalu bergeser mendekat pintu keluar dan menjauh dari Albert dan Zaki.
"Dik..., Ibu kita telah pulang, kita bisa rawat ibu bersama. Biar mbak Riris yang bekerja dan kamu di rumah menjaga ibu." Akting Riris luar biasa bisa membuat Palupi tercengang dengan ucapannya.
"Siapa kamu, kenapa ada di ruangan ini? Apakah Gulizar mengenalimu?" Anne berkata lirih namun tegas yang ditujukan kepada Riris.
"Mommy kenalkan, dia mbak Riris, dia putri Nyonya Juleha, dan mbak Riris kenalkan ini mommyku dan ini adalah daddyku. Mereka adalah orang tuaku." Palupi memperkenalkan Anne dan Beldiq kepada Riris.
Juleha berusaha duduk dan menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidurnya dan meremas selimut yang menutupi tubuhnya semula. Riris menatap Juleha seolah meminta jawaban dari kata-kata Palupi yang baru saja ia dengar.
'Oh... Jadi Palupi sudah diadopsi oleh keluarga bule ini? Oh... Sialan kenapa dia yang selalu mujur ketimbang aku? Ah, persetan dengan semua itu, pokoknya aku harus tetap dalam kondisi berpura-pura begini untuk mendapatkan Palupi kembali, dan menjadikan ladang uang bagiku.' Riris dalam pikirannya sendiri.
Merasa dipandangi oleh orang asing dengan sikap tak bersahabat, akhirnya Riris menepi ke arah pintu sambil tetap mengamati keluarga kecil itu. Otaknya yang sudah terkontaminasi niat jahat, kembali berusaha merancang rencana buruk tanpa dia tahu bahwa Nyonya Anne adalah ibu kandung Palupi. Albert dan Zaki langsung dengan sigap menggiring Riris ke luar ruangan tanpa berani menolak.
Sementara itu Palupi sudah lebih dulu memberikan isyarat kepada Anne dan Beldiq dengan kedipan matanya, sehingga mereka hanya diam lalu mendekat dan duduk ke sofa yang tersedia dalam ruangan VVIP yang luas itu, sambil menunggu kedatangan Ray untuk mengatur persiapan kepulangan Juleha ke rumahnya.
Pintu kembali terbuka muncul Ray didampingi seorang Notaris dan pegawainya, masuk dan memberi salam kepada keluarga kecil itu, dan mendekat brankar Juleha. "Apa khabar Bu Juleha, sudah lebih sehat sekarang?" Sapa Ray kepada Juleha. "Alhamdulilah Pak Ray, sekarang sakit di perut saya sudah berkurang banyak. Saya sudah merasa sehat dan ingin segera pulang." Jawabnya.
Ray kemudian menarik dua kursi ke dekat dekat tempat Juleha dan menyilakan Anne dan Palupi duduk dekat tempat tidur Juleha, sedangkan Beldiq berdiri di belakang Anne. Juleha tak berani bicara, sejak mendengar Palupi memperkenalkan Anne dan Beldiq sebagai orang tuanya.
Juleha ternganga karena melihat Anne yang semakin cantik dan berwibawa dibandingan empat belas tahun lalu saat dia menculik Palupi. Dia tak pernah lupa wajah Anne. Air matanya langsung turun menderas, mulutnya komat-kamit, "Maafkan saya Nyonya, maafkan dosa saya," sambil berusaha bangun, tetapi Anne menahan Juleha, "No, tetap baring, tak usah bangun."
Palupi mengambil tissue dan memberikan kepada Juleha. "Ibu tetap sandaran saja, tak usah bangun." Ray tersenyum melihat cara Palupi memperlakukan Juleha dengan lembut dan tulus.
"Nyonya Juleha, di tangan saya ini, sudah lengkap berkas untuk serah-terima tas milik Tuan Anrhony yang ada di tangan anda. Untuk itu saya memerlukan tanda tangan dalam dokumen pernyataan anda yang sudah disiapkan oleh Notaris untuk ditandatangani. "Silakan Pak," perintah Ray kepada Notaris yang kemudian anak buahnya menyerahkan dokumen tersebut.
"Saya akan membacakan kembali pernyataan anda sebagai pengakuan atas perbuatan anda empat belas tahun yang lalu. Anda siap Bu Juleha?" Juleha menganggukkan kepalanya. "Saya siap Pak."
Notaris Ridwan, S.H., M.Kn. membacakan point demi point pernyataan Juleha. Juleha mengakui isi dokumen tersebut, kemudian membubuhkan tanda tangan yang disaksikan oleh semua orang yang hadir di ruang rawat tersebut, untuk dibawa kembali guna dilengkapi dengan Berita Acara serah terima barang nantinya, setelah Juleha di rumah.
Air mata Juleha kembali berlinang. Dia meraih tangan Anne. "Maafkan saya Nyonya. Saya khilaf dan sangat berdosa karena sudah memisahkan putri anda. Saat itu saya masih muda, pikiran saya masih pendek. Sekarang saya menerima karma atas perbuatan saya. Ampuni saya," tangisnya. Hati Anne seketika menjadi rumit. Hatinya sangat sakit bila mengingat di masa lalu harus kehilangan permata hatinya yang kini sudah tumbuh menjadi remaja cantik. Kini, di hadapannya perempuan jahat itu lebih sengsara kerena terhukum oleh penyakit mematikan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Riris dengan masih sejuta pertanyaan dan rasa jengkel menjadi satu berdiri di luar kamar rawat ibunya. Kemudian pergi menghampiri Tomo di food court yang di janjikan lewat short massage Tomo di ponselnya.
"Hey... Sayang..., gila laki-laki tadi itu sepertinya yang tempo hari memepet sepeda motorku, saat aku mengejar mobil yang di tumpangi Palupi, sayang... Sebaiknya kamu hati-hati atau lupakan saja untuk mengajak Palupi kembali padamu, aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Riris." Tomo menyongsong Riris dan mengajak duduk bersebelahan di meja tempat ia menunggunya tadi.
Riris semakin dilema antara dua pilihan, nekat dengan mimpi menjadikan Palupi ladang uang, atau berhenti dan mengubur mimpi itu kemudian minta maaf kepada Bambang karena ia sudah menjanjikan tubuh Palupi.
Aakhh..... Gimana....?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
TBC ๐
Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐.
Salam Sayang Selalu By RR ๐