
Anne yang khawatir anaknya dinakali John, meminta Beldiq untuk menelpon John karena sejak tadi sore ponsel Palupi tak diangkat saat ditelpon. Anne mulai gelisah, sedangkan Beldiq hanya tersenyum. "Percayalah sayang, mereka baik-baik. Saatnya mereka menikmati kebersamaan mereka tanpa gangguan kita.
"Baiklah, aku percaya John tak akan melanggar janjinya padaku. Aku hanya ingin putriku dapat merasakan indahnya masa remaja. Nanti, bila sudah mulai kuliah, dia dapat bersosialisasi dengan teman sebaya, seperti kita dulu. Aku ingin putriku berkembang tanpa terhambat oleh pola pendidikan yang sudah tidak sesuai dengan eranya. Aku tak ingin putriku dewasa sebelum waktunya seperti Riris itu." Keluh Anne dalam pelukan Beldiq yang sedang bersiap untuk santap malam di restoran hotel.
Beldiq meyakinkan Anne untuk tidak khawatir. "Honey, walau selisih usia kami 15 tahun, John cukup dewasa menyikapi setiap persoalan. John baru berusia 12 tahun, ketika daddy kami meninggal, namun dia tidak manja. Dari kami masih kecil, daddy selalu mendidik kami anak-anaknya untuk menghormati norma dan etika yang membentuk kami memiliki kepribadian yang kokoh, dan tak akan pernah melanggar janji yang diucapkannya." Hibur Beldiq, sambil masuk lift turun.
Sambil menunggu makanan yang dipesannya, Anne memegang tangan Beldiq di atas meja. "Iya aku percaya. Buktinya, kamu tetap setia menungguku. Aku hanya ingin putriku memiliki kebebasan menentukan masa depannya sendiri, dan kita sebagai orang tua membantunya bila dia mengalami kesulitan dan hambatan tanpa memaksakan kehendak."
Beldiq mengangkat tangan Anne dan mengecupnya. "Izinkan aku ikut berperan sebagai ayah bagi Palupi." Ucap Beldiq dengan hati-hati. "Tentu saja, bukankah itu sudah kewajibanmu? Putriku tumbuh kembang hingga remaja tak mengenal kasih sayang seorang ayah. Dia dibesarkan di lingkungan orang-orang yang minus moral." Ucap Anne dengan wajah sendu. Mereka makan dalam diam hingga selesai.
Sementara itu di tempat berbeda, setelah puas berswafoto berdua, Palupi yang sedang dikhawatirkan oleh ibunya, justru duduk manis di warung seafood di lokasi dekat pantai setelah puas bermain pasir. John dan Palupi menikmati sajian seafood. John membantu mengupas udang bakar madu kesukaan Palupi dan menyuapkannya setelah dicocol ke sambal kecap.
John tertawa melihat bibir Palupi yang berlepotan kecap. Dengan gemas dikecupnya bibirnya. Palupi kaget dan tersipu. "Ihh John, malu iihh dilihat orang." Pelayan yang melayani mereka tertawa melihat tingkah pasangan bule yang sedang dimabuk asmara itu.
Usai makan, keduanya pergi ke apartemen Liana karena palupi mengeluh badannya terasa lengket dan ingin mandi. Dengan menggunakan keycard miliknya sendiri, Palupi bebas masuk ke unitnya Liana setelah memasukkan pass code untuk membuka pintu. Ternyata gelap karena Liana belum kembali. Palupi segera menyalakan lampu. "Aku mandi dulu ya," pamit Palupi kepada John yang dijawab dengan anggukan kepala.
Sambil nunggu Palupi selesai mandi, John berbaring di sofa luas yang sangat comfortable untuk memejamkan matanya sejenak. Menit berlalu sangat lambat hingga membawanya ke dunia mimpi.
Palupi mematut dirinya pada cermin dan menatap setiap lekuk tubuhnya. Kejadian beberapa waktu lalu pada dirinya membuat rona merah dan menghangat pada wajahnya. Secara tidak langsung John sudah pernah melihat dan memegang aset berharga miliknya.
Sunyi....
Dengan memakai baju santai Palupi ke luar dari kamarnya dan menghampiri John, yang ternyata telah terlelap dengan nyamannya. Senyum Palupi menghiasi bibir tipisnya. Dengan sengaja ia merebahkan dirinya pada dada bidang John.
Antara sadar dan tidak, John meraih tubuh Palupi dalam pelukannya. Harum tubuh Palupi membuat John enggan untuk melepaskannya.
Mata John terpejam namun tangannya aktif dan semakin mempererat pelukannya.
Palupi menikmati setiap pelukan yang ia terima dari John, hingga mereka sama-sama terlelap dalam hangatnya pelukan.
Malan sudah larut, Liana pulang dan membuka pintu. Dia terkejut karena lampu di ruang tamu menyala terang. Perlahan Liana masuk takut membangunkan Palupi yang sedang tidur. Namun, betapa terkejutnya Liana saat melihat pemandangan yang didapatinya. Liana tersenyum melihat sepasang insan yang tidur terlelap saling berpelukan. 'Astaga, bocah ini. Sebegitu kangennyakah, sampai lupa tidur di mana?' Gumam Liana. Diam-diam Liana memotret mereka dari beberapa sisi. Liana tertawa geli dalam hati.
Liana kemudian masuk ke kamarnya. Setelah mandi dan bersalin baju. Liana kembali ke ruang tamu dan menggelitik pelan kaki Palupi. Rasa geli di kakinya, membuat Palupi terbangun. Matanya langsung melotot kaget melihat Liana yang berdiri di dekatnya. Perlahan Palupi melepaskan diri dari belitan tangan John.
"Sayang, tidur di kamarmu sendiri ya. Gak boleh tidur bareng kalau di sini. Cici sudah berjanji kepada mommymu untuk menjagamu selama tinggal di sini." Palupi mengangguk patuh. Setelah menyelimuti John dan menaruh guling di sebelahnya, Palupi dan Liana masuk ke kamarnya masing-masing.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Binar bahagia terpancar di wajah Riris, setelah Bambang memberitahukan bahwa mereka akan melakukan persiapan untuk pulang ke kota S.
Kerinduan akan sosok Tomo yang selama ini membuatnya menahan badmood yang tiba-tiba up and down. Sering ia uring-uringan dengan Bambang tentang schedule yang berubah-ubah dan membuatnya mengulur waktu dan harus memendam kerinduannya pada kekasih gelapnya Tomo.
Hoek .....Hoek...
Tiba-tiba Riris berlari menuju ke toilet dan memuntahkan isi dalam perutnya. Bambang yang mengetahui hal itu, sontak saja menghentikan aktivitasnya dalam berbenah beberapa dokumen yang akan ia bawa pulang.
"Riris... Ada apa denganmu? Kamu sakit?" Tangan Bambang membimbing Riris untuk duduk di tepi ranjang lalu memberikan tissue untuk mengusap keringat dingin yang mengembun di kening Riris.
"Mungkin hanya capek saja Oom. Riris tidak apa-apa kok," elak Riris sembari menepis tangan Bambang.
'Ah... Aku tidak boleh sakit, aku harus segera pulang dan menemui mas Tomo' batin Riris, tetap mengelabuhi rasa yang sedang mendera tubuhnya.
Tubuh Riris melemah setelah muntah. Wajahnya yang memucat membuat Bambang khawatir. "Ayo kita ke dokter." Ajak Bambang. Dia memaksa Riris ke dokter karena lamanya perjalanan untuk kembali ke kota S. Riris bersikukuh enggan diajak ke dokter. "Aku gak apa-apa Oom. Mungkin aku hanya masuk angin. Oom kan tahu sendiri cuaca sedang tak bagus. Sebentar hujan, sebentar terang, tak lama hujan lagi." Kilah Riris.
Bambang mengamati wajah Riris yang pucat dan tubuh yang lemah. Pikirannya jadi kacau. "Dengar Ris, perjalanan kita ini nanti selama lima jam. Kalau kamu tiba-tiba pingsan di jalan bagaimana?" Tanya Bambang sambil mengelus kepala Riris.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Apa yang terjadi pada Riris? Silakan netizen menebaknya ππ
To be continued π
Salam Sayang Selalu By RR π