
Siang itu Riris telah selesai menyiapkan makan siang untuk Juleha. Gadis itu mau tak mau harus belajar mengurus rumah. Belajar mencuci baju walau yang nyuci itu ya mesin cuci. Hanya urusan gosok baju dia serahkan kepada loundry kiloan. Riris juga harus bisa menyapu dan ngepel rumah. Semua sekarang harus dikerjakan sendiri sejak ditinggal Palupi dan ditambah lagi ibunya sakit yang memerlukan waktu cukup lama dirawat di rumah sakit.
Andai Palupi bisa kuseret kembali ke rumah ini, aku akan bebas dari pekerjaan yang membosankan dan menguras tenaga. 'Huh, anak itu sekarang makin cantik saja. Sekarang sudah pakai baju branded terkenal. Kenapa ya, anak itu beruntung sekali?' Gumamnya dalam hati. Rasa jengkel yang muncul tiba-tiba membuat Riris membanting sapu yang dipegangnya. Dia menghenyakkan bokongnya di sofa sambil menaikkan kakinya. Riris merasa bahwa ibunya sudah menjual lepas Palupi. Timbul kecurigaan bahwa ibunya sudah menerima uang banyak yang diibaratkan sebagai mahar dari pasangan bule itu. Riris mulai memutar otaknya untuk kembali membuka lemari ibunya yang selalu terkunci.
Kebencian mulai menguasai hati Riris. Rasa iri dan dengki bersemayam dalam hatinya. 'Tapi, tunggu, bukankah Oom Bambang tak mengizinkan aku menyentuh Palupi? Bahkan mas Tomo juga sudah mengingatkanku untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Palupi? Arrch, awas kau Lupi. Akan kuseret dan kupaksa kau jadi penghuni rumah kaca.' Kembali otak liar Riris merancang kejahatan.
Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring mengagetkan Riris, segera terbaca nama Bambang di layar ponselnya. Senyumnya langsung terkembang dan menggeser gambar warna hijau di permukaan ponselnya. "Ya Oom, kangen ya?" Dari emosi yang sedang menggebu, Riris berubah manja. Suaranya mendayu, membuat Bambang blingsatan karena ular di sarangnya menggeliat bangun. "Sekarang kamu ke apartemen, Oom tunggu, gak pakai lama. Bawa beberapa baju ganti, kamu temani Oom tugas ke luar kota selama tiga hari." Riris langsung berjingkrak. "Baiklah, tunggu aku bersiap dulu ya Oom sayang." Jawab Riris dengan suara merdunya.
Riris yang egois tak mau tahu ibunya yang sedang butuh ditemani dan dirawat. Dengan bersemangat Riris segera memasukkan baju dan perlengkapan yang dibutuhkannya. Selesai bersiap, Riris pamitan kepada ibunya, bahwa dia mendapat job sebagai lady escort selama tiga hari. "Ibu panggil mak Siti buat temani ibu selama kutinggal. Ini uang sejuta buat kebutuhan ibu." Riris memberikan uang dan meninggalkan ibunya yang terdiam.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Hari berlalu dengan cepat. Tiba saat Juleha menerima surat panggilan menghadap dari Kantor Polres Kota S yang diantar kurir. Juleha menitikkan air mata penyesalan. Kini tiba saatnya ia harus bertanggung atas kesalahannya. 'Berarti besok aku harus menghadap ke kantor polisi. Betapa rasa bersalah ini semakin menghimpit dada. Ingin rasanya berteriak menentang langit.
Tok... tok... tok...
Ketukan di pintu menyadarkan Juleha dari lamunannya. Perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu. "Lho, kok kamu Ning, emakmu ke mana?" Tanya Juleha pada gadis remaja yang tersenyum melihat Juleha. "Emak lagi bantuin saudara di kampung sebelah Budhe. Si Kuncung mau sunat besok." Jawab Nining, sambil masuk ke dalam rumah. "Tadi mbak Riris nelpon, saya disuruh ke sini, nemani Budhe. Sekarang Ning mau beberes dulu ya. Budhe istirahat saja." Juleha hanya senyum dan kembali masuk kamar.
Sementara itu di RS, Ray baru sempat menemui dan menemani dr. Anita untuk makan siang di food court RS. "Sayang, menurutmu bu Juleha sudah siap kan untuk pergi ke kantor polisi?" Anita yang tiba-tiba dapat pertanyaan dari suaminya hanya bisa mengangguk sambil menyuap nasinya. "Sudah bisa Mas, kan kondisi bu Juleha cukup baik untuk mulai disidik. Aku juga ikut lelah lho, menangani pasien yang menderita sakit yang sudah stadium akhir. Semoga semua masalah segera usai." Jawab dr. Anita.
Sebagai seorang dokter, Anita harus mampu menekan rasa kasihan, siapa pun yang menjadi pasiennya. Baginya profesionalitas adalah kewajiban yang utama dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai dokter. Wajib mengesampingkan rasa kasihan dan benci, sekalipun yang dilayani itu seorang penjahat seperti halnya dia merawat dan mengobati Juleha. "Aku berani jamin Mas, bu Juleha sudah bisa dipanggil ke kantor polisi. Aku sudah menyiapkan tim medis yang standby di sana, bila tiba-tiba dia pingsan." Jawab Anita meyakinkan suaminya untuk tidak perlu khawatir.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Keesokan harinya.
Tok... tok... tok...
Juleha yang sudah menunggu langsung membuka pintu. "Dengan ibu Juleha?" Tanya di sopir. "Iya Pak." Sambil menutup dan mengunci pintu rumahnya. Juleha pergi memenuhi panggilan pihak kepolisian untuk diperiksa. Dia sudah siap bertanggung jawab atas semua perbuatannya di masa lalu. Baginya kini yang paling utama adalah mendapat maaf dari Palupi dan Nyonya Anne. Penyesalan terdalamnya saat mendengar penuturan nyonya Anne atas tewasnya tuan Anthony ketika melacak keberadaan Palupi. Juleha kini merasa sebagai pembunuh secara tidak langsung. Air matanya kembali menetes saat mengingat kejahatan yang tak terampuni. "Kita sudah sampai Bu, silakan turun." Juleha tergeragap dari lamunannya, dan segera turun. "Terima kasih Pak, sudah bayar ya lewat aplikasi." Sopir tersenyum, "iya Bu, terima kasih sudah menggunakan jasa kami." Jawab si sopir.
Juleha memasuki halaman kantor polisi. Ray dan John sudah menunggu langsung mendekati Juleha dan mengantarnya ke ruangan penyidik. Wawancara berlangsung tenang. Penyidik bertanya, apakah akan didampingi pengacara saat diperiksa. Juleha menjawab tidak perlu. Proses penyidikan berjalan dengan baik. Juleha dengan kooperatif menjawab dan membenarkan semua yang ditanyakan oleh Penyidik.
Juleha menjelaskan alasan menculik Palupi alias Gulizar karena penumpang di kapal menegur dan mengira Juleha adalah pengasuh Palupi yang sedang menangis ketakutan.
Penyidik mencatat semua penjelasan Juleha. Termasuk tentang tas yang berisi dokumen dan perhiasan. Juleha menjawab jujur bahwa tas dan perhiasan masih disimpannya di rumah. Juleha juga mengakui telah menjual gelang berlian untuk biaya merawat dan membesarkan Palupi termasuk biaya sekolahnya, sedangkan kalung dan cincin masih tersimpan dengan baik. Juleha juga mengakui tuduhan bahwa dia karena terdesak biaya berobat, telah tega menjual keperawanan Palupi kepada orang asing.
Akhirnya, status Juleha yang semula terperiksa langsung naik jadi tersangka. Dengan statusnya itu, penyidik langsung mengusulkan untuk menerbitkan surat penahanan, namun sesuai arahan dari Kapolres, Juleha ditetapkan sebagai tahanan rumah untuk menjalani proses berikutnya.
Seorang petugas kemudian menuntun ke ruang kerja Kapolres, karena Ray dan John sudah menunggunya di sana. Di ruangan Kapolres, Ray menjelaskan bahwa Nyonya Anne akan mengambil tas milik Tuan Anthony, didampingi Notaris, Pengacara dan Kapolres sebagai saksi. "Apakah pak Ray dan tuan John akan hadir?" Tanya Juleha yang sudah mulai ketakutan. "Tenang Bu, kami semua akan hadir."
Ray dan John yang mulai menangkap kegelisahan Juleha, mulai melirik dan memberi kode kepada Harry untuk melepas Juleha pulang ke rumahnya. "Bu Juleha, saya akan mengantar anda pulang. Kami besok akan mengantar nyonya Anne pemilik sah tas yang anda ambil itu. Jadi kami minta, bu Juleha menyiapkan tas lengkap dengan isinya. Karena bu Juleha sudah menandatangani berkas penyidikan yang berisikan pengakuan resmi, maka bu Juleha sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mengingat kondisi kesehatan bu Juleha, anda sekarang berstatus tahanan rumah, lebih tepatnya tahanan kota. Seorang petugas kepolisian akan mengawasi anda. Jadi jangan mencoba melarikan diri. Kami melakukan ini atas dasar kemanusiaan. Juleha menetaskan air matanya saat mendengar penjelasan itu. "Iya Pak. Saya siap menjalani apapun keputusan yang dijatuhkan kepada saya. Sekarang pun saya sedang menjalani hukuman dari Tuhan. Saya ikhlas Pak, kalau harus masuk penjara," isaknya meratapi nasibnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
To be continued π
Love and sayang always by; RR π