I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 63



Pelukan hangat itu kembali Liana rasakan, bagaikan tetesan air hujan di padang pasir, dingin dan menyejukkan. Tangis itu semakin pecah membawa rasa lega yang selama ini ia simpan.


"Ah Lian... Kamu pulang nak, anakku akhirnya pulang juga kamu," emosi kerinduan tuan Handoko hingga tanpa sadar ia berdiri dan memeluk anak yang dulu pernah ia usir dari dalam lingkup keluarga.


Suster yang selama ini membantu dan merawat tuan Handoko terperanjat dengan perubahan tuannya. Feng Ling yang bersamaan waktu datang menjenguk tuan Handoko pun tidak mampu melangkahkan kakinya. Dia terkejut saat melihat pemandangan yang sangat mengharukan itu sulit ia percaya. Sang papa yang selama ini merutuki diri sendiri, hingga jatuh sakit. Dokter sudah memvonis sakit osteoporosis atau pengeroposan tulang. Penyakit yang ia alami akan sulit pulih kembali karena faktor usia.


Namun hari ini...


Semua tidak seperti vonis yang dokter berikan. Tuan Handoko kembali mampu berdiri, dan bahkan memeluk erat Liana yang ia rindukan selama ini.


"Opa... kenapa menangis...? Horeee opa berpelukan sama tante cantik." Mario bocah kecil itu berlari mendekati mereka yang sedang menikmati luapan kerinduan yang terkubur hampir sekian tahun lamanya.


Pelukan Liana seolah enggan terlepas. Begitu erat bahkan ada rasa enggan untuk menggerakkan tangannya, suara isakan diiringi sebutan sebuah nama mengalun merobek jiwa yang tertahan di kerongkongannya yang selama ini telah berkarat dengan rasa enggan menyebut namanya. "Papa.. maafkan Lian, aku pulang dan tidak seperti yang papa harapkan."


"Ah Lian..., "tangis itu kembali menggaung menyayat kalbu nan pilu. Liana menangis hingga bahunya terguncang tak dapat menahan rasa takut dan bahagia, bergejolak dan membaur dalam dada.


Feng Ling yang menyaksikan tidak jauh beberapa jengkal dari mereka, dibuat bingung papanya dipeluk wanita yang sangat cantik. 'Siapa dia? Apakah itu anak papa dari isteri yang lain?' Gumam Feng Lin dalam hati. 'Ah, tak mungkin! Papa hanya setia kepada mama.' Bantah batinnya lagi.


Saking kagetnya melihat papanya dipeluk wanita cantik, dia terbengong dan


menjatuhkan bunga mawar merah yang ia bawa. Bunga kesukaan sang papa sejak mendiang mama mereka berpulang terlebih dulu. Perlahan didekatinya kedua orang yang masih tenggelam dalam pelukan. Ungkapan kerinduan yang terjawab.


Feng Lin mendekati papanya, "Papa..., papa peluk siapa?" Kedua orang yang larut dalam tangis melepaskan pelukannya. Sang papa meraih Feng Lin, "ini kokomu, Ah Lian sudah pulang." Ujarnya sambil tersenyum dalam tangisan bahagia. "Dia pulang Lin, ini kokomu sudah pulang." Pekik tuan Handoko.


"Ko Liaaan..." Feng Lin menubruk Liana tak peduli si suster kebingungan mendengar nama yang diteriakkan Feng Lin. 'Eh, wanita cantik dipanggil Koko?' Suster itu geleng-geleng kepala kebingungan.


"Mommy..., kenapa mommy juga ikut nangis? Kenapa semua menangis...? Siapa yang nakal mommy...?" Si kecil Mario menolehkan kepalanya dan menarik baju ibunya sambil memandangi mereka satu persatu.


Feng Ling yang terbawa suasana haru sekaligus melepaskan pelukannya dan berjongkok menyamai tinggi badan Mario kemudian menjelaskan, "Sayang..., itu uncle Ah Lian telah kembali, Opa menangis karena bahagia. Yuk kita berikan pelukan juga kepada uncle Ah Lian."


"Koko... Papa..."


Kembali suara Feng Lin mampu membuat pelukan mereka bertaut, senyum jelas terlihat bahagia di wajah tuan Handoko. Rasa bahagia kembali membuncah. Wajah tua yang berkeriput itu kembali bersinar. Terlebih saat Feng ling menyaksikan papanya sudah sanggup berdiri dan kembali gagah seperti semula.


Tawa bahagia mereka melukiskan sebuah keluarga yang kembali utuh, setelah sekian lama hilang komunikasi.


"Mario... Berikan salam buat Opa, dan ini," Feng Ling berhenti sejenak bingung untuk menjelaskan kepada Mario tentang siapa Liana. Tidak perduli dengan kebingungan Mamanya, Mario sudah membaur memeluk kaki tuan Handoko. "Opa itu Tante siapa...? Kata mommy ada uncle di mana dia?"


Tawa Liana semakin membuat Mario kebingungan, Feng Ling mengedipkan matanya ke arah suster yang merawat tuan Handoko, dan rupanya suster itu memahami kode dari tuannya dan ia pun melipir masuk ke dalam, menjauh dari perbincangan mereka.


"Papa, kita masuk ke dalam, biar aku yang dorong kursinya." Mario minta dipangku opanya di kursi roda, "Iyo pangku opa, Tante cantik ayo sini..." Mario memegang tangan Liana dan mereka pun berjalan masuk ke dalam ruang keluarga. Untuk melanjutkan perbincangan mereka.


Liana mengusap air matanya. Dia yang semula selalu didera ketakutan. Takut ditolak, takut dibenci, ternyata berbanding terbalik dalam kenyataannya. Papanya tak pernah membencinya. Liana baru menyadari bahwa papanya sangat mencintainya. Dia salah menafsirkan ungkapan kasih sayang papanya. Ah, seandainya dulu Liana punya keberanian mengungkapkan konflik batinnya. Namun, semua sudah terjadi. Yang telah berlalu tak akan kembali sama.


Mario putra pertama Feng Lin menjadi kesayangan opanya bila berkunjung ke rumah besar. Bocah kecil itu selalu membuat opanya tersenyum. Senyum Mario selalu mengingatkannya pada senyum Ah Lian kecil. Mario jadi pengobat rindu sang opa. Kini putranya telah kembali. Sebagai orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan, Tuan Handoko dapat memaklumi kondisi anaknya.


Feng Lin, kini sebagai putri tertua mengambil alih tanggung jawab keluarga sejak papanya jatuh sakit. Sebagai sarjana manajemen industri tidak terlalu sulit baginya melakukan inovasi dalam sistem manajemen di perusahaan milik papanya, yang dikelolanya bersama suaminya.


"Aku, bingung harus memanggilmu apa? Koko atau Cici?" Tanya Feng Lin kepada Liana, saat mereka duduk di ruang keluarga. Jujur, maafkan aku. Aku masih merindukan koh Ah Lian yang dulu. Ah, tapi sekarang...", Feng Lin mengungkapkan rasa yang di hatinya.


"Sesukamu mau memanggilku apa. Yang penting kasih sayangku tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang." Jawab Liana saat melihat adiknya masih ragu-ragu dan agak takut-takut karena biar bagaimanapun juga, Liana adalah anak tertua dalam keluarga.


"Sudahlah Lin, kalau dia maunya dipanggil Cici, papa juga tidak apa-apa. Semua sudah terjadi." Sahut papanya menengahi kebingungan Feng Lin. "Tante cantiiik, namanya siapa? Namaku Maliyo, dipanggil Iyo," tanya Mario sambil mendekati Liana. Rasa haru menyeruak dalam dada.


Diraihnya Mario dipeluk dan diciumi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kembali matanya berembun saat memeluk bocah kecil yang telah menaklukkan hatinya. "Iihh, tante cantik kok nangis lagi sih." Ucap Mario sambil menyeka air mata Liana. Semua orang yang hadir tersenyum melihat tingkah Mario yang menggemaskan.


"Lin, antar papa beristirahat di kamar." Biar kokomu berdua Mario di sini. Sepertinya mereka sedang melupakan kita," ujar Tuan Handoko kepada Feng Lin, sambil tertawa bahagia.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


TBC ๐Ÿ˜‰


Papa ku๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ... jadi rindu ๐Ÿ˜ญ, cckk....


sekejam apapun orang tua, se buruk apapun seorang anak, nyatanya pintu maaf selalu terbuka lebar-lebar, Sejauh mana burung terbang ke sarang ia harus kembali juga.


Salam Sayang Selalu By; RR ๐Ÿ˜˜