I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 87



Mobil yang mereka tumpangi berjalan merayap membelah kota, sejuknya air-condition yang menusuk tulang sedikit demi sedikit serasa menusuk tulang sumsum Riris.


Wajah pucatnya yang ia sembunyikan dengan merah meronanya, warna lipstik yang ia kenakan seakan enggan mengupas wajah pucat pasi itu.


Dalam diam Bambang menyadari perubahan pada kondisi Riris, "Sayang..., kita ke dokter dulu! Kondisimu seperti ini tidak bisa di biarkan berlarut."


Tanpa menunggu persetujuan dari Riris, Bambang memutar balik kemudinya menuju alamat klinik yang telah di berikan oleh resepsionis hotel.


"Oom... Riris baik-baik saja kok, kita langsung pulang saja!" Riris tetap bersikukuh namun tidak dengan Bambang, ia tetap pada pendiriannya untuk membawa Riris periksa ke dokter. Bambang menatap wajah Riris dari samping, dan mencium pada ujung kepalanya Riris hanya pasrah karena ia memang tidak mampu berbuat banyak lagi.


Tertera nama dokter praktek spesialis Obgyn, dr. Benny Lukito, Sp.OG.


"Oom... Riris nggak, kuat." Badan Riris limbung, beruntung Bambang segera menangkap dengan cepat ke dalam rengkuhannya.


"Tolong, siapapun! Tolong saya!"


Beberapa orang yang mengetahui langsung membantu dan membawa Riris menuju IGD dengan brankar. Bambang segera diminta mendaftar dan mengisi data calon pasien. Formulir diisi dengan nama Risnawati dan penanggung jawab Bambang. Selesai mendaftar, Bambang duduk di depan IGD.


Menit demi menit Bambang menunggu dengan gelisah, rentetan harapan sudah terlukis pada benaknya. Senyum itu mengembang tanpa ia sadari.


"Suami ibu Risnawati." Tiba-tiba suara seorang suster yang baru saja membuka pintu mengejutkan lamunan Bambang.


Bambang berdiri, lalu menghampiri suster, " silakan Bapak, anda bisa menemui dokter Benny di ruangan sebelah."


"Terima kasih, Sus," langkah Bambang berlalu dan mendekat ke meja praktek. "Selamat siang, Dok,"


"Siang Pak, silahkan duduk. Selamat anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, usia kandungan istri anda saat ini sudah memasuki minggu ke delapan." Tangan hangat dokter Benny berjabat dengan Bambang.


Binar mata Bambang tidak bisa menyembunyikan rasa gembira yang baru saja ia dengar.


"Oh... Alhamdulillah... Di mana istri saya sekarang Dok? Dia baik-baik saja kan,"


"Saat ini kondisi nyonya Risnawati sangat lemah, dan butuh istirahat. Menurut hasil USG 4D ( Trans*va*ginal) menunjukkan ada kelainan pada detak jantung janin yang lemah, jadi untuk saat ini wajib bedrest. Hanya ini langkah dan solusi yang tepat untuk menyelamatkan ibu dan janin dalam kandungannya. Kami akan berusaha melakukan tindakan pengobatan untuk membantu pertumbuhan janin menjadi normal" Dokter Benny dengan sabar memberitahukan keadaan Riris yang saat ini sedang lemah dan membutuhkan penanganan khusus.


"Maksud anda, anak saya tidak bisa tertolong, begitu?" Bambang seketika frustrasi setelah mendengarkan segala penuturan yang dokter Benny berikan. Bambang terpukul mendengar penjelasan dokter Benny. Harapan untuk memiliki keturunan selama bertahun-tahun seakan sirna kembali.


"Kita tetap berusaha, Pak...?"


"Maaf, saya dengan pak Bambang,"


"Baik pak Bambang, kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, selebihnya kita serahkan kepada Yang Mahakuasa." Dokter Benny dengan penuh wibawa menatap Bambang dengan rasa iba.


Panjang lebar dokter Benny memberikan penjelasan dan segala pengertian kepada Bambang, sementara Riris masih tergolek lemas di ranjang pasien.


Antara sesal dan rasa sakit menyatu dalam dirinya membuatnya semakin lemah tidak berdaya.


"Anak siapa yang aku kandung dalam rahimku ini? Andai harus gugur dan mati, ya mati sajalah hanya memberikan rasa susah saja." Batin Riris masih saja picik dengan jalan pikirannya yang bebal.


Bambang sibuk menelepon ke kantor dan ke istri sahnya, memberitahukan keterlambatan kepulangannya dan terakhir tentu saja ia telpon Tomo untuk menyusul dan memeriksa segala pekerjaan yang ia tinggalkan sebelum meluncur ke tempat yang sudah Bambang bagikan alamatnya.


"Sayang..., kamu harus kuat, saat ini buah cinta kita telah bersemayam di dalam rahimmu, Riris jangan bawel lagi! Beberapa hari ke depan, kita akan mengurus surat-surat dan Mas akan menikahimu secepatnya." Senyum Bambang melebar, kebahagiaan telah menghiasi hari-hari saat ini, tangannya menggenggam erat tangan Riris yang sebenarnya enggan ia jamah.


"Mas...?" Wajah Riris menatap Bambang dengan ragu dan penuh tanya.


"Ya sayang, mulai sekarang kamu jangan panggil aku Oom Bambang lagi. Kita akan segera menikah dan kita mempunyai anak, jadi kamu mulai sekarang panggil aku Mas." Bibir Bambang mendarat menge*cup lembut puncak kepala Riris yang masih bingung.


Sungguh bukan mimpi yang indah bagi Riris untuk menikah dan hidup terikat dengan sebuah pernikahan apalagi dengan sosok Bambang yang pantas ia jadikan sebagai figur seorang ayah bukan suami.


"Tapi Oom..."


"Sstt..., sudah istirahat saja, hmm jangan banyak beban pikiran. Kita harus patuh pada anjuran dokter untuk total istirahat," Bambang kembali mengec*up pucuk kepala Riris.


Sedangkan Riris yang dalam pengaruh obat, tidak berdaya lagi hingga tidak menunggu lama lagi ia sudah terlelap.


Harap-harap cemas, itu yang dirasakan Bambang. Lima belas tahun menjalani hidup berumah tangga dengan isteri sahnya, belum juga dikaruniai anak. Mungkin Ririslah yang dapat memberikan keturunan yang diidam-idamkannya.


Riris mau tidak mau harus menjalani perawatan di klinik tersebut karena dokter dan Bambang tak mengizinkan turun dari brankar tanpa dibantu suster.


Tomo tiba di klinik pukul delapan malam, menggunakan mobil sewaan karena membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani Bambang. Langkahnya gontai menenteng tas kerja memasuki klinik tempat Riris dirawat. Bambang yang melihat kedatangan Tomo langsung melambaikan tangan. "Bos, siapa yang sakit?" Tanyanya, pura-pura tak tahu bahwa Bambang mengajak Riris menemaninya selama rapat di kota itu.


Wajah Bambang terlihat kuyu dan lelah, karena belum sempat istirahat. "Duduk dulu sebentar di sini, aku mau pamit dulu kepada Riris." Ucap Bambang yang kemudian masuk ke ruang rawat Riris. "Sayang, Mas mau kembali ke hotel tempat kita menginap tadi ya. Mas mandi dulu." Riris hanya bisa mengangguk karena tubuhnya masih lemas.


Bambang dan Tomo kembali ke hotel. Resepsionis yang sedang pergantian shift terkejut melihat Bambang kembali. "Selamat malam Pak. Apakah ada barang yang tertinggal? Tanyanya. Bambang tersenyum. "Tidak Mbak. Isteri saya sekarang dirawat di klinik yang anda rekomendasikan, jadi saya mau menginap lagi di sini, mungkin dua atau tiga hari." Resepsionis pengganti langsung melayani Bambang. Bellboy mengangkat koper Bambang ke trolley dan mengantarkan Bambang ke kamar diikuti Tomo.


Tomo dibikin bingung dengan percakapan Bambang dengan resepsionis yang bersiap pulang. Ingin bertanya, tapi Tomo tak memiliki keberanian. "Kamu duduk dulu Tom, aku mau mandi dulu." Tomo meletakkan tas kerja yang dibawa di atas meja. 'Kemarin Bos kan perginya dengan Riris, tapi kok dia bilang isterinya dirawat? Apa pak Bos nikah lagi? Terus Riris di mana? Apa Riris menemani isteri baru pak Bos?' Batin Tomo kebingungan.


Selesai mandi, Bambang mengajak Tomo makan lebih dulu di restoran hotel. Sambil makan Bambang bertanya, "tadi kamu berangkat ke sini, mampir dulu tidak ke rumah?" Sambil menyuap Tomo menjawab, "iya Pak, saya harus mengambil titipan Ibu untuk Bapak. Saya taruh di tas tadi." Jawab Tomo.


Deghh....


Wajah Bambang kembali sendu mengingat istri sahnya, walaupun sudah bertahun-tahun mengalami penghianatan namun ia masih juga setia.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Titipan apa yah πŸ€”πŸ§?


To be continued πŸ˜‰


Love and big hugs πŸ€— always by RR 😘