
Nervous yang Palupi rasakan membuatnya selalu ingin berada di samping nyonya Anne ataupun Liana. Ia bahkan mengalihkan semua perhatiannya dengan membuka aplikasi novel online yang sedang ia gandrungi beberapa hari ini, untuk membaca free novel yang ada pada ponselnya, dengan cerita fantasi yang mulai disukainya.
Liana yang memperhatikan tingkah Palupi dari tadi hanya tersenyum-senyum. Kemudian otak jahilnya kembali merencanakan sesuatu pada Palupi.
"Liana."
"Iya Nyonya?"
"Heran dengan tabiat Gulizar beberapa hari ini, kenapa ya?" Tanya nyonya Anne tatkala mereka sedang di beranda berdua sambil merangkai bunga segar dan menaruhnya ke dalam vas keramik dan menjadikannya pajangan segar alami dan harum di ruangan.
"Bisa jadi dia mengalihkan kerinduannya pada tuan Boss, Nyonya." Liana menimpali begitu saja pertanyaan nyonya Anne, karena sejatinya dia sendiri juga tidak paham apa yang sedang ada dalam pikiran Palupi.
Palupi yang masih saja keasyikan membaca, sehingga tanpa disadarinya, ia senyum-senyum sendiri di depan ponselnya sambil tangan satunya memegang pipinya yang mulai merona karena begitu menghayati isi cerita novel onlinenya.
"Tuh kan, Nyonya... Dia sudah sedikit berbahaya, mana ada pegang pipi dan tersenyum sendiri di depan ponsel? Aahhh.... kenapa waktu sangat pelan berjalan sih, eiyke ingin segera mereka bertemu loh," Liana bolak-balik menatap jam yang melingkar di tangannya.
Liana kemudian berjalan menuju ujung ruangan dan mulai membuka tablet Android mengecek segala sesuatu yang sudah ia booked hari ini. Dia tersenyum puas. 'Semoga semuanya dapat berjalan lancar, sehingga tuan John dan Gulizar dapat menikmati moment berdua tanpa ada gangguan.' Sebuah tepukan di bahunya mengagetkan Liana.
Diam-diam Palupi menutup aplikasi novelnya, dan mengikuti langkah
Liana tanpa suara. Liana menoleh dan menemukan Palupi yang sudah berdiri di belakangnya. "Hayo, ngelamunin apa sampai serius begitu lihat tablet?" Liana mencubit pelan pipi Palupi, "dasar jahil, seneng banget sih ngagetin orang tua." Melihat wajah dengan bibir yang cemberut, Palupi semakin ingin menggoda Liana.
"Non, dipanggil mommy," tiba-tiba Merry mendekat. Palupi dan Liana buru-buru jalan ke arah ruang makan. Merry tertawa melihat ulah keduanya yang seperti anak kecil berebut untuk sampai ke meja makan. Anne sampai geleng-geleng kepala melihat ulah keduanya. "Honey, aku kok seperti punya dua gadis ya." Ujar Anne kepada Beldiq sambil tertawa, yang disambut dengan senyuman. Mereka akhirnya duduk diam menikmati makan siang yang sudah tersaji di meja makan. Beldiq mengamati sayur lodeh. "Ini apa?" Tanyanya sambil menyendoknya dan mencoba mencicipi.
"Ini sayur lodeh, ini tempe goreng, dan ini empal daging." Palupi menjelaskan satu per satu makanan yang ada, kemudian menunjukkan sambal terasi yang ada di mangkok kecil. "Nah yang ini namanya sambal uenak. Its very spicy." Celetuh Liana sambil tertawa lebar. Mendengar kata spicy, Beldig langsung mengedikkan bahu. Semua yang melihat reaksi Beldiq langsung tertawa karena mereka tahu orang barat tak menyukai rasa pedas seperti sambal.
Usai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil bercanda. Liana melihat jam tangannya lagi, kemudian bilang kepada Anne, "Nyonya, saya mau ajak Palupi turun, karena ada beberapa bajunya yang siap dicoba di butik saya."
"Eh, jadi aku boleh kuliah di sini, Dad?" Beldiq yang ditanya hanya menganggukkan kepala. Anne memeluk putrinya. "Mommy tahu, kamu tidak mudah harus ikut mommy ke England. Semua perlu proses untuk beradaptasi." Keduanya akhirnya berpamitan.
"Liana, nanti bantu aku cari kampus ya. Aku pingin kuliah bisnis. Aku pingin belajar, agar kelak bisa bantu Mommy mengelola perusahaannya." Liana mengusak kepala Palupi, "pasti sayang. Nomor satu belajar dulu." Palupi menatap Liana yang sedang menyetir. "Kalau kuliah sambil pacaran boleh gak ya sama Mommy?" Tanya Palupi dengan lugunya sambil menatap jauh kejalan yang ia lalui. Seketika Liana tertawa dengan pertanyaan yang polos itu. "Sayang, kamu sekarang sudah beranjak dewasa. Punya pacar itu hal yang wajar. By the way, Gulizar sudah punya pacar, katakan siapa dong?" Tanya Liana pura-pura tak tahu. "Ihh, sebel dech. Aku tuh lagi mikir mau kuliah dulu bukan mau pacaran." Sungutnya sambil cemberut. Liana dibikin gemas dengan ulah Palupi. "Iya, iya, kuliah dulu. Tapi kalau ada yang ajak menikah mau gak?" Goda Liana, sambil membelokkan mobilnya ke halaman parkir apartemennya.
"Itu dipikirkan nanti saja!" Elak Palupi
πΉπΉπΉπΉπΉ
Ray sedang menyiapkan beberapa dokumen terkait dengan rencananya mendampingi John bertemu dengan pejabat Konsulat dan kepolisian daerah setempat.
Kriiing... kriiing... telepon kantornya berbunyi. "Ya halo, dengan Ray di sini." Jawabnya. "Selamat siang pak Raynaldi. Masih kenal suaraku tidak?" Tanya orang itu memberi teka-teki kepada Ray. "Tunggu, ini di ID Caller telepon kantorku kok muncul tulisan Kapolres. Apakah anda pak Kombes Anto?" Tanya Ray. "Kombes Anto sudah mutasi ke Polda Metro Jaya. Beliau naik pangkat dan jabatan. "O begitu. Baiklah, Pak. Saya segera menghadap Bapak sekitar Pukul 14.00 nanti. Apakah Bapak berkenan menerima saya?" Tanya Ray dengan penasaran setelah mendengar suara yang sok akrab itu. "Baik, saya tunggu kedatangan anda Pak Ray." Jawab orang itu sambil memutuskan sambungan telponnya.
Ray menyiapkan berkas penting yang diperlukan ke dalam tas kerjanya. Dengan jalan terburu-buru, Ray menuju kantor Polres karena pergantian pejabat, terjadi pelimpahan wewenang dalam penanganan kasusnya Palupi. Ray berpikir dia harus menjelaskan ulang kasus yang menimpa Palupi, agar tidak terjadi penundaan waktu yang sudah diaturnya mengingat besok John Norman sudah tiba di Indonesia.
Ray melangkahkan kakinya setelah memarkir mobilnya. Semakin dekat ke arah ruang kerja Kapolres, Ray tertegun melihat sosok yang dikenalnya berdiri di depan pintu. "Harry." Teriak Ray mendekat dan memeluk orang itu dengan mengabaikan sopan santun di jam kerja. Beberapa anggota polisi yang melihat, memberi hormat dan pergi menyingkir.
Orang itu kemudian menarik Ray masuk ke ruangannya. "Wah, aku tak menyangka ternyata adik sepupuku sudah jadi pejabat di sini." Sambil tersenyum orang yang disapa Harry itu menyilakan Ray duduk. "Aku belum sempat mampir ke rumahmu karena baru tiga hari di sini. Aku sedang mempelajari kasus warisan dari Kapolres lama dan menemukan bundel laporan yang sedang kau tangani. Itulah sebabnya aku menelponmu." Ray kemudian menceritakan seluruh kronologi kasus yang sedang ditanganinya. Harry berdecak kagum saat tahu bahwa kasus itu terungkap berkat kepiawaian John Norman, detektif kenamaan dari Inggris.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
To be continued π
jangan lupa jempolnya ya kak π, tetap dukung karya receh eiyke π