I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 75



Pesawat dari Inggris akhirnya mendarat mulus di bandara internasional kota S.


Setelah menunggu kisaran 20 menit sejak turun dari pesawat, John harus menunggu untuk mengambil bagasinya berupa koper dan box bawaannya. Seorang portir membantu menaruhnya di trolley, kemudian mendorongnya keluar dari gedung kedatangan mengikuti langkah John Norman.


Ray melambai kepada John yang diikuti portir mendorong trolley menuju arah luar.


"Hii dude... Wow semakin keren heh... U memang sedang dalam masa diet, ha...ha...ha..." Ray menepuk bahu John Norman. Gelak tawa mereka selalu kompak ketika bersama.


"Bukan diet lagi dude..., ternyata menanggung beban rindu lebih berat dibandingkan dengan ketika mencari jarum pada tumpukan jerami. You know what, I mean... ha... ha... ha..." Jhon menimpali candaan Ray sambil ikut melangkah menuju parkiran di bandara. Petugas Portir mengangkat koper dan bawaan John, menaruhnya di bagasi mobil, kemudian menerima upahnya dari Ray.


Dalam perjalanan menuju hotel yang sudah dipesan Liana, mereka berbincang sedikit serius tentang rencana pengambilan dokumen dan permata yang masih disimpan oleh Juleha. Ray juga mebahas ulah serta rencana Riris dalam melancarkan aksinya untuk melakukan 'trafficking human' (perdagangan manusia). Sebuah kegiatan yang sudah sering dilakukannya. Sekarang dia berencana kembali akan melakukan penjualan yang sama dengan target korbannnya adalah Palupi, kepada seorang germo terkenal pemilik sebuah rumah kaca.


Malam kian larut, Ray mengendarai mobil dengan santai menuju hotel bintang lima. Namun yang namanya jantung kota mau jam berapapun juga tetep ramai dan ia membelokkan mobilnya ke arah jalan di mana terdapat sebuah cafe berlogo trade mark yang ada di kota S.


"Oh ya... John, apa rencanamu berikutnya? Bila badanmu tak lelah nanti siang kita akan membuka pertemuan keluarga di tempat yang sudah Liana siapkan. Lebih cepat lebih baik. Seluruh dokumen baik dari pengacara, notaris, dan perangkat daerah sudah siap. Satu lagi, berita gembira untukmu dan Gulizar. Harry, adik sepupuku sekarang menjabat sebagai Kapolres yang akan membantu menjadi saksi dan menyelesaikan kasus berdasarkan hukum, berkaitan dengan pengambilan harta peninggalan ayahnya Gulizar. Kebetulan daerah tempat tinggal Juleha itu masuk ke wilayah hukum di bawah pengawasan adik sepupuku itu."


John menyimak uraian Ray dan mengangkat jempol atas kerja kerasnya. Seorang pelayan mengantarkan pesanan nereka. "Aku lapar sekali. Tadi di pesawat, aku tak tertarik saat ditawari makan malam." John langsung memotong salmon steak yang dilengkapi dengan kentang tumbuk dan memakannya. Seorang pelayan menuangkan Sauvignon Blanc di gelas tinggi berkaki, melengkapi makan malam mereka.


"Dengan istirahat satu malam, kukira aku sudah kembali fit dan siap untuk melanjutkan rencana kerja kita, sekaligus aku berjumpa dengan kekasih hatiku." Ujar John yang menerbitkan senyuman Ray. "Waaah, ternyata bisa bucin juga, bro. Ha... ha... ha..." Tawa Ray meledak melihat John yang tanpa tedeng aling-aling mengakui perasaannya kepada Ray.


"Bila semua urusan sudah selesai, apa kalian akan menikah?" Tanya Ray terus terang. John senyum-senyum saat mendapat pertanyaan yang blak-blakan dari Ray. "No, dia masih harus belajar menyiapkan diri. Masih harus studi. Aku akan menunggunya saat usianya sudah cukup." Kilah John.


Selesai makan malam dan menghabiskan sebotol white wine, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan ke hotel tempat John menginap. "Rencana ke Konsulat kapan John? Aku kan harus menyiapkan dokumen pelengkap." Tanya Ray, saat mobilnya sudah sampai di depan lobby hotel. John turun dan melambai kepada seorang bellboy, agar membantunya menurunkan barang bawaan John dan dibawa masuk ke dalam hotel. Ray kemudian memarkir mobilnya di area parkir hotel dan menyusul John ke dalam hotel.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Liana dan Palupi baru keluar dari restoran tempat mereka makan malam. Saat Liana menyetir, dia melihat Tomo yang memboncengkan Riris yang menempel erat di punggung Tomo terlihat seperti sedang mengantuk. "Liana, coba tengok, sepertinya mereka berpacaran ya? Kita sering ketemu, mereka selalu berdua." Komentar Palupi melihat mereka yang berboncengan dengan rapat.


"Sudahlah, abaikan saja mereka. Yang penting Non, jangan pernah turuti permintaan Riris untuk bertemu berdua denganmu tanpa ada pengawal di sampingmu. Paham!" Tegur Liana yang mengingatkan agar tidak terlalu dekat dan menanggapi keinginan Riris.


"Eh, bukan begitu Liana. Aku sadar bahwa sekarang sudah tahu, aku anak mommy Anne. Tapi, aku itu tumbuh bareng lho dengan Riris. Aku tahu wataknya culas dan mau menang sendiri." Ujar Palupi. "Nah, itu tahu bahwa Riris itu tak pantas jadi saudaramu." Masih dengan ngedumel, Liana mengingatkan Palupi. "Iya, iya, sudah jangan ngomel." Sambil nyengir Palupi mengelus bahu Liana untuk menenangkan.


Keduanya kembali ceria dan melupakan perdebatan kecil gara-gara Riris. Sementara itu, Tomo yang berpapasan dengan mobil Liana dan sempat melihat Liana dan Palupi, segera menaikkan gas motornya serta berbelok mengambil arah lain menghindari pertemuan dengan Liana. Tomo sadar, mereka adalah orang-orang yang tak tersentuh oleh orang sekelas Tomo. Dunia mereka berbeda karena kelas sosial mereka tidak sama.


Dari sikap Palupi yang lebih senang diam dan sikap Liana yang over protektif terhadap lingkungan yang berusaha menyentuh dan mendekati Palupi membuat bulu kuduk Tomo merinding. 'Aku harus sadar diri dan menjauhkan Riris dari kebodohannya.' Batin Tomo. Semula Tomo mendukung obsesi Riris, namun setelah Bambang yang menjadi bosnya menjelaskan siapa Palupi dan siapa yang ada di belakang Palupi, nyali Tomo langsung ciut.


Sambil masih mengendalikan motornya, pergulatan batin Tomo masih berlanjut. 'Bila aku masih tetap menjalin hubungan dengan Riris akan bagaimana bentuk rumah tanggaku? Apakah aku harus diam kalau Riris masih tetap mempertahankan profesinya? Nanti bila Riris hamil, anak siapa yang dikandungnya? Ah, ribet banget sih hidupku.' Kembali Tomo bermonolog.


Tiba-tiba ponselnya di saku celana Tomo bergetar. Tomo segera mengurangi kecepatan motornya dan meminggirkan berhenti di bahu jalan. "Ya Bos, saya masih di jalan. Ada keperluan apa Bos?" Tanya Tomo yang menerima panggilan dari rekan kerja Bambang. "Pak Tomo bisa mampir sebentar ke rumah saya? Ada dokumen yang harus segera dipelajari oleh Pak Bambang." Jawab orang yang menelepon Tomo. "Baik Pak, kebetulan saya melewati rumah Bapak. Saya segera sampai ke sana, Pak." Kembali Tomo melanjutkan perjalanannya ke rumah orang itu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


to be continued πŸ˜‰


Salam Sayang Always by; RR 😘