Hotel De Amor

Hotel De Amor
Kabar bahagia End



Kabar Bahagia End


Hari telah berganti. Guzel masih dirawat di rumah sakit saat itu karna memang kondisinya


yang sangat lemah saat di bawa setelah penculikan itu. Zeky dengan sabar


merawatnya sendiri sambil melakukan pekerjaannya.


Seperti hari ini, ia menunggu Guzel siuman sambil bekerja dengan laptopnya. Ranjang rumah


sakit yang di pakai Guzel adalah ranjang King Size yang sudah di pesan oleh


Zeky. Sehingga mereka bisa berbaring dan tidur bersama.


Tanpa sengaja, Zeky melihat tangan lentik Guzel bergerak. Ia bergegas menaruh Laptop


miliknya dan mengelus pelan kepala istrinya itu.


“Sayang, kau sudah bangun?” tanyanya dengan lembut.


Guzel sedang berusaha untuk membuka matanya yang entah kenapa terasa sangatlah berat.


Setelah kedua mata itu terbuka, Zeky sangat bersyukur dan menciumi wajah Guzel


dengan mesra.


“Kau sudah bangun ternyata. Terima kasih, Zel.”


“Kau menangis?” Tanya Guzel dengan suara lemah. Ia bertanya karna mendapati pipi


Zeky yang tengah basah.


“Ya aku menangis. Aku menangis karna sangat bahagia. Kau sudah sadar. Sehingga kau bisa


makan makanan sehat.” Ucap Zeky sedikit bicanda.


“What?” Jadi kamu hanya khawatir kalau aku tidak bisa makan makanan sehat?” tanya Guzel


tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.


“Haha. Aku hanya bicanda sayang. Aku senang kau sudah sadar. Melihat mu tidur begitu lama,


membuat ku tidak bisa bernafas dengan tenang.”


“Memangnya sudah berapa lama aku tertidur?”


“Mungkin sekitar 28 jam.” Ucap Zeky sambil sedikit berfikir.


“Jadi aku tidur selama itu?”


“Hm. Kau terlihat seperti putri tidur. Bahkan aku yang sebagai pangeran mu saja


kesulitan untuk membangunkan mu. Padahal aku sudah mencium bibir mu


berkali-kali. Tapi kau tidak bangun juga.” Ucap Zeky dengan sedih.


“Cih. Kau fikir kita sedang berada di dunia dongeng? Sudahlah. Berhenti bicara yang tidak


mungkin dan belikan aku makanan yang enak.” Guzel memerintah Karna memang


perutnya sedang berdemo minta di kasih jatah.


“Kau lapar?”


“Ck cepatlah.”


“Baiklah. Kau mau makan apa. semua yang kau minta, akan aku turuti. Bilang saja kau mau apa.”


ucap Zeky dengan senang.


“Terserah. Belikan saja. Cepat. Aku sudah kelaparan.”


Zeky kemudian langsung keluar. Ia berlarian dari lantai atas agar cepat sampai di bawah.


Setelah ia berada di dalam mobil dan menjalankan mobilnya. Ia baru sadar. Mau


beli apa, ya? Zeky meminggirkan mobilnya dan berfikir. Apa yang akan ia beli?


Setelah berfikir keras, ia pun memutuskan untuk membeli steak, salad sayur,dan beberapa


buah sehat yang di sukai Guzel, seperti apel.


Setelah sampai di rumah sakit, Zeky sangat kesal saat melihat Guzel yang ternyata sudah makan sambil di suapi oleh ayahnya.


“Dad. Kenapa kau menyuapi istri ku?” teriak Zeky marah. Ia kalah cepat dengan Daddynya.


“Ck. Guzel juga anak ku. Kau mau apa?” ucap Levent tanpa rasa bersalah saat melihat apa


yang sudah di beli Zeky.


“Kau sudah kenyang, sayang?” tanya Levent pada menantunya.


“Ya dad. Aku sudah sangat kenyang.”


“Ck. Sayang, kenapa kau tidak menunggu ku. Padahal kau sudah menyuruh ku untuk membeli semua


makanan itu.” Ucap Zeky dengan kesal.


“Kan aku sudah bilang kalau aku sangat kelaparan. Tapi kau malah lama sekali. Jadi


makanan.”


“Aku hanya  ingin membelikan mu makanan yang sehat dan bagus untuk kesehatan mu.” Teriak


Zeky tidak terima. Ia iri dengan ayah kandungnya. Ia tidak mau kalah dari ayah


kandungnya.


“Oke. Sudah sudah. Coba aku lihat apa yang sudah kamu bawa.” Ucap Guzel meminta.


Guzel sangat senang saat melihat. Makanan kesukaannya. Tanpa berfikir panjang, Guzel


menyantap steak itu hingga tinggal sedikit. Bahkan salad sayur juga tinggal


wadahnya saja. Zeky dan Levent melongo melihat kelakuan Guzel yang sudah


seperti orang yang tidak di beri makan selama berhari-hari.


Guzel hanya menatap mereka dengan wajah polosnya, “Ada apa dengan kalian berdua?” tanya


Guzel heran.


“Tidak apa-apa. apa perut mu sakit?” tanya Levent.


“Tidak, dad. Perut ku terasa kenyang sekali. hanya itu saja.”


“Oh,syukurlah.”


“Tunggu dulu. Semua ini aku menghabiskannya?” tanya Guzel terkejut saat melihat wadah sisa


makanan yang sudah masuk kedalam perutnya.


“Ya.” Ucap Levent yang juga heran dengan menantunya yang sangat rakus hari ini.


“Ini aneh. Kenapa aku makan sebanyak itu. Apa perut ku bermasalah. Zeky, coba kau minta


dokter untuk memeriksa ku dengan menyeluruh. Aku takut aku punya penyakit aneh


yang membuat ku memiliki nafsu makan yang begitu banyak. Sebelumnya kau tidak


pernah seperti ini.” Pinta Guzel yang sedang ketakutan.


“Aku tidak bisa melakukannya. Aku justru sangat senang kalau kau banyak makan.” Ucap Zeky


dengan tersenyum senang. Ia mengelus perut rata Guzel yang sedikit membuncit.


Guzel sangat kesal mendengar ucapan Zeky. Guzel langsung menepis tangan Zeky yang mengelus


perutnya. “Apa kau bilang? Kau senang? Jadi kau ingin kalau aku gendut gitu?”


teriak Guzel marah.


“Ya. Mungkin tahun ini perut mu akan membuncit. Jadi besar seperti balon.” Ucap Zeky sambil tertawa.


“Hey. Kau jangan mendo’akan ku yang tidak – tidak.”


“Aku tidak mendo’a kan mu yang tidak – tidak. Kau sedang hamil sayang. Oleh karna itu aku sangat senang melihat mu makan banyak.” Ucap Zeky meyakinkan agar istrinya percaya.


“Jadi, aku hamil?” tanya Guzel.


“Ya. Aku juga baru tau sat membawa mu kerumah sakit. Dokter menyatakan kalau kau sedang


hamil. Itu lah kenapa aku sangat khawatir. Dan ingin memberi mu makanan yang


sehat.”


“Oh ya tuhan. Aku hamil.” Pekik Guzel dengan senang.


Sedangkan Levent yang awalnya tersenyum senang, kini berubah menjadi murka. “Dasar anak


tidak tau diri.” ucap Levent sambil memukul bokong Zeky dengan tongkatnya.


Guzel tertawa geli melihat adegan itu.


“Dad, kau fikir pukulan mu tidak sakit? Ini sangat menyakitkan Dad.” Teriak Zeky kesal.


“Cih. Begitu saja sakit. Jangan mengeluh. Daddy yang seharusnya mengeluh. Kau ini. Sudah tau


istrinya hamil. Tapi ayah kandungnya tidak di kasih tau!” Tuan Levent marah.


“Aku lupa dad.” Ucap Zeky dengan mengelus bokongnya yang masih terasa sakit.


“What? Jadi kau tidak memberi tau kabar baik itu pada ayah mertua? Jangan bilang kalau kau juga


tidak bilang hal ini pada kedua orang tua ku?” tanya Guzel tidak percaya.


Zeky hanya nyengir mendengar pertanyaan Guzel dan menggelengkan kepalanya. Pertanda kalau


ia juga lupa untuk memberi tau kedua mertuanya. Al hasil Levent kembali


memberikan pukulan pada Zeky di bagian bokong lagi.


“Aduuuuuuuuuh!!” teriak Zeky sambil memegangi bokongnya yang mungkin sekarang sudah benjol.


Bersambung...