
Musuh yang masih bersembunyi
Rumah sakit De Amor adalah tempat berobat yang paling lengkap yang ada di negara ini. Tempat ini berdampingan dengan lokasi Hotel De Amor. Dan kedua tempat favorit masyarakat kelas atas itu adalah milik Zeky.
Tuan Levent, ayah daddy sedang dirawat disana. Dan juga tim Zeky yang mengalami musibah juga di larikan kesana. Guzel yang hanya kelelahan hanya mendapatkan suntikan dan infus.
Semua dokter terbaik menjadi sangat sibuk akibat dari kecelakaan itu. Mereka sumua hadir untuk jaga – jaga kalau Tuan Besar dan Tuan Muda mereka membutuhkan mereka. Kalau mereka sampai tidak ada di rumah sakit, bisa terancam nyawa mereka.
“Bagaimana keadaanya, Dok?” tanya sekertaris Mark khawatir dengan keadaan bos nya.
“Dia baik – baik saja. Tidak ada luka parah pada tubuh Tuan Muda Zeky. Syukurlah ia berhasil di selamat kan tepat waktu. Jika tidak, kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.” Ucap sang dokter. Dokter itu sudah menjadi dokter kepercayaan keluarga Levent sejak Zeky kecil, oleh karna itu, mereka semua yang mengenal baik keluarga Zeky sangat lah sedih kalau ada kejadian seperti ini.
“Ah, syukurlah..” ucap sekertaris Mark. Ia sekarang bisa bernafas lega. Kemudian ia ingat sesuatu. “Lalu, bagaimana dengan Nona Guzel?” tanya Sekertaris Kai khawatir.
Jika saja Guzel datang terlambat, pasti Zeky sudah tinggal nama sekarang. Untung saja gadis itu cerdik, kuat, dan berani. Walau pun ia harus berhadapan dengan maut saat itu.
“Oh, nona cantik itu sangat baik. Ia hanya kelelahan dan syok. Dia hanya tertidur. Mungkin setelah delapan atau dua belas jam lagi, pasti bangun sendiri.”
“Syukurlah, terima kasih ya dokter.”
“Sudah menjadi tugas ku. Dan satu lagi, jangan lupa untuk menaruh satu orang untuk merawat Guzel. Karna dari sifat yang pernah kau beri tau padaku, gadis itu akan langsung berlari mencari siapa pun untuk mendapatkan informasi.” Ucap sang dokter. Sekertaris kai yang patuh pun segera menganggukkan kepala.
...............
Seorang gadis yang di nyatakan pingsan telah membuka matanya. Ia melihat kesekitarnya. Di sana ia hanya menemukan ibunya, Minah yang sedang mencamaskan dirinya.
“Guzel, kau sudah sadar, nak?” tanya sanga ibu dengan cemas.
Guzel hanya menjawabnya dengan senyum simpul dan menganggukkan kepala. Ia sangat senang saat melihat orang yang sudah merawatnya dengan sabar.
“Bu, aku di mana?” tanya Guzel sambil memegangi kepalanya. Ia merasa sangat pusing.
“Kau ada di rumah sakit, nak.” Ucap Minah dengan penuh kekhawatiran.
“Ahhh...” rintih Guzel karna kakinya terasa sangat lah lemas.
“Kau baik – baik saja, nak?” tanya Minah khawatir. Minah juga sedikit memijit kaki Guzel agar gadis itu sedikit lebih baik. Kata dokter Guzel hanya kelelahan. Namun tetap saja minah begitu khawatir.
Guzel tidak menjawab pertanyaan Minah, tapi malah balik bertanya.
“Bu, tuan muda kemana? Apa dia sudah di tangani oleh dokter? Pria itu tidak akan mati, bukan?” Guzel mencecar ibu barunya itu dengan banyak pertanyaan saat ingat kejadian sebelum ia tidak sadarkan diri.
“Zel, kau pasti sangat menyayangi Tuan muda, ya. Sampai saat kau sendiri pun sakit, masih saja memikirkan orang lain. Sembuh lah dulu. Setelah itu, baru kita melihat keadaan Tuan Muda. Tuan muda sudah di tangani oleh dokter terbaik, Nona.” Ucap Minah dengan senyum tulusnya.
“tidak perlu khawatir, Nona.”ucap Minah menggodanya. Ia sengaja memanggil Nona.
“Aku tidak khawatir. Siapa juga yang khawatir dengan bocah tengil itu.” Sanggah Guzel dengan wajah yang merah tomat.
“Kau menyanggahnya tapi wajah mu tidak bisa berbohong.” Ucap Minah yang pernah muda juga.
“Apa maksud mu, buk. Wajah ku tidak bisa berkata apa – apa. yang bisa berkata adalah mulut. Bagaimana bisa ibu bilang kalau wajah ku tidak bisa berbohong?” tanya Guzel masih tidak mau mengakui.
“Iya, ibu faham Zel. Sekarang ayo makan. Dokter bilang kau hanya akan tidur dalam waktu dua belas jam. Tapi ternyata kau sudah tertidur hampir dua puluh dua jam.” Ucap Minah dengan tertawa.
“Apa, bu? Aku tidur selama itu?” tanya Guzel tidak percaya sedangkan Minah menganggukkan kepala.
“Itu aku sedang tidur panjang, atau tidur kebo, bu.” Ucap Guzel tidak habis fikir.
Sedangkan Minah yang mendengar candaan anak angkatnya hanya bisa geleng – geleng kepala. Ada – ada saja.
...................................
Di tempat lain, ada seorang pria paruh baya yang sedang mengamuk akibat perbuatan ceroboh anaknya.
“Daddy sudah bilang kalau mau bertindak itu, bilang dulu sama Daddy. Kau itu selalu saja ceroboh. Jangan buat Daddy malu.” Seorang pria paruh baya sedang mengamuk sang anak.
“Dad, aku sudah tidak sabar, sudah berapa tahun kita menunggu. Kita sudah merencanakan hal ini sejak lama. Tapi kau tidak pernah bertidak sedikit pun. Kapan kita semua akan sampai pada kita kalau begini terus?” sang anak itu tidak bisa habis fikir. Apa yang membuat ayahnya selalu menunda hal itu?
“Kita bisa menyerang mereka di saat kita sudah bisa menguasai keadaan dan kedua perusahaan besar itu berhasil kita buat kacau. Bentar lagi usaha kita berhasil. Kita sudah berhasil meyusup kesana, jadi jangan buat kesalahan dulu. Atau Daddy akan mengurung mu di rumah agar kau tidak bisa melakukan hal seenaknya saja.” Ancam sang ayah.
“Cukup satu saja kesalahan mu hari ini.”
“Dad, aku sangat yakin kalau Zeky sudah mati.” Teriak Michelle. Ya, orang yang sudah merencanakan pembunuhan kepada Zeky adalah Michelle.
“Tidak semudah itu, anak itu mati. Kau butuh strategi yang matang untuk melenyapkan dirinya. Apa kau sudah lupa, kalau anak itu masih punya banyak cadangan nyawa?”
“Kau selalu saja berkata sepert itu. Apa kau tidak bosan, selalu bersembunyi? Setidaknya kau harus menampakkan diri untuk menantang mereka. Apa yang kau lakukan disini? Bukan kah tujuan awal kita adalah merebut semua harta paman yang masih di bawa oleh keluarga itu. Seharusnya paman juga harus mendapat bagian. Tapi karna keserakahan mereka, paman tidak mendapat kan apa – apa dan sekarang paman sudah meninggal. Apa kau akan terus seperti ini, membiarkan apa yang seharusnya menjadi milik paman terus berada di tangan mereka?” tanya sang anak sedikit kasar.
“Kau tidak bisa diam saja? Aku lebih tua dan lebih berpengalaman. Aku lebih tau apa yang harus ku lakukan. Jadi tetap diam, sebelum ada perintah. Jangan sampai gara – gara kejadian ini, mereka bisa mengendus bau permusuhan kita. Kita masih belum kuat untuk melawan kekuatan mereka.” Ucap sang ayah gemes dengan anaknya yang tidak bisa di ajari sama sekali.
“Jangan jadi pengecut Dad. Jadi lah keren sedikit. Seperti aku, yang dari awal sudah menampakkan diri kepada Zeky. Aku juga sudah dengan gamblang merebut kekasihnya. Dan sengaja berpura – pura baik padanya. Dan ia juga tau itu.” Ucap Michelle sambil melipatkan tangan di dada.
“Kau!!” sang ayah mau marah lagi, tapi saudah keburu anak itu pergi.
Bersambung......