Hotel De Amor

Hotel De Amor
pengakuan



Pengakuan


“Minah, apa saja yang sudah di lakukan Guzel hari ini?” tanya Zeky. Sudah tiga hari Guzel mengurung diri dalam kamarnya. Dan Zeky sangat merindukannya.


“Nona masih memantapkan diri untuk menerima kenyataan. Tuan tenang saja. Ini hanya sementara. Jika saya berada di posisi Nona. Saya juga akan putus asa.” Ucap Minah. Ia memaklumi keadaan tidak terduga itu. Ini hanyalah kecelakaan yang harus mereka jalani.


Zeky hanya bisa menghela nafasnya mendengar penuturan Minah. “Lalu, sedang apa dia sekarang?”


“Nona hanya berbaring di tempat tidur.” Minah berkata dengan sedih. Ia sudah menganggap Guzel sebagai anak sendiri.


Mendengar itu, Zeky langsung masuk tanpa permisi. Ia menutup pintu dengan rapat dan mendekat kearah Guzel yang sedang berbaring berlawanan.


“Kau tidur?” tanya Zeky hati – hati. Ia takut melukai perasaan Guzel.


Guzel hanya diam tanpa menjawab.


“Aku minfa maaf. Kejadian lalu, aku tidak menduganya. Ada yang curang padaku. Dan memberi obat perangsang dalam dosis tinggi. Aku tidak yakin kalau aku bisa selamat atau tidak jika aku tidak menyalurkannya. Kau marah?”


“........”


“Maaf, aku baru bisa menemui mu. Tiga hari ini aku menemui seorang hacker dan meminta bantuannya untuk mencari semua kelemahan mereka.”


“......”


“Kau tenang saja. Aku akan akan tanggung jawab, atas semua perbuatan ku. Kita akan menikah.”


Tepat saat mendengar ucapan itu, Guzel langsung duduk dan mengakhiri kegiatan pura – pura tidurnya.


“Kau sudah gila? Apa kau tau, apa itu menikah?”


‘Tentu saja.”


“Ck, kau fikir menikah itu hanya tentang mengganti status saja? Dalam rumah tangga, banyak hal yang harus di pertimbangkan. Terutama, kau fikir dengan kita menikah akan membuat mu bahagia?”


“Tentu saja.”


“Ck, janagn munafik. Dalam pernikahan. Hidup akan bahagia kalau menikah dengan orang yang di sukainya.”


“Tentu saja.”


“Ya.” Jawab Zeky dengan yakin.


Ia sudah menyelidiki banyak tentang michelle. Dan Guzel tidak ada hubungannya dnegan tertabraknya dia hingga menjadi buta.


“Apa?” Guzel semakin terkejut saat mendengar jawaban Zeky. Apa telingaya sudah rusak?


Guzel tertawa hambar, bahkan tidak berani melihat kearah Zeky.


“Kau janagan bicanda. Jangan hanya merasa bersalah, kau harus berkata seperti itu.” Ucap Guzel dengan meremas kedua tangannya.


“Aku serius, Guzel. Awalnya aku tidak menyadarinya. aku sadar, aku tidak bisa jika kau seperti ini. Jika aku tau kau adalah orang yang berusaha untuk membunuh ku saat itu, aku akan menjadi kan mu tahanan di markas. Bukannya membawa mu ke dalam rumah. Dan sebenarnya paman Damian menyuruh ku untuk mengembalikan mu ke kos. Tapi kau tau bukan, alasannya kau masih ada disini.”


Ucap Zeky menggebu. Ia sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi.


“APA?” Gizel semakin syok mendengar itu.


“Jadi, ku harap kau tidak seperti ini lagi.” Ucap Zeky yang kemudian langsung pergi dari tempat itu.


Guzel yang masih syok hanya bisa melamun, namun sesaat kemudian hp nya berdering.


“Halo,”


“Zel, ini daddy.” Ucap Damian di seberang sana. Ia sudah meminta nomor Guzel dari Zeky.


“Dad.” Seru Guzel dengan berleraian air mata.


“Kau tidak perlu mnegumpulkan uang itu. Kembalilah kerumah. Daddy sangat merindukan mu.” Ucapan itu membuat Guzel menangis keras.


Jika ia tidak terlibat dengan Zeky, pasti Guzel sudah mendapatkan uang itu.


“Tidak, Dad. Aku bisa melakukannya. Bilang sama Mommy kalau aku baik – baik saja sekarang. Aku akan segera pulang.” Ucap Guzel menguatkan dirinya sendiri.


Bersambung....