Hotel De Amor

Hotel De Amor
Sekeping Masa Lalu



Seorang anak kecil terlihat sedang berada di taman bermain sambil menikmati es krim strawberry nya. Anak itu terlihat makan dengan sangat lahap, membuat siapa pun yang melihat nya jadi ingin ikut menikmati rasa nikmat khas strawberry.


Kedua orang tua anak itu terlihat menyemangati dan mereka sedang tertawa bahagia bersama. Mereka menikmati hari libur mereka dengan bermain wahana sepuasnya.


Setelah merasa kalau hari telah larut, mereka pun segera pulang. Mereka adalah Tuan Levent, istrinya dan Zeky kecil. Setelah sampai di rumah, mereka di sambut oleh Laura. Laura adalah pengasuh Zeky sejak kecil.


Zeky sangat menyukai pengasuhnya karna ia merawat Zeky dengan baik. Namun ank kecil itu harus menerima kenyataan pahit. Saat ia berniat ingin meminta di buat kan susu oleh sang ibu, Zeky di kejutkan dengan pemandangan tragis .


“Mommy!!” teriak Zeky di detik detik terakhir nafas ibunya.


“Mom, mommy... Jangan tinggalkan jac, Mom. Mom, bangun mom.” Zeky masih berteriak keras nmembangun kan ibunya. Ia berharap wanita yang sudah menjadi cinta pertama nya itu membuka mata.


Namun lama kelamaan kedua mata itu mulai tertutup. Dan Zeky menjadi lebih histeris dari sebelumnya. “Mommy........” teriaknya.


Si pembunuh adalah Laura. Pengasuh yang selama ini sudah merawat Zeky. Saat Zeky masih memeluk jasad ibunya sambil berteriak.


Laura ingin membunuh Zaky saat itu juga, namun suara ayah Zaky sudah terdengar. “Zaky, kau dimana?”


Laura yang masih berada di kamar utama itu pun langsung menutup mulut Zaky agar tidak bersuara. Namun Zaky terus saja memberontak, dan suara Tuan Levent sudah semakin terdengar. Pertanda kalau dia sudah dekat. Laura tidak punya pilihan lain, selain mengancam Zaky.


Laura masih menutup mulut Zeky dan tak lupa, Laura menggores punggung atas Zeky dengan cepat sampai si pemilik punggung meringis. Ingin rasanya Zeky menjerit kesakitan saat itu juga.


“Dad, Daddy. Segera temukan jac, dad. Jac sangat kesakitan sekali.” Zaky menjerit kesakitan dalam hati.


Luka di punggung itu terlalu dalam, hingga masih membekas di tubuh Zeky.


“Diam. jangan katakan apapun pada Dad mu, atau aku akan segera menghabisi mu tepat malam ini juga. Jadi tetap lah diam dan pura pura tidak terjadi apa apa.” ancam Laura.


Zeky yang saat itu masih kecil, sangat takut saat di ancam seperti itu. Ia tidak bisa melawan. Hati nya di penuhi oleh dendam. Ia ingin perempuan yang tidak punya hati ini juga merasakan kesakitan yang sama.


Beberapa hari setelah itu,


“Dad, percaya padaku. Wanita siluman itu yang sudah membunuh mommy, dad.” Ungkap Zeky di kamar utama.


Sudah sekian kalinya Zaky mengatakan itu, tapi si daddy tidak percaya. “Zaky, kamu masih sangat kecil, bagaimana bisa kau menuduh seseorang seperti itu. Lagian, aku lihat selama ini kerja pengasuh mu sangat lah baik. Dia bahkan merawat mu dengan baik. Tutur katanya lembut. Sendari kamu bayi, dia akan menyanyikan lagu untuk mu. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, nak?”


“Tapi perempuan siluman itu sudah membunuh mommy, dad. Darah ada di mana mana. Saat itu mommy langsung tidak sadar kan diri. dan bibi Laura ada di kamar mommy, dad.” Zaky masih tidak mau kalah.


Tuan Levent mengelus janggut lebatnya sambil berfikir. Zaky adalah bocah yang masih berusia empat tahun. Apakah kata kata nya bisa di percaya?


“Dad.” Zaky memanggil sang ayah dengan nada mengiba, seakan ingin ayahnya mempercayai apa yang ia katakan.


“Baiklah kalau itu mau mu. Bagaimana kalau begini saja, sayang. Kau tenang saja. Kita biarkan saja dulu bibi Laura. Setelah ayah mendapatkan cukup bukti, ayah akan memberi dia pelajaran. Dia akan selalu merasakan sakit di setiap hidup nya. Ayah akan buat dia seakan ingin mati, namun malaikat maut seakan masih enggan untuk mengambil nyawanya. Dia akan sangat menderita. Oleh karna itu. Bersabarlah, ya.”


Zeky hanya bisa sedikit menganggukkan kepala. Jika saja Zaky orang dewasa, pasti ia akan langsung menghukum Laura saat itu juga. Dengan kedua tangannya sendiri.


Zaky mengepalkan tangan nya saat ingatan mengerikan itu kembali hadir. Sejak kejadian itu, sang ayah tidak menemukan bukti apapun. Jadi sang ayah tidak mempercayai ucapannya dan menganggap itu hanyalah ocehan anak empat tahun.


“Tunggu saja pembalasan ku, wanita siluman.”


Laura langsung pergi meninggal kan mansion Levent sesaat setelah namanya bersih dari tuduhan Zeky. Bahkan sampai sekarang keberadaannya pun tidak terdeteksi oleh Zeky.


Pintu ruang rawat itu terbuka, tampak lah Guzel yang menunjukkan senyum terpaksa. “Tuan.”


“Dari mana saja kamu?” Tanya Zeky dengan nada yang bisa dibilang, sangat tidak enak di dengar.


Guzel menelan ludahnya kasar, entah kenapa pria ini terlihat sangat menakutkan. “apa yang sudah terjadi?” tanya Guzel dalam hati.


“Saya hanya membeli air mineral tuan.” Jawab Guzel dengan gemetar.


Rahangnya yang mengeras, tatapan matanya yang berubah menjadi merah, dan urat nadi nya yang terlihat semua, membuat bulu kuduk Guzel merinding. Kenapa juga Zeky terlihat sangat marah? Apa dia marah saat di tinggalkan Guzel tadi, di taman?


Zeky tidak berkata lagi, ia hanya daiam saja tanpa berbicara. Karna dia harus menetralkan amarah nya. Setelah sudah merasa lebih baik, baru dia berucap. “Air.”


Zaky sedang meminta air minum, namun Guzel sepertinya juga kurang memahami ucapan Zeky.


“Air? Anda mau mandi?” tanya Guzel karna tidak faham.


Zeky langsung kembali murka dan selimut pun ia campakkan di lantai. “Kau itu bisa kerja dengan benar tidak sih? Heran aku. Apa semua karyawan hotel ku memiliki pekerja yang tidak pintar seperti kamu?”


“Apa?” teriak Guzel reflek kaget.


“Aku ini lulusan Amerika dengan nilai IP yang sangat tinggi. Dan apa dia bilang? Aku bodoh? Asal kau tau, kau fikir aku dapat nilai itu hasil beli dari pasar swalayan, gitu? Padahal aku selalu belajar dengan sangat rajin. Enak saja dia bilang bodoh.” Ingin sekali Guzel berteriak seperti itu. Namun sekali lagi, Guzel hanya mengucapkan hal itu dalam hati.


Walau orang kaya, Guzel selalu di ajari sopan santun dan tata krama. Bahkan Guzel di ajari untuk menghargai perasaan orang lain.


“Ngga usah kaget gitu. Memang benar kan, kalau kamu adalah orang yang seperti itu?” tanya Zeky lagi.


Guzel hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan tanpa menjawab tuduhan si bos.


“Tuan, anda tidak lapar?” Tanya Guzel mengalihkan pembicaraan.


“Perut ku masih kekenyangan. Sapartinya cacing di perut ku juga mulai gemuk gemuk. Mereka sangat malas olah raga.” Canda Zeky.


Guzel hanya bisa memutarkedua bola matanya malas. “Kemana tadi amarahnya? Bukan kah tadi dia terlihat sangat emosi? Lalu kenapa sekarang tiba tiba berubah mood? Apa dia bunglon cap kadal? Tapi apa pun itu, syukurlah dia tidak marah lagi. Pikir Guzel. Tambah repot urusannya kalau ia marah.


Bersambung;;;