
Malam yang panjang
“Drrt... Drrtt...”
“Kau, beraninya kau mengganggu kegiatan menyenangkan ku?” teriak Michelle. Saat ia sedang bersenang – senang dengan Anna, orang ini mengganggu kegiatan enaknya.
“Maaf, Tuan. Tapi saya tidak berhasil membawanya.” Ucap Nando dengan kesal.
“Jadi, kau kalah? Kau memang payah. Biarkan saja.” Ucap Michelle yang langsung mematikan panggilan telephon.
“Siapa?” Tanya Anna yang masih berada di atas ranjang.
“Hanya seorang pecundang. Lupakan dia. Kenapa kita tidak melanjutkan apa yang sudah tertunda?”
Anna hanya tersenyum simpul mendengar itu, ia tidak menolak sama sekali.
...................................
Setelah bersusah payah untuk menahan hasratnya. Akhirnya Zeky sampai di Hotel De Amor miliknya. Ia menutup pintu mobil dengan cepat dan segera menuju kamar khusus miliknya. Sebelumnya ia sudah meminta Guzel untuk membersihkan tempat itu.
Setelah berjalan sempoyongan, Zeky sangat senang saat melihat Guzel masih ada di sana.
“Selamat datang, Tuan. Saya sudah membersihkannya sesuai perintah anda. Jadi, saya permisi..”
Saat Guzel mau melewati Zeky, saat itulah Zeky mencegahnya. Zeky langsung menutup pintu dan melahap bibir Guzel dengan rakus.
Guzel masih belum faham situasinya. Ia hanya sedikit syok saat ada yang menciumnya secara mendadak.
‘Kenapa pria ini sangat suka menciumnya?’ pikir Guzel heran.
“Tuan, apa yang kau lakukan?” tanya Guzel saat berhasil melepaskan ciuman menggairahkan itu.
Zeky segera melepas jasnya dan kembali meraih Guzel, beberapa kali Guzel mengeluarkan jurus bela diri untuk melawan. Namu tetap saja, Zeky tidak menyerah.
Malam itu, adalah malam yang sangat bersejarah bagi mereka berdua. Zeky yang sedang dalam pengaruh obat perangsang adalah pemenangnya. Dan malam ini ia berhasil mendapatkan rumah baru untuk ular cobra miliknya.
..............................
“Dad, aku minta maaf. Aku telah melakukan dosa, dad.” Bisiknya dalam hati.
Guzel melihat sebuah tangan melingkar di perutnya, dan dia menurunkan tangan itu dengan pelan. Setelah bebersih dan rapi, ia membuka pintu kamar hotel.
Saat pintu telah terbuka. Nampaklah seorang asisten kepercayaan Zeky. Sekertaris kai.
“Nona, kau baik – baik saja?”
Guzel hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan langsung pergi begitu saja. Sekertaris Kai hanya bisa menggaruk belakang kepalanya.
“Apa semua akan baik – baik saja?” pikir sekertaris Kai.
Tanpa menunggu lama, sekertaris Kai masuk dan melihat Zeky sudah terbangun. “Tuan.”
“Pastikan kau melenyapkan Nando.” Ucap Zeky dengan kilat amarah di sorot matanya.
“Baik Tuan. Nando sudah berada di tangan kami. Dan orang yang sudah menaruh obat perangsang itu dalam minuman anda, sudah saya buntuti. Saya tau di mana markas mereka. Tapi hanya dari luarnya saja.”
“Bagus. Kau mau kembali menyusup bersama ku?” ajak Zeky dengan sinis.
“ck, aku tidak butuh ajakan untuk berperang. Akan sangat menyenangkan kalau ada yang mengajak ku untuk berkencan.” Canda sekertaris kai.
“Kau tenang saja. Aku akan meminta Guzel untuk memperkenalkan kau dengan salah satu temanya.”
“Tidak perlu, Tuan. Saya masih bisa cari sendiri.” Kata sekertaris Kai.
“Ya, kau benar. Mari mulai. Membasmi para hama penyakit.”
Mereka mulai bersiap dan segera untuk bertempur. Bukan berperang secara fisik, tapi dengan akal. Zeky yakin ia bisa menghancurkan Michelle dengan para pengikutnya hanya dengan sekali tepukan.
Bersambung.......