
Setelah mendengar penuturan Minah, Guzel menjadi sangat gelisah di kamarnya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Zeky karna pria itu belum makan. Bagimana kalau sakitnya bertambah parah? Itu hanya akan merepotkan Guzel.
“Sudah lah Guzel, kau ingat sendiri bukan, kalau pria itu tidak pernah bersikap baik pada mu. Bahkan pria itu sudah menculik mu. Kenapa kau harus mengkhawatirkannya. Seharusnya kau tertawa atas penderitaannya. Biarlah sakit nya itu menjadi penggugur dosanya.” Pikir Guzel tidak mau mengasihani.
Tapi karna memang Guzel memiliki hati yang lembut, akhirnya ia mengalah. “Baiklah. Memasak saja, dari pada kau tidak tenang seperti ini. Lumayan, bisa jadi kesibukan saat kau bosan berdiam diri di mansion ini.” Kata Guzel kemudian.
Akhirnya Guzel mengalah dan pergi di dapur untuk memasak. Entah nanti di makan atau tidak, itu urusan belakang. Setelah satu jam bertempur dengan dapur cantik itu, akhirnya makanan sudah siap.
“Nona, biar saya saja yang mencuci perabotannya.” Pekik seorang pelayan sambil berlari. Takut kalau keduluan Guzel sudah melakukannya duluan.
“Tidak apa – apa. aku bisa melakukannya sendiri.” Kata Gzuel.
“Nona. Pasti Tuan Zeky sudah menunggu masakan nona. Ini sudah melewati jam makan siang. Pasti Tuan sangat kelaparan, mengingat ia akan selalu makan teratur.” Kata sang pelayan meyakinkan kalau ia yang harus mencuci piring.
“Baiklah, kalau begitu. Tolong cucikan ya. Aku akan ke kamar pria galak itu.” Ucap Guzel yang kemudian langsung menghilang dari balik pintu dengan membawa sebuah nampan.
Semua pelayan sudah biasa mendengar umpatan Guzel yang di tunjukkan untuk Zeky. Tapi mereka tau kalau kata itu hanya lah sekedar pelampiasan rasa kesal. Mereka tetap menghormati Guzel, karna Guzel terlihat seperti orang yang tulus.
Setelah sampai di depan kamar Zeky, Guzel pun mengetuk pintu. Beberapa detik setelah itu, ia masuk sendiri karna ia tidak mendengar jawaban sama sekali dari dalam kamar.
“Siapa yang masuk?” tanya Zeky setelah sedikit merubah tatapan matanya.
“Saya Tuan.” Ucap Guzel sambil menaruh nampan di atas meja.
Zeky mengenali suara itu. Itu adalah suara Guzel.
“Buat apa kau kemari? Kau mau menertawakan ku?” tanya Zeky sarkas.
“Ya, Tuan. Saya ingin sekali menertawakan anda. Tapi sayangnya saya adalah tipe orang yang tidak suka balas dendam dengan cara yang biasa. Jadi saya akan menahannya untuk sementara waktu. Jika nanti anda sudah sembuh dan saya terbukti tidak bersalah, saya akan membalas dendam saya kepada anda.” Ucap Guzel dengan geram.
“Kenapa kau terdengar percaya diri? kau yakin, kau tidak terlibat dengan peristiwa penabrakan itu?” desak Zeky agar Guzel mengaku. Walau sudah di pikir dengan matang, Zeky masih belum bisa mempercayai ucapan Guzel karna tidak ada bukti sama sekali.
“Sudah ku bilang kalau aku tidak terlibat! Kau jangan memancing emosi ku. Aku sudah berniat baik untuk kesini, tapi ucapan mu sangat lah tidak enak untuk di dengar.” Gertak Guzel. Ia melupakan semua sifat lemah lembutnya. Entah kenapa ia selalu ingin marah ketika berbicara dengan Zeky.
“Oho, kau mulai marah? Lalu apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang berniat mencari kesempatan untuk membunuh ku?”
Bersambung....