
Canggung
Seperti yang sudah Minah janjikan, saat Guzel sudah memiliki tenaga kembali dan sudah sehat. Minah pun mengantar Guzel untuk menjenguk Zeky. Dari tadi Guzel sangat penasaran dengan keadaan pria itu.
“Di sana adalah tempat ketiga orang yang sudah mencuri Tuan Muda, Zel.” Kata Minah. Ia ingin memberi tau Guzel semuanya.
“Kenapa mereka masih hidup?” tanya Guzel yang mampu membuat Minah melotot tidak percaya.
“Apa maksud mu, sayang. Kalau kau ingin mereka meninggal, lalu buat apa kau menyelamatkan mereka?” tanya Minah tidak habis fikir.
“Bu. Mereka pantas mati setelah menghancurkan mansion indah yang selama ini kita tempati. Biaya untuk membuat mansion itu tidak main – main. Dan mereka dengan seenak jidak menjadikan mansion itu menjadi seperti debu. Entah kenapa aku kalau ingat kejadian itu, rasanya ingin menguliti mereka saja.” Ucap Guzel dengan amarah yang meluap.
“Kau itu sangat lah aneh.” Kata Minah sambil geleng – geleng kepala.
“Jika saja bukan karna Zeky yang menyuruh, aku tidak akan menyelamatkan mereka.” Ucap Guzel masih dengan amarah.
Sekarang Minah faham mengapa Guzel bersikap seperti tadi, tapi juga tidak bisa menahan senyumnya melihat espresi wajah Guzel yang di tekuk.
“Tuan Muda.” Ucap Minah menyapa duluan saat mereka sudah masuk kedalam kamar rawat super mewah milik tuan muda mereka.
“Oh iya. Aku mendengar mu, Minah. Ada apa kau kemari?” tanya Zeky sambil menatap lurus kedepan.
Sebenarnya Zeky sudah bisa melihat kearah mereka. Tapi ia memutuskan untuk masih pura – pura buta saja. Lagian, ia ingin memastikan. Siapa anak buah yang tulus padanya dan siapa yang tidak.
Dengan begitu ia akan mudah mengetahui, siapa yang sudah menyusup ke mansionnya.
Zeky sudah tau kalau mansion yang menyimpan banyak kenanga itu sudah tidak berbentuk lagi, karna orang jahat itu sudah meratakan mansion mewah itu dengan Bom super dasyat.
‘Saya kemari bersama Nona Guzel.” Minah tidak memanggil nama pada Guzel hanya saat berhadapan dengan Zeky saja.
“Iya.” Ucap Zeky.
“Nona ingin bertanya tentang keadaan anda. Apakah anda baik – baik saja?” tanya Minah.
“Ya, aku sudah lebih baik sekarang. Kau bilang kau bersama dengan Guzel?” tanya Zeky. Sebenarnya hal itu hanya kepura – puraanya saja.
“Ya, Tuan Muda. Saya kemari bersamanya.” Ucap Minah lembut.
“Kalau begitu, bisa aku minta tolong pada mu. Tolong tinggal kan kami berdua.” Pinta Zeky dengan memelas.
‘Baik tuan muda, kalau begitu saya tinggal di luar, ya.” Ucap Minah.
“Iya, terima kasih, Minah.” Minah sangat kaget mendengar ucapan itu. Zeky dari dulu tidsk pernah berkata terima kasih atau apapun itu, ia tidak pernah menghargai usaha orang lain. Ada apa dengan Zeky hari ini? Apa dunia sebentar lagi akan kiamat?
Setelah kepergian Minah, terjadi kecanggungan antara mereka berdua. Mereka terdiam membisu. Tidak ada yang memulai percakapan. Zeky yang awalnya mau bicara banyak. Kini sedikit malu. Zeky kesulitan untuk menutupi rasa gugupnya karna ia bisa melihat sosok Guzel dengan jelas sekarang.
“Em.. kau sudah makan?” tanya Zeky basa – basi.
“Ya, sudah Tuan.” Ucap Guzel singkat, padat, dan jelas.
“Oh, bagus kalau begitu.” Kata Zeky.
Hening.
“Apa kau baik – baik saja?” tanya Zeky lagi.
“Ya Tuan.” Ucap Guzel singkat lagi.
“Oh.” Kata Zeky sambil menggertakkan giginya bingung.
“Terima kasih.” Ucap Zeky lagi.
“Sama – sama.” Kata Guzel kemudian.
“Bagaimana kau bisa berada di tempat itu?” tanya Zeky yang penasaran. Bagaimana bisa Gzuel tau kalau Zeky ada di sana?
“Yang penting anda selamat, bukan?” ucap Guzel yang malah balik nanya. Sepertinya Guzel malas menceritakan kejadiannya.
“Kau ini memang sangat menjengkelkan sekali.” ucap Zeky kemudian. Sepertinya kecanggungan mereka mulai mencair.
“Ya, terserah pada anda Tuan. Anda memang suka sekali berkata kasar kepada saya.” Kata Guzel tanpa takut karna ia sudah faham dengan karakter bosnya.
“syukurlah, kau sedang tidak ada di mansion saat itu. Jadi kau masih hidup sekarang. Kalau saja kau ada di sana, pasti kau sudah menjadi mayat sekarang.” Ucap Zeky tanpa memikirkan perasaan jengkel Guzel.
“Anda memang orang yang sangat luar biasa, Tuan. Apa hanya hal itu yang bisa anda katakan pada orang yang sudah menolong anda dari maut?” tanya Guzel sambil mendengus. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Jangan sombong pada ku hanya karna hal itu.” Ucap Zeky dengan sombong.
‘Bukan kah kebalik, disini anda yang sombong. Dasar tidak tahu diri.’ pikir Guzel dalam hati.
....................
Waktu pun berlalu, dan dengan waktu yang sangat singkat, Zeky bisa sembuh seperti semula. Selain karna luka Zeky yang tidak terlalu parah, tapi juga karna pengobatan terbaik yang di lakukan.
Tuan Levent juga sudah sembuh dari sakitnya. Dan sekarang mereka pulang ke mansion utama. Zeky terpaksa untuk tinggal disana lagi. Walau selalu mimpi buruk, setidaknya, Zeky harus melawan rasa takutnya itu.
Zeky menatap kearah kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati. Dalam hati ia rindu di tempat itu. Tapi rasa takut dan mimpi buruk membuat dia memilih untuk meninggalkan kenangan kelam itu.
“Kau sudah siap tinggal lagi bersama Daddy, nak?” tanya Tuan Levent pada sang anak saat mereka sudah sampai di depan mansion.
“Siap atau tidak siap aku akan tetap tinggal di sini bukan, dad?” tanya Zeky.
“Ya, kau benar. Mansion utama di buat dari beton, jadi akan aman dari serangan Bom seperti yang terjadi di mansion kedua.” Kata Tuan Levent sambil menepuk pundak anaknya.
“Aku akan tinggal di sini dad. Jika aku terus takut sama tempat ini, lalu siapa yang akan tinggal di sini nanti?” tanya Zeky lagi mengingat kalau ia adalah anak satu – satunya.
“Ya, tempat ini hanya akan di tempati oleh mu dan anak istri mu nanti. Jadi kau harus melawan ketakutan mu pada tempat ini.” Ucap Tuan Levent.
“Tentu saja.”
“Nanti malam kalau kau mimpi buruk lagi, datanglah kekamar Daddy. Daddy akan menyanyikan lagu pengantar tidur untuk mu agar kau bisa tidur dengan nyenyak.” Goda tuan Levent.
“dad, aku bukan anak kecil lagi.” Pekik Zeky yang mampu membuat Tuan Levent tertawa.
“Ayo masuk.” Ajak Tuan Levent pada semua orang yang ada di sana. Ada Guzel dan minah juga, disana.
‘Apa yang mereka bicarakan?’ pikir Guzel karna ia tidak faham dengan arah pembicaraan mereka.
Sedangkan di suatu sudut tempat lain, ada sosok mencurigakan yang mengintai mereka. Sosok itu sengaja mengawasi.
“Kau ternyata masih hidup. Sia – sia sudah. Tapi setidaknya aku berhasil membuat mu rugi. Setelah ini kau pasti ketakutan.” Ya, sosok itu adalah Michaell...
Bersambung.