Hotel De Amor

Hotel De Amor
Tidak Terima



Sebagai seorang yang sudah sempurna sejak kecil, Zeky merasa tidak bisa menerima keadaan dirinya sekarang yang tidak bisa melihat.


Semuanya terlalu cepat untuk bisa ia terima. Sendari kecil ia selalu di kelilingi harta dan tahta. Jadi sangat sulit bagi dirinya untuk menerima kenyataan pahit ini.


“Dad, apa yang harus aku lakukan?” ia mendesah pelan.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka.


“Tuan.”


Suara lembut itu menyadarkan dirinya dari lamunan. “Kalau bukan karna kau, aku tidak akan seperti ini!!!!!!!”


Zeky berteriak kencang pertanda ia tidak terima. Benda apapun yang berada di sampingnya, ia raih dan ia lemparkan kemana mana.


Guzel kualahan menghadapi kemarahan Zeky. Bahkan beberapa lemparan terdampar di tubuhnya dan melukai kulitnya yang mulus.


“Hey, bisakah kau diam!” Teriak Guzel kesal.


“Kau, sudah berani membuat aku buta. Dan sekarang kau berani membentak ku. Asal kau tau, aku bisa saja membinasakan mu dalam sekali jentikan jari.” Ucap Zeky sambil menunjuk nunjuk ke depan, padahal Guzel tidak ada di sana.


Guzel ada di samping ranjang.


“Tuan. Coba kau ingat ingat lagi, siapa yang salah disini, Saya atau anda!”


“Huh, kau beani membantah.” Bentak Zeky sambil mencari sesuatu apapun di sampingnya untuk ia lemparkan namun nihil, tidak ada apapun lagi.


“Tuan, saya tidak menyuruh anda untuk mengejar saya. Saya bahkan daengan terang terangan menghindari anda. Tapi anda yang ngotot marah sama saya.”


“Aku ngga akan mulai kalau kamu duluan tidak cari perkara.”


“Ck. Jadi orang kaya itu jangan sombong tuan. Sudah tau kalau anda duluan yang mulai. Anda yang sudah menjatuhkan makanan yang saya bawa. Sebenarnya saya bisa saja memaafkan anda Tuan, tapi kalau anda di biarkan seperti itu terus, nanti akan jadi kebiasaan. Anda akan terus melakukan hal itu dengan orang lain yang anda temuai. Anda juga harus tau tata krama.”


“kamu beraninya melah menceramahi aku.” Bentek Zeky lagi.


“emosional baget dia sekarang.” Pikir Guzel dalam hati.


Guzel tidak mau ambil pusing. Mending ia tinggalkan saja pria menyebalkan ini. Guzel pun keluar. Dan benar saja, Zeky mengomel panjang lebar di dalam kamar sendirian.


Tak lama setelah itu sekertaris Kai masuk dan Zeky masih ngomel seperti saat di tinggalkan Guzel.


“Asal kau tau ya, nilai mu itu tidak ada bandingannya dengan aku. Aku bisa saja menghancurkan mu dengan sekali suruh. Jadi berhati hati lah dengan ku kalau nyawa mu hanya satu. Ingat itu. Jadi mulai hari ini, kau yang haru jadi pengasuh ku. Kau di pecat dari hotel. Kau harus merawat ku sampai sembuh. Jika aku tidak sembuh sembuh, maka kau akan jadi pelayan ku selamanya. Dengan begitu kau tidak punya masa depan sama sekali, jadi bekerja lah dengan baik.”


Sekertaris Kai sangat terkejut mendengar kata itu, apa maksud bosnya?


Sedangkan Zeky juga heran, kenapa Guzel diam saja?


“Hey kenapa kau diam saja? Kau keberatan dengan keputusan ku? Jika iya, kau pun tidak punya pilihan. Karna itu sudah menjadi takdir mu ketika kau sudah berani melawan ku.” Ucap Zeky lagi.


Sekertaris kai tidak tau harus menjawab apa.


“Beraninya kau masih diam? kau mau ku bunuh sekarang juga?”


Sekertaris Kai sangat kaget. setelah berjuanag untuk selalu mendukung dan setia kepada tuannya, apakah ini balasan dari bosnnya?


“bicaralah. Jika kau masih diam aku akan menyuruh kai untuk eksekusi kamu sekarang juga.” Teriak Zeky.


“Tuan, ini adalah saya.” Ucap sekertaris Kai kemudian.


“A..Ap..Apa?” Zeky gelagapan.


“Iya tuan. Saya agak bingung dengan pembicaraan tuan.”


“Siapa Tuan? Nona Guzel kah?”


“Ya, bocah tengik itu. Beri dia pelajaran.”


“Baiklah Tuan, kalau begitu saya akan mencarinya.”


“Buat apa kau mencari, bukankah dia ada di sini?’


“Tidak tuan”


Jangan tanya seperti apa ekspresi Zeky saat mendengar langsung dari sekertarisnya kalau pelayan menyebalkan itu sengaja meninggalkan dia sendirian. Jadi sendari tadi ia mengomel pada sekertarisnya?


Memalukan sekali! Menjadi buta sangat lah tidak menguntungkan. Ia harus segera sembuh dan kasih pelajaran pada pelayan kurang ajar itu.


“Tunggu pembalasan ku, Guzel.” Ucap Zeky sambil mengepalkan tangannya.


..................................................


Sementara di tempat lain, Guzel sedang sibuk dengan komputernya.


“Malam itu tidak ada kendaraan sama sekali. hanya ada dua mobil yang sedang parkir disana. Mobil sebelah mana yang sengaja menabrak si Tuan Buta?” Guzel berfikir sambil sedikit tergelak mendengar ucapannya sendiri kalau ia menjuluki Tuan Buta.


“Dia akan murka saat mendengar kalau aku punya julukan baru buat dia.” Ucapnya.


Guzel hanya melihat dari komputernya, rekaman cctv yang dekat dengan lokasi kejadian. Malam itu kejadiannya tidak terekan kamera, Guzel akan di salahkan. Apalagi pria itu terlihat sangat membencinya.


“Sebenarnya siapa orang itu? Apa ia punya dendam tersendiri dengan Tuan Buta? Kalau di pikir pikir, ini adalah pembunuhan secara di sengaja? Atau bisa saja di anggap sebagai teror?”


Guzel berfikir keras apa yang terjadi. “Ck, kenapa juga aku harus terlibat dengan pria berbahaya seperti Tuan Buta itu. Musuh Daddy sudah banyak sekali. kalau di tambah lagi kan bisa berabe urusannya”


Dari pada pusing mikirin kejadian itu, lebih baik Guzel fokus saja dengan komputernya. Ia melingkari setiap mobil yang mirip dengan mobil yang sudah menabrak Zeky.


Guzel juga mencatat waktu mobil itu melewati CCTV, “Semoga ketemu.”


Guzel hanya bisa menyemangati diri sendiri. Karna Daddy nya sama sekali tidak mau membantu, katanya “Atasi sendiri masalah mu.”


...................................................


Sedangkan di kediaman Guzel kedua orang tuannya sedang berdebat,


“Apakah tindakan kita sudah benar? Bagaimana kalau dia kesulitan di luar sana?” Tanya sang mommy Guzel.


“Darling, kau tenang saja. Putri kita sudah bukan anak kecil lagi. Ia harus bisa mengatasi masalahnya sendiri. Sebelum kita menikahkan dia, kita harus membuatnya kuat. Masalah orang dewasa sangatlah rumit, ia harus bisa mengatasinya sendiri.” Si Daddy meyakinkan.


“Baiklah kalau begitu.” Suara itu terdengar dengan nada khawatir.


“Tenang saja, tidak ada yang perlu di cemaskan. Aku tidak sepenuhnya melepaskan dia, kalau dia sedang dalam keadaan terjepit, baru nanti kita bantu dia dari belakang.”


“tapi, jangan sampai dia terluka ya.” Masih cemas.


“Kau terlalu berfikir macam macam, istri ku. Sudah lah, tidak perlu risau. Lebih baik kita ke kamar saja, kasian Guzel sendirian, butuh adek baru.” Ucap si suami untuk mengalihkan kekhawatiran sang istri.


Si istri hanya bisa memukul lengan suaminya pelan. “Mesum. Udah tua, ngga ingat umur.”


“Ayolah sayang, yang tua juga butuh vitamin agar awet muda. Dan yang paling ampuh hanya itu.”


Si istri hanya bisa pasrah saat suaminya sudah seperti ini.


Bersambung.......