
Menelvon sang ayah
“Tuan, kalau tidak boleh, lalu saya harus membayar semua hutang saya dengan apa. nanti saya kalu di denda dengan jumlah yang sangat banyak gimana? Mengingat saya akan telat bayar hutang nya.” Protes Guzel. Ia harus bisa memenangkan perdebatan ini.
“Masalah bayar hutang itu gampang. Semua hal bisa di atasi.”
“Tidak semudah itu Tuan.” Kenapa sih, Zeky selalu menggampangkan sesuatu. Membuat Guzel jengkel saja.
“Kau diam saja. Aku yang menyuruh mu untuk tidak bekerja. Jadi aku yang akan melunasi semua hutang kamu. Selesai, kan. Sudah tidak ada masalah lagi.” Ucap Zeky santai tanpa beban.
Guzel syok mendengar itu. Apa kata ayahnya kalau ia tau Zeky yang membayarkan uang itu dengan Cuma – Cuma.
“Tuan. Saya harus kerja dan dapat uang sendiri. Kalau tidak seperti itu, uang itu tidak akan di terima oleh orang itu.” Guzel masih tidak mau menerima keputusan sepihak Tuannya.
“Mana ada orang yang punya hutang berkata seperti itu? Seharusnya orang itu senang karna uang yang di pinjam padamu akan di bayar dengan lunas. Tenang saja, aku akan memberi lebih kepada orang itu.” Ucap Zeky.
‘Dasar Gila. Seenaknya saja. Dia fikir semua masalah bisa di selesaikan dengan uang, Gitu?’ batin Guzel menjerit. Bahkan kalau tidak malu, Guzel akan menangis menggebu sekarang juga. Sayangnya Guzel terlalu malu untuk menangis.
“Tuan, kenapa anda tidak mengizinkan saya untuk bekerja?” tanya Guzel dengan nada yang sedih.
“Seharusnya kau lebih tau apa alasannya.”
“Tidak tuan. Saya sangat tidak tau.” Ucap Guzel yang sudah hampir tidak bisa menahan kekesalannya.
“Tuan, saya tidak akan kabur. Saya akan merawat anda dengan sepenuh hati. Dan saya akn pulang sesuai jam. Saya tidak akan mampir kemana mana. Saya ini adalah orang yang sangat kompeten, jadi anda harus percaya pada saya.”
“Bisa saja itu adalah ucapan manis mu. Aku tidak akan tertipu. Tetap pada keputusan awal. Kasih tau aku, siapa yang kau hutangi. Aku akan mendatanginya besok.”
“Tuan.” Guzel mau memanggil, tapi keburu sudah Zeky meninggalkannya.
Guzel hanya bisa menggerutu kesal sambil menghentakkan kakinya. “Dasar. Menyebalkan. Beraninya dia meninggalkan aku disini sendiri.” Gerutunya ngga suka dengan sikap Zeky yang seakan terkesan semena – mena padanya.
................................
Di pagi yang cerah itu, sesuatu yang tidak Guzel inginkan terjadi. Sesuai dengan keinginan Zeky kemarin. Guzel telah memberi tau kepada siapa dia telah berhutang. Karna nomor ayahnya ada di hp lama, jadi Guzel memintanya dari tangan Zeky. Zeky memperboleh kan Guzel membawa hp lama. Namun telvonnya harus berlangsung di depan Zeky. Karna tidak ada pilihan lain, akhirnya Guzel menyetujuinya.
“Halo Tuan.” Ucap Guzel saat sambungan telvon sudah di angkat.
“Guzel!! Kamu kemana saja! Daddy sudah mencari mu. Kata pengawal, kau tidak di temukan di kos. Dadday sangat khawatir pada mu. Kau ada di mana. Cepat pulang nak!” ucap sang ayah khawatir dengan keadaan sang anak. Suara Damian tidak di dengar oleh Zeky karna memang Guzel mengecilkan volumenya.
“Tuan, oh ya ini saya Guzel. Apa? anda bilang anda tidak menemukan saya di kos. Tentu saja anda tidak akan bisa mencari saya. Karna ada yang mencuri saya.” Kata Guzel sambil melirik sinis kearah Zeky.
Bersambung....