
Anak kurang kasih sayang
“Anak baik apanya.” Tuan Levent hanya bisa menggelengkan kepalanya. Zeky sangat lah tidak pantas mendapat gelar anak baik.
Guzel tersenyum kaku mendengar perdebatan itu. Guzel adalah anak yang baik dan lembut. Tapi karna memang sifat Zeky yang bisa saja bikin orang selembut Guzel jadi sangat bar bar. Ucapan Zeky bisa membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi emosi.
“Sudahlah. Jangan terus berdebat dengan Daddy. Kau hanya akan menbuat uban di kepala Daddy semakin bertambah.” Ucap Tuan Levent sambil memegangi belakang kepalnya.
“Anda tidak apa – apa, Tuan?” tanya Guzel saat melihat Tuan Levent meringis sambil memegangi kepalanya.
Mendengar ucapan reflek Guzzel, Zeky menjadi juga mencemaskan keadaan sang ayah. Apa yang membuat gadis itu bagitu kaget? apa yang terjadi? Itulah yang ia pikirkan.
“Aku baik. Huft, sepertinya kau harus bersabar dalam merawat anak bandel ini, ya.” Tutur Tuan Levent sambil tertawa. Zeky hanya menggeram. Percuma kekhawatirannya tadi, ternyata ayahnya baik baik saja.
Guzel henya bisa mengangguk mendengar itu. Apa ia akan menjadi pelayan Zeky untuk waktu yang lama? Guzel ingin sekali kabur dari tempat itu. “Tuhan, aku ingin punya karir yang bagus dan menikah juga! Keluarkan aku dari tempat ini, Tuhan.” Pikir Guzel dalam hati. Ia sedih dengan takdir yang menimpannya sekarang.
“Tapi, kenapa mata mu terlihat sembab?” tanya Tuan Levent pada sang anak. Ia baru sadar kalau kedua mata Zeky sedikit merah. “Apa kau baru saja menangis?” tanya Tuan Levent sambil mengguncang dada Zeky.
“Baiklah. Anggap saja Daddy mempercayai mu. Kalau begitu, Daddy mau kembali bekeerja. Kau jaga diri mu baik – baik. Oke.”ucap Tuan Levent, ia ingin berpamitan dengan sang anak.
“Apa – apaan ini, kau hanya mengunjungi ku dalam waktu beberapa Jam saja? Bahkan kalau tadi tidak ada paman Damian, kau tidak akan berkunjung kemari sama sekali.” kesal Zeky. Ia sangat cemburu pada berkas menumpuk yang selalu di temui sang ayah, sedangkan dirinya sering di tinggal begitu saja.
Guzel langsung menajam kan telinga saat nama ayahnya di sebut. Ia sangat penasaran. Ada hubungan apa mereka dengan ayahnya. Apa tadi ayah nya kemari bukan karna tau kalau ia ada disini?
“Kau harus memaklumi pekerjaan Daddy, Zeky. Daddy melakukan semua hal ini untuk kamu. Oleh karna itu Daddy selalu bekerja keras.” Tutur Tuan Levent berharap sang anak mengerti.
Namun Zeky hanya diam saja. Percuma ia berdebat dengan anaknya. Ia tidak akan mendengarkan sama sekali. Pada saat itu Guzel langsung mengambil kesimpulan. “Apa Zeky adalah termasuk anak yang kurang kasih sayang? Jika memang benar begitu, aku mungkin bisa mentoleransi kata – kata kasarnya. Karna anak yang bukan di didik oleh orang tuannya langsung, biasanya akan mencari tempat pelampiasan untuk mendapatkan perhatian.” Pikir Guzel dalam hati.
........................
Setelah pergi dari mansion anaknya. Tuan Levent berkunjung ke makam istrinya, bunda kandung Zeky.
“Bagaimana kabar mu, istri ku? Apa kau hidup dengan baik di sana? Semenjak kau meninggalkan kami, aku sedikit kualahan mengurus Zeky. Ia hanya akan menurut pada semua ucapan mu. Kenapa kau pergi begitu cepat? Aku sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan agar aku bisa lupa padamu. Karna hanya dengan itu fokus ku teralihkan. Aku sampai lupa kalau aku juga punya anak.” Kata Tuan Levent dengan sedih.
Bersambung...........