
Limpahan cinta atau pemborosan?
Guzel merasa, sudah saatnya untuk ia mengkahiri semua kesedihannya. Yang sudah terjadi, tidak perlu di tangisi. Ia akan menjadi kan itu semua pelajaran hidup. Ia harus bangkit. Sebelum mereka tau kelemahanya, bukan kah lebih baik kita menyerang duluan?
“Baiklah, aku bisa kerja sama dengan Zeky. Dengan rasa bersalahnya, ia tidak akan menolak permintaan ku bukan?” ucap Guzel tersenyum misterius. Ia punya ide.
..........................
Zeky sangat terkejut. Saat ia membuka mata, ia sudah melihat Guzel berdiri tepat berada di depannya.
“Kau mengagetkan ku.” Ucap Zeky setelah menjerit sia – sia.
“Aku menerima permintaan maaf mu. Tapi untuk pernikahan, aku akan memikirkannya. Mengingat kau adalah orang yang sudah merebut kehormatan ku.” Ucap Guzel dengan yakin. Ia sekarang sedang berada di dalam kamar Zeky.
Zeky tersenyum senang mendengar itu. “Jadi, kita akan menikah?” tanya Zeky berbinar, sepertinya ia tidak perlu menyembunyikan perasaannya lagi.
“Aku akan menerima mu. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Jika kau bisa membuat ku jatuh cinta pada mu. Aku tidak akan menolak mu. Waktu mu adalah satu bulan. Ini adalah desember. Dan tepat tanggal 1 januari nanti. Jika kau tidak bisa membuat ku jatuh cinta pada mu. Aku akan pergi.” Ucap Guzel dengan tegas. Walau bagaimana pun, ia ingin menikah dengan lelaki yang ia cintai.
“Baiklah. Aku akan berusaha keras dalam satu bulan ini. Maka, bersiaplah untuk menerima limpahan cinta dari aku.” Ucap Zeky dengan semangat.
Guzel hanya menganggukkan kepalanya dan berniat pergi dari sana.
“Tunggu sebentar.” Zeky menahan tangan Guzel.
“Apa lagi?”
“Kau tidak menggunakan bahasa sopan lagi? Kau tidak menghormati ku lagi?”
“Kau fikir aku mau, setelah kebohongan yang kau lakukan pada ku?”
‘Kebohongan apa maksud mu? Jangan bicara melantur.”
“Lalu, sejak kapan kau bisa melihat?” tanya Guzel mengintimidasi.
“Sudah lah. Tidak perlu di jelaskan. Kau tidak perlu berpura – pura. Aku memaafkan semua yang kau lakukan padaku. Tapi biarkan aku beraktivitas sesuka ku. Dan aku akan kembali ke kos lama ku.” Ucap Guzel membuat keputusan.
“Apa? kau tidak boleh ber...”
“Jangan coba untuk melarang ku. Atau kau tidak akan pernah melihat ku lagi.”
“Tidak. Jangan lakukan itu. Baiklah. Kau boleh kembali kesana. Tapi, jangan larang aku untuk mengunjungi mu.” Pinta Zeky memelas.
Guzel hanya mengangguk. “Tapi aku sudah bekerja padamu beberapa bulan ini. Dan kau tidak membayar ku. Kau tau, aku juga butuh uang. Kau harus membayar ku.”
Zeky segera bangun dan mengambil sebuah cek. Ia menulis 500jta dalam cek itu.
“Ini, ambilah.”
Guzel sangat terkejut melihatnya. “Jangan berlebihan. Gaji seorang babu tidak sebanyak ini. Berilah aku sesuai dengan kau menggaji babu mu yang lain.”
“Anggap saja sebagai rasa terima kasih ku. Aku akan sangat kesulitan kalau kau masih mendiamkan ku seperti yang sudah sudah.”
“Tidak mau.” Kekeuh Guzel.
“Ayolah.” Zeky memaksa.
“Apa ini adalah kebiasaan mu? Jangan terlalu baik pada orang lain.”
“Aku hanya baik pada mu. Aku akan merasa sangat sedih jika kau tidak mau menerimanya. Atau, kau mau ku beri black card?”
Guzel hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah saat ia malah di tawari lebih banyak uang.
“Sudahlah. Lupakan.” Ucap Guzel yang sudah tidak bisa berkata lagi.
“Kan sudah ku bilang, aku akan memberi mu banyak limpahan cinta dari aku.” Ucap Zeky dengan senang.
Guzel hanya bisa memutar bola matanya malas. Ini namanya bukan limpahan cinta, tapi pemborosan uang. Terserah kau mau apa, bang jek.
Bersambung...