
Hoby baru Zeky
Hari pun berganti, sejak kejadian itu, Guzel sedikit menciptakan jarak dengan Zeky. Ia takut, ia akan di lenyapkan oleh lelaki ini. Ia tidak bisa berbuat apa – apa. Ia hanya berharap bisa keluar dari tempat ini dengan cepat, dan menemui kedua orang tuanya. Semalam, Guzel menangis karna tidak bisa menahan rasa rindu pada Mommy dan Daddynya.
Seperti biasa, Guzel selalu memasak di setiap pagi, siang dan malam. Untuk makanan Zeky, masih Minah yang memasak. Seminggu penuh Guzel mengerahkan segala kemampuannya.
“Aku harus mendapatkan gelar chef, di dalam rumah ini. Aku layak untuk menikah.” Seperti itu lah motivasi Guizel di setiap harinya. Sepertinya ia masih mengingat ucapan menyakitkan Zeky di rumah sakit.
Minah hanya menatap kagum pada Guzel. Baru dalam beberapa hari, Guzel bisa belajar dengan cepat. “Nona, anda sangat menakjubkan. Anda bisa menciptakan rasa yang begitu nikmat hanya dalam waktu beberapa hari. Tuan Muda pasti akan senang saat mncicipi hasil masakan ini.” Ucap Minah girang saat ia berkesempatan mencicipi hasil makanan Guzel.
“Kau menyukainya?” tanya Guzel penasaran. Dan Minah langsung mengangguk pertanya ia menjawab iya.
“Syukurlah.” Guzel bernafas lega saat ia berhasil.
“Nona, anda terlihat gelisah akhir – akhir ini. Bersabar lah nona. Terima semua hal yang terjadi pada hidup anda. Bersyukurlah Tuhan masih bersama anda. Dengan begitu anda akan lebih bahagia.” Tutur Minah dengan tulus. Guzel sampai menitihkan air mata. Memang benar kata orang. Mereka yang lebih tua lebih tau dan lebih berpengalaman. Walau tidak semua orang tua bisa dewasa.
“Terima kasih Minah.” Ucap Guzel masih dengan sesenggukan. Bahkan Guzel langsung memeluk wanita itu.
Guzel menemukan kehangatan lain, selain dari Mommynya, rasanya sangat nyaman. Guzel tidak bisa menahan rindu lagi. Ia sangat merindukan ibunya. Minah hanya bisa mengelus rambut Guzel dengan sayang.
“Boleh kah aku memanggil mu ibu?” tanya Guzel pada wanita paruh baya itu.
Minah sangat tersentuh mendengar kata itu. Minah pernah menikah, tapi dia dinyatakan mandul. Oleh karna itu sang suami menceraikannya dan kini minah menjalani hidup masa tuanya dengan damai di mansion ini. Untuk mengabdi pada Tuan Levent. Orang yang telah menyelamatkannya dari kejamnya kehidupan jalanan saat dirinya menjadi pengemis.
“Iya, panggil saya ibu. Saya sangat suka dengan panggilan itu.” Ucap Minah yang juga ikut menangis.
Harapannya adalah memiliki seorang anak. Dan sepertinya ia akan terus menyayangi Guzel Yang sepertinya akan sangat manja padanya jika ia menikah dengan Tuannya nanti. Karna mereka akan sering bertemu.
“Terima kasih, ibu. Aku hanya sendirian di tempat ini. Aku berharap banyak pada mu. Temani aku dalam keadaan apapun itu. Aku mohon padamu, ibu.”pinta Guzel. Karna sepertinya tidak akan mudah menghadapi Zeky. Apalagi pria itu sangat lah arogan sekali padanya.
Tepat saat mereka menangis, saat itu lah Zeky baru datang.
“Apa ada orang?” tanya Zeky di setiap tempat dari tadi.
Guzel dan Minah saling pandang. Siapa yang akan menjawab sang Tuan Muda? Guzel menggeleng. Oleh karna itu Minah langsung berbicara.
“Saya ada di sini, Tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Minah ramah.
“Kau Minah?” tanya Zeky karna sepertinya ia mengenali suara wanita paruh baya itu.
“Iya, Tuan Muda.”
“Aku mencium bau sushi. Seprtinya rasanya sangat enak.” Ucap Zeky.
“Iya, Tuan. Ada beberapa sushi di atas meja. Anda mau mencobanya?” tanya Minah.
“Ya. Aku sangat lapar. Siapkan mereka semua untuk ku.” Ucap Zeky senang. Karna ia tidak harus menunggu lama, karna cacing di perutnya sudah menari – nari.
“Siap laksanakan Tuan,” saat Minah mau mengambil piring, Zeky bertanya lagi.
“Maksud tuan muda, nona Gizel?” tanya Minah sambil melirik kearah di mana Guzel berdiri.
“Iya.”
Minah melihat kearah Guzel untuk mengkonfirmasi apa yang harus ia katakan. Karna ia takut tuannya ini akan menghukum Guzel lagi. Saat Guzel menggeleng, saat itu pula Minah menjawab.
“Mungkin sedang ada di kamarnya Tuan.” Ucap Minah. Dalam hati ia merasa bersalah karna telah berbohong pada tuannya.
“Dia tidak pernah keluar?” tanya Zeky heran. Beberapa hari ini ia memang tidak menemui Guzel.
Guzel mengangguk agar Minah juga memberi jawaban yang sama.
“Tidak Tuan. Nona selalu ada di kamarnya.” Ucap Minah malah tambah merasa bersalah. Ia sepertinya berpihak pada Guzel. Saat itu juga Gzuel memberi jempol kearah Minah.
“Baiklah. Kalau begitu, kau bawa makan ini ke kamar ku. Aku mau kesana dulusebelum ke kamar.” Ucap Zeky yang langsung berjalan menuju kamar Guzel menggunakan petunjuk tongkat ajaibnya.
Guzel semakin gusar saat mendengar itu. Apa, ke kamarnya? Dengan malas, Guzel menyusul langkah Zeky dari belakang.
“Kalau aku kerjain tak apa, kan?” pikir Guzel.
Guzel melihat di sekeliling, sepertinya sepi. Para pelayan dan pengawal tidak ada yang berkeliaran di tempat itu. Dengan senyum misterius, Guzel mengambil sebuah sapu yang tak jauh dari sana untuk membuat Zeky tersandung.
Guzel segera jongkok sambil mengankat sapu itu di depan kaki Zeky dan benar saja, “Gubrak...” Zeky pun langsung terjatuh.
Guzel tak bisa lagi menahan tawanya. Ia cekikikan sendiri melihat orang yang sangat menyebalkan ini terlihat tidak berdaya. ‘Rasakan itu.’ Pikir Guzel.
“Aduh, sakit sekali. apa tidak ada orang?” Zeky berteriak keras. Ia sangat benci dengan keadaaan matanya yang buta.
Guzel panik saat mendengar langkah kaki yang begitu banyak. Guzel segera menaruh sapu kembali pada tempatnya dan langsung melarikan diri dari tempat itu.
Saat itu juga beberapa pengawal datang dan menolong Zeky yang kesilitan mencari dimana keberadaan tongkatnya.
Zeky mengumpat kesal. “Singkirkan benda apapun yang menghalagi jalan ku. Apabila kejadian seperti ini terulang kembali, maka kepala kalian semua yang akan menjadi taruhannya.”
“Baik, Tuan Muda.” Ucap mereka semua dengan takut.
Guzel melihat adengan itu dari balik pintu kamarnya. Ia sangat takut saat melihat kemarahan Zeky. Semoga pria itu tidak akan tau kebenarannya. Guzel akan mati berdiri jika Zeky tau.
Zeky tidak jadi pergi kekamar Guzel. Ia menganggap jika semua yang berhubungan dengan Guzel akan membuat dirinya sial. Seperti yang terjadi padanya saat ini. Jadi dia tidak mau menemui Guzel.
“Kenapa aku masih mau memelihara gadis itu di dalam mansion ini?” Zeky hanya bisa menggerutu pada dirinya sendiri. Entahlah. Ia juga heran dengan keputusannya. “Kau seprtinya sudah gila, Zeky. Bahkan kau tidak bisa mengusirnya. Baiklah. Anggap saja dia sebagi tahanan. Dia akan menjadi jaminan nanti saat musuh menampakkan batang hidungnya. Ck, kenapa juga Kai masih kesulitan untuk mendapatkan data Guzel?” Zeky masih menggerutu sepanjang jalan tanpa tau kalau di depannya ada kekertaris Kai yang sengaja mencarinya untuk memberi informasi.
“Apa Tuan sedang gosip tentang aku? Aku baru tau, ternyata hoby Tuan saat ini adalah menonton acara ‘Hot Issue’. Kenapa juga aku harus di bawa dalam topik?” pikir sang sekertaris tidak habis fikir.
Bersambung............