
30 apa dia selalu seperti ini?
Tuan Levent masih saja betah bercerita dengan sang istri yang sudah meninggal.
“Kau pasti akan sangat heran melihat anak kita yang temperamennya bahkan lebih buruk dari pada aku. Aku sendiri tidak bisa mengatasi sikap nya yang semena – mena. Anak kita mengalami musibah. Ia tidak bisa melihat lagi, sekarang. Saat aku ingin anak kita di operasi, pihak rumah sakit berkata kalau mata Zeky baik – baik saja. Tidak perlu operasi. Kebutaannya terjadi hanya sementara. Dan bisa pulih kembali dalam wantu yang tidak lama. Mungkin kebutaannya itu terjadi karna syok. Atau benturan yang terhubung dengan fungsi mata. Entahlah. Aku tidak tau. Oh ya, aku sangat merindukan mu. Aku yakin Zeky juga sangat merindukan mu. Semenjak kepergian mu, aku tidak pernah mencari wanita lain. Tidak ada yang bisa mengganti kan posisi mu di dalam hidup ku. Oleh karna itu, semoga kita bisa ketemu lagi di kehidupan kita selanjutnya.” Ucap Tuan Levent dengan berderai air mata.
Saat suasana damai sedang berpihak pada Tuan Levent, berbeda dengan keadaan mansion Zeky yang terdengar sangat rusuh dan ramai.
Sekertaris Kai yang saat itu akan memberikan sebuah berkas kepada Zeky, mengurungkan niatnya karna ia tidak mau jadi bahan amukan singa yang sedang mengamuk di dalam rumah.
Semua itu berawal dari keinginan Zeky untuk makan siang dengan menu korea juga, tapi stok di kulkas tidak ada bahannya. Zeky semakin marah mendengar itu. Entah kenapa ia tidak bisa mengontrol emosinya akhir – akhir ini.
“Bagaimana bisa tidak ada stok sama sekali? memang apa saja yang kau beli di supermarket. Aku memberikan uang bulanan untuk masak dengan nilai yang banyak sekali. lalu kalian buat apa uang itu, kalau bukan untuk belanja? Aku bahkan menggaji kalian dengan bonus yang fantastis. Lalu kenapa kalian tidak bisa bekerja dengan baik?” cerocos Zeky panjang lebar.
Sedangkan para pelayan dan pengawal yang ditinggalkan langsung bisa bernafas lega. Akhirnya tidak ada yang di hukum, dari mereka. Setelah semuanya bubar, hanya tersisa Minah dan Guzel di sana.
“Bu, apakah Zeky selalu seperti ini?” tanya Guzel pada minah. Ia tidak mau menghormati pria galak itu. Kalau tidak ada orangnya.
“Tidak. Sebelumya dia akan pergi ke restoran bersama sekertaris Kai, ketika ia tidak berselera kalau makan di rumah. Sepertinya tadi hanya emosi sesaat. Mungkin Tuan belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan barunya. Dan tadi hanyalah bagian dari menutupi rasa malunya atas keadaannya. Jika tidak buta, Tuan bisa saja pergi. Namun karna keterbatasannya itu, ia menjadi harus berdiam diri di mansion. Padahal sebelumnya Tuan Zeky hanya akan pulang ketika sudah larut malam.” Tutur Minah.
Entah kenapa hati Guzel sedikit teriris mendengar itu. Kisah itu terdengar sangat pilu. Segalak apapun orang, pasti dia punya sisi baik dan kelebihan bukan? Baiklah. Sepertinya Guzel harus bisa menyingkirkan egonya dan berdamai dengan keadaan. Persetan dengan misi dari Daddynya. Yang penting ia menikmati hidup dulu saat ini.
Bersambung....