
59 pertemuan
Saat lampu warna – warni sudah menyala, Zeky hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. “Ah. Sial. Aku kira ada yang akan menculik ku. Akan sangat bodoh jika si pencuri mengajakku di tempat yang bagus seperti ini.” Gerutu Zeky.
“Apa maksud mu? Jadi kau menganggap ku bodoh?” itu adalah suara Guzel.
Zeky yang mengenali suara itu, pun langsung melihat ke belakang, dan ia sangat senang saat tau kalau itu benar Guzel. “Hei.” Serunya. Ia berlari kencang kearah Guzel.
Guzel yang di peluk secara tiba – tiba pun langsung membalas pelukan itu. “sangat nyaman.” Ucap Guzel.
“Kau kemana saja. Aku selalu merindukan mu tapi kau suka menghilang begitu saja. Sebenarnya aku sangat mencemaskan mu.” Seru Zeky sambil mengusap belakang rambut Guzel. Ia tidak melepaskan pelukan itu.
‘Tidak bisa kah kau merenggangkan sedikit pelukan mu? Ini terlalu erat. Dan itu sangat menyakiti ku. Kau membuat ku sesak nafas.” Ucap Guzel yang langsung di respon sama Zeky.
“Oh, aku minta maaf.” Ucap Zeky yang langsung melepaskan pelukan itu.
Mereka berdua kemudian duduk di kursi romantis yang sudah di sediakan di tempat itu.
‘Jadi, tentang apa ini? Kenapa kau menemui ku begini?” Zeky sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
“Kau pasti sudah tau jawabahnnya.” Kata Guzel pasti. Meminum segelas air putih yang ada di atas meja.
Sebenarnya Zeky juga sedikit menduga hal itu. “Ayolah katakan,” tapi ia ragu. Itulah kenapa ia kembali bertanya.
“Menyebalkan sekali. kenapa kau tidak tau.” Desah Guzel.
“Tidak. Tidak. Bukan begitu, aku mengetahuinya. Apa itu tentang jawaban mu?” tanya Zeky sedikit ragu.
“Ya.” Kata Guzel yang mampu membuat Zeky memejamkan mata.
‘Ta, tapi. Selama sebulan ini kau selalu pergi begitu saja. Bagaimana bisa aku membuat mu jatuh cinta dalam waktu sebulan ini? Dan kau malah inigin menjawab ku?”
“Aku meneri ma mu.” Ucap Guzel lagi.
“Ya?” tanya Zeky yang tersedak air lurnya sendiri.
“Ayo kita lakukan.”
“berkencan?”
‘Wah, aku tidak menyangka seorang wanita telah melamar ku.” Ucap Zeky sambil tertawa.
“Ck. Jangan membuat ku tertawa. Aku tau kalau kau itu sangat merindukan ku. Kau bahkan membaut sekertaris Kai stres karna kelakuan mu. Menyebalkan sekali. kita bahkan bukan pacar, tapi kau bisa galau hanya saat aku pergi.”
“Hei. Aku tidak seperti itu.”
“Alah, jangan mengelak.”
“Apapun itu. Tapi kau yang salah. Apa yang kau lakukan sebulan ini, hah? Kau membuat ku kalang kabut. Aku pikir kau pergi dan lari. Aku hampir stres karna hal itu. Jadi jangan di ulangi lagi.” Peringatan dari Zeky.
Guzel hanya menganggukkan kepalanya sambil tertawa geli.
“Kenapa kau tertawa sendiri?” tanya Zeky.
“Kini kau mengakui kalau kau sudah merepotkan sekertaris Kai dalam banyak hal.” Skak mat.
“Itu...” Zeky menjadi mati kutu, bahkan tidak bisa berkata.
“Sekarang aku tau. Kenapa sekertaris Kai sangat bahagia saat aku bilang akan kembali. Ternyata kau menumpukkan banyak pekerjaan padanya.” Ledek Guzel lagi.
“Aku menggajinya.” Seru Zeky tidak mau kalah.
Guzel tidak menjawab itu. Tapi malah tertawa. Zeky terpesona.
‘Aku pasti sudah gila. Bagimana bisa aku tergoda hanya melihat bibir itu tertawa. Bagaimana dengan yang lainya. Aku pasti akan memakanya setiap hari kalau memang kita berjodoh untuk menikah.’ Pikir Zeky dalam hati.
Tak menunggu lama, Zeky langsung menciumnya.
Meski pun pertemuan itu di sertai dengan saling meledek. Namun itu lah mereka. Mereka hanya akan terlihat akur kalau sedang bertengkar. Seperti Tom dan Jerry.
Bersambung..