Hotel De Amor

Hotel De Amor
Penculikan



Penculikan


Tempat itu terlihat sangatlah sempit. Bangunan yang sudah tua dan keropos menambah kesan menakutkan di tempat ini. Tidak ada cahaya sama sekali di tempat itu. Hanya ada sedikit lubang berukuran 10 centi yang ada di atas. Dan hanya dari lubang itu lah ada cahaya. Cahaya matahari yang menyengat telah masuk kedalam ruangan itu.


Guzel baru saja terbangun. Ia mengeluh sakit punggung karna tidur dalam posisi yang tidak nyaman. Perlahan ia membuka mata. Ia sangat panik saat mengetahui hanya gelap yang ia lihat. Namun ia berusaha untuk kembali tenang saat mendengar ada suara bising di luar sana.


Walau ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan di luar sana. Tapi ia bisa menyimpulkan kalau ia tidak sendirian berada di tempat mengerikan itu. Dan kedua tangan dan kaki yang sedang di ikat membuat ia bisa menyimpulkan kalau ia sedang di culik sekarang.


“Huft. Apa aku memiliki musuh? Kalau diriku aku sedikit merasa ragu. Entah mengapa aku jadi curiga kalau mereka adalah musuh Daddy atau pun Zeky. Huft.. apapun itu, aku hanya bisa berharap kalau aku bisa keluar dari sini. Daddy, tolong aku.. aku mau keluar dari sini... please.. dad... Suami ku, datanglah. Aku tidak mau terkurung di sini dalam waktu yang sangat lama. Aku janji kalau aku akan lebih mematuhi mu setelah ini. Tapi tolong, selamatkan aku.”


Guzel hanya bisa merintih kesakitan. Tak lama setelah Guzel berkeluh kesah. Seorang pasangan suami istri datang untuk memeriksa keadaannya. Kedua orang itu sangat asing di mata Guzel. Ia tidak mengenal mereka sama sekali.


Guzel menatap mereka dengan tajam. Dia memang kesakitan tapi ia tidak mau terlihat lemah di depan mereka yang sangat tidak ia kenal itu.


“Apa mau kalian?” tanya Guzel dengan tatapam nyalang. Ia tidak perduli siapa mereka. ia hanya ingin bisa pergi dari sana.


“Wow. Aku baru tau kalau ternyata nyonya Levent begitu gentar. Aku cukup terkejut. Aku kira kau adalah seorang wanita yang lemah lembut. Tapi sepertinya kau sedikit bar bar, ya.” Ucap si pria yang ada di sana.


“Tidak usah basa basi. Dengar kan aku. Jawab pertanyaan ku baik – baik. Siapa kalian?” Guzel bertanya dengan nada tidak senang. Walau ia tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas, namun ia bisa menebak kalau mereka berdua laki – laki dan wanita.


“Ck, kau akan tau siapa kami. Tapi kami akan membuat perhitungan dengan mu karna kau telah membuat putra ku mendapat masalah.” Kali ini si wanita yang berkata.


“Oh, jadi kalian adalah orang tua dari si baj*ngan tengik itu?” ucap Guzel kesal tapi menahannya dengan tertawa.


Mereka sebangai orang tua tidak terima kalau sang anak di hina seperti itu pun murka.


“Jaga mulut mu, dasar kurang ajar.” Laura pun menampar Guzel dengan keras.


Guzel hanya diam dan menerima tamparan itu. Rasanya sangat sakit, namun ia menahannya dan tersenyum mengejek.


“Hanya itu kekuatan mu? Dan kau dengan berani menentang Daddy ku? Kau sungguh berani . asal kau tahu, kau sudah salah dalam memilih lawan karna daddy ku bukan lah tandingan mu. Kau harus menyerah dan melupakan keinginan mu untuk melawan ayah ku. Karna aku pastikan kau tidak akan berakhir dengan baik. Ingat saran ku ini, dan pulangkan aku. Daddy akan memaafkan kalian kalau kalian berubah pikiran sekarang.” Guzel masih dengan santai menasehati mereka.


“Kau fikir kami takut?” si pria yang sudah tidak sabar langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada Guzel. Ia menarik pelatuknya dan..


Dor Dor Dor.......


Suara tembakan pistol itu membuat Guzel menjerit dan tidak sadarkan diri.


Bersambung........