Hotel De Amor

Hotel De Amor
Dia Minta Di Jodoh Kan Dengan Putri Mu



Tuan Levent saat itu mengerjakan tugasnya dengan cepat agar ia bisa menemui Damian yang sekarang sedang berkunjung ke mansion anaknya. Ia sangat bersemangat, meningat sudah lama ia tidak bertemu denagn sahabat lamanya itu.


Seperti yang ia harapkan, ia sekarang sudah sampai di Mansion Zeky. Ia masih bersemangat di usianya yang terbilang cukup tua. Saat sampai di meja makan, ia menjadi sangat kesal mendengar perkataan Zeky yang seakan menggosip dia. Sejak kapan anak itu pandai bergosip? Untuk mengungkapkan kekesalannya, Levent memukul kepala Zeky dari belakang.


“Aduh.” Sang anak mengeluh kesakitan karna pukulan itu sangat menyakitkan.


“Kau anak nakal. Bagaimana bisa kau menghina ayah mu di depan teman baik ayah?” gertak Levent. Ia sanagt tidak suka dengan sikap Zeky yang seperti ini.


“Ayolah dad, kau yang memulai. Lagian yang aku katakan semua adalah benar. Kau tidak bisa mengelak utntuk itu. Paman damian juga sudah tau apa yang terjadi. Tidak usah malu begitu.” Kata Zeky kemudian. Tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Kau ini, bagaimana bisa kau malah menambahnya?”


Damian tergelak mendengar perdebatan mereka berdua. Mereka hanya akan terlihat akur kalu sedang berdebat seperti itu.


“Sudahlah. Kau itu sudah tua, mengalah saja kau pada anak mu.” Damian melerai agar kedua pasangan ayah dan anak ini tidak semakin menjadi.


“Ia akan tambah ngelunjak kalau aku mengalah. Aku tidak mau mengalah.” Uacp Tuan Levent masih keras kepala.


“Kau fikir aku akan meminta maaf pada mu? Tidak akan terjadi.” Kata Zeky dengan pedas.


Mereka saling menunjukkan tatapan sengit seakan mengatakan kalau mereka tidak akan pernah akur.


“Kalian berdua ini. Selalu saja membuat ku iri.” Kata Damian.


“Apa yang membuat mu iri?” tanya Levent heran.


“Kau membuat ku menjadi juga ingin memiliki anak laki- laki, juga.”ungkap Damian menunjukkan kecemburuannya.


“Kalau begitu, rubah putri cantik mu menjadi lelaki yang tampan.” Tutur Zeky melantur. Levent langsung memukul kepala sang anak ketika berbicara hal yang tidak sopan.


“Aku tau. Pasti kau yang memukul ku lagi, kan Dad? Kau ini kenapa suka sekali menyiksa anak mu!” geram Zeky heran dengan pria tua itu. Udah berusia, tapi tenaganya masih seperti anak muda.


Maka jadilah anak yang baik, seperti putri nya Damian. Maka Daddy akan menyayangi mu lebih dari ini.” Ucap Levent


“Kau ini, yang benar saja. Aku tidak bisa menjadi lemah lembut. Paman Damian itu orang yang lembut, sedangkan Daddy adalah orang yang kasar. Tidak heran kalau anak paman Damian sangat lembut dan baik hati. Tapi karna kau adalah anak Daddy, aku jadi seorang pria yang keras seperti ini. Jadi jangan salah kan aku. Karna aku adalah duplikatnya Daddy.” Uzap Zeky menggebu. Levent sampai terdiam. Tidak bisa berkata apa –apa.


“Ya.. Ya, kau benar.” Kata Levent menjadi tergagap.


Damian hanya tertawa mendengarkan perdebatan konyol mereka. Jika saja ada popcorn, Damian akan memakannya sambil menonton pertunjukkan ayah dan anak ini.


“Sudahlah, kalian berdua ini. Kenapa dari tadi selalu membicarakan putri ku?” tanya Damian heran, ada apa dengan mereka berdua? Apa mereka merindukan putrinya? Konyol sekali.


“Tidak, bukan apa –apa. Kemarin saat masih di rumah sakit, Zeky berkata pada ku kalau ia minta di jodohkan dengan putri mu.” Kata Levent yang mampu membuat Zeky menganga tidak percaya. Apa benar tadi yang berkata adalah Daddynya? Kenapa Daddy mempermalukannya seperti ini? Mau di taruh di mana Muak Zeky setelah ini.


“Dad, apap yang kau katakan?” Zeky marah tidak percaya. Apa dia sedang menggali lubang kubur anaknya sendiri?


“Tentu saja salah dad.” Pekik Zeky tidak percaya, ayahnya ini berkata dalam keadaan sadar atau mabuk.


“Apanya yang salah.” Levent masih memasang wajah tidak tau apa – a-a. Sedangkan Zeky yang tau kalau ayahnya hanya pura – pura pun ingin membentuirkan kepala sang ayah dengan tembok besar cina. Biarin saja kalau benjol.


“Gimana Damian, apa ku mau?” tanya Levent. Pasti hubungan persahabatan mereka akan terjalin semakin erat kalau kedua putra putri mereka menikah.


“Itu tawaran yang sangat bagus. Aku tidak akan menolaknya, tapi dengan syarat.” Tutur Damian bijak.


“Syarat apa itu?” tanya Levent, Zeky juga penasaran oleh karna itu ia juga mendesak.


“Syarat apa itu paman?”


“Kalau putri ku setuju, aku akan melanjutkan perjodohan kita ini. Tapi kalau putri ku menolak, aku harap itu tidak akan berpengaruh pada persahabatan kita. Semoga akan tetap seperti ini walau apapun yang terjadi nanti.” Kata Damian. Sangat jelas sekali kalau ia sangat menyayangi putri semata wayangnya. Apapun yang ia lakukan semuanya untuk sang anak.


.......................


Sedangkan Guzel yang di bicarakan, sedang panik sendiri di dalam kamar. Ia bertanya – tanya. Apa hal yang membuat sang daddy kesini? Apa utusan yang di kirim ayahnya untuk mengikutinya yang memberi tau ayahnya kalau dia ada di sini? Guzel sangat penasaran dengan apa yang terjadi, tapi ia takut kalau menghadapi kenyataan yang di luar ekspektasinya.


“Sudahlah.. kau tidak perlu berfikir hal yang tidak perlu kamu cemaskan, Guzel. Memangnya kenapa kalau daddy mu tau kau tinggal disini. Yang penting kau harus ingat kalau daddy tidak akan membunuh mu. Dan hukuman yang daddy mu berikan tidak akan menyakiti batin atau pun fisik mu, karna kau tau sendiri bukan. Daddy mu adalah orang yang baik hati dan lembut.” Ucap Guzel menenangkan dirinya sendiri. Walau fikirannya masih menerawang bingung. Apa yang sudah terjadi? Itulah yang dia fikirkan.


...........................


“Sepertinya kita sudah berbincang cukup lama. Aku harus pulang.” Kata Damian. Ia ingin berpamitan pada sang pemilik rumah.


“Kau mau kemana? Ini masih siang.” Kata Levent.


“Tapi istri ku di rumah sudah menunggu.”


“Kau ini membuat ku iri saja. Iya percaya, ada yang sedang menunggu di rumah. Kenapa tidak menunggu nanti malam saja. Ini masih siang loh. Emang mau kamu apain sih, istri mu di rumah. Seperti pengantin baru saja.” Ucap Levent jengkel.


Persahabatan yang mereka jalin sudah sebaik itu, oleh karenanya saling mengejek adalah hal yang biasa mereka lakukan. Itu hanyalah candaan belaka, jadi tidak ada yang di masukkan hati.


“Kalau iri, bilang bos.” Ucap damian tidak mau kalah.


Seketika itu pula Levent tertawa ngakak saat Damian berkata sambil berpose layaknya anak kecil yang sedang pamer. Zeky juga ikut tertawa mendengar kebahgiaan yang di tunjukkan sang ayah.


“Aku harap kau selalu bahagia, dad.” Zeky berdo’a dalam hati untuk ayahnya.


“Ya sudah. Pergi sana. Ngga usah pamer.” Ucap Levent kemudian. Damian hanya tertawa mendengar itu.


Bersambung........