
Pagi yang cerah, Guzel merasa tidur sangat nyenyak tadi malam. Guzel segera bangkit dan merapikan tempat tidur nya.
Pagi sekali ia sudah berangkat ke Hotel, takut kalau terlambat. Guzel kaget saat ada sebuah tangan yang menyeretnya masuk kedalam mobil yang pintunya sudah terbuka.
Guzel terkesiap dan kaget saat mengetahui bahwa yang menarik nya adalah si pemilik Hotel.
"Tuan, apa yang sebenarnya Tuan inginkan?" Tanya Guzel agak jengah dengan pria menyebalkan ini.
"Kau, berani sekali kau berkata seperti itu setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku kemarin? Mau cari mati, ya?" Bentak Zeky.
"Jangan emosi Tuan, nanti cepat tua loh. Oops, atau memang udah tua, ya." kata Guzel santai, bahkan Guzel sengaja mengatakan hal itu sambil menutup wajahnya.
Zeky semakin berasap kepalanya saat mendengar kata itu.
"Hei pelayan, kau sudah melewati batasan mu. Ingat. Aku adalah atasan mu. Dan kau sudah membuat ku marah setiap bertemu. Maka terima lah akibatnya." Ucap Zeky dengan smirk.
"Baiklah, akan saya tunggu kejutan dari anda Tuan Levent." Ucap Guzel tanpa rasa takut.
Padahal dalam hati ia sangat gemetar menentang pria berbahaya itu.
"Ingat gadis kecil, ini adalah peringatan dari ku. Kalau kau berani melakukan yang lebih dari ini, maka aku akan melakukan apapun pada tubuh mu tanpa sungkan." Ucap Zeky dengan tatapan mendamba.
Hati Guzel semakin berdebar, tubuh nya menjadi panas dingin. Dan sialnya lagi roti sobek kemarin yang ia lihat kembali terlintas.
Tanpa permisi, Guzel langsung keluar dari mobil dan berusaha menenangkan pikirannya yang mulai tidak waras.
Guzel segera memasuki Hotel.
"Pria gila!" Umpat Guzel sambil meninju foto besar Zeky yang terpampang di banner.
Saat akan menendang poster itu, sebuah suara mengagetkan nya.
"Sedang apa kau, gadis kecil." Ternyata itu adalah suara Zeky.
Guzel menatap tajam pada pria itu.
"Selamat pagi, Tuan. Permisi Tuan, saya punya banyak kerjaan." Ucap Guzel dengan senyum palsu.
Zeky sedikit terkejut sebenarnya, wanita ini memang bersikap ramah sebagai hormat pada sang pemilik Hotel.
Namun, Guzel sengaja tidak menyembunyikan raut kesal dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah. Kerja yang rajin ya, biar Hotel ini semakin maju. Aku suka sikap ramah mu. Terus pertahan kan ya, jangan emosi walau nanti kau ketemu sama pelanggan yang menjengkelkan." Ucap Zeky memberi masukan.
"Iya Tuan. Saya akan selalu menampakkan senyum pada Anda. Karna anda sangat baik. Saking baiknya, saya sampai ingin mengeluarkan seluruh isi kepala Anda. Berhati-hatilah, saya bisa saja melakukannya di saat anda lengah." Ucap Guzel masih dengan tatapan matanya yang tajam.
"Nona, hati-hati dengan ucapan anda. Jaga sopan santun anda. Atau saya bisa saja melakukan apapun untuk membalas anda." Ucap Sekertaris Kai yang merasa tidak suka melihat ke kurangajaran karyawan ini.
"Tenang saja Tuan Kai, saya hanya tidak akan melakukan apapun kalau Tuan serangga Pengganggu ini tidak memulai nya." ucap Guzel tersenyum lebar pada sang sekertaris.
"Beraninya, apa maksud mu, serangga Pengganggu?" Ucap Zeky tidak terima.
"Tuan Milyader, saya tau anda punya segalanya. Namun bukan berarti anda bisa seenaknya saja....." Saat Guzel mau berbicara lagi, terhenti saat melihat pintu lift terbuka. Guzel semakin terkejut saat sekertaris Jose muncul dari balik lift itu.
"Nona Mu..." Guzel langsung menutup mulut Jose saat Jose akan menyapanya.
Jose heran sebenarnya, ia belum tau kalau Nona Muda nya sedang miskin sekarang.
"Tuan Jose, Anda ada keperluan apa di sini?" Tanya Guzel gugup kalau identitas nya ketahuan.
"Itu..." belum selesai Jose berbicara, Guzel sudah menyela.
"Tuan Jose, anda pasti sedang mencari saya, ya. Tuan, anda menghalangi jalan Tuan Muda. Bagaimana kalau kita jangan berbicara di sini?" Ucap Guzel sambil menggandeng Jose pergi dari tempat itu.
"Kami permisi Tuan." Pamit Guzel pada Zeky, tak lupa pula Guzel membungkuk pada sekertaris Kai.
Sekertaris Jose hanya bisa pasrah mengikuti apa yang di lakukan nona Muda nya. Dalam hati ia penasaran, apa yang terjadi?
Setelah Guzel menjauh,
"Mungkin kah gadis itu salah satu orang yang di kenal sekertaris itu?" Jawab Sekertaris Kai agak ambigu.
Zeky memukul kepala Kai karna kesal. "Tentu saja kenal, kalau tidak maka mereka tidak akan saling menyapa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sekertaris Jose, apakah Daddy belum memberi tau mu?"
"Tentang apa Nona Muda?"
"Ssuuuut.." Guzel menempelkan tangan di bibirnya. "Pelan pelan sekertaris Jose, nanti ada yang dengar."
Guzel kemudian menceritakan kisah panjang yang membuat dia terdampar di tempat ini.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Guzel setelah bercerita. Kenapa juga sekertaris Daddy nya ini berkeliaran di Hotel ini, bukankah ini jam kerja?
"Iya Nona, saya di suruh Tuan besar untuk kembali meninjau berkas tentang kerjasama kita dengan perusahaan Tuan Zeky."
"Jadi Daddy yang menyuruh mu." Ucap Guzel dengan senyum kecut nya.
"Iya, Nona Muda."
"Apakah Daddy baik-baik saja?" Tanya Guzel sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Iya Nona, Tuan Besar selalu bercerita tentang anda setiap ada kesempatan." Ucap Jose jujur.
Guzel hanya menghembuskan nafasnya kasar, "Mom, Dad."
Jose memahami perasaan Guzel, Nona Muda nya ini tidak pernah hidup berjauhan dengan kedua orang tuanya selama ini. Pasti sangat berat, belum lagi kerja kasar yang di lakukan nya.
"Nona, yang sabar ya. Nona pasti bisa menjalani semua ini." Kata Jose memberi semangat.
"Tentu harus Jose. Setelah ini aku harus mencari tau, siapa yang berani bermain main dengan ku." Ucap Guzel dengan marah.
"Benar Nona, mereka hanya lah pengecut yang hanya suka bersembunyi. Saya akan membantu penyelidikan, Nona."
"Bagus Jose, makasih ya."
"Iya, Nona."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di tempat lain, ada seorang pria tengah duduk di kursi besarnya. Beberapa saat kemudian, Telfonnya berbunyi.
"Ada apa kau menelvon." Ucapnya.
"Dad, Aku ini anak mu. Harus kah aku menelvon jika hanya ada keperluan saja." Suara di ujung sana terdengar kesal.
Pria paruh baya yang di panggil Daddy hanya menghembuskan nafasnya pelan, anaknya ini sangat manja dan ceroboh.
"Ck, punya berita apa?"
"Dad, aku punya rencana bagus. Hari ini aku melihat ada seorang wanita sedang berdebat dengan Zeky. Sepertinya wanita itu juga membenci Zeky. Bagaimana kalau kita jadikan wanita itu sebagai tumbal?" Tanya si anak.
"Jangan gegabah Michelle. Memang apa yang akan kau lakukan?" tanya sang ayah, karna belum percaya sepenuhnya pada Michelle.
"Aku ingin segera membunuh Zeky Dad. Kita buat rencana, dan wanita itu yang akan jadi dalang nya. Bukan kah terakhir kali kita bisa mengelabuhi dia dan ayahnya. Dengan begitu, Wanita itu akan terpuruk dan otomatis ayahnya juga akan sedih. Dalam kondisi lemah seperti itu, kita akan dengan mudah menyerang kekuatan gengster paling besar di dunia. Bagaimana Dad, ide ku keren kan?"
"Iya, Daddy tau kamu bisa menendang dia dari perusahaan ayahnya tanpa meninggalkan jejak. Tapi tidak semudah itu, kau fikir organisasi gangster dunia cuma berisi para orang orang kelas teri?"
Michelle tidak menjawab, tapi malah langsung mematikan telvon.
"Anak kurang ajar!" Umpat Pria paruh baya itu.
Bersambung...
Maaf ya, saya kemarin tidak update karna sedang sakit 🙏