
57 Tahun baru.
Guzel menatap bimbang dengan cek yang sudah ia terima dari Zeky. Haruskah ia membayarkan uang itu untuk Daddynya? Tapi, uang itu tidak sepenuhnya usahanya. Ia hanya mengambil keuntungan dari kebaikan hati Zeky.
Setelah lama merenung, Guzel mendapatkan sebuah ide. Ia mulai mencari tempat sewa yang luas dengan harga yang ekonomis.
Setelah mendapatkan tempat yang strategis, Guzel mulai menata dan membeli lemari murah dengan kualitas premium untuk penyimpanan.
Guzel kemudian membeli barang grosir dari Alibaba.com dan berniat menjualnya kembali.
Yah, jaman sekarang bisnis online sangat menguntungkan bukan? Kenapa tidak mencobanya, selama punya modal? Skil sangat di butuh kan dalam bidang in. Dan, Guzel punya itu.
“Jiwa bisnis ku meronta – ronta. Aku pasti akan mendapatkan untung yang banyak. Target ku adalah para remaja yang bergaya, tapi minim biaya. Wow, kau cerdas Zel.” Ucap Guzel memuji diri sendiri.
Catatan : kita hidup untuk diri kita sendiri. Yang memahami kita hanya lah diri sendiri. Berubahlah menjadi lebih baik untuk diri mu sendiri. Jangan menunggu di gertak orang lain. Karna mereka punya kesibukan sendiri.
....................................
“Kau kemana saja. Jangan menghilang begitu saja, Zel.” Gerutu Zeky karna beberapa hari ini Guzel suka pergi tanpa pamit.
“Aku minta maaf. Aku banyak kerjaan.”
“Apa yang kau lakukan sekarang? Kenapa kau suka pergi terus?”
“Aku..” ucapan Guzel terhenti saat mendengar hp miliknya bergetar.
Drrt... drrtt...
“Halo.”
“Mbak, ada tamu. Katanya dari china.” Ucap karyawan dari seberang telephon.
“Oh iya. Suruh beliau masuk di ruang tunggu. Aku akan segera kembali.” Ucap Guzel mematikan telephon.
“Nanti ku telvon lagi.” Ucap Guzel setelah menghabiskan segelas air putih.
“Kau tidak boleh pergi seenaknya saja tanpa kabar. Aku bahkan tidak yakin kalau kau akan pulang nanti malam atau tidak.” Gerutu Zeky karna ia sudah sangat merindukan Guzel.
Guzel tidak menghiraukan itu dan segera naik taksi. Zeky berusaha mengejarnya. Namun keduluan Guzel sudah menutup pintu taksi itu.
“Zel, Zel. Kau bilang memberi ku waktu hanya satu bulan? Lalu apa ini? Kau selalu saja pergi! Hey!” teriak Zeky sambil menggedor – gedor jendela mobil.
Guzel menulikan pendengarannya. “Jalan pak.” Ucap Guzel.
Saat taksi sudah mulai berjalan, saat itu lah Guzel menjulurkan lidahnya. Tanda mengejek Zeky.
Zeky hanya bisa menghentak – hentak kan kakinya sambil mengumpat. Seorang wanita paruh baya dan seorang anak berusia 5 tahun melihat adegan itu. Dan wanita itu sangat ilfil dengan kelakuan Zeky yang merajuk seperti bayi.
“Kamu kalau besar jangan seperti itu ya nak.” Si wanita baya itu memperingatkan sang anak.
“Iya bu.”
Zeky yang berada tak jauh dari mereka pu merasa malu dan menutup mukanya. “Semua ini gara – gara Guzel. Awas saja kalau gadis itu pulang. Aku akan mengurungnya.”
Bukan tanpa alasan Guzel menghilang tanpa jejak. Ia hanya ingin fokus mengembangkan usaha barunya tanpa gangguan dari Zeky.
“Maaf, tunggulah sebentar lagi. Aku masih kerepotan karna masih kekurangan karyawan. Tunggu sebentar lagi, ya.” Gumam Guzel.
...........................
Hari terus berlalu. Sudah sebulan ini Guzel tidak pernah menemui Zeky, sampai si Zeky kalang kabut mencari keberadaannya.
Tepat saat ini. Sudah tahun baru. Apa yang akan terjadi pada tahun ini?
Bersambung...