
Kapan aku berkencan kalau begini?
“Apa kau sedang mencari kesempatan untuk membunuh ku? Itu tidak akan terjadi.” Kata Zeky masih dengan keras.
“Ya, saya sangat ingin memecahkan isi kepala anda. Anda terlalu menyebalkan menjadi pria. Tidak bisakah anda sedikit berprasangka baik. Sikap anda ini sangat tidak baik untuk di tiru. Berdebat dengan anda hanya akan membuat saya kesal setengah mati.” Kata Guzel kemudian.
“Kau berani seklai menggertak ku? Punya nyawa berapa dirimu?” pekik Zeky tidak habis fikir.
Guzel hanya terdiam tidak membalas perkataan itu sama sekali. Percuma ia berdebat pada pria ini. Ujungnya tidak akan ketemu. Karna pasti pria ini masih punya banyak kosa kata untuk membantah semua ucapan Guzel.
“Sudah lah Tuan. Saya kemari bukan untuk berdebat dengan anda. Tidak kah anda mencium bau yang sangat lezat?” tanya Guzel.
Sekarang Zeky sedikit fokus dan baru sadar kalau ada aroma masakan yang sepertinya rasanya akan sangat enak. Tapi ia terlalu gengsi untuk bilang ‘Iya.’
“Kau membawa makanan?” tanya Zeky dengan wajah datar, padahal dalam hati ia sangat senang karna ia sedang kelaparan.
“Ya, tapi bukan masakan korea. Besok pelayan akan membeli bahan masakan korea lebih banyak lagi. Di kulkas ada bahan untuk memasak makanan jepang, jadi aku membuatkannya untuk mu. Aku harap kau mau memakannya. Walau bagaimana pun, aku memasak dengan tulus. Jadi, terima ya.” Kata Guzel dengan lembut.
“Ada apa dengan mu? Kenapa kau bersikap ramah pada ku?” tanya Zeky heran. Ia sangat curiga dengan perubahan sikap Guzel.
“Tidak Tuan, memang seperti inilah saya.” Ucap Guzel dengan nada ramah tapi tatapan matanya masih menunjukkan kalau ia akan memakan Zeky hidup – hidup kalau pria itu tidak menurut padanya.
“Kau itu sangat aneh. Kau membuat ku curiga.” Kata Zeky merinding.
Zeky yang di ancam seperti itu hanya bisa menuruti perkataan Guzel. Di kamarnya tidak ada CCTV, jadi ia takut Guzel benar benar akan melakukannya. Oleh karna itu, ia terpaksa menurut.
Guzel memekik girang saat masakan yang sudah susah payah ia buat sudah tandas. Walau harus di mulai dengan berdebat, dan berakhir dengan sebuah ancaman. Yang penting, masakannya habis. Dan dia tidak memikirkan apapun setelah itu.
“Baiklah, karna kau sudah menghabiskannya, aku akan pergi keluar. Oh ya, jangan lupa untuk di pakai duduk dulu. Baru itu kau boleh berbaring. Biarkan makanan yang baru saja kau makan, masuk ke dalam perut dulu. Aku keluar ya.” Ucap Guzel dengan semangat.
Zeky hanya bisa mencibir setelah mendengar pintu sudah tertutup. “Kanapa gadis itu jadi cerewet sekali. Bahkan dia semakin berani, dari hari kehari.”
Zeky yang tidak mau kejadian hari ini terulang lagi, ia pun menelvon sekertarisnya.
“Kai. Kau ada di mana? Tanya Zeky.
“Saya ada di kantor.” Jawab Kai.
“Nanti pulang dari kantor, kau kerumah ku. Nanti malam, di saat semua orang tertidur, suruh seseorang untuk memasang CCTV di setiap sudut rumah ini. Dan juga pastikan orang itu adalah orang yang dapat di percaya.” Suruh Zeky dan langsung mengkhahiri panggilan tanpa menunggu respon dari Kai yang sedang mengamuk di ruangannya. Karna kelakuan bos nya yang seenaknya, ia jadi sangat kelelahan dengan semua pekerjaan yang di limpahkan padanya.
“Kapan aku berkencan kalau begini?” itulah yang membuat sekertaris Kai resah.
Bersambung...