HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 9, Dinamika IGD



"dok... dok.. tolong istri saya dok" pekik seorang lelaki di pintu IGD.


Pasien sudah ada di bed periksa sekarang. dokter Barra dengan cepat menghampiri pasien karena melihat wajah wanita itu pucat pasi.


"Ini sudah lama pingsannya?" tanya dokbar sambil memeriksa tanda-tanda vital pasien (pernafasan, detak jantung dll).


"Sekitar setengah jam yang lalu dok, begitu pingsan .. saya buru-buru bawa kesini soalnya udah dipakein wewangian di hidung ga bangun juga" jawab sang suami.


dokbar melihat ada darah di bed IGD.


"Istri Bapak sedang haid?" tanya dokbar.


"Ehm... anu dok.. gimana ya.." bingung sang suami menjelaskan.


dokbar meminta perawat mengambil perlengkapan untuk membersihkan luka, kemudian menghubungi laboratorium untuk mengambil darah guna diperiksa.


"Sust.. tolong cek dulu dibagian kelaminnya" pinta dokbar yang keluar dari bed tempat pasien berada.


Suami pasien mengikuti dokter Barra.


"Bruder (panggilan perawat lelaki).. panggil bidan sama bawa perlengkapan standar mereka kalo cek dalam" perintah dokbar.


dokbar langsung meminta ke perawat lain untuk persiapan pemasangan infus.


"Istri Bapak sedang hamil atau haid?" tanya dokbar lagi.


"Tidak dok" jawab lelaki itu makin panik.


"Bisa diceritakan sekilas Pak?" tanya dokbar sambil menulis di rekam medis pasien.


Sang suami tampak malu.


"Kisahnya begini dok, tadi pagi kami baru menikah, selesai resepsi jam lima sore, karena sudah ga tahan, langsung tancap gas melakukan malam pertama. Setelah bisa masuk tiba-tiba keluar darah. Kata orang kan kalo masih perawan pasti berdarah dan masuknya harus dipaksa gitu dok.. memang sih istri kesakitan, tapi kata orang yang sudah melakukan ya memang sakit awalnya" buka suami pasien.


Perawat yang sedang menyiapkan alat untuk infus berusaha menahan tawa, sebenarnya dokbar juga mau tertawa, tapi dia sadar posisinya saat ini sehingga harus menjaga wibawa dan kode etik profesinya.


"Terus aja kami melakukannya dok, kirain becek karena keluar cairan gitu dok.. eh ga taunya kok darahnya keluar terus" lanjut sang suami.


"Banyak darahnya?" tanya dokbar.


"Ga terlalu banyak sih dok, tapi istri saya kesakitan terus ngeluh pusing, ga lama kemudian dia pingsan. Saya ga mungkin dong teriak minta tolong sedangkan kami dalam kondisi ya begitulah dok .. akhirnya saya pake baju dulu terus istri juga saya pakein baju. Sprei juga saya tutup pake selimut biar orang ga bingung liat ada darah banyak di sprei" ujar suaminya pasien.


Setelah bidan melaporkan hasil pemeriksaan ke dokbar, dia ijin keluar dari IGD.


dokbar memasang infus ditangan kiri pasien. Pasien sudah siuman beberapa menit yang lalu.


"Ibu masih berasa pusing?" tanya dokbar.


Sang pasien mengangguk lemah.


Petugas laboratorium datang membawa hasil dan diserahkan ke dokbar.


dokbar membaca hasil laboratorium.


"HBnya rendah ini, normalnya sekitar 12, sedangkan ini hanya 5,9. Sudah harus transfusi darah" ucap dokbar singkat.


Bidan datang mendampingi untuk memeriksa kondisi pasien.


Sang suami diminta untuk keluar dulu dari bed periksa karena memang paramedis memerlukan space yang lega untuk mengambil tindakan.


dokbar berdiskusi dengan menelepon dokter obsgyn dan dokter penyakit dalam untuk konsultasi. Setelah melaporkan kondisi pasien, dokter spesialis menyarankan agar pasien dirawat inap karena hemoglobinnya juga rendah.


Situasi sudah aman terkendali setelah satu jam berjibaku dengan pasien ini. Tadi saat sibuk-sibuknya konsultasi dengan dokter spesialis, datang pasien baru, pasien anak yang kondisinya kurang cairan karena buang-buang air sejak pagi hari. Jadi cukup lumayan bolak-balik dokbar ke bed dua pasien IGD.


dokbar berbicara dengan suaminya pasien.


"Setelah menjalani observasi dan cek laboratorium, HB (hemoglobin)nya rendah sehingga perlu untuk dilakukan transfusi darah, kemungkinan hingga dua kantong darah selama kurang lebih enam sampai dua belas jam" buka dokbar.


"Apa aja boleh dok... yang penting istri saya selamat" jawab sang suami dengan pasrah.


"Saya sudah menghubungi dokter penyakit dalam dan dokter kandungan, jika Bapak setuju rawat inap, silahkan kebagian administrasi. Nanti saya akan jelaskan tentang transfusi darah disini" kata dokbar.


"Baik dok" jawab suami pasien yang langsung menuju bagian pendaftaran rawat inap.


Keluarga pasien wanita mulai berdatangan, mereka menangis menghampiri bed periksa.


"Maaf Bapak Ibu.. mohon bergantian ya masuk kesini" ingat perawat.


Keluarga akhirnya bergantian masuk, tidak lama kemudian suami pasien sudah datang menemui dokbar lagi.


dokbar menjelaskan prosedur yang akan dilakukan mengenai tindakan transfusi darah.


"Saya juga bisa dok diambil darahnya, golongan darahnya sama kok. Kan tinggal tusuk tangan saya terus selang dipasang ke tangan istri saya" tawar suami pasien.


"Pak.. proses transfusi darah pada pasien tidak seperti adegan film yang biasa ditonton masyarakat. Darah yang ditransfusikan ke pasien juga sudah melalui prosedur ketat dari pihak PMI. Sudah aman dari kuman penyakit dan sebagainya. Mungkin kita terlihat sehat, tapi tidak tau apakah darah kita bisa digunakan oleh orang lain. Itulah mengapa saat kita donor darah, identitas kita isi dengan lengkap, agar ketika ditemukan suatu penyakit dalam darah, kita bisa dihubungi" jelas dokbar.


"Baik dok.. maaf saya orang awam, ga paham prosedurnya" lanjut suaminya pasien.


"Pasien akan dirawat oleh dokter penyakit dalam sebagai dokter utama, sementara tidak rawat bersama dengan dokter kandungan yang sifatnya hanya sebagai konsulen saja" jelas dokbar lagi.


"Itu dok yang saya bingung, kok bisa kaya gini akhirnya" kata suami pasien sambil geleng-geleng kepala.


"Pak.. nanti akan ada pemeriksaan lebih lanjut oleh para spesialis. Banyak kemungkinan pasien mengalami hal seperti ini. Bisa jadi faktor kelelahan dan memang HBnya sudah rendah. Bisa juga karena ada luka dalam yang belum bisa kita ambil kesimpulan jika belum ada pemeriksaan menyeluruh" jawab dokbar.


"Baik dok.. terima kasih penjelasannya" ucap suami pasien yang masih nampak linglung.


.


Jam dua malam, tidak ada pasien di IGD. dokbar merebahkan tubuhnya diatas kursi, kakinya ke kursi sebelah.


Padahal dia bisa saja tiduran di kamar dokter yang terletak disamping IGD, tapi katanya nanti malah terlalu nyenyak dan kalo ada pasien tiba-tiba jadinya malah ngantuk.


"Ngerihhh banget deh malam pertamanya pasien tadi... sampe ditransfusi" kata perawat yang duduk didepannya dokbar.


"Hussshhh... istirahat.. jangan pada gibahin pasien" saran dokbar dengan mata tetap terpejam.


"dokbar pasti ga mandi nih, jadinya pasiennya luar biasa" ujar perawat lainnya.


"Mau tidur dulu bentaran.. subuh baru mandi, kemarin sampe sini langsung diajak rapat medis" ucap dokbar.


"dok.. dapat salam dari dokter umum baru di Poli Umum, katanya dulu adik kelasnya dokbar waktu SMA" kata perawat.


Rupanya dokbar sudah terlelap, jadi tidak menjawab obrolan perawat.


🍒


Sedari tadi selesai kerja, Bhree pamit ke Mas Wisnu akan menemui Bapaknya. Tadinya Mas Wisnu menawarkan studio fotonya sebagai tempat bertemu, tapi Bhree ga nyaman berduaan dengan Bapaknya di tempat tertutup, biar bagaimanapun akan ada rasa canggung mengingat dia sudah lama tidak berjumpa dengan Bapak kandungnya.


Akhirnya Bhree dan Bapaknya bertemu di Mesjid besar yang letaknya tidak jauh dari studio fotonya Mas Wisnu. Mesjid ini memang selalu ramai jama'ah, bahkan bagi para musafir pun disediakan ruangan untuk tidur dan ada minuman air mineral gelas disana.


Pada awalnya memang terasa aneh pertemuan anak dengan Bapaknya, tapi lama kelamaan mencair. Saling bercerita tentang kehidupan setelah mereka terpisah.


"Bhree... Bapak tau kamu sudah besar, sudah bisa berpikir dan memilih yang terbaik buat kamu. Tapi sekarang kondisinya sulit. Kalo kamu mau kuliah dibidang seni, pastinya kita ga ada biaya yang cukup. Ikuti aja kemauan Ibu buat masuk keperawatan" saran Bapaknya Bhree.


"Tapi Bapak ga ada solusi lain. Bapak ga ada biaya. Pergi kesini menemui kamu aja nabungnya sampe setahun" lanjut Bapak.


"Lebih baik Bhree ga usah sekolah Pak" putus Bhree.


"Mau jadi apa kamu? keluar dari rumah dan tinggal di studio foto milik orang. Ingat Bhree.. kamu perempuan, masih belum kenal dunia yang sebenarnya. Semua di studio foto itu lelaki, kalo kamu diapa-apakan gimana?" tanya Bapak khawatir.


"Saat ini, itu adalah tempat terbaik buat Bhree" kata Bhree.


"Bhree .. Bapak memang tidak setuju cara Ibu kamu mencari uang, tapi selama ini kan Ibumu yang menghidupi seluruh kebutuhan hidup. Jangan seperti Bapak ya Bhree" ujar Pak Dasuki.


Jam tiga malam, Pak Dasuki mengantar Bhree ke studio foto kemudian meninggalkan anak gadisnya. Beliau pamit mau ke sebuah tempat.


.


Pak Dasuki memandang dengan gamang rumah yang sekarang ada diseberang jalan. Duduk di trotoar jalan sambil menghisap rokoknya. Hampir seperempat abad dilewatinya tanpa pernah tau bagaimana kabar keluarganya. Entah apa keluarga juga mencarinya selama ini.


"Bhree... Bapak ingin kamu berhasil... kali ini Bapak akan tunaikan tugas sebagai seorang Bapak yang seharusnya. Bersujud meminta bantuan ke keluarga pun akan Bapak lakukan, asalkan kamu bisa sekolah yang tinggi" tekad Bapaknya Bhree.


.


Perawat yang ada di IGD bergantian istirahat, ada dua orang sedang membuka oleh-oleh keripik yang tadi dibawa oleh dokbar.


"dokbar emang pemanggil pasien, tiap dia jaga, IGD ada aja pasiennya, ini tumben ada sepinya sampe ga ada pasien" celetuk salah satu perawat.


Baru aja selesai bicara, dari arah pintu ada seorang Ibu berteriak histeris.


"Lo sih ngomong ga dijaga" omel perawat lainnya.


dokbar pun sontak terbangun karena mendengar teriakan sang Ibu. Buru-buru dia cuci muka kemudian memakai snellinya.


Perawat menarik brankar putih menuju mobil, ada anak remaja usia sekitar empat belas tahun tergolek lemah dengan kesadaran menurun di kursi belakang.


Perawat dibantu oleh security, memindahkan pasien ke brankar dan menariknya masuk kedalam IGD.


dokbar langsung menghampiri pasien.


"dok tolong dok.. tolong anak saya" pinta sang Ibu menangis.


"Saya periksa dulu ya Bu" jawab dokbar.


dokter Barra memeriksa tanda-tanda vital pasien sebagai awalan, pernapasan masih aman, denyut jantung memang mulai melemah. Memeriksa mata dan kemudian melihat kearah sang Ibu yang masih menangis.


"Pasien minum apa Bu?" tanya dokbar curiga.


"Dia minum obat tidur punya saya dok, kayanya ga hanya satu butir, saya sudah kasih susu dan muntah dua kali dok" jawab Ibu tersebut.


Pasien nampak sudah lebih baik kondisinya. Dia pun kemudian menangis meminta maaf ke Ibunya.


"Kenapa minum obat tidur tanpa anjuran dokter? Ibu juga jangan sembarangan menyimpan obat tidur. Nanti malah bisa terkena kasus hukum untuk kepemilikan beberapa jenis obat tidur" kata dokbar.


Ibu dan anak gadisnya kemudian berhenti menangis dan melihat kearah dokbar.


"Saya infus dulu ya" ujar dokbar sambil meminta perawat mempersiapkan alat dan cairan infus.


"Saya ga tau kenapa anak saya minum obat itu dok, memang dia suka melihat saya minum obat itu biar bisa tidur" lanjut sang Ibu.


"Bawa obatnya?" tanya dokbar lagi.


"Ga dok" jawab sang Ibu.


"Jadi Ibu taunya anak sudah tergolek lemah dan dia mengaku minum obat tidur tanpa aturan pakai dari dokter?" tanya dokbar.


Sang Ibu dan putrinya mengangguk bersamaan.


Satu jam kemudian, kondisi pasien makin berangsur pulih. dokbar mendekati pasien, remaja wanita ini terlihat masih lemah meskipun sudah bisa diajak berbicara.


Ibunya pasien sedang duduk di bangku tunggu pasien. Sedang dibantu perawat untuk lebih tenang. Karena sedari tadi Ibu tersebut tak henti-hentinya menangis.


"Dek... masih ingat namanya?" tanya dokbar.


"Ya.." jawab remaja tersebut.


"Kenapa sampai meminum obat itu?" ucap dokbar pelan.


Remaja tersebut secara spontan langsung memeluk dokbar, tidak sempat untuk menghindar.


Pasien remaja ini menangis tersedu-sedu bahkan air matanya membasahi snelli milik dokbar.


"Saya baru putus cinta dok.. ga bisa tidur mikirin patah hati, sering liat Mama minum obat itu kalo ga bisa tidur" adu pasien.


dokbar berusaha melepaskan pelukan pasiennya. Kemudian mundur selangkah untuk menjaga jarak.


"Astaghfirullah dek... kamu tau ga itu berbahaya jika dikonsumsi tanpa petunjuk dokter" ujar dokbar.


"Ya dok... saya ga pikir panjang" kata pasien.


Pasien berusaha menggapai dokbar. Tirai pembatas di IGD dibuka lebar oleh dokbar agar Ibu pasien melihat, hal ini agar tidak tidak timbul fitnah.


dokbar mendekati pasien, pasien menggenggam tangan dokbar.


"Kamu masih muda, masih panjang jalan hidup yang akan kamu lalui. Masih banyak juga laki-laki lain diluar sana, jodoh itu bukan dengan siapa kita bersama, tapi dia akan datang tepat pada waktunya untuk mengisi kelemahan kita" nasehat dokbar pelan.


"Iya dok" ucap pasien.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, sambil diobservasi satu jam kedepannya" saran dokbar.


"Makasih ya dok... saya jadi lebih tenang sekarang" tutur pasien.


.


Pintu IGD kembali terbuka, terlihat tiga laki-laki dewasa membopong seorang nenek yang terlihat lemah.


dokbar langsung memasang selang oksigen karena terlihat sang nenek sesak nafasnya.


"Dok.... nenek masih mau hidup.... mau lihat anak cucu semua berhasil" lirih sang nenek berbicara ke dokbar.


"InsyaAllah Nek, saya lakukan terbaik yang saya bisa lakukan" jawab dokbar.


"Ibu saya terkena kanker serviks dok, sekarang ini pendarahan terus yang membuat jadi lemas" jelas anak dari pasien.


dokbar melakukan pemeriksaan, kemudian kondisi secepat kilat langsung berubah, alat pacu jantung dipersiapkan. Tapi takdir tak bisa mundur sedetik pun, sang nenek meninggal dunia.


dokbar memeriksa kembali kondisi pasien dan memastikan bahwa pasien sudah tiada.


"Pasien atas nama nyonya X, meninggal dunia pukul empat pagi di Rumah Sakit karena henti jantung. Saya turut berduka cita ya Pak" kata dokbar.


"Gimana sih dok.. kami bawa ke Rumah Sakit biar Ibu bisa selamat, kalo tau bakalan meninggal ya mending ga usah dibawa" omel salah satu anaknya pasien.


Dua anak lainnya mencoba menahan tubuh saudaranya dan meminta untuk bersabar.


"Maafin Kakak saya ya dok.. terima kasih sudah langsung ditangani begitu masuk kesini" ujar anaknya pasien yang paling kecil.