
Jam tujuh pagi, keluarga Hana sudah bersiap menuju Mesjid yang lumayan jauh jaraknya dari rumah, sekitar satu jam perjalanan. Keluarga dokter Raz malah sudah sampai di tempat akad, selepas subuh mereka sudah berangkat.
Berbagai rasa berkecamuk dalam hati kedua calon mempelai dan kedua keluarga besar. Meskipun bahagia jadi rasa yang dominan saat ini, tetap saja ada kekhawatiran mengingat kedua calon mempelai sangat panjang waktu kenalannya hingga memutuskan lanjut ketahap yang sekarang ini.
Rencananya jam sembilan pagi ini, akad nikah dokter Raz dan Hana akan berlangsung. Hana tampak berbeda dari biasanya, dengan pulasan wajah sederhana dan kebaya warna broken white. dokter Raz sendiri memakai setelan jas senada warna dengan Hana dan dilengkapi dengan dasi warna hitam serta peci.
Anak-anak dan keluarga kompak memakai busana dengan nuansa warna coklat. Kedua keluarga memancarkan sinar kebahagiaan, hingga terasa di Mesjid ini penuh dengan cinta. Tepat disebelah Mesjid ini ada rumah makan Sunda yang telah dibooking oleh dokter Raz untuk menjamu keluarga dan tamu undangan. Keduanya hanya mengundang sekitar seratus orang saja. Jadi diperkirakan jam dua siang, acara sudah selesai.
Dalam satu tarikan nafas, dokter Raz menjadikan Hana sebagai istrinya. dokter Raz memberikan mahar perhiasan ke Hana. Suasana haru menyelimuti kedua keluarga saat sungkeman.
Jam sebelas siang, semua keluarga dan tamu undangan tengah menikmati makan bersama. Keluarga baru ini makan dalam satu meja. Kedua pengantin dan anak-anak bercanda tawa sambil sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir.
Sedari tadi Hana memang agak khawatir jika Hari akan merusak acaranya, karena kemarin Hari sempat meneleponnya.
⬅️
"Dasar cewe licik, Lo pake kekuatan uang dokter itu buat ngalahin rencana gw ngambil Nabila. Gw ga akan tinggal diam. Lo kira dengan nikah sama dia, Nabila bisa tetap ada ditangan Lo?" maki Hari.
"Kita liat nanti aja Bang.. silahkan kalo mau meneruskan, calon suami saya sudah tau semuanya. Beliau juga sudah menyediakan pengacara buat dampingin saya" jawab Hana dengan nada kesal.
"dokter bego .. mau aja dimanfaatin sama cewe kampung kaya Lo. Pake guna-guna yang mana tuh sampe dokter bertekuk lutut, emang kelebihan Lo apa?" tanya Hari makin sewot.
"Harusnya nanya ke beliau dong, kenapa milih saya jadi pendampingnya? Bang.. Setiap orang punya takdirnya masing-masing. Toh Abang udah bahagia sama wanita lain, apa salahnya saya mencari kebahagiaan dengan lelaki lain?" kata Hana.
"Udah pinter jawab ya.. Oke kalo gitu, Lo sendiri yang ngibarin bendera perang sama gw, liat aja.. sampe dimana Lo bakalan kuat" ucap Hari.
Sambungan telepon langsung ditutup oleh Hana, Hari langsung ngamuk atas sikap Hana.
➡️
Jam satu siang hanya tinggal keluarga saja yang ada di rumah makan. Akhirnya jam dua siang, dokter Raz memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya. Ada sebagian keluarga yang masih akan menginap di rumahnya.
dokter Raz, Hana dan anak-anak dalam satu mobil yang sama. Barang-barang Hana dan Nabila memang sudah dipindahkan sejak kemarin, jadi keduanya hanya tinggal masuk rumah aja. Untuk sementara Nabila akan tidur bareng sama Raifa. Nanti kalo semua saudara sudah pulang ke rumah masing-masing, akan dirapihkan kamar untuk Nabila.
dokter Raz akan menempatkan kamar Nabila dan Raifa di lantai satu, agar masih bisa diawasi olehnya. Sedangkan Haziq akan pindah ke lantai dua, mengingat dia anak lelaki dan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terutama terhadap Nabila.
Didalam mobil, Hana mencoba untuk tersenyum, meski masih merasa tidak tenang karena semalaman kembali timbul rasa takut terhadap lelaki.
dokter Raz menggenggam tangan Hana. Mengusapnya dengan penuh kelembutan. dokter Raz seolah ingin memberikan pesan, kalo beliau siap berada disampingnya Hana dan akan terus melindungi.
.
Kamar dokter Raz memang baru saja direnovasi sama Ummi. Karena saat dokter Raz pindah ke rumah ini (pasca kepulangan dari Malaysia, dokter Raz menjual rumah lama dan hasilnya dibagi dua dengan keluarga mantan istrinya, kemudian beliau membeli rumah ini), kondisinya masih sama seperti yang didapatkan dari pengembang perumahan, hanya renovasi bagian dapur dan teras depan saja. Barang-barangnya pun masih barang lama dari rumah sebelumnya.
Umminya dokter Raz memilihkan wallpaper warna dasar putih dengan hiasan timbul seperti batik warna biru muda dengan sedikit list warna dongker. Tempat tidur lamanya pun sudah diberikan ke saudara, Ummi mengganti dengan seperangkat tempat tidur dan lemari baru warna dongker agar masih nyambung sama warna wallpaper. Ummi tau kalo ini adalah warna kesukaan Hana.
Sebagai layaknya kamar pengantin, ada hiasan bunga segar didalamnya, meskipun tidak pakai full hiasan seperti kamar pengantin biasanya. Ummi hanya ingin menandakan kalo itu adalah kamar pengantin.
"De .. tasnya belum dibongkar. Ada didalam lemari" kata dokter Raz.
"Iya Mas, nanti saya rapihin" jawab Hana.
"Semoga kamu suka ya sama kamarnya. Ini semua Ummi yang dekor, katanya hadiah buat kita berdua" jelas dokter Raz.
"Alhamdulillah suka kok Mas, warna favorit" ujar Hana.
dokter Raz mengambil handuk, bersiap masuk ke kamar mandi.
"Khusus buat menyambut saya nih ceritanya" ucap Hana mencoba menghilangkan rasa nervous yang menyergap.
Sudah lama tidak sekamar dengan lelaki, membuatnya canggung.
"Ya iyalah.. biar betah lama-lama di kamar .. hehehe" dokter Raz bicara dengan nada yang genit.
"Mandi dulu Mas, biar gantian" saran Hana.
"Gimana kalo kita mandi bareng aja?" ajak dokter Raz yang berjalan mendekati Hana.
Hana langsung berlari duluan menuju kamar mandi dan menutup pintu, dokter Raz hanya bisa tertawa melihat kelakuan Hana.
Dari luar Ummi yang sedang berdiri didepan pintu hanya bisa tersenyum.
"Alhamdulillah.. Raz udah bisa tertawa selepas itu, Hana pintar menggoda dia kayanya. Semoga mulai hari ini, keduanya selalu diliputi kebahagiaan" kata Ummi dalam hatinya.
"Ngapain sih berdiri disana, jangan ganggu pengantin baru. Kaya ga pernah ngalamin aja" kata Abinya dokter Raz.
.
dokter Raz dan Hana baru keluar kamar selepas maghrib. Tadi Hana sibuk merapihkan barang-barang miliknya, sedangkan dokter Raz tertidur pulas.
Tentu saja, saudara yang masih ada di rumah langsung meledek keduanya. dokter Raz diledek habis-habisan sama adik-adiknya. Anak-anak muda sedang kumpul di lantai atas buat nonton film.
"Abis shift jaga kayanya ini Pak dokter, saking capenya sampe mukanya masih muka bantal. Alon-alon Pak dokter, masih banyak saudara kumpul disini" celoteh adiknya dokter Raz.
Semua tertawa, dokter Raz malah duduk santai sambil membalas chat yang masuk ke HP nya. Setelah itu meletakkan HP diatas meja. Hana sudah menuju dapur.
"Baru berasa cape, demi cuti seminggu kan nambahin jadwal praktek. Udah seminggu ini tidur sehari paling sekitar empat jam aja, eh tadi abis sholat ashar terus mandi, jadinya malah ngantuk. Kalo ga dibangunin istri, bisa bablas ini maghribnya" kata dokter Raz.
"Cie yang udah dibangunin istri, biasanya dibangunin alarm atau telepon dari Rumah Sakit ya?" ledek Abi ga mau kalah sama anak-anaknya yang sedang menggoda sang anak sulungnya.
Hana membantu menyiapkan makan malam bersama Ummi dan keluarga lainnya.
⭐
Profesor Andjar dan dokbar sedang santai di coffe shop selepas seminar.
"Masih mau kerja di Cinta Medika kalo udah lulus?" buka Prof Andjar.
"Masih dok, selepas Prof Andjar ga buka praktek disana, kan hanya ada tinggal satu dokter ortopedi, itu juga praktek seminggu sekali. Banyak kasus yang tidak bisa dioperasi disana karena dokternya sedang ada tindakan lain" jelas dokbar.
"Rumah Sakit itu bagus, Pak Handoko memang pintar mengelola bisnisnya, sama kita para dokter juga sangat perhatian" puji Profesor Andjar.
"Saya malah baru ketemu beliau saat beliau kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena saya di IGD jadi waktunya suka ga pas buat ketemu beliau" ungkap dokter Raz.
"Kayanya lebih baik ga dekat dia, kasusnya ga jauh-jauh dari perempuan" ucap Profesor Andjar.
"Ya seakan memang seperti itu kan stigmanya.. Harta, tahta dan wanita" jawab dokbar.
"Ga juga.. Look at me .. Secara materi lebih dari cukup, punya rumah, kendaraan, tabungan, jabatan.. Tapi ga ada perempuan disamping saya" ungkap Profesor Andjar.
"Prof.. Maaf kalo terkesan pertanyaan saya ga berkenan. Saya ga memaksa Prof menjawab. Dengan apa yang Prof tadi sebutkan, apa ga khawatir kelak ga ada yang menjaga? Kita kan ga selalu dalam kondisi sehat, bahkan ketika Allah bilang saatnya pulang kan akan berpulang. Terus siapa yang akan menjaga semua harta yang Prof punya?" tanya dokbar.
"Saya punya keponakan, cucu keponakan dan murid-murid seperti kamu.. Ya kalian yang akan mengurus semuanya. Masa harta yang saya tinggalkan, ga mampu membeli sebidang tanah 2 x 1 dan kain kafan" ucap Profesor Andjar dengan entengnya.
"Maaf Prof..." buru-buru dokbar meminta maaf.
"dokbar.. sebagai lelaki normal, pasti saya punya hasrat untuk dilayani. Rasa itu yang selalu saya tolak dulu. Jangan mengulangi hal yang sama. Kalo sekarang sudah ketemu jodoh dan merasa cocok, ga usah kebanyakan mikir nanti kedepannya bagaimana. Rejeki pasti akan dicukupkan" saran Profesor Andjar.
"Pacar aja belum ada Prof, dulu sempat ada, tapi ga jodoh" jawab dokbar.
"Tapi masih suka sama perempuan kan?" tanya Profesor Andjar.
"Suka dok, Alhamdulillah ga belok" jawab dokbar sambil tersenyum.
"Yakin hatinya masih kosong? Kok rasanya ga yakin.. kita kenal sejak kamu jadi residen semester satu, lebih dari empat tahun ya.. Setiap tahun ada perbedaan secara emosional dan semangatnya, semakin kesini juga terlihat lebih berbunga-bunga" pancing Profesor Andjar.
"Saya sudah kenal memang beberapa tahun belakangan ini dengan seorang wanita, bisa dibilang cukup tau banyak tentang dia. Tapi saya sendiri yang masih pasang blokade untuk tidak berhubungan asmara dulu. Fokus menyelesaikan kuliah, kemudian kumpulin uang buat beli rumah, baru deh mikir kearah yang lebih serius" ungkap dokbar.
"Dari kalangan medis juga?" tanya Profesor Andjar.
"Prof... bisa dibilang dua puluh empat jam hidup kita bergaul sama kalangan medis. Gimana mau cari yang diluar itu kalo yang seliweran ya orang medis semua.. Hahaha" sahut dokbar.
"Cinta Medika itu sekarang dokter koasnya dan perawatnya cakep-cakep. Pantes betah disana ya" goda Profesor Andjar.
"Lumayan buat bikin seger mata habis shift jaga dan bikin laporan yang menggunung itu Prof .. Hahaha" sahut dokbar.