HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 50, Musibah



Senin ini dokter Raz tidak ada jadwal praktek dan sebagainya, anak-anak kuliah dan sekolah. Di rumah hanya sendiri karena orang tua sudah memilih tinggal di kampung halaman untuk menghabiskan masa tuanya.


dokter Raz berencana ke Klinik tempat Hana bekerja, ingin mengajak sekedar makan siang. Hana tidak dihubungi terlebih dahulu, khawatir akan banyak alasan untuk menolak.


Pagi ini dokter Raz menghabiskan waktu dengan berenang, rasanya sudah lama tidak berolahraga rutin. Setelah itu berangkat ke tempat Hana bekerja.


.


Barra baru mau pulang ke rumah setelah seminggu ga pulang, jadwal kuliah dan shift jaga sedang kosong hari ini. Rasanya ingin sekali bermanja di kasur dalam kamarnya.


Ada penutupan jalan karena sedang diperbaiki, Barra memilih jalan kampung yang pernah ia lewati. Masih banyak kebun kosong seperti beberapa bulan yang lalu, selama dia melewati jalan tersebut, lalu lintas bisa dikatakan sepi, bahkan rumah penduduk juga masih belum padat (jarang-jarang). Untunglah sekarang masih pagi, kalo malam rasanya enggan lewat sini, tidak ada penerangan lampu jalan.


.


"Lo jangan boong deh.. sini ga dompetnya" kata Hari dengan kasar.


"Beneran ga ada Bang" ucap Hana.


"Lo kerja ngapain aja sampe ga punya duit? Mending Lo diem aja di rumah ngurus anak. Masih aja boros kaya dulu, emang Lo jadi cewe ga bisa pegang duit.. pasti langsung abis" ujar Hari emosi.


"Gajian kan sebulan sekali Bang, itu juga buat biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Emang berapa sih Bang gaji di Klinik, mana cuma jadi bagian pendaftaran dan bersih-bersih. Masih Alhamdulillah ada kerjaan buat saya cari rejeki" jawab Hana.


"Makanya cari kerja yang gajinya gede dong, cuma bagian nyatet sama beres-beres mah gajinya kecil. Orang kok ga ada keinginan jadi kaya" sahut Hari.


"Udah tau gajinya kecil, kenapa Abang masih minta sama saya? Udah bagus saya ga nuntut biaya sekolah anak Bang. Lagian kita udah bukan siapa-siapa, udah ga ada urusan lagi seharusnya" lanjut Hana mengumpulkan keberaniannya.


"Ohhh.. mulai sombong ya? Kalo ga punya duit buat nyekolahin anak, ya berhenti aja sekolahnya. Gitu aja kok repot" sahut Hari dengan entengnya.


"Inilah kenapa saya ingin Nabila bisa sekolah tinggi, ga kaya saya dan Abang. Biar dia bisa mengubah nasibnya sendiri, lagipula kewajiban orang tua buat kasih pendidikan ke anak. Biar kaki jadi pala.. pala jadi kaki juga dilakonin Bang" jawab Hana terpancing emosi.


"Ngomongnya sok banget, mentang-mentang pacarnya sekarang dokter yang kalo datang selalu bawa mobil. Emang tuh dokter udah dilayani kaya gimana sih sampe dia cinta banget, atau jangan-jangan didukunin kaya gw dulu?" ledek Hari.


"Saya ga pernah main begituan Bang" bela Hana.


"Halahhh.. mana mungkin cowo kaya gitu bisa tunduk kalo normal-normal aja. Gw aja nyesel nikah sama Lo" ucap Hari sambil menoyor kepala Hana.


Hana bersiap menuju motornya, mereka ada di kebun karena tadi motor Hana dihadang kemudian ditarik kedalam oleh Hari. Sudah minta tolong tapi ga ada yang dengar. Ditambah Hari membawa pisau lipat untuk menakut-nakuti Hana.


"Bang.. Saya udah telat mau masuk kerja" pinta Hana.


"Simple aja.. sini kunci motornya" Hari mulai kehilangan kesabaran.


"Ini motor Bapak Bang.. mau Abang ambil? Jangan gila ya" omel Hana.


"Lo ngatain gw gila!!!!" Hari teriak dimukanya Hana.


Hari berusaha merebut tasnya Hana, Hana coba mempertahankan.


"Tolong.. Tolong.." teriak Hana.


Hari langsung membungkam mulutnya Hana. Tubuh Hana terjatuh karena ga seimbang, dia berusaha melarikan diri dari Hari. Tapi Hari seperti kesetanan, dia bahkan sudah berniat merudapaksa Hana.


Tubuh Hana sudah dipeluk oleh Hari, mulut Hana ditutup pakai jilbab yang dia gunakan. Sekarang rambutnya terurai tanpa penutup.


Hana berusaha berteriak meskipun mulutnya ditutup.


"Ga usah munafik lah.. dulu aja sampe merem melek. Jadi pengen ngerasain lagi.. masih sama atau udah beda.. Hahaha" kata Hari sambil membuka celananya.


Hari sekarang hanya memakai kolor saja. Hana sudah menangis.


"Heiii... " teriak Barra.


Dengan cepat Barra dan Hari terlibat baku hantam. Barra memang tidak punya ilmu beladiri dan tidak pernah terlibat perkelahian fisik seperti ini. Rasa kantuknya mendadak hilang, keberaniannya untuk bertarung pun muncul tiba-tiba. Beberapa kali Hari terkena bogem mentah dari Barra tepat dibagian pipi. Hari yang tubuhnya gempal, kesulitan dengan tenaga muda dan kelincahannya Barra.


Hari mengambil celananya dan berlari menuju motornya Hana, rupanya Hari sudah menemukan kunci motor dan membawanya pergi. Barra tidak mengejar, dia lebih memilih untuk menolong Hana. Lagipula Barra tidak tau kalo motor itu milik Hana.


"Makasih ya Mas.." ucap Hana setelah penutup mulutnya dibuka.


"Ada yang sakit Bu?" tanya Barra.


Hana buru-buru mengenakan jilbabnya. Barra mengambilkan tas yang jatuh tidak jauh dari Hana.


"Ibu bisa bangun?" tanya Barra yang melihat ada darah di kakinya Hana.


Hana berusaha berdiri dibantu oleh Barra.


"Aduh... sakit Mas" kata Hana.


Kembali Hana duduk diatas tanah. Barra membuka tasnya, ada kotak P3K yang standar dibawa oleh para dokter.


"Saya periksa dulu ya Bu, jangan takut.. Saya dokter" kata Barra meyakinkan Hana.


Barra memeriksa kondisi kaki Hana dan menghentikan pendarahan. Sudah mulai ada warga yang melintas melihat mereka.


"Bu.. Lukanya sementara bisa ditutup, tapi saya khawatir kondisi Ibu, ada kemungkinan bergeser sendinya atau terkilir. Perlu diperiksa ke Rumah Sakit. Apa keluarga Ibu rumahnya dekat dari sini?" tanya Barra.


"Lumayan jauh dok" jawab Hana.


"Ibu ada HP untuk hubungi keluarga?" tanya Barra lagi.


"Diambil sama orang tadi dok" jawab Hana sedih.


"Saya coba minta bantuan warga untuk membawa Ibu ke Rumah Sakit, nanti Ibu bisa ingat-ingat kontak yang bisa Ibu hubungi" kata Barra.


"Itu kaya dokbar.. Kenapa dia lambaikan tangan ya? Perlu bantuan?" dokter Raz bertanya-tanya.


dokter Raz menghentikan mobilnya. Barra langsung mendekati.


"Pak.. Pak.. Tolong Pak..." pinta Barra.


"dokbar!!!" kata dokter Raz ketika membuka jendela mobil.


"Alhamdulillah dokter Raz.. dok.. Bisa minta tolong anter orang yang habis mengalami musibah ga? Kayanya penjambretan nih dok, pelakunya udah lari. Untung tadi saya pas lewat, udah mau dirudapaksa juga sama penjambretnya" cerita Barra.


Dokter Raz langsung turun dari mobil.


"Hana!!!!" ucap dokter Raz kaget dan langsung menghampiri Hana.


Hana masih menangis dan sedang ditenangkan oleh warga.


"dokter Raz kenal? Alhamdulillah kalo kenal. Soalnya Ibu ini kayanya bingung buat hubungi keluarganya" ujar dokbar.


"Saya kenal.. Ini kenapa dibidai?" tanya dokter Raz.


"Saya curiga ada dislokasi (bergeser) entah sendi atau tulang dok. Tadi Ibu ini bilang nyeri dan sakit banget, memar juga dan mulai terlihat bengkak, jadi saya putuskan sementara dibidai dulu" jawab dokbar.


"Ayo bantu buat masuk ke mobil saya" ajak dokter Raz gercep.


dokter Raz dan dokbar memindahkan Hana kedalam mobilnya dokter Raz.


"Mau ikut ke Rumah Sakit?" tanya dokter Raz.


"Saya pulang aja ya dok, mulai melayang nih karena ngantuk. Lagipula dokter Raz kenal dengan Ibu ini, jadinya saya ga khawatir" ucap dokbar.


"Thanks ya dokbar, nanti kapan-kapan kita ngobrol" kata dokter Raz.


"Siap dok" jawab dokbar.


.


Dokter Raz langsung membawa Hana ke Rumah Sakit terdekat dari tempat kejadian.


Setelah di Rontgen dan pemeriksaan lainnya, ternyata ada dislokasi ringan dibagian telapak kaki.


Dislokasi adalah kondisi ketika tulang atau sendi bergeser atau keluar dari posisi normalnya. Semua persendian di tubuh dapat mengalami dislokasi, terutama bila terjadi benturan akibat kecelakaan atau terjatuh ketika berolahraga.


"Kita pasang gips untuk imobilisasi dulu ya dok .. Selanjutnya disarankan ke orthopedi" kata dokter IGD yang kenal sama dokter Raz karena pernah jadi tim saat kemarin keliling Indonesia.


Imobilisasi dilakukan untuk menyangga tulang dan mencegah bergeraknya sendi agar pemulihannya lebih cepat.


"Oke... Untunglah tadi yang nolong dokter juga, jadi langkah pertolongan pertamanya udah tepat" jawab dokter Raz.


dokter Raz duduk disampingnya Hana, memperhatikan dokter dan perawat melakukan tindakan medis ke Hana.


Hana diminta untuk rehat sejenak selama setengah jam untuk tidak bergerak dulu.


"Masih sakit?" tanya dokter Raz cemas.


"Ga terlalu, tadi dokter yang nolong pas di jalan sempat kasih obat nyeri" jawab Hana.


"Ga mau rawat inap aja? buat make sure semua aman. Dari tadi aja batuknya ga berhenti. Kayanya kecapean juga tuh" tawar dokter Raz.


"Ga usah Mas. Saya mau pulang aja, istirahat di rumah" jawab Hana pelan.


.


Setelah dari Rumah Sakit, Hana diantar pulang oleh dokter Raz. Orang yang ada di rumah kaget melihat kondisi Hana.


"Kok bisa begini Han?" tanya Bapaknya Hana panik.


"Maaf ya Pak, motornya diambil orang" jawab Hana.


"Yang penting kamu selamat Han. Ya mau gimana lagi, namanya musibah, ga ada yang bisa menduga. Tapi gapapa kan kakinya? Sampe di gips gitu" jawab Bapaknya Hana.


"Ini buat mencegah biar ketika gerak tetap aman Pak. Ga perlu panik, semua oke kok" kata dokter Raz.


"Awalnya gimana sampe bisa begini?" tanya Bapaknya Hana lagi.


"Dirampok Pak.. Motor.. HP .. semua hilang" jawab Hana sambil menangis.


"Istirahat dulu Han.. Nanti aja kita bahasnya" tengah Ibunya Hana.


Setelah berbincang sejenak dengan keluarga Hana, dokter Raz pamit pulang.


Diperjalanan, dokter Raz meminta nomer HP nya dokbar dari perawat. Beliau mencurigai ada sesuatu yang Hana tutupi.


Karena lelah, dokbar tidak sadar kalo HP nya lobet dan mati, berkali-kali dokter Raz menghubungi tidak bisa. Akhirnya dokter Raz mengirim pesan untuk mengajak dokbar ketemu.


.


Jam satu siang Barra terbangun, buru-buru mandi dan sholat Dzuhur. Saat melipat sajadahnya, amplop yang berisi foto Bhree terjatuh. Diambilnya satu persatu kemudian Barra duduk di lantai.


"Ya Allah.. dua tahun berlalu dan belum juga amplop ini sampai ke empunya" kata Barra.