
Barra mencuci tangannya lagi (tadi dpi IGD sudah cuci tangan padahal) kemudian duduk di nurse station, membaca laporan keperawatan setelah dokter visit.
"Ada pasien yang belum di visit sama dokter penanggung jawab?" tanya dokbar.
"Hanya tinggal pasien dokter Tari aja dok" jawab perawat.
"Masih di poli, tadi saya ketemu pas beliau datang, sekitar satu jam lagi baru naik kesini (ruang rawat inap)" ujar dokbar.
"Keluarga pasiennya udah ga sabar mau pulang dok, kan kemarin sudah dijanjikan bisa pulang hari ini" lanjut perawat.
dokbar hanya tersenyum, sudah biasa seperti itu, keluarga ingin pulang cepat-cepat, rasanya bosan dan lelah menjaga orang yang sakit di Rumah Sakit.
"dok.. tadi kan dokbar ke kamar jenazah ya, gimana tuh dok kondisi jenazahnya Kak Diah? anak IGD bilang mukanya rusak sama ada pendarahan di kepala. Kok bisa ya naik mobil ga pake sabuk pengaman?" tanya perawat penasaran.
"Kepo banget deh" jawab dokbar yang sedang sibuk menulis disalah satu rekam medis pasien.
"Berarti yang isu Kak Diah ada affair sama pemilik Rumah Sakit (Pak Handoko) benar adanya dong? Pantes aja Kak Diah kaya ga tersentuh di Rumah Sakit ini, seenak udelnya aja kalo kerja. Azab kali ya dok? Pinter banget keduanya menutupi hubungan itu, padahal Kak Diah kan single.. apa salahnya kalo mereka menikah, toh sama-sama cinta. Lagian udah pada tua, masa kaya abege kasmaran aja segala backstreet" ucap perawat paling senior.
"Mungkin keluarga Pak Handoko ga setuju kali, secara mereka kan orang kaya, pasti selektif buat masukin orang dalam keluarga. Emang Pak Handoko single? bukannya ada istrinya?" tanya perawat satu lagi.
"Single deh kayanya.. genit tau.. tiap datang kesini aja petugas front office digodain" sahut perawat.
dokbar kesal mendengarkan gunjingan tentang Bu Diah dan Pak Handoko oleh para perawat didekatnya, dia langsung membanting pulpen keatas meja. Perawat kaget dengan tindakan dokbar yang ga pernah melakukan hal ini sebelumnya.
"Kalian semua masih ingat sumpah profesi perawat kan? atau perlu saya bacakan lagi biar ingat?" tanya dokbar pelan agar tidak terdengar keluarga pasien yang ada disekitar nurse station.
Perawat diam dan banyak yang menundukkan kepala. dokbar mengedarkan pandangannya kesemua perawat.
"Kondisi medis pasien bersifat rahasia, kenapa sampe harus cari info ke IGD segala? atau perawat IGD yang mulutnya ember? selama saya di IGD, mereka selalu saya ingatkan untuk tidak membocorkan kondisi pasien seperti apapun keadaannya. Dan yang paling penting, orang yang kalian omongin itu rekan sejawat kita disini. Baik atau buruknya, kita adalah satu kesatuan disini, jadi harus saling menjaga. Apa yang dilakukan diluar Rumah Sakit itu bukan urusan kita. Termasuk kalian.. saya ga peduli kalian mau tengkurap, mau kayang atau mau telentang juga.. suka-suka kalian kalo sudah ga didalam Rumah Sakit. Sadar ga kalo yang sedang kita omongin sudah tidak bernyawa lagi, selayaknya kita menghormati orang yang sudah tidak ada, tidak perlu aibnya dibuka. Cukup kita do'akan dan ingat kebaikannya sebagai motivasi kedepannya. Sekarang kerja.. masih banyak kan catatan asuhan keperawatan yang belum selesai?" oceh dokbar.
Perawat langsung sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Selepas dinas dibiasakan untuk menyelesaikan asuhan keperawatan, jangan ditumpuk-tumpuk ngerjainnya sebulan sekali. Saya bertanggungjawab di ruang rawat kelas tiga ini baik pasien dewasa maupun anak termasuk laporan asuhan keperawatannya... paham semua?" lanjut dokbar, suaranya menahan emosi.
Perawat makin diam.
dokbar berjalan ke pintu sebelah dimana kamar kelas tiga untuk pasien anak. Dia mau memeriksa medical record pasca dokter visit.
🍒
Tama yang menanggung semua biaya pemakaman Ibunya Bhree, padahal tadinya Mas Wisnu yang akan menanggung semua biaya. Rupanya Tama dan Mas Wisnu sudah berbincang mengenai hal ini, sehingga disepakati Tama yang mengeluarkan uang dari koceknya.
Sepulang dari makam, tim Tama menuju Ruko. Mas Wisnu kembali ke Rumah Sakit sedangkan Mba Fenti pulang ke rumah untuk menjaga anaknya.
Bhree sudah menghubungi Bapaknya, tapi posisi Daliman sedang ada di Solo, jadinya tidak bisa datang menghadiri pemakaman. Beliau janji kalo ke Jakarta akan menyempatkan waktu melihat makam Diah, mantan istrinya.
Sebenarnya Bhree kecewa atas ketidakhadiran Bapaknya, karena biar bagaimanapun, Ibunya pernah jadi wanita istimewa dalam hidup Bapak.
"Pak.. setega itu sama Ibu .. atau Bapak terlalu sakit atas perlakuan Ibu .. tolong maafkan semua kesalahannya Ibu ya Pak" ucap Bhree dalam hatinya sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Mba Uli dan Bima sedang membeli makanan, Farah juga sibuk mengemas perlengkapan yang akan dibawa ke Solo.
"Bhree kalo ngerasa masih berduka, masih perlu rehat, masih perlu disini buat berkunjung ke makam Ibu... kamu ga usah ikut aja ke Solo. Saya kasih libur untuk menenangkan diri. Ini kan musibah, ga ada yang tau kapan kematian akan datang. Mengenai pekerjaan ga usah dipikirin.. ada tim yang siap membantu persiapan konten" saran Tama.
"Sendiri disini juga ngapain Mas? Ibu sudah pindah tempat tinggal tapi ga kasih info. Jadi apa yang mau saya urus? boro-boro barang milik Ibu, pesan dari Ibu aja ga ada. Bapak juga ga bisa kesini. Bukan ga berduka, tapi kenyataannya saya harus berjuang melanjutkan hidup seorang diri" jawab Bhree.
Bhree langsung melihat kearah Tama.
"Maksud Bang Tama apa ya?" tanya Bhree.
"Sejujurnya... saya mulai bermain hati sama kamu. Maaf Bhree, saya tau ini bukan waktu yang tepat buat ngomong ini. Percayalah Bhree, saya ga main-main mengutarakan hal ini" ujar Tama tulus.
"Bang Tama jangan keliru mengartikan cinta dan iba, i'm okay... sudah terbiasa menahan sakitnya cobaan dunia. Saya tau Bang Tama yang menanggung biaya semuanya, tapi jangan karena hal itu, diri saya jadi tergadai. Saya bisa ganti dengan cara potong gaji" ucap Bhree agak kesal.
"Ga ada niat saya membeli kamu Bhree.. saya ikhlas kok mengeluarkan biaya pemakaman. Sesama manusia sudah menjadi kewajiban jika kita ada dan kamu sedang kesulitan. Saya ga minta balas budi kok, jadi kamu jangan salah paham. Apa yang saya utarakan ga ada kena mengena dengan biaya pemakaman" kata Tama.
"Udahlah Bang .. ga tau harus ngomong apa lagi. Udah malas bahas diluar Ibu dulu" putus Bhree.
Mba Uli datang membawa makan malam dan menyiapkan. Semua duduk bareng sambil makan.
"Makan Bhree... tubuh kamu perlu diisi. Jangan karena sedih jadi lupa makan dan malah jadi sakit. Ada kita yang siap berbagi kesedihan dan kebahagiaan" saran Mba Uli.
"Makasih ya semua ...atas bantuannya mengurus pemakaman Ibu dan buat Bang Tama .. makasih tadi udah jadi imam sholat jenazah" kata Bhree.
"Jangankan jadi imam sholat jenazah Bhree, jadi imam sholat fardhu kamu aja saya mau kok" Tama kelepasan bicara.
Semua mata tertuju kearah Tama.
Tama baru sadar dirinya sedang jadi pusat perhatian.
"Maksudnya tuh tiap sholat fardhu bolehlah kita berjama'ah sekalian.. udah .. udah.. ayo makan, masih banyak yang harus kita selesaikan" Tama memecah kegugupannya.
Semua hanya tersenyum mendengar ucapan Tama, hanya Bhree yang terdiam. Sebenarnya semua sudah paham kalo Tama ada hati sama Bhree, tapi selama tidak ada pengakuan dari keduanya, mereka anggap masih tahap mengenal satu sama lain saja.
🍒
Diva masih berada di panti rehabilitasi, emosinya masih belum stabil. Terkadang dia menyenangkan, kadang juga menyebalkan dengan gayanya.
Penghuni panti rehabilitasi sudah banyak yang protes dan ga mau sekamar dengannya. Diva butuh penanganan ekstra karena dia punya masalah juga dalam hidupnya selama ini. Kemiskinan dimasa lampau benar-benar menancapkan perasaan minder, iri hati dan selalu ingin menjadi the best, ga peduli prosesnya baik atau tidak yang penting jiwanya puas dengan meraih sesuatu yang ingin dicapai.
Kepala panti rehabilitasi, pekan depan akan menerima mahasiswi jurusan psikologi yang akan praktek kerja lapangan disini. Diva termasuk dalam list penghuni yang akan mendapatkan pendampingan dari mereka.
"Diva.. berubahlah.. sudah dikasih kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup, tapi sudah kamu sia-siakan. Sekarang akan ada kesempatan kedua setelah menghabiskan waktu disini, Ibu harap.. kalo kamu keluar nanti.. akan jadi pribadi yang jauh berbeda dari yang sekarang. Usia masih muda, masih banyak peluang diluar sana" nasehat pendamping di panti rehabilitasi.
Diva hanya diam mendengarkan nasehat, tidak bereaksi apapun. Dia sudah merasa bosan berada disini. Lagipula dia juga merasa sehat dan normal aja tanpa zat terlarang. Tidak merasakan efek nagih lagi karena hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan.
Tidak sedikit orang yang mengalami masalah ekonomi (kekurangan secara ekonomi) harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi ini tentunya bisa memicu tekanan pada mental sehingga orang tersebut mengalami stres. Setiap hari orang tua Diva memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sehingga kurang punya waktu sama anak, tidak ada komunikasi yang baik karena jika sudah sampai rumah yang tersisa hanyalah lelah sehingga tidak bisa memberikan perhatian layaknya orang tua ke anak.
Bukan hanya kesehatan mental, stres dan depresi akibat kemiskinan juga memicu imun tubuh menjadi kurang optimal. Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang menjadi lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Makanya Diva yang mulai banyak kegiatan menyanyi jadi gampang sakit, ketika ada yang menawarkan "obat ajaib", tanpa pikir panjang langsung meminumnya. Ditambah sejak meminum obat tersebut dia jadi ga mudah lelah, selalu happy dan tubuhnya selalu terasa bugar.
Sejak di Ibukota, peran orang tua bisa dikatakan tidak ada karena Diva dilepas sendirian. Ditambah sering bergonta-ganti asisten, membuat Diva tidak ada tempat curhat. Padahal bercerita langsung pada orang terdekat atau keluarga mengenai masalah yang sedang dihadapi setidaknya membantu meringankan sedikit beban dipikiran.
"Diva... Mulailah untuk lebih mencintai diri sendiri dengan belajar mengenal diri kamu lebih dalam untuk menemukan potensi yang ada dalam diri" nasehat kepala pusat rehabilitasi.
"Masih bisa orang diluar sana menerima kehadiran saya Bu? berita di media sudah banyak, meskipun saya bukan artis top, tapi orang sudah ada yang tau kalo kena kasus ini" tanya Diva seperti putus asa.
"Besok kamu datang ke pengajian, tanya sama Bu Ustadzahnya. Rejeki sudah dicukupkan oleh Allah. Kalo bukan jadi artis lagi, mungkin ada peluang yang lebih baik nantinya" jawab petugas.