HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 85, "Kesasar"



Jam delapan malam Barra baru meninggalkan Rumah Sakit, tadi jadwal operasi selesai sebelum Maghrib. Tapi seusai sholat Maghrib dia tidur dulu karena kelelahan.


"Bhree masih di rumah dokRaz ga ya?" tanya Barra ngomong sendiri didalam mobil.


HP Barra berbunyi ada panggilan masuk dari Elsa. Karena HP sudah disambungkan ke radio, jadinya dia bisa langsung terima.


Ternyata Elsa menghubungi Barra atas permintaan orang tuanya. Barra basa basi dengan orang tua Elsa. Tampak kaku memang percakapannya karena sudah lama tidak saling menyapa.


"Maaf ya Romo.. Saya sedang bawa kendaraan, jadinya tidak bisa video call" kata Barra.


"Ndak papa .. Kita ganggu ga ya?" tanya Romo.


"Ga .. ini lagi jalan pulang ke rumah" jawab Barra.


"Besok kalo ga ada jadwal praktek, mampir kesini Nak Barra" ajak Ibunya Elsa.


"Besok cukup padat jadwalnya, ada praktek dan operasi, sepertinya ga bisa janji kalo besok" jawab Barra.


"Kamu masih kecewa sama kita semua? Sampai menutup pintu kencang sekali. Ga pernah datang ke Solo. Padahal pintu rumah kami selalu terbuka buat kamu" kata Romonya Elsa dengan nada sedih.


"Bukan begitu Romo.. ya mungkin karena lama tidak berkomunikasi jadinya agak canggung. Saya memang ga meninggalkan Jakarta sejak kuliah lagi, waktunya ga ada. Wong pulang ke rumah saja cuma seminggu sekali, banyak tidur di Rumah Sakit" tutur Barra panjang lebar.


"Selamat ya Nak Barra, sudah jadi spesialis sekarang. Hebat perjuangannya, sampai juga dititik yang kamu inginkan. Anak muda yang patut diacungi jempol" puji Romonya Elsa.


"Alhamdulillah, berkat do'a dari semuanya" jawab Barra merendah.


"Nak .. Maafkan kami semua ya, kami harap.. kamu masih mau bersilaturahim. Yang lalu biarlah berlalu, sama-sama buka lembaran baru" harap Ibunya Elsa.


"Kita masih tinggal di Indonesia, saya tau rumah Romo dimana dan pastinya Elsa tau dimana saya mengabdikan diri. Rasanya ga ada alasan untuk ga bisa bertemu, cuma waktunya memang belum tepat. Sejujurnya sempat dulu terpikir untuk main kesana, sekedar menyapa Romo, tapi pada akhirnya saya belum yakin apa hati ini ga sakit kalo melihat keluarga besar Elsa. Bukan menyalahkan siapa-siapa, lebih kepada saya yang saat itu terlalu memaksakan diri, jadi sekarang bisa lebih mawas diri agar tidak terluka lagi" tutur Barra agak berat.


"Kami ga ada niat mendekati kamu sama Elsa lagi Nak.. Elsa pun rasanya juga sudah malu kalo berhadapan dengan Nak Barra. Jadi jangan salah sangka terhadap niat kami yang sekedar hanya ingin bertemu, tapi kalo keberatan juga kami ga memaksa. Kamu juga berhak bersikap, seperti dulu Elsa menutup hatinya buat kamu" ucap Ibunya Elsa penuh kesedihan.


"Maafkan saya Bu.. Sekali lagi saya minta maaf jika melukai perasaan Ibu dan keluarga atas segala sikap saya selama ini. Saat itu pilihan saya hanya fokus kuliah biar cepat lulus. Banyak hal yang harus saya urus" kata Barra.


Sambungan telepon berakhir.


Barra berhenti disalah satu gerobak makanan, membeli beberapa kotak makanan untuk dibawa pulang.


.


Kini dia sudah berdiri didepan pintu rumah. Dipencetnya bel, cukup sekali saja.


"Assalamualaikum.." sapa dokbar.


"Waalaikumsalam.. dok .. Ada apa ya malam-malam datang kesini?" tanya dokter Raz kaget saat membuka pintu.


"Saya juga bingung kenapa mengarah ke rumah dokRaz ya, tau-tau udah disini aja. Jadi sekalian mampir deh" ucap dokbar bingung.


"Udah hampir jam sembilan malam, rasanya bukan jam bertamu. Berhubung saya paham profesi dokter, jadinya dianggap wajar saja. Lagipula pernah muda, pasti ada rasa khawatir kalo belum ketemu si dia, apalagi kondisinya lagi sakit, monggo masuk" goda dokter Raz.


dokter Raz jalan didepan dokbar.


"Saya hanya mau melihat kondisi bahunya aja dok, sama sekalian tadi beli martabak, ya siapa tau bisa buat cemilan kalo ga bisa tidur" ujar dokbar grogi.


"Aduh udah kaya orang jaman dulu, kalo ngapel bawa martabak. Kok mendadak ngerasa jadi seorang Bapak yang anaknya udah punya pacar ya? Begini toh rasanya" ledek dokter Raz.


"dok.. saya cuma khawatir sama dia, sekalian menyampaikan informasi dari Rumah Sakit tempat Kakeknya dirawat, tentang perkembangan kondisi kesehatan Kakeknya" jelas dokbar.


Rupanya keluarga dokter Raz sedang nonton film bareng, jadinya masih bangun. Anak-anak besok akan berangkat liburan ke Yogyakarta jadi mau quality time sama orang tuanya.


"Bhree.. dokter pribadi mau kontrol pasiennya, maklumlah dokter yang satu ini kan jadwalnya padat, jadinya baru bisa visit malam" ucap dokter Raz sambil menahan tawa.


"Ngobrol di ruang tamu aja, disini anak-anak berisik" usul Hana.


"Nih Kakak dokter bawain martabak, cocok buat temen nonton film. Bhree.. temenin dulu Pak dokternya" lanjut dokter Raz.


Bhree berjalan menuju ruang tamu, dokbar mengikuti.


"Pak dokter .. setengah jam aja ya visitnya, udah malam, pasien perlu istirahat biar cepat sehat" kelakar dokter Raz.


Hana menepuk pundak dokter Raz, mengingatkan agar ga meledek Barra dan Bhree.


"Gimana bahunya? ngerasa ada yang ganjel ga?" tanya dokbar.


"Ga dok.. Alhamdulillah udah enakan" jawab Bhree.


"Bhree.. Kayanya kamu lebih baik tidur di Rumah Sakit, Mbah kamu udah di kamar rawat inap. Nanti kalo udah kerja ya pulang pergi dari Bintaro ke Cinta Medika" papar dokbar.


"Kenapa emangnya dok? rencananya besok saya mau balik ke rumah" tanya Bhree belum paham.


"Maksudnya Bapak itu anak tunggal?" tanya Bhree.


"Bapak kamu hanya dua bersaudara, ada yang namanya Debi?" kata dokbar.


"Sudah meninggal dok" jawab Bhree.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. Artinya sekarang Pak Daliman dikelilingi sama anak asuhnya aja? Semua anak kandungnya sudah meninggal.. Ehmmm.. bau-bau perebutan harta kayanya" duga dokbar.


"dokbar ini ngomong apa sih? Ga paham" ujar Bhree.


"Saat ini kamu yang paling kuat menjadi pewaris Pak Daliman karena cucu kandung. Peristiwa kemarin itu pasti disetting. Caranya pun sangat pintar .. membunuh tanpa menyentuh .." kata dokbar.


"Makin ga ngerti deh" sahut Bhree makin bingung.


"Fix.. Kamu lagi diincer buat disingkirkan. Kamu diculik kemudian dirudapaksa. Tau kan korban yang mengalami hal itu pasti akan stress bahkan cenderung mengakhiri hidupnya. Mereka ingin kamu mati" kesimpulan dokbar.


"dok.. belum ganti profesi jadi detektif kan? Jangan kebanyakan nonton film ala-ala James Bond. Selama ini mereka ga pernah berbuat kasar sama saya. Mungkin kalo belum akrab ya wajar, kami kan ga pernah kenal dari saya kecil" papar Bhree.


"Mungkin ini memang masih dugaan, tapi ga menutup kemungkinan kematian Bapak dan Tante kamu itu sudah direncanakan. Bahkan juga dengan kondisi yang menimpa Mbah kamu sekarang pun itu sepertinya adalah rencana yang sangat matang. Profesi saya, membuat bisa bertemu dengan banyak orang serta berbagai karakter. Dari pandangan pertama, saya melihat Tante dan Om kamu itu ga suka sama kamu" ungkap dokbar.


"Udah malam dok, ga enak juga sama keluarga dokter Raz" Bhree mencoba mengusir halus.


"Bhree.. rumah Kakek kamu daerah Ragunan, dibawa ke Bintaro... coba pikir? Jauh kan? Padahal banyak Rumah Sakit dekat sana. Alasan ICU penuh? Kakek kamu datang ke IGD itu belum mendapatkan pertolongan apapun. So.. Sengaja mau membuat kondisi makin parah dan meninggal di jalan" papar dokbar.


"dok.. makasih atas kunjungannya. Oh ya.. makasih juga buat martabaknya" sahut Bhree.


dokbar bangun dari tempat duduk dan berpamitan sama keluarga dokter Raz.


"Belum disediain minum udah pulang aja dok" kata Hana.


"Gapapa Bu, saya hanya sekedar melihat kondisi Bhree aja kok" jawab dokbar.


"Padahal dikasih waktu kunjungan setengah jam loh.. Ini baru lima belas menit. Cukup emangnya buat bekal rindunya sampe besok?" ledek dokter Raz lagi.


dokbar hanya tersenyum.


.


"Bhree... Bhree ... Si polos tapi keras kepala" umpat dokbar saat masuk kedalam mobil.


dokbar menyalakan mesin mobil dan langsung melaju menuju rumahnya.


🍒


Tidak lama berselang, Zaki menjemput Bhree di rumah dokter Raz. Beliau sangat pintar berkata-kata dan menyakinkan dokter Raz dan Hana kalo bisa menjaga keponakannya.


"Saya ga bisa menahan kalo Bhree sendiri mengakui Anda ini Om nya. Pasti keluarga bingung karena dia ga pulang selama dua hari. Ga ada kabarnya pula karena HP nya hilang" kata dokter Raz.


Sebelumnya dokter Raz memang menanyakan apakah Bhree bersedia ikut pulang dengan Om nya atau menunggu sampai Mbahnya pulang dari Rumah Sakit. Ternyata pilihan Bhree adalah ikut pulang sama Om Zaki.


Di jalan pun Om Zaki bersikap sangat baik bahkan mengantarkan Bhree ke Rumah Sakit untuk melihat Pak Daliman.


"Bhree.. Om dan semua ga tau kalo kelakuan Hari kaya gitu. Kaget juga dengar tadi Pak dokter cerita. Kemarin kami semua nyariin kamu, nelponin terus tapi ga diangkat. Tadi siang baru dapat kabar kamu ditolong sama Pak dokter dan tinggal di rumahnya. Sejak kamu hilang, Hari ga tampak batang hidungnya, kayanya dia udah kabur" ucap Om Zaki untuk meyakinkan Bhree.


"Ya Om" jawab Bhree.


"Mba Amalia harus dikabarin nih, dia nangis terus pas tau kamu diculik Hari" kata Om Zaki langsung mengambil HP nya dan bersandiwara.


Tampak Om Zaki cerita dengan penuh nada menggebu, seolah-olah marah dengan perbuatannya Hari.


"Tenang aja kamu Bhree.. Nanti Tante lapor ke polisi" kata dokter Amalia lewat video call.


"Mba.. Papa kan lagi sakit, takutnya dengar kabar ini malah drop. Gimana kalo kita rahasiakan dulu, toh Bhree juga belum diapa-apain sama Hari" usul Om Zaki.


"Gimana Bhree? Kamu mau keep silent demi kesehatan Mbah?" tawar dokter Amalia.


"Ya Tante .. yang penting kan saya selamat. Kita fokus ke Mbah aja. Khawatirnya kalo lapor ke polisi malah nanti Mbah kepikiran" jawab Bhree.


.


Sesampainya di Rumah Sakit, Pak Daliman sudah siuman dan Bhree langsung memeluknya.


"Tangan kenapa?" tanya Pak Daliman pelan.


"Oh ini jatuh Mbah, ga sengaja injak tangga yang baru di pel, ya kepleset deh" bohong Bhree.


"Ya udah.. kamu pulang aja, biar bisa istirahat" ucap Pak Daliman.