HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 23, Putaran takdir



Tama masih sibuk mengedit bareng Bima, hasil rekaman saat mengulas tentang jajanan didepan sekolahan. Bima sangat fokus dengan laptopnya, sedangkan Tama melihat-lihat rekaman untuk mencari sesuatu yang layak tayang.


Ketika melihat rekaman video, ternyata tanpa sengaja kamera yang dipegang oleh Tama mengarah ke Bhree yang duduk dipojokan taman saat syuting, padahal Tama merasa sudah mematikan kamera tersebut. Dalam video tersebut, Tama melihat Bhree sedang mengambil foto sekeliling dengan kamera milik Bhree yang sudah model dengan seri lama, bahkan seri sejenis itu sudah ada tiga generasi setelahnya.


Tama pindah duduk ke sofa bed yang ada di ruangan sambil terus memperhatikan video yang merekam Bhree. Cukup lama durasinya, sampai sepuluh menitan. Full semua tentang gerak geriknya Bhree.


Karena video tersebut masih ada di memory kamera, Tama memindahkan rekaman tersebut ke laptopnya, dari laptop dia copy ke HP nya. Agar ga berat tangannya pegang kamera. Berulang-ulang Tama melihat part yang ada Bhree nya. Sesekali tersenyum melihat gayanya Bhree saat mengambil foto, dari mulai jongkok, jinjit, miring sampai tiduran di rumput.


"Bang... Bang... Bang Tama" panggil Bima sambil melihat laptopnya.


Tidak ada jawaban dari Tama, Bima langsung membalikkan badannya untuk melihat Tama.


Bima yang sedari tadi memanggil Tama tapi tidak ada respon, akhirnya berjalan menghampiri Tama karena sepertinya Tama tidak sadar kalo dia sedang dipanggil. Dari arah belakang, Bima melihat Tama memperhatikan videonya Bhree.


"Bang... Bang... eh dia serius banget liatin rekaman" panggil Bima.


Jelas saja Tama kaget sampai HP nya terjatuh di lantai. Tama buru-buru mengambilnya.


"Jangan bilang ada hati sama Bhree yaaaa.. dari tadi senyam senyum kaya orang kasmaran" ledek Bima.


"Jangan ngaco.. gw tuh lagi liatin orang-orang yang ada disekitar situ, kayanya gw kenal" jawab Tama untuk menutupi rasa malunya.


"Orang disekitar Bhree? kayanya video itu cuma Bhree aja yang ada, ga ada yang lewat. Kirain Bang Tama sengaja ngerekam Bhree" sahut Bima.


"Ga lah.. kirain kamera udah off ternyata masih on, liat aja kameranya ga gerak-gerak terus ada tas disampingnya" papar Tama.


"Sengaja juga gapapa Bang... boleh-boleh aja" sahut Bima.


"Ini kenapa jadi ngomongin rekaman video sih, gimana editan yang tadi udah kelar belum?" tanya Tama.


"Lah kan dari tadi juga udah manggilin.. Abang aja yang ga denger, video udah kelar diedit tapi dilihat dulu aja apa ada yang kurang atau ga pantas tayang" jelas Bima.


"Oke.. nanti abis sholat gw cek. Yang lain pada kemana?" tanya Tama lagi.


"Samsul sama Farah lagi beli peralatan dapur, kadang kita mau masak mie aja bingung masak dimana. Kalo Bhree lagi ikut Uli beli properti buat bikin studio endorse diatas, sekalian dia mau ketemu sama yang punya kontrakan belakang, ga jauh dari sini" jelas Bima.


"Dia mau ngontrak?" kata Tama.


"Katanya sih antara ongkos sama ngontrak sama aja, jadinya milih ngontrak biar ga cape" ujar Bima.


"Emang dia ga punya keluarga di Jakarta? orang tuanya ga masalah dia ngontrak?" lanjut Tama.


"Bang.. kalo mau tau jawabannya, tanya sama orangnya langsung. Bhree itu kan anaknya diem banget, kalo ga ditanya ya ga ada suaranya. Padahal kalo diliat dari gayanya, cewe tomboy kaya gitu ga mungkin tipe pendiam" papar Bima.


"Terlalu tertutup dia.. bukan pendiam, udah kerja sebulan aja masih juga kaya orang baru, masih canggung sama kita-kita" kata Tama.


"Cuma sama Uli dia mau ngobrol, sama kita-kita ya seperlunya aja. Tapi emang kerjanya gercep loh Bang.. ngedit emang belum jago, tapi tangkapan gambarnya cakep, udah ada beberapa konten Abang yang pake hasil shoot dia. Inget ga yang video kita makan di warung kecil masuk gang, itu kan masuk trending sepuluh kategori makanan, pada baper liat Bang Tama ngobrol sama Ibu penjual nasi uduk, hasil dari tangkapan kamera dia tuh" cerita Bima.


"Kok tau ada video itu?" tanya Tama.


"Dia pinjem laptop buat pindahin memory kameranya ke external memory, terus ga sengaja liat video itu, begitu diminta katanya ambil aja, dia cuma suka ambil gambar dengan objek manusia katanya" lanjut Bima.


"Gimana kalo tiap bikin konten, dia kasih satu kamera, mungkin ada sisi lain yang bisa dia tangkap dan lebih humanis gitu" ide Tama.


"Bang Tama aja yang bilang ke dia. Pasti mau sih, secara tuh anak demen banget mempelajari semua kamera yang ada disini. Entah emang bakat atau tertarik sama dunia fotografi" ujar Bima.


"Minat kayanya, dia pernah bilang kok" jawab Tama.


🌺


Pamor Diva yang belum ada dipuncak karier sudah harus terjun bebas akibat narkoba. Ia ditangkap bersama rekan-rekan sesama penyanyi sedang pesta barang haram disebuah hotel. Berbagai media elektronik memberitakan tentang kejadian ini. Terlihat Diva shock dan banyak menangis. Orangtuanya di Kampung juga ikut diburu oleh wartawan.


Keluarga besar dan orang tua Diva masih tampak polos dan tidak tau tentang perilaku anaknya di Jakarta, yang mereka tau hanya menyanyi dan masuk televisi. Orang tua hanya dikirimi uang tanpa Diva datang ke rumah, alasannya sibuk manggung.


Management tempat Diva bernaung, membantu mengurus kasusnya. Dia didampingi oleh kuasa hukum dari kantor management, akhirnya pengajuan untuk menjalani rehabilitasi disetujui. Diva terbukti menjad korban. Tipikal orang yang masih ikut-ikutan dan salah pergaulan yang membuatnya mudah masuk dalam perangkap para pemain dalam dunia obat terlarang. Awalnya dia dikasih oleh rekan sesama artis untuk mencoba minum obat yang dikatakan sebagai vitamin agar stamina terjaga. Lama kelamaan Diva merasa nyaman meminum obat tersebut seminggu dua kali. Hari ini dia diundang ulang tahun temannya secara privat di kamar hotel. Tanpa curiga dia ikut berpesta, rupanya nasib sial sedang menerpa. Polisi menggerebek kamar tersebut, sejumlah barang bukti sudah diamankan dan semua orang yang ada di kamar juga sudah digelandang ke kantor polisi.


Selama seminggu kasus ini mencuat karena melibatkan lima artis sekaligus, kelima artis itu pun belum terkenal, malah banyak yang baru tau kalo mereka artis.


Diva akan menjalani masa rehabilitasi selama tiga bulan. Semua kontrak menyanyi, main sinetron dan endorse langsung diputus sepihak. Pihak management juga mengalami kerugian atas kasus ini karena ada yang perjanjian kontrak yang mewajibkan untuk mengembalikan sejumlah uang jika salah satu pihak berurusan dengan pihak yang berwajib.


Fansnya, meskipun masih sedikit, sangat kecewa dengan adanya kasus ini. Rekan semasa jebolan pencarian bakat pun tidak ada yang mau menjenguk atau berkomentar karena khawatir mereka akan disangkutpautkan dengan kasus ini. Keluarganya Diva diminta untuk tidak mengeluarkan statement apapun ke wartawan, semua sudah diurus pihak management agar kasus tidak melebar kemana-mana.


Rencananya jika Diva sudah di tempat rehabilitasi, maka pihak management akan berbicara mengenai kontrak kerja yang rencananya juga akan diputus.


Kini hanya sesal yang ada dalam diri Diva, belum genap setahun dia dikenal orang, kini sudah langsung amblas. Menyesali pergaulannya yang bisa dibilang sok kaya artis besar.


💠


"Bang Tama kemana?" tanya Mba Uli.


"Ga liat" jawab Bima.


"Sejak kapan dia cari inspirasi buat konten pake segala jalan sendirian? biasanya juga berembuk sama kita dulu" jawab Mba Uli.


"Mungkin mau buat sesuatu yang beda kali Mba, orang yang terjun dibidang kreatif ga bisa dikungkung dalam satu tempat, harus mengamati sekeliling" kata Bhree.


"Tapi ya Bhree.. gw liat Lo berdua itu kaya


saling melengkapi. Bang Tama kan orangnya pelupa ditutupin sama Lo yang sangat apik kalo naro barang atau mencatat jadwal hariannya Bang Tama. Terus Bhree yang awalnya super pendiam sekarang udah mulai banyak ngomong kaya Bang Tama" papar Bima.


"Apaan sih Bang..." sahut Bhree.


"Bener juga ya .. gw liat Lo berdua ada chemistry, jangan-jangan jodoh tuh. Bang Tama belum pernah loh seaneh ini, dia bukan tipe penyendiri" ledek Mba Uli.


"Mba.. jangan bikin gosip deh" kata Bhree kurang nyaman.


"Kan ga ada salahnya Bhree... tapi ya Bang Tama sama keluarganya emang rada kenceng nih sama aturan agama, meskipun ga kaku ya. Yang gw tau itu keluarganya ga ada yang pake acara pacaran, begitu suka langsung lamar. Kalo mau ya lanjut nikah, konsep pacaran after wedding lah konon katanya" jelas Mba Uli.


HP nya Bhree berbunyi, ada panggilan masuk dari Tama.


"Baru sebentar udah ada yang kangen" ledek Bima.


Bhree mengangkat HP nya, ga banyak bicara, hanya banyak mendengar. Sekitar lima menit sambungan telepon terhenti.


"Ada apa Bhree?" tanya Mba Uli penasaran.


"Mulai besok kalo bikin konten, Bhree diminta pegang kamera juga. Katanya udah liat hasil rekaman yang Bhree buat itu bagus, jadi buat nambahin konten tapi dari sisi yang lain" ungkap Bhree.


"Udah ada dua orang yang pegang kamera plus dia sendiri, masih nambah juga?" sahut Mba Uli.


"Setuju banget Bhree.. Lo emang bagus ngambil video dari sisi yang berbeda, Lo bisa melihat suatu objek dari sisi seni" puji Bima.


"Bisa aja Bang Bima mujinya. Sebenarnya ga ada yang istimewa, mungkin karena passionnya disitu jadi orang melihat lebih nyeni aja. Bhree banyak belajar dari seorang fotografer, beliau bilang kita harus mampu melihat objek dengan sangat detail, menonjolkan sisi bagusnya, posisi sudut pengambilan gambar yang oke dari sebelah mana, termasuk kita harus tau cahaya yang pas buat video tuh seperti apa. Video yang lebih natural dan ga banyak editan sebenarnya bagus untuk konsep vlog, tapi belakangan ini trennya banyak editan, jadi bisa dibilang seragam sama vlogger lain. Saatnya Bang Tama back to basic" jelas Bhree.


🌺


Semakin sulit Mas Wisnu menemui anaknya. Bahkan untuk sekedar video call pun sangat dibatasi. Sudah beberapa kali Mas Wisnu datang ke rumah orang tuanya Mba Fenti, meminta bantuan untuk mendamaikan, tapi hasilnya nihil. Orang tua dan keluarga Mas Wisnu tidak ada yang bersimpati atas masalah yang sedang dia hadapi, semua sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Kamu maunya gimana?" tembak Mas Wisnu saat bertemu Mba Fenti di Kampungnya.


"Kayanya lebih baik kita pisah aja Mas, lebih nyaman hidup masing-masing" putus Mba Fenti datar.


"Kasih Mas waktu untuk menimbang keinginan kamu. Sambil dalam waktu itu, Mas harap kita sama-sama berdo'a minta petunjuk Allah untuk arah rumah tangga kita" pinta Mas Wisnu.


"Kayanya udah bulat keputusan ini Mas, saya tunggu sebulan dari sekarang, kalo Mas ga menggugat cerai, maka saya yang akan menggugat" sahut Mba Fenti.


"Kamu ga pertimbangkan anak kita yang masih berusia tiga tahun? sekarang aja sama Papanya ga mau dekat karena susah ketemu" kata Mas Wisnu.


"Anak masih kecil, dia ga akan punya trauma dengan perpisahan kita. Toh selama ini dia bahagia aja, ga pernah nyari Papanya" ucap Mba Fenti ketus.


Keluarga Mba Fenti tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya melihat Mba Fenti berbincang dengan Mas Wisnu di ruang tamu.


Mba Fenti masuk ke kamar, Mas Wisnu menghampiri keluarga Mba Fenti.


"Apa Fenti pernah cerita kenapa kondisi kami seperti sekarang ini?" tanya Mas Wisnu.


"Ga.. selama disini ya banyak diam, sesekali keluar buat refreshing, mungkin ga mau jadi beban pikiran kami semua" jawab Bapaknya Mba Fenti.


"Tolong saya Pak.. udah ga tau harus gimana jelasinnya. Saya ga punya wanita lain, sampai sekarang saya masih setia sama dia" ucap Mas Wisnu.


"Sudahlah Nu.. kalo tidak ada rasa percaya diantara kalian, ya lebih baik cari jalan masing-masing. Yang penting damai dan tetap urus anak berdua. Kami ga mau ikut campur sama keputusan kalian, udah sama-sama dewasa dan tau konsekuensinya" jawab Bapaknya Mba Fenti.


.


Dalam perjalanan pulang, Mas Wisnu sudah ga tau bagaimana mendeskripsikan hatinya saat ini. Segala rasa tumpah menjadi satu, marah, kecewa, ga tau harus bagaimana lagi dan perasaan sedih lainnya.


💠


Dalam sel tahanan di Polres sebelum pindah ke pusat rehabilitasi, Diva stress hingga kearah depresi. Terkurung seperti ini adalah hal yang tidak pernah terbayangkan akan menghampiri hidupnya, ditambah rekan artis yang menjerumuskannya masih berkeliaran dan belum tertangkap. Sesama artis yang ditangkap pun sama-sama stress dengan kasus ini, mereka tidak berbincang satu sama lain, sibuk dengan kesedihan dan penyesalan masing-masing.


Selama dalam tahanan, Diva terbayang saat merintis karier dari panggung ke panggung dihajatan yang ada di Kampungnya, terus ikut audisi dan lolos ke ajang pencarian bakat, merasakan ketenaran saat acara berlangsung. Masuk tivi seperti mimpinya dulu, tapi hanya sekejap akibat salah gaul, semua yang sudah dia rengkuh, sekejap mata hancur berantakan.


Pihak management memang sudah mendampingi bahkan mengusahakan dia direhabilitasi, tapi sudah ada wacana untuk memutuskan kontrak diantara mereka. Memang Diva tidak dimintai ganti rugi, tapi bayaran yang belum turun terancam tidak masuk ke rekeningnya sebagai kompensasi pendampingan oleh pengacara untuk mengawal kasus ini.


.


Seminggu kemudian Diva sudah ada dipusat rehabilitasi, disana dia diminta untuk bersosialisasi dan diajarkan keahlian untuk meningkatkan kualitas hidup. Disana dia mendapatkan pelajaran menjahit, merajut dan memasak. Hal yang ga pernah dia lakukan sebelumnya.


Sedari kecil, Diva, walaupun berasal dari keluarga yang kekurangan, ia ga pernah mau bantu kerjaan di rumah, cita-citanya hanya menjadi artis aja, jadi banyak mengasah dirinya menjadi artis dengan latihan menyanyi di rumah bermodalkan vlog teknik menyanyi dan ikut grup orkes yang ada di kampungnya.