HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 82, Mengusik hati



"Ya udah Mas, dijadwalin aja operasinya dua hari kedepan. Udah beneran ga nyaman banget kalo buat jalan. Daripada nanti tambah parah" pinta Hana setelah suaminya menyampaikan pesan dari dokbar.


"Ya .. Senin kan ketemu sama dokbar, biar nanti minta rujukan operasi terjadwal dari dia. Kan operasi juga butuh persiapan" jawab dokter Raz.


"Oh ya Mas.. Anak-anak sebentar lagi libur kenaikan kelas, Mas Raziq juga habis ujian. Mereka mau liburan ke tempat Mbahnya di Jogja. Boleh?" tanya Hana.


"Boleh-boleh aja, udah bilang belum sama Mbahnya?" ujar dokter Raz.


"Udah.. malah seneng kalo anak-anak main kesana. Mereka mau naik kereta, kan Nabila belum pernah ngerasain naik kereta jauh" kata Hana.


"Ya udah Mas Raziq pesan tiket dari sekarang, biasanya liburan sekolah tiket suka sold out" ujar dokter Raz.


🌿


dokbar menjelaskan tentang apa yang disampaikan oleh dokter semalam kepada keluarga Pak Daliman. Pagi ini lengkap ada adiknya Pak Daliman juga datang.


"Nak Barra ini sangat jelas sekali ya menerangkan tentang kondisi Mas Daliman. Apa masih orang medis juga?" tanya adiknya Pak Daliman.


"Dia dokter di tempat Bhree kerja Mbah" jawab Bhree.


dokter Amalia dan Om Zaki kaget mengetahui kalo Barra adalah dokter.


"Oh dokter... dokter apa?" tanya adiknya Pak Daliman lagi.


"Orthopedi" kata dokbar singkat.


"Spesialis thooo.. bagus itu, masih muda tapi sudah spesialis. Amalia.. harusnya kamu juga ambil spesialis, jadi nambah wawasan" saran adiknya Pak Daliman.


dokter Amalia hanya diam, dia memang kurang cekatan sebagai seorang dokter. Memang dokter identik dengan orang yang pandai, tapi khusus dokter Amalia ini karena punya uang. Masuk kesebuah perguruan tinggi swasta luar pulau Jawa, mengingat persaingan masuk fakultas kedokteran negeri sangat ketat, otaknya tidak mampu bersaing. Setelah lulus pun sempat praktek di Klinik dokter bersama, tapi jarang dapat pasien. Kata para pasien malah ga sembuh-sembuh kalo ditangani olehnya. Makanya dia memilih menjadi konsultan medis di Klinik kecantikan yang dia miliki. Berbekal kursus-kursus dibidang kecantikan, dia merasa lebih pede. Memang ada perpanjangan surat ijin praktek untuk gelar dokternya, biasanya nanti dia akan ikut pelatihan intensif jika waktunya sudah dekat.


"Setelah pasien nanti stabil dan bisa pindah ke ruang rawat biasa bahkan pulang, baiknya didampingi oleh perawat yang khusus membantunya. Setelah kejadian ini, semua harus waspada karena bisa berulang bahkan ada yang akan terganggu salah satu organ nantinya" saran dokbar.


"Sempat semalam terpikirkan, ya nanti siapa tau Bhree punya teman yang bisa jadi perawat pribadi Mbahnya" kata adiknya Pak Daliman.


"Kenapa ga Bhree aja? dia kan masih masa percobaan di Rumah Sakit. Masih bisalah merawat orang sakit. Toh kalo sama cucu sendiri pasti akan lebih nyaman" ide dokbar.


Bhree kaget mendengar usul dari dokbar.


"dokter Barra ini teman atau kekasihnya Bhree? Pasti lebih dari sekedar teman ya, sampai mau nunggu semalaman disini" terka adiknya Pak Daliman.


"Untuk masa sekarang masih rekan sejawat satu Rumah Sakit. Kita ga pernah tau kedepannya bagaimana hubungan kami nantinya. Jalani saja" tutur dokbar agak bijak.


"Mas Daliman pasti senang sekali kalo tau Bhree dekat sama orang medis, soalnya keluarga beliau semua bergerak dibidang medis. Apalagi dokter Barra ini spesialis yang lumayan jumlahnya sedikit di Indonesia. Kesan pertama saya, dokter Barra ini pasti sangat disukai oleh pasien-pasiennya karena ramah dan memberikan penjelasan yang simpel jadi mudah dipahami" puji adiknya Pak Daliman.


"Terima kasih atas penilaiannya, semoga saya bisa menjadi dokter yang bisa menjalankan profesi dengan baik dan profesional" kata dokbar merendah.


dokbar pamit pulang karena ada jadwal visit pasien kemudian ingin bertemu keluarga. Adiknya Pak Daliman meminta bantuan dokbar untuk mengantar Bhree pulang.


.


Didalam mobil.


"Apa-apaan sih dokbar punya ide kaya gitu? Jangan ngatur-ngatur hidup orang" Bhree berkata dengan kesalnya.


"Mau ikut ke Rumah Sakit dulu atau nanti keluar tol naik taksi?" tawar dokbar yang tidak mengindahkan kekesalannya Bhree.


"Keluar tol aja" jawab Bhree.


Keduanya banyak diam, hanya alunan musik yang terdengar didalam mobil.


Setelah pintu keluar tol, dokbar menepikan mobilnya.


"Udah pesan taksi online?" tanya dokbar.


"Belum" jawab Bhree sambil mengeluarkan HPnya dan membuka aplikasi untuk memesan taksi online.


"Saya tunggu sampe kamu dapat taksi ya" kata dokbar.


Beberapa kali orderan dicancel oleh driver dengan berbagai alasan.


"Orang itu harusnya ada terima kasihnya, jangan malah manyun aja" kata dokbar.


"Makasih" ucap Bhree cepat.


"Macam ga ikhlas kedengarannya" ujar dokbar.


"Apa yang terjadi didalam keluarga saya, harusnya dokbar ga perlu ikut campur sejauh itu. dokbar kan juga bukan dokter penanggung jawab Mbah, jadi biarkan dokter sana yang menjelaskan tentang kondisi Mbah. Emangnya dokbar ga liat bagaimana Om dan Tante saya langsung keliatan kesal? Jangan nambahin beban saya dok" ungkap Bhree.


"Itu mobil didepan taksi kamu bukan?" tanya dokbar sambil menunjuk kearah depan.


Bhree langsung turun dari mobil, dokbar pun langsung melaju kembali tanpa basa basi.


.


"Orang ngantuk diajak berdebat, ya maleslah. Emang dia ga tau kemarin seharian cuma tidur dua jam? Inilah kelemahannya para cewe, selalu minta dimengerti tanpa mau ngertiin kita kaum cowo" kata Barra bicara sendiri.


HP Barra berbunyi, nomer yang tidak dikenal. Karena khawatir telepon ini penting, akhirnya diangkat oleh Barra pakai bluetooth yang tersambung ke radio mobil.


"Assalamualaikum.." sapa Barra dengan suara khas laki-laki.


"Waalaikumsalam.." jawab wanita dari seberang sambungan telepon yang sangat familiar banget suaranya ditelinga dokbar.


"Elsa?" terka Barra.


"Ya Mas, sekarang saya ada di rumah Mas Barra, ketemu sama orang tua Mas. Maaf ya Mas, lancang meminta nomernya Mas" ucap Elsa dengan suara yang sangat lembut.


"Masih ingat rumah saya" ujar dokbar datar.


"Ya Mas.. kemarin ga sengaja ketemu alamat Mas pas bongkar buku-buku yang mau dibuang" jelas Elsa.


"Ada apa?" tanya Barra ogah-ogahan.


"Romo dan Ibu sedang ada di Jakarta, Mas Bayu akan di wisuda. Sekarang menginap di rumah Mas Bayu. Beliau ingin ketemu sama Mas Barra. Apa Mas ada waktu?" ungkap Elsa hati-hati.


"Sekarang saya lagi otw ke Rumah Sakit, namanya dokter kan ga bisa ditebak kapan bisanya. Nanti saya bilang bisa nyatanya tiba-tiba datang pasien gawat darurat kan jadi ga bisa. Semalam aja rencana pulang ke rumah, tapi sampai sekarang belum juga bisa pulang ke rumah. Gini aja, kamu kasih nomer saya ke Romo, kalo ga sempat bertemu bisa lewat telepon" kata Barra.


"Baik Mas.. Saya sekalian mau pamit pulang dulu" tukas Elsa.


.


"Lima tahun ini bisa melupakan harapan hidup bersama kamu Sa.. tapi ga mampu melupakan suara kamu. Maaf ya.. Bukannya ga mau ketemu, tapi lebih kepada ga siap. Cuma ga mau kembali jatuh cinta Sa.. hati saya sudah memilih wanita lain. Kali ini saya ga akan banyak mengulur waktu, saya akan terus terang sama dia, semoga kami berjodoh. Kehadiran kamu nantinya malah akan menghadirkan ragu" kata Barra bicara sendiri.



Hari sedang mencuci mobil di rumahnya Pak Daliman. Tadi dokter Amalia memintanya standby disini, menunggu instruksi.


Bhree masuk kedalam rumah, matanya Hari terus mengekori.


"Ga mungkin dong gw lakuin disini, ada satpam dan banyak yang kerja disini. Gimana cara mancing dia keluar ya?" Hari terus memutar otaknya.


Bhree langsung mandi dan langsung tertidur karena lelah. Tidak ada orang di rumah yang berani mengetuk pintu kamarnya karena tadi Bhree sudah berpesan untuk tidak diganggu.


"Gw ada ide... Gimana kalo Pak Zaki atau Bu dokter telepon ke Bhree buat datang ke Rumah Sakit dan minta gw yang antar... emang Hari mah idenya selalu brilian. Bhree.. Sebentar lagi kita akan menikmati surga dunia. Eh kalo minta gw nikahin juga boleh, secara kan dia orang kaya, cakep pula.. Hahaha" Hari tertawa sendiri.


Hari langsung menelepon Zaki untuk menjalankan rencananya. Tentu saja Zaki sangat setuju dengan rencana Hari.


dokter Amalia menelepon Bhree, mengabarkan kalo kondisi Pak Daliman menurun dan Bhree perlu datang buat melihatnya.


"Iya.. Iya Tante.. Bhree langsung kesana" sahut Bhree yang terbangun saat mendengar bunyi HP nya berdering.


"Nanti kamu diantar sama Pak Hari ya, dia standby di rumah kok. Jangan pake lama Bhree. Kita ga tau apa masih bisa tertolong atau tidak dengan kondisi yang seperti sekarang ini" ucap dokter Amalia.


Bhree mengganti bajunya kemudian bergegas menuju garasi untuk mencari Hari.


"Pak.. Saya diminta sama Tante Amalia buat ke Rumah Sakit, bisa tolong antar sekarang?" tanya Bhree dengan sopan.


"Bisa.. Tadi saya juga ditelepon sama dokter Amalia buat anter Non Bhree ke Rumah Sakit. Silahkan naik Non" ujar Hari.


Bhree naik kedalam mobil, dia duduk di bangku belakang. Hari juga masuk kedalam mobil kemudian bergegas menuju jalan raya.


.


Setelah visit ke pasien rawat inap, dokbar memilih untuk tidur di kamar dokter, dia ga bisa memaksakan tubuhnya yang sudah dalam kondisi sangat kantuk untuk mengendarai mobil.


"Tumben kamar dokter penuh? Banyak operasi?" tanya dokter Raz yang baru datang karena ditelepon akan ada tindakan operasi caesar, sebagai dokter anak, beliau termasuk dalam tim. Sekaligus habis visit pasien-pasien anak.


"Ada dokter obsgyn dua, tadi subuh ada operasi, dokter anastesi baru bangun. Satu lagi dokter Barra, padahal ga ada operasi, datang kesini langsung tidur" lapor perawat.


"Abis dari mana dia? Bukannya pulang ke rumah malah tidur disini" ucap dokter Raz.


"Keliatannya ngantuk berat dok, kaya habis begadang gitu. Kemarin pulang dari sini juga habis Maghrib, ga tau melancong kemana dulu, habis malam mingguan kali dok, namanya juga single" canda perawat.


"Malam mingguan kok begadang, emangnya diajak calon mertua main catur?" sahut dokter Raz.


"dok Raz kaya ga pernah ngerasain muda aja. Orang mah kalo jatuh cinta rasanya enggan berpisah .. Hahahaha" lanjut perawat.


"Kalo kamu mungkin.. Tapi kalo dokbar kayanya ga mungkin" tukas dokter Raz.


"Apa abis jemput Arni kali di Kampung, jadinya kecapean begitu" ucap perawat lainnya.