
Setelah berbincang dengan Bu Diah, dokbar kembali duduk di nurse station, tidak ada keluarga pasien didepannya, karena jam tiga seperti sekarang ini biasanya pasien diberikan snack sore dan mandi, jadi keluarga pun banyak yang ada di kamar untuk mendampingi pasien.
dokbar menyodorkan coklat ke perawat yang tadi dimarahi oleh Bu Diah.
"Next time, kalo ada pasien anak yang ngamuk seperti itu, tunggu sampai tenang. Kita posisikan diri jadi pasien, kalo diperlakukan seperti itu ngamuk atau ngga?" ucap dokbar dengan suara kecil.
"Ya dok, tadi dokter anak pesan jangan lepas infus karena pasien intake sulit dan diare" lapor perawat.
"Disini kan selalu ada dokter jaga, bisa konsultasi dulu. Melayani pasien sesuai juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis) memang dianjurkan, tapi jangan lupa.. yang kita hadapi ini keluarga pasien yang emosinya tidak stabil karena ada keluarga yang sedang sakit dan kurang istirahat, jadinya mereka akan mudah meledak kalo kita melakukan hal yang sekiranya mengganggu kenyamanan pasien" saran dokbar.
"Maaf dok.. saya baru di ruang rawat inap, sebelumnya dibagian poli" kata perawat.
"Tidak ada beda antara poli dan ruang rawat, sama-sama belajar keperawatan. Tinggal bagaimana kita mau meningkatkan keterampilan kita untuk melayani pasien" saran dokbar.
"Di poli kan ga nginfus dok" jawab perawat.
"Makan coklatnya.. siapa tau bisa membuat mood naik.." ucap dokbar malas berdebat karena sepertinya perawat ini juga tipe ngeyel kalo diberikan saran.
dokbar kembali mengisi formulir rekam medis.
"dok.. ga takut debat sama Kak Diah?" tanya perawat senior pelan-pelan.
"Takut? kenapa harus takut selama kita memberikan saran agar ada perbaikan dalam hal pelayanan. Kan motto Rumah Sakit ini melayani dengan sepenuh hati" jawab dokbar.
"Kak Diah itu punya backingan para petinggi disini dok, entah siapa, yang jelas kalo ada yang rese sama Kak Diah.. ga lama kemudian akan dibuang" ingat perawat senior.
"Maksudnya saya siap-siap dipecat gitu?" tanya dokbar.
"Ya ga tau juga sih dok, tapi sudah beberapa kejadian ya kaya gitu akhirnya" kata perawat.
"Ya sudah.. apapun nanti kedepannya saya percaya pada takdir aja" ucap dokbar.
"Kita semua kalo boleh milih juga maunya Kepala perawat diganti, ga ada kerjanya dok. Ga paham deh kenapa masih aja dijabatan itu padahal banyak yang lebih berkompeten menduduki jabatan itu" papar perawat.
"Udah ya .. kerja.. kerja.. kita buktikan saja kemampuan kita, memberikan yang terbaik untuk Rumah Sakit ini" pinta dokbar.
"Jumlahnya di Indonesia ga sampai enam ratus orang dan penyebarannya tidak merata. Bayangkan berapa rasionya dibanding penduduk Indonesia. Ga usah ngomongin Indonesia deh yang luas, tapi di Pulau Jawa saja ada lebih dari
.
Rupanya Bu Diah uring-uringan di ruangannya. Beliau menelepon Pak Handoko dan menceritakan semua pembicaraannya dengan dokbar.
"dokter Barra.. sepertinya akhir-akhir ini sering dibahas sama Direktur Rumah Sakit. Siapa dia ya?" tanya Pak Handoko.
"dokter ruangan yang baru, tadinya setahun di IGD" jawab Bu Diah.
"Oh ya ya.. baru ingat.. dia yang mau ambil spesialis kan ya? Dirut sudah lapor, katanya menawarkan bantuan biaya kuliah tapi dia masih belum memutuskan. Menurut Manager Pelayanan Medis dan para dokter, dia sangat berbakat dan bisa menjadi aset Rumah Sakit kedepannya. Apalagi akan mengambil spesialis yang masih jarang digeluti para dokter di tanah air" papar Pak Handoko.
"Pokoknya ga mau tau.. kasih dia pelajaran" pinta Bu Diah.
"Nanti ya sayang.. harus cara haluslah mainnya" kata Pak Handoko menenangkan.
"Anak kemarin sore lagaknya sok paling pinter, padahal baru juga jadi dokter dua tahun. Segala mengkritik kerja orang lain, ngaca dong.. dia sendiri udah bener belum?" timpal Bu Diah.
"Tapi kali ini jangan sampai dia dibuang ya, Rumah Sakit hanya punya satu dokter spesialis orthopedi, jadi dia memang disiapkan untuk jadi spesialis penerusnya" kata Pak Handoko.
"Memang di Indonesia kekurangan dokter orthopedi? banyak kali di Rumah Sakit lain, asal cocok juga mereka mau praktek disini" ujar Bu Diah.
"Sangat kurang .. di Indonesia yang tercatat hanya sekitar enam ratus dokter spesialis orthopedi dan traumatologi (SpOT), itu pun tidak tersebar merata di Indonesia. Kita ga usah deh hitung seluruh Indonesia ada berapa Rumah Sakit, di Jakarta saja ada dua ratus Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit swasta, belum ditambah Klinik-klinik orthopedi. Sudah sepertiga jumlah dokternya terfokus di Jakarta aja. Mereka ini dokter-dokter pemegang pisau.. artinya cuan buat Rumah Sakit kita karena akan ada tindakan operasi, perawatan yang panjang, banyak melibatkan unit penunjang lainnya seperti fisioterapi, rontgen dan laboratorium" papar Pak Handoko.
"Mikirnya cuan terus" protes Bu Diah.
"Gimana bisa ngasih kamu sayang kalo bukan hasil cuan dari Rumah Sakit.. udahlah .. nanti pihak pelayanan medis yang akan kasih dia peringatan" ucap Pak Handoko.
.
dokbar membawa baju yang ada di loker dokter, dia tidak pulang ke rumah tapi langsung ke stasiun untuk mengejar waktu keberangkatan. Motor dititip di Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan, Barra rencananya mau tidur, tapi dia tergelitik membaca sebuah buku yang diberikan oleh Walid, judulnya "MENIKAHIMU".
Lembar demi lembar halaman buku tersebut dibaca perlahan, ga tebal, hanya tiga puluh halaman bolak-balik. Tapi mampu membuka pikirannya bahwa konsep menikah ga sekedar hidup bersama dengan orang yang kita cintai dan meneruskan keturunan. Pernikahan merupakan momen yang sangat sakral bagi setiap pasangan, jika kita telah memutuskan menikah artinya harus menerima segala kekurangan dan kelebihan dari pasangan masing-masing. Hal inilah yang membuat beberapa pasangan masih merasa ragu untuk melangkah kejenjang yang lebih serius meskipun telah menjalani hubungan pacaran yang lama, umur juga sudah cukup, pekerjaan/penghasilan sudah ada dan keluarga menyetujui.
Barra menutup buku tersebut, menghela nafas panjang, kembali teringat bahwa semua yang terjadi karena kesalahannya. Ia membuat Elsa terkurung dalam hubungan tanpa status dan tidak jelas ujungnya. Pastinya sebagai wanita dewasa, Elsa ingin mendapatkan kepastian yang jelas dari Barra.
.
Sesampainya di Solo, Barra langsung menuju Rumah Sakit yang sudah diinformasikan oleh Kakaknya Elsa. Dia sudah janjian agar ditunggu di lobby Rumah Sakit.
Dia bersalam sapa dengan keluarganya Elsa yang ada di ruang tunggu pasien ICU. Berbincang tentang kondisi Romo yang terbaru.
Saat Barra pamit ke kamar mandi dulu, dia bertemu dengan dokter yang merawat Romo.
"Barra ya?" tanya dokter spesialis tersebut.
Barra yang memang buru-buru ke kamar mandi tidak memperhatikan sekitar.
"Ya Allah dok.. maaf saya ga liat" ucap Barra sambil mencium tangan dokter tersebut.
"Makin ganteng.. tapi lebih kurus sekarang ya? udah nikah?" tanya dokter senior.
"Lama loh kuliahnya .. nanti keburu umur kamu kepala tiga" goda dokter senior.
dokbar hanya tersenyum. dokter ini yang dulu mendampinginya saat residen disebuah Rumah Sakit di Jakarta dan sempat Barra juga menjadi asisten dokter saat PTT didaerah terpencil. Pernah tinggal serumah bersama tiga dokter lainnya selama dua bulan. Karena saat itu dokbar yang paling muda, jadinya sering dikerjain sama seniornya. Tugas rumah hampir sebagian besar dikerjakan oleh dokbar. Tapi para senior ini juga tidak pelit ilmu, selain memberikan buku-buku kedokteran yang cetakan luar negeri, dokbar juga diajari banyak pengetahuan tergantung spesialisasi mereka. Pada akhirnya dokbar tertarik ambil ortopedi karena melihat masih kurangnya masyarakat mendapatkan pengetahuan tentang orthopedi dan traumatologi, masih banyak masyarakat yang percaya pengobatan alternatif patah tulang dibandingkan dokter.
Barra mohon ijin sebentar ke kamar mandi dulu, setelahnya mereka janjian di coffe shop yang ada di Rumah Sakit. Barra memang sudah dua tahun tidak berjumpa dengan beliau dan kehilangan kontak karena ternyata HPnya dokter senior ini hilang.
Mereka saling melepas rasa rindu, Barra memang sedang dicari oleh dokter ini untuk ikut membangun Rumah Sakit terapung. Barra bertukar nomer HP, dia belum bisa memberikan jawaban karena akan lanjut ambil kuliah spesialis di Jakarta, jadi waktunya tidak akan cukup jika harus keluar dari Jakarta setiap minggunya. Barra juga menanyakan sedikit tentang kondisi Romo. Secara medis hanya dijelaskan umumnya saja karena posisi Barra bukanlah keluarga pasien sehingga tidak berhak mengetahui rekam medis pasien secara menyeluruh.
"Saudara atau calon mertua nih?" goda dokter senior.
dokbar hanya tersenyum.
Setelah berbincang sejenak dengan dokter seniornya, Barra kembali melangkah dengan penuh keyakinan menuju ruang tunggu karena Ibunya Elsa sedang menunggunya (tadi saat Barra datang, beliau belum sampai di Rumah Sakit, sedang mengambil baju ganti di rumah).
Barra mencium tangan Ibunya Elsa dan Barra langsung dipeluk. Ibunya Elsa menangis. Barra hanya bisa mengusap punggung Ibunya Elsa sebagai bentuk turut prihatin dan mendukung.
"Nak Barra, Romo nanyain kamu terus sebelum operasi, beliau mau minta maaf karena pernah menegur dengan keras. Semoga kamu ga tersinggung ya" kata Ibunya Elsa.
"Gapapa Bu.. saya paham. Kedatangan saya kesini menandakan rasa hormat terhadap beliau. Saya juga mau minta maaf sudah melakukan hal ini terhadap Elsa. Saya minta maaf ya Bu.. sebagai manusia biasa, saya banyak salah dan khilaf" jawab Barra.
Mereka duduk di lantai beralaskan karpet.
"Sama-sama... Wajar saja kalo Romo kecewa, sejak ketemu sama kamu, Romo sudah punya impian punya mantu seorang dokter, ditambah kamu sangat respect terhadap Romo. Tapi semua sudah berakhir kan? inilah yang jadi beban pikiran Romo, tidak bisa menerima perpisahan kalian. Akhirnya jadi sakit. Nak Barra... apa sudah ga bisa diantara kalian bersatu lagi?" tanya Ibunya Elsa.
Barra dan Elsa saling bertatapan.
"Kalian nikah saja sekarang, Ibu dan Romo ga minta seserahan atau pesta resepsi yang mewah. Yang penting kalian sah. Siapa tau jadi obat buat Romo" harap Ibunya Elsa.
Keluarga menantikan jawaban Barra.
"Nanti ya Bu, kita bicarakan dilain waktu, karena tujuan saya datang kesini hanya untuk menjenguk Romo, saya tidak punya agenda untuk melamarnya.. lagipula saya dengar kalo Elsa...." ucap Barra pelan tapi menggantung ucapannya.
.
Barra ijin masuk kedalam ICU, kemudian menemui Romo yang masih tidak sadarkan diri. Dicium tangannya Romo perlahan oleh Barra. Sebagai seorang dokter ia mencoba menganalisa kondisi Romo. Setiap kasus komanya seseorang berbeda-beda. Gerakan refleks, respon verbal, hingga reaksi yang membuat orang koma bisa menjadi faktor penting dalam menentukan kesembuhan pasien. Fungsi otak orang koma akan berangsur pulih dari waktu ke waktu. Dengan pengamatan intensif, dokter bisa menilai seberapa parah cedera penyebab koma yang dialami seseorang.
Setelah lima menit, Barra hanya memegang tangan Romo, Romo pun langsung bereaksi dengan meneteskan air matanya meskipun dalam kondisi memejamkan mata. Barra mengusap air matanya Romo, ia tidak berani menjanjikan apa-apa karena dia sendiri ga tau apa yang sebenarnya dia inginkan dari hubungannya dengan Elsa.
Ketika Barra keluar dari ruangan ICU, ia berpas-pasan sama Elsa yang mau ke coffe shop, semakin cantik Elsa dengan jilbabnya. Elsa sepertinya sudah hijrah, tampak anggun dalam balutan gamis navy dan pashmina motif bunga-bunga warna baby blue. Keduanya malah terpaku didepan pintu ICU. Sejak bertemu Elsa tadi, mata Barra tak bisa lepas dari curi-curi pandang ke Elsa.
"Ca... bisa kita ngobrol berdua? ada hal yang belum selesai diantara kita" ajak Barra
"Ya.. kita ngobrol di coffe shop aja, sekalian memang mau kesana" jawab Elsa.
Mereka jalan beriringan tanpa kata, keluarga yang melihat hanya bisa menatap penuh harap.
.
Barra memesan kopi hitam dengan sedikit gula karena sudah merasa ngantuk. Elsa memesan coklat hangat.
"Jadi kita mau gimana Ca? denger kan tadi Ibu kamu ngomong apa" tembak Barra to the point.
"Kayanya kita memang udah ga bisa bersatu Mas. Mau sampai kapan kepastian itu datang? Mas ga pernah bisa menjawab kan?" tanya Elsa.
"By the way.. kamu ga jadi ngajar di Jakarta?" ucap Barra untuk mengalihkan pembicaraan.
"Saya tolak.. antara gaji dan biaya hidup itu ga balance, ya masa saya kerja rodi disana" kata Elsa.
"So.. artinya mengurus TK dan Paud milik keluarga?" tanya Barra lagi.
"Ga ada pilihan lain kan" ujar Elsa datar.
"Ca... sebelumnya Mas mau minta maaf sudah menghabiskan waktu kamu, menjalani hubungan tanpa status dan tanpa kepastian diujungnya. Mas sadari itu semua dan menerima semua keputusan kamu. Hubungan kita berakhir pun ga perlu pakai perdebatan siapa yang salah. Mas datang juga untuk meluruskan semuanya" kata Barra.
"Inilah Mas ..realita yang harus kita hadapi" ucap Elsa.
"Even though we can't be together until the end of our life, but i am happy that we made lovely memories (Meskipun kita gak bisa bersama sampai akhir hayat, tapi Mas senang karena kita udah banyak membuat kenangan indah). Makasih Ca, sudah menjadi tempat berbagi cerita, semoga kamu bisa mewujudkan mimpi membangun sekolah TK dan paud buat anak-anak yang kurang mampu. Walaupun kita sudah tidak punya impian untuk bersama, insyaAllah silaturahim diantara kita bisa terus terjaga" kata dokbar panjang lebar.
"Minggu depan ada lelaki yang akan membawa keluarganya ke rumah, mau datang melamar, rekan ketika kami sama-sama menjadi volunteer saat mengajar kemarin" buka Elsa.
Barra sudah tau berita ini dari Kakaknya Elsa, hal inilah yang membuat Romo langsung jatuh pingsan saat Elsa menyampaikan tentang lamaran.
"Alhamdulillah .. Mas ikut senang mendengarnya Ca, kamu punya pendamping yang sefrekuensi. Sama-sama suka pendidikan dan ingin membantu anak-anak yang kurang mampu" lanjut Barra.
Barra mencoba sekuat tenaga mengembangkan senyum manisnya. Hatinya sudah teriris saat Kakaknya Elsa memberi tahu, kali ini luka itu bak disiram cuka.. perih namun tak berdarah.
"Basic keluarganya banyak yang dari pesantren Mas, jadi ga ada istilah pacaran. Dia juga yang membuat Ca jadi berubah begini" puji Elsa.
"Alhamdulillah.. niatkan berubah karena Allah ya, jangan karena manusia. Ca.. Mas mau pamit dulu, sudah ada janji dengan teman masa kuliah, kebetulan mereka kerja di Yogyakarta, jadi Mas mau berangkat kesana. Besok pulang dari sana" jelas Barra.
"Hati-hati di jalan Mas, salam buat keluarga" ucap Elsa.
"InsyaAllah Mas sampaikan" kata Barra.
Barra menghabiskan kopinya dan membayar minuman. Kemudian ia bergegas pamit ke keluarga Elsa dan langsung menuju terminal bus.