
"Malam minggu kok sendirian.. keliatan banget jomblonya" canda dokbar ketika Bhree sudah memasang seat belt.
Bhree hanya tersenyum. Mobil kembali berjalan, baru sekitar tiga menit Bhree naik ke mobil, hujan turun dengan derasnya.
🌿INTERMEZZO🌿
Sampe sekarang masih belum dapat jawaban yang pas nih, kali aja para readers tau jawabannya. Apa sih bedanya hujan deras dan hujan lebat?
Udah nyari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti hujan lebat adalah hujan yang laju pengumpulan curah hujan didalam penakar mencapai lebih dari 40 mm per jam, menimbulkan suara gemuruh apabila jatuh di atas atap dan dapat disertai badai guntur. Arti lainnya dari hujan lebat adalah hujan deras. Lah kalo artinya sama kenapa ada dua istilah ya?🤔
Ada juga nemu dicuitan burung biru (eh sekarang X biru deh), katanya kalo deras menggambarkan intensitas, sedangkan lebat menjelaskan densitas.
Penasaran sama istilah ini dong, akhirnya googling, nemulah jawaban yang buat tambah mumet. Dari hasil scrolling, istilah intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan persatuan waktu. Intensitas hujan tergantung dari lama dan besarnya hujan. Semakin lama hujan berlangsung maka intensitasnya akan cenderung makin tinggi, begitu juga sebaliknya semakin pendek lamanya hujan maka semakin kecil juga intensitasnya.
Sedangkan densitas atau massa jenis merupakan pengukuran massa setiap satuan volume dengan satuan standar pengukuran tertentu.
Kesimpulannya apaan sih sebenarnya? otak ini masih belum bisa menalarkan pengertian diatas. Perasaan kan kalo novel masuknya sastra ya? kenapa jadi bahas fisika?
Ya Allah.. begini amat ya jadi author, milih istilah aja seribet ini. Tolong author ya Allah agar yang baca tidak tersesat informasi (sambil mengangkat tangan seperti berdo'a. Muka dimelas-melasin. Mulut komat-kamit membaca berulang-ulang pengertian diatas).
Biasanya kan istilah lebat tuh buat sesuatu yang tumbuh banyak, contoh buahnya lebat banget. Sedangkan deras identik sama sesuatu yang mengalir, contohnya aliran sungai yang deras.
Tolong readers jangan pada ketawa ngebayangin ekspresi author saat ini, ikutan mikir... urun pendapat gitu😆, jangan bengong bae.
⭐
"dokbar malah abis kencan masa jam delapan malam udah balik, masih sore atuh dok" gantian Bhree coba bercanda.
"Jam delapan masih sore? anak gaul banget kamu ya? emang malam versi kamu itu jam berapa? terus kalo wakuncar tuh enaknya pulang jam berapa? Nginep gitu?" tanya balik dokbar.
"Berchaandyaaa dokkkk.. beneran deh cuma ngeledek doang" buru-buru Bhree meralat ucapannya.
"Saya abis ada tindakan operasi di Cinta Medika, tadi mau pulang jam dua siang, baru juga di parkiran, udah ditelepon ada pasien kecelakaan dua orang" papar dokbar.
"Saya ga nanya dok, tadi cuma becanda aja" kata Bhree ga enak hati.
"Ini mau turun dimana? Tapi kalo masih ujan, turun depan rumah ya. Janji deh ga masuk ke rumah" ujar dokbar.
Bhree diam, baru teringat kalo HP nya belum diaktifkan. Buru-buru dia aktifkan karena belum bilang ke Pak Daliman kalo dia pisah sama rombongan.
"Mba... Ya ampun kemana aja sih Mba.. Pak Daliman dibawa ke Rumah Sakit, tadi udah ga sadarkan diri di kamarnya" lapor satpamnya Pak Daliman via sambungan telepon.
"Dibawa kemana?" tanya Bhree panik.
dokbar yang sedang menyetir langsung melihat kearah Bhree sambil mengurangi kecepatan mobilnya.
"Ya udah... saya kesana" kata Bhree sambil menutup sambungan telepon.
"Kenapa?" tanya dokbar.
"dok.. Nanti saya turun didepan aja, mau cari taksi buat ke Rumah Sakit" pinta Bhree.
Mobil melipir ke tepi jalan.
"Cerita pelan-pelan.. jangan panik" ucap dokbar.
"Mbah saya tadi ditemukan pingsan di kamar, sekarang ada di Rumah Sakit daerah Bintaro karena nyari ICU dapatnya disana" tutur Bhree.
"Saya antar kesana" jawab dokbar.
"Jangan dok, pasti dokbar cape. Saya bisa naik taksi dok" kata Bhree.
"Hujan.. terus kamu panik kaya gini, malah nanti saya kepikiran. Kamu coba tenangin diri, saya antar ya" putus dokbar yang langsung masuk ke tol agar bisa cepat sampai tujuan.
"Makasih banyak ya dok, nanti kalo bisa minggir, gantian saya yang bawa mobil aja. dokbar kan seharian ini melayani pasien" tawar Bhree.
"Tenangin dulu pikirannya, nyetir itu ga sekedar badan yang fit, tapi pikiran juga harus jernih. Di kursi belakang ada roti sama air mineral, dikasih sama pasien pas tadi mau jalan pulang. Tolong ambilin bisa? Lumayan buat ganjal perut" pinta dokbar.
dokbar menelepon Ibunya dan bilang tidak pulang malam ini, besok selepas visit pasien rawat inap baru langsung pulang ke rumah.
"dokbar mau ikut nginep di Rumah Sakit?" tanya Bhree.
"Ga mungkin saya balik malam ini kan? jadi ya lebih baik tidur disana dulu. Bisa di Musholla atau dimana gitu, orang kaya kita kan udah biasa tidur sambil duduk" ungkap dokbar.
"Sekali lagi makasih ya dok" ujar Bhree.
"Dari tadi cuma bilang makasih.. emang ga ada kalimat lain gitu?" ucap dokbar sambil tersenyum.
Rupanya Bhree lagi ga mood buat becanda, jadinya dia tidak menjawab perkataan dokbar.
"Bapak kamu itu detail banget ya kalo cerita. Ternyata benar.. kamu panikan dan banyak ga enaknya kalo menerima bantuan. Bhree.. Kita ini orang medis yang dituntut tetap tenang walau apapun terjadi. Perbaiki kedepannya, apalagi yang kamu hadapi kan bumil atau orang yang akan melahirkan, nanti adanya kamu lebih panik dibandingkan pasiennya" saran dokbar.
"Sebenarnya rasa ini timbul karena krisis pede dok. Mungkin dokbar tau bagaimana kisah saya kan? Hidup ditengah keluarga ga utuh pasti beda dengan hidup ditengah keluarga utuh. Ditambah dulu juga serba terbatas, memang belum sampai garis kekurangan karena Ibu memberikan yang sifatnya primer aja. Masih bagus saya bisa hidup sampai sekarang dok, masih mau memperbaiki nasib" ujar Bhree rada pesimis.
"Jadi ini Mbah dari pihak Bapak? Yang Bapak kamu cerita tentang harta atau bagian Bapak kamu yang akan jatuh ke tangan kamu?" terka dokbar.
"dokbar sampai udah baca sejauh itu? Saja aja belum sempat baca bagian yang dokter maksud" ucap Bhree agak takjub.
"Kan udah dibilang, sampe hapal titik komanya" jawab dokbar santai.
"Mbahnya sekarat malah pacaran" cerocos dokter Amalia.
"Duitnya mau, ngurusin ga mau" timpal Om Zaki.
"Mbah gimana kondisinya Om?" tanya Bhree mengacuhkan hinaan Om dan Tantenya.
"Semua pemeriksaan normal, tapi ga sadarkan diri juga sampai sekarang. Koma tadi kata dokternya" kata Om Zaki.
"Maaf Om.. apa tidak ada indikasi serangan jantung atau stroke? Kayanya agak mustahil orang dinyatakan koma tanpa sebab yang jelas. Apalagi sudah dilakukan pemeriksaan penunjang" ungkap dokbar menyela.
"Kamu itu siapa? Jangan sok pintar, saya ini dokter, jadi tau apa yang dialami oleh Papa saya. Sudah dikonsultasikan ke dokter syaraf juga kok tadi di IGD" ucap dokter Amalia yang ga suka dokbar ikut campur.
Mereka diminta untuk tenang oleh petugas keamanan, duduk di ruang tunggu khusus penunggu pasien ICU. dokbar duduk paling pojok, rasa ngantuk menyerang. Dia lebih memilih diam daripada menerangkan siapa dia sebenarnya.
Anak-anak Pak Daliman rupanya memilih pulang ke rumah, tinggal Bhree dan dokbar yang menunggu disana. Bhree juga sudah mulai ngantuk tapi dipaksakan untuk tetap melek. dokbar sudah lumayan bisa tidur dua jam, melihat Bhree duduk bersandar tembok dan memeluk kakinya, dokbar merasa kasian.
"Kedinginan?" tanya dokbar sambil melepaskan jaketnya dan diserahkan ke Bhree.
"Makasih dok" jawab Bhree lemes.
"Gantian kamu tidur.. Biar saya yang standby" usul dokbar.
Saat Bhree tertidur, perawat ICU memanggil keluarga Pak Daliman untuk masuk ke ruangan.
dokbar yang masuk karena kasian melihat Bhree baru saja terlelap.
"Loh dok Barra.. pasien ini siapanya?" tanya dokter anastesi yang baru visit selepas operasi.
"Kakeknya teman dok.." jawab dokbar singkat.
"Sudah tau kondisinya?" tanya dokter anastesi yang merupakan sejawat ketika melakukan operasi.
"Belum dok, saya baru datang, keluarga juga ga jelasin apa-apa" kata dokbar.
"Sudden cardiac arrest (henti jantung mendadak)" lapor dokter anastesi.
"Terakhir saya ketemu beliau, saya minta kontrol ke dokter karena batuknya mencurigakan" sahut dokbar.
"Tolong diperhatikan baik-baik, harus ada yang mendampinginya. Malah kalo bisa ya perawat khusus" saran dokter anastesi.
"Cucunya bidan dok, nanti saya bicarakan lebih lanjut ke dia" ujar dokbar.
"Oh jadi sekarang lagi dekat sama bidan? kirain sama perawat? Atau jangan-jangan ini calon kakeknya ya?" ledek dokter anastesi.
"Bisa aja nih dokter ngeledekin saya yang masih sendirian ini, mentang-mentang bulan depan udah jadi Bapak" sahut dokbar.
"Sekarang kondisinya koma terinduksi (koma sementara yang disebabkan oleh obat anestesi kuat. Koma yang diinduksi memungkinkan tubuh pasien pulih dan memungkinkan perawatan tertentu diberikan)" ungkap dokter anastesi.
"Makasih dok.. Saya rasa penjelasannya cukup, akan dibicarakan dulu dengan keluarga, tapi jika ada tindakan yang bersifat gawat darurat silahkan saja" pinta dokbar.
"dok.. saya minta tanda tangan bahwa dokter yang merawat sudah memberikan informasi kepada pihak keluarga" ujar perawat ICU.
dokbar membubuhkan tanda tangan dan namanya disana.
Saat dokbar balik ke ruang tunggu, ternyata Bhree sudah bangun. Sebelumnya dokbar sempat kedepan Rumah Sakit mencari minuman hangat, untung dia selalu membawa tumbler air panas, jadi bisa diisi dan dibawakan untuk Bhree.
"Minum dulu nih, ada teh manis hangat. Roti-roti dan air mineral juga saya bawain dari mobil. Kita makan dulu yang ada, besok baru cari sarapan" papar dokbar.
Bhree mengambil tumbler dan meminum pakai tutupnya. Dia mengambil roti isi keju kemudian dimakan perlahan. dokbar juga mengambil roti abon sambil menyeruput kopi susu dalam gelas plastik.
"Jadi merepotkan dokbar ya" kata Bhree datar.
"Ga juga" jawab dokbar.
"Tadi abis dari mana dok?" tanya Bhree.
dokbar menceritakan semua penjelasan dari dokter anastesi.
"Mbah sekarang dalam perawatan dokter jantung pembuluh, anastesi dan syaraf. Kalo bisa Om dan Tante kamu datang, saya mau kasih penjelasan" harap dokbar.
"Sulit dok.. Mereka ga suka sama saya. Mana mau dengerin permintaan saya buat datang pagi-pagi" jawab Bhree.
"Pasien yang sekarang ada di ICU itu orang tuanya, mau suka atau ga suka sama kamu.. Itu ga ada sambungannya sama sekali. Emang ga khawatir sama orang tua?" kata dokbar gemes.
"Panjang dok ceritanya.. Mungkin Bapak belum sempat cerita dalam suratnya, jadi dokbar ga tau kondisi keluarga seperti apa" ujar Bhree pelan.
dokbar menuangkan teh hangat ketutup tumbler, kemudian menyerahkan ke Bhree.
"Mulai sekarang.. kamu bisa andelin saya.. kamu ga sendirian Bhree" ucap dokbar sangat manis.
Bhree menatap dokbar sangat dekat jaraknya.
"Baiknya kamu resign dan mengurus Mbah, beliau lebih butuh kamu dibandingkan pasien di Rumah Sakit. Bhree... semoga kamu masih sempat membaca cerita Bapak sebelum sesuatu terjadi sama Pak Daliman" lanjut dokbar setengah berbisik.
Bhree kembali menatap dokbar.
"Kenapa dia baik banget, sama kaya Bang Tama baiknya. Terasa tulus dan hangat perhatiannya" ucap Bhree dalam hatinya.