HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 88, Bertemu



Jam tujuh malam, dokbar baru selesai praktek, rencananya mau menginap di rumah Profesor Andjar karena besok pagi akan berangkat bareng kesebuah seminar orthopedi di Jakarta Utara. Dia sudah memberitahukan ke orang tuanya kalo ga akan pulang ke rumah selama tiga hari kedepan (jadwal seminar tiga hari).


Saat melintas didepan IGD, matanya langsung tertuju pada keluarga yang sedang duduk di bangku, agak terkejut tapi dicobanya tetap tenang. Dengan langkah pasti, dokbar menghampiri keluarga tersebut.


"Assalamualaikum..." sapa dokbar sambil mencium tangan kedua orang tua tersebut.


"Waalaikumsalam... Ya Allah nak Barraa..." ucap Ibunya Elsa sambil memegang tangannya dokbar.


"Elsa kecelakaan..." lapor Romonya Elsa.


"Tenang dulu ya ... dia ada didalam (IGD)?" tanya dokbar.


"Iya..." jawab Romo.


dokbar duduk disebelahnya Romo sambil berbincang. HP nya dokbar berbunyi, ada telepon dari Rumah Sakit ini.


"Assalamualaikum dok? Posisi masih disini ga? Tadi tanya poli katanya udah balik" tanya perawat.


"Waalaikumsalam, masih didepan IGD, baru mau jalan pulang" jawab dokbar.


"Kebetulan dok.. tolong masuk ke IGD, ada korban kecelakaan, fraktur (patah) dok" pinta perawat.


Sambungan telepon berakhir.


"Romo.. Saya mau masuk dulu ke IGD, ada panggilan" pamit dokbar yang bersiap kembali memakai snellinya.


dokbar masuk kedalam IGD menuju meja dokter jaga IGD, kemudian diberikan rekam medis pasien.


"Rontgennya mana?" tanya dokbar.


"Ini dok" tunjuk dokter jaga IGD.


dokbar memperhatikan foto tersebut dan melihat hasil laboratorium.


"Udah bilang ke keluarganya?" tanya dokbar.


"Belum dok" jawab dokter jaga IGD.


"Saya mau cek pasiennya" kata dokbar.


dokbar diantar oleh perawat menuju bilik periksa. Menyiapkan hatinya untuk kembali bertemu sama Elsa setelah beberapa tahun terpisah. Tirai dibuka oleh perawat. Didekat bed ada Mas Wisnu dan Tama tengah menunggu Elsa. Orang tuanya ga sanggup mendampingi karena melihat kondisinya Elsa. Elsa sedang dibersihkan lukanya oleh dua orang perawat. Kondisinya masih sadar tapi banyak mengerang kesakitan.


"Mas Wisnu ya?" tanya dokbar.


"Iya dok.. " jawab Mas Wisnu.


dokbar memeriksa Elsa.


"Malam Nona Elsa.. saya dokter Barra, akan memeriksa kondisi kakinya dulu ya" ucap dokbar.


Elsa terpana melihat sosok dokter yang berdiri dihadapannya. dokbar sangat serius melihat kondisi kakinya Elsa. Dipegang pelan oleh dokbar.


"Terasa sakit?" tanya dokbar.


"Iya... banget dok" jawab Elsa pelan.


"Keluarganya bisa ikut saya dulu?" tanya dokbar.


Mas Wisnu mengikuti langkah dokbar, Tama keluar untuk memanggil orang tuanya Elsa.


Kini dokbar duduk berhadapan dengan Romo dan Mas Wisnu.


"Selamat malam, saya dokter Barra, spesialis ortopedi. Saya diminta oleh pihak IGD memeriksa pasien atas nama Nona Elsa" dokbar memperkenalkan dirinya sesuai prosedur.


Romo dan Mas Wisnu hanya manggut-manggut.


"Ini hasil rontgennya.." kata dokbar sambil memperlihatkan foto rontgen.


Mas Wisnu dan Romo terdiam.


"Patah tulang harus segera kita tangani karena dapat menimbulkan gangguan pada sistem gerak bagi penderitanya. Untuk tindakannya yaitu pemasangan pen di area tulang melalui prosedur operasi" jelas dokbar.


"Harus pasang pen ya dok?" tanya Romo.


"Benar Pak, fungsi pen untuk memastikan tulang yang patah berada diposisi struktur tulang yang tepat, karena nanti tulang tersebut akan tumbuh dan menyambung kembali" papar dokbar.


"Ya dok lakukan aja" jawab Mas Wisnu.


"Apa saja persiapan sebelum melakukan operasi?" tanya Romo.


"Pasien akan dipuasakan selama enam jam, kami juga akan menanyakan apakah ada obat-obatan yang sedang dikonsumsi rutin? Ini sedang dipakaikan stoking kompresi namanya untuk membantu mencegah pembekuan darah di pembuluh darah kaki. Sudah diberikan juga suntikan obat anti pembekuan darah. Nanti akan ada tes reaksi alergi dulu terhadap antibiotik. Sekitar jam tujuh pagi akan dimulai tindakan jika semua dokter sudah lengkap datang. Tidak bisa dipastikan berapa lama waktu operasinya, perkiraan sekitar tiga jam dan saya akan bertindak sebagai dokter operator" papar dokbar.


"Ini kan kami masih belum paham, prosedur singkat operasinya kaya gimana ya?" tanya Romo yang penasaran sekaligus khawatir dengan kondisi putrinya.


"Akan dibius total, jadi akan tertidur selama prosedur operasi berjalan. Terus dibuat sayatan di area kulit tepat diatas lokasi tulang yang patah. Kemudian akan menempatkan patahan-patahan tulang ke posisi yang tepat. Dipatahan-patahan tersebut akan dipasang pen untuk menahan bagian yang patah" papar dokbar singkat.


"Setelah pen terpasang, apa akan pakai gips atau apa gitu dok?" tanya Mas Wisnu.


"Ya, agar menjamin posisi tulang tetap stabil" jawab dokbar.


"Lamanya rawat inap tergantung pada kondisi masing-masing pasien. Proses pemulihan pasca operasi patah tulang juga berbeda pada setiap pasien. Perkiraan untuk kasus ini sekitar tiga atau empat bulan kedepan baru bisa kembali beraktivitas normal, dengan dibantu fisioterapi ya pasca operasi" kata dokbar.


Mas Wisnu langsung mengurus semua administrasi di Rumah Sakit Cinta Medika, karena dia salah satu pemilik, nanti tagihan akan dikurangi keuntungan untuk pemilik. Hal ini dilakukan sebagai wujud tanggung jawab Mas Wisnu yang sudah menabrak Elsa.


Dokbar menghubungi Profesor Andjar, memberitahukan jika dia tidak bisa ikut ke acara karena ada operasi yang harus dilakukan secepatnya. Setelah operasi baru dia menyusul. Jadwal poli memang sudah diliburkan untuk dua hari kedepan, tapi pasien yang masih dirawat inap masih akan di visit.


Orang tua Elsa sedang mendampingi Elsa didalam IGD, terjadi adu mulut di area samping IGD antara Mas Wisnu dan Tama


"Begini Tama, Mas yang menabrak dan sudah mengakui semuanya ke keluarga Elsa dan menerima ajakan damai dengan menanggung sepenuhnya pengobatan Elsa. Jadi ga ada masalah dong" kata Mas Wisnu agak ngotot.


"Lagian Mas kenapa ga kelihatan orang mau nyebrang?" sesal Tama.


"Mas akui dalam kondisi kurang fit karena habis cedera jadi refleks ga bagus, ditambah ngantuk abis ngedit" ucap Mas Wisnu.


"Emang ga ada orang yang bisa gantiin nyupir?" oceh Tama.


"Udahlah Tama.. Mas kan tanggung jawab semuanya" ujar Mas Wisnu.


"Uang ga bisa bikin kondisi seperti semula Mas" sahut Tama


"Ya.. Tapi ini jalan ikhtiar kita untuk kesembuhan Elsa. Kamu marah sebagai seorang atasan atau ada perasaannya lain terhadap Elsa? Kok semarah ini? Keluarganya aja legowo menerima ini sebagai musibah" tembak Mas Wisnu.


Tama tiba-tiba emosi, dia langsung meremas bajunya Mas Wisnu , dokbar segera melerai.


"Mungkin Mas bisa menanggung biaya medis yang timbul, lagipula ini Rumah Sakit milik keluarga Mas kan? tapi apa bisa menanggung hidupnya kalo dia terpaksa berhenti kerja karena ga bisa jalan? Dia cari duit sendiri buat bertahan hidup di Jakarta daripada disuruh balik ke Solo" ucap Tama yang masih ngotot meskipun dilerai oleh dokbar.


dokbar agak kaget mendengar ucapan Tama tentang Elsa. Mas Wisnu kembali ke IGD.


"Mas... Elsa lagi kesulitan ekonomi?" tanya dokbar.


Tama memperhatikan dokbar.


"dokter Barra ya? Mantan kekasihnya Mba Elsa?" tembak Tama tanpa tedeng aling-aling.


dokbar diam.


Keduanya duduk di bangku yang ada dibelakangnya ambulans.


"Mba Elsa kerja di tempat saya, karena membiayai hidupnya sendiri. Memang orang tuanya dari keluarga berada, tapi dia sudah memutuskan hidup mandiri, ga mau ngerepotin orang tua. Dengan gaji yang kecil, dia banyak mengubah pola hidup yang dulu pernah dia nikmati" ungkap Tama.


dokbar masih mendengarkan ceritanya Tama.


"dok.. Mba Elsa masih sayang sama dokter, tapi dia malu berhadapan langsung. Katanya udah banyak melakukan kesalahan ke dokter. Saya ga ada apa-apa sama dia, just friend.. bukan saya mau ikut campur, mungkin ini jalan buat Mba Elsa dan dokter kembali bersatu" papar Tama gamblang.


dokbar tersenyum mendengarkan perkataan Tama.


"Mba Elsa pernah kecewa dengan Kakak saya, mungkin ini yang membuatnya trauma berhubungan dengan laki-laki" lanjut Tama


"Kisah kami sudah usai sejak lama. Ada novel yang dibuat jilid kedua, tapi ga dengan novel saya dan dia .. sudah tuntas kisah saya dan dia ditamatkan meskipun ga happy ending" jawab dokbar sambil pergi meninggalkan Tama.


dokbar kembali menghubungi Profesor Andjar.


"Gapapa.. Sebagai dokter ya tugasnya menangani pasien, seminar seperti ini kan hanya untuk mendapatkan ilmu tambahan saja, kamu bisa nyusul" kata Profesor Andjar.


"Prof.. Selama masih aktif jadi operator operasi, pernah ga menangani keluarga atau orang terdekat?" tanya dokbar.


"Pernah.. Sebagai seorang dokter, jalankan kewajiban sebagaimana mestinya. Jangan takut memegang pisau, kamu bukan melukainya, tapi memberikan bantuan agar pasien bisa sembuh seperti sedia kala. Tempatkan hati dan pikiran sebatas dokter dan pasien" jawab Profesor Andjar yang seakan mengerti maksud pertanyaan dokbar.


.


Dokbar beristirahat di kamar dokter yang ada disamping OK. Cukup nyenyak tidurnya hingga sepuluh menit sebelum adzan subuh dia sudah bangun dan langsung mandi. Begitu keluar kamar hendak sholat di Musholla Rumah Sakit, ada perawat menghampiri.


"dok.. Jadwal operasi Nona Elsa dimajuin ya jadi jam enam" ucap perawat OK.


"Bukannya jam tujuh ya?" tanya dokbar.


"dokter anastesi sudah periksa dan katanya kondisi udah kurang bagus, jadi lebih baik dimajukan satu jam" jawab perawat OK.


Akhirnya dokbar sholat di kamar dokter kemudian sarapan roti dan susu, makanan yang disiapkan pihak pantry subuh ini.


Setelah makan dia mandi kembali agar lebih steril kemudian bersiap masuk ke ruang OK dan mempersiapkan segalanya.


dokbar melihat tubuh Elsa sudah berbaring di meja operasi. Masih sadar dan berbincang dengan dokter anastesi.


"Pagi semua.. Saya dokter Barra akan memimpin jalannya operasi kali ini. Mari semua kita berdo'a untuk kelancaran proses operasi yang akan kita lakukan. Pasien bisa ikut berdo'a bersama setelah itu bisa mulai dibius" ucap dokbar.


Semua berdo'a, Elsa masih melihat sosok Barra yang amat dikenalnya, banyak yang berubah sekarang. Tubuhnya lebih berisi, wajahnya makin terlihat dewasa, cara bicaranya sudah tidak semanis dulu karena sekarang lebih tegas. Tapi tatapan matanya masih mampu meneduhkan.


"Mas.. Rasanya kalo ada pilihan lain, lebih baik kita ga pernah ketemu lagi. Udah ga tau harus menyembunyikan muka kemana saat kita berhadapan. Sosok yang dulu pernah sepenuh hati saya cintai tapi berujung saya khianati. Sosok yang pernah meminta kesempatan kedua namun saya tolak karena rasa malu" kata Elsa dalam hatinya.


Ada bulir kesedihan menetes dipipinya. dokbar melihat wajah sedihnya Elsa. dokter anastesi tengah bersiap menyuntikkan obat bius.


"Jangan sedih.. Saya akan berusaha mengerahkan segenap ilmu dan pengalaman yang saya punya untuk operasi kali ini" kata dokbar mendekati Elsa.


dokbar tidak menyentuh pipinya Elsa untuk menghapus air mata karena sudah pakai sarung tangan steril.


Tentu saja dokter anastesi bingung, selama ini dokbar tidak pernah berbincang dengan pasien setelah dalam ruangan operasi.