
Tujuh bulan kemudian, Bhree sudah menjalani tes masuk kebidanan. Dia mencoba lima tempat agar peluang diterimanya besar. Hari ini pengumuman penerimaan satu persatu Bhree terima.
"Jadi mau ambil yang mana? Kan ada dua kampus tuh kamu lulus" tanya Tante Debi.
"Kayanya yang di Poltekkes Surakarta aja. Ada asramanya" jawab Bhree.
"Good choice.. Tante harap kamu jauh-jauh dari keluarga kami. Pintar-pintar kamu menghindar dari kami semua" kata Tante Debi.
"Saya cukup paham Tante.. Kita sudah lebih dari setengah tahun serumah, selama itu pula Tante ga bisa menerima kehadiran saya. Cukup biayai semua kebutuhan selama kuliah hingga lulus, setelahnya saya ga akan menuntut lebih dari itu. Saya sudah menandatangani kan surat perjanjian yang Tante kasih" ucap Bhree yang sudah diambang batas kesabarannya.
"Bapak pembangkang.. Anak pun ga beda jauh. Jangan kegatelan sama lelaki, masuk kuliah mahal, jangan malah nanti kawin lari kaya Ibumu" lanjut Tante Debi.
🌿
Dokter Raz sudah tiga bulan kembali bersama anak-anaknya, oleh karena itu kedua orang tuanya memilih kembali ke rumah pusaka yang ada di Surakarta.
Hubungan dengan Hana memang belum banyak perkembangan, antara dokter Raz dan Hana pun sepertinya belum yakin untuk melangkah kejenjang pernikahan. Dokter Raz masih sangat sibuk dengan profesinya, apalagi dia tengah membuka Klinik dokter bersama, sebelumnya sudah punya Klinik dokter umum dan gigi. Waktunya sudah tersita banyak mengurus perijinan dan jadwal praktek.
"Ummi terserah sama kalian berdua Raz .. Udah ga bisa komen apa-apa. Dulu kamu ngubernya kaya apa, begitu Hana mulai membuka hati malah kamu yang mundur pelan-pelan. Jangan gantung orang Raz.. Putuskan mau atau ngga" kata Ummi pasrah.
"Raz janji Mi .. akan menyelesaikan baik-baik sama Hana. Ummi bantu do'a aja. Kami sekarang ditahap mencoba melawan ketakutan gagal dalam diri kami masing-masing. Raz juga masih sibuk kerjaan Mi" papar dokter Raz.
"Kerjaan kamu ga akan ada selesainya Raz, kamu kan dokter. Kecuali kamu sudah ga mau buka praktek lagi, itu baru punya waktu" oceh Ummi.
🌿
Sebenarnya Bhree ga terlalu niat masuk kuliah bidang kesehatan. Tapi situasi dan kondisi yang membuat Bhree berada dititik sekarang ini. Pertama memang atas desakan Pak Daliman, tapi setelah dia pikir ulang, ini adalah jalan terbaik yang harus dia jalani. Bhree sudah menandatangani kalo dia akan pergi dari keluarga Pak Daliman setelah lulus kuliah serta tidak menuntut harta Pak Daliman. Orang yang diminta untuk mengawasi Bhree sudah dipecat oleh Tante Debi, jadinya Pak Daliman tidak bisa mendapatkan informasi tentang Bhree kecuali dari anaknya. Kesibukan beliau juga yang membuat percaya terhadap apapun yang anaknya katakan.
Bhree sempat ngobrol sama bidan yang dekat sama tempat tinggalnya.
"Mempunyai profesi dibidang kesehatan, tidak akan dimakan usia, long lasting. Sekalipun nanti sudah menikah dan mempunyai anak, menjadi bidan tetap bisa dijalani selagi mampu. Pilihan yang aman untuk kita para wanita Bhree" saran Bu bidan.
Belakangan ini banyak yang berlomba-lomba menjadi dokter, perawat, farmasis/apoteker bahkan analis laboratorium. Profesi bidan jumlahnya tidak sebanyak dulu. Selain aturan yang membuat banyak bidan harus kembali kuliah untuk mengambil profesi atau penyetaraan guna bisa membuka praktek sendiri, padahal usia mereka sudah diatas kepala empat menjelang kepala lima, sudah susah kalo diminta belajar dan bikin tugas lagi. Kebijakan BPJS yang membuat pasien bisa melahirkan di Rumah Sakit yang ditangani oleh dokter spesialis, membuat bidan jadi makin sepi pasiennya. Termasuk banyaknya operasi sectio caesaria yang menjadi opsi ketika melahirkan, makin menambah tingkat ibu melahirkan di bidan jadi menurun.
.
Poltekkes disini mewajibkan para mahasiswinya untuk tinggal di asrama. Keluarga Pak Daliman sudah membayar biaya kuliah selama setahun pertama termasuk biaya asrama. Untuk makan dan lainnya tidak disediakan. Para mahasiswi bisa membeli di kantin kampus atau warung yang ada disekitar kampus.
Satu kamar berisi dua mahasiswi, Bhree sekamar dengan Luna, anak Jakarta yang kuliah di daerah karena habis putus cinta.
Semester satu masih bisa dikatakan zona perkenalan dan beradaptasi. Biasanya diawal-awal, rasa ingin tau para mahasiswi tentang kesehatan sangat tinggi, belajar masih giat dan tugas semua dikumpulkan on time, belum banyak membaur satu dengan lainnya. Nanti kalo masuk semester dua, mahasiswi kebidanan mulai mengerti tentang kebidanan. Terasa sedikit ada beban saat mulai praktek dan menulis asuhan kebidanan dengan format yang baku. Semester dua mulai diperbantukan di Rumah Sakit dinas, biasanya diminta untuk melakukan pengecekkan tensi, suhu dan berat badan pasien.
⭐
Barra posisinya di kampus termasuk junior yang tidak disenangi oleh para seniornya, banyak protes dan berani melawan adalah sebutan buat Barra. Mungkin kalo tidak ditahan-tahan oleh Profesor Andjar, rasanya dia sudah mau hengkang dari PPDS. Ada kalanya Barra ga bisa berkutik juga karena ada tugas kuliahnya yang berkaitan dengan senior. Gaji sebulan di Rumah Sakit habis buat beliin makan beberapa seniornya. Akibatnya dia menjual motor miliknya, selain untuk biaya "siluman", adiknya juga butuh untuk sekolah. Bapaknya Barra menawarkan untuk memakai motornya saja agar Barra bisa mobilitas dengan cepat, tapi Barra menolak karena motor tersebut untuk antar jemput adik-adiknya dari sekolah. Biasanya Barra akan diantar ke stasiun oleh Bapaknya kemudian melanjutkan perjalanan naik commuter line.
Gosipnya tengah menjalin asmara dengan Arni pun semakin kencang. Keduanya memang kerap bertemu di pagi hari. Biasanya Barra selesai dinas dan Arni baru akan berdinas. Arni memang sering meminta pendapat dari Barra mengenai pekerjaannya. Padahal usia keduanya lebih tua Arni tiga tahun, tapi ga banyak yang tau hal itu.
Arni memang tidak punya keinginan untuk segera menikah, dia tengah mengejar kariernya bahkan sebentar lagi akan melanjutkan kuliah jenjang S1 keperawatan. Kebetulan nanti di kampus yang sama dengan kampus tempat Barra mengambil PPDS.
.
Bisa tidur di kasur sambil mendengarkan musik di laptopnya adalah hal termewah yang sudah jarang dirasakan setahun belakangan ini. Bahkan kasur ini hanya dia tiduri seminggu sekali.
Saat akan mengambil buku kuliah, map milik Pak Dasuki terjatuh, isinya berceceran. Barra memunguti satu persatu isinya. Dia duduk ditepi ranjang.
Dilihatnya foto-foto yang ada. Anak perempuan tengah bermain di taman dengan senyumnya yang menawan. Ada pula foto anak itu berseragam sekolah dari TK hingga SMA. Barra tersenyum melihat foto tersebut karena terlihat sekali sudah ada penggunaan skincare ketika menjelang remaja.
Senyumnya terhenti saat melihat foto Bu Diah bersama anak SMA. Kemudian ada foto anak ini bersama Pak Dasuki. Dibelakang foto, Pak Dasuki menuliskan kenangan yang ada.
"Jadi Pak Dasuki itu suaminya Kak Diah. Wanita ini yang waktu itu ada di kamar jenazah saat bersihin wajah Kak Diah... dunia sempit sekali .. Apa Pak Handoko tau dimana keberadaan anaknya Kak Diah ya? Mereka kan punya hubungan, pasti Pak Handoko kenal juga sama anaknya Kak Diah" pikir Barra.
Tergelitik pikirannya untuk melihat isi flashdisk yang ada didalam map tersebut. Barra segera menyolokkan flashdisk tersebut ke laptop. Isinya kebanyakan video. Belum dibuka, hanya dilihat-lihat filenya. Sangat rapih Pak Dasuki menulis judul file dengan keterangan dan tanggal.
"Shabreena Narasati Aulia.. Nama yang bagus.. kenapa dipanggil Bhree ya? Mungkin karena ga ada feminimnya kali, kaya cowo panggilannya" duga Barra.
.
Sejak hari itu, jika Barra ada waktu senggang, dia akan membuka video-video yang ada didalam flashdisk tersebut. Bagai candu, ada efek nagih melihat video dan foto candidnya Bhree.
Dalam waktu dua bulan, Barra sudah bisa menyimpulkan jika Pak Dasuki tidak bisa langsung berhadapan dengan Bhree karena ketidakmampuan secara ekonomi untuk berdiri didepan Bhree. Sifat Kak Diah yang keras dan sering menghina, membuat Pak Dasuki memilih melihat Bhree secara diam-diam.
"Masih belum bisa cari informasi dari Pak Handoko, beliau sudah tidak ke Rumah Sakit lagi sejak kejadian setahun yang lalu. Apa HRD masih menyimpan datanya Kak Diah ya? Boleh diminta ga sih data kaya gitu?" tanya Barra.
.
Ketika ada waktu untuk bertemu dengan HRD, Barra menceritakan tujuannya untuk mengetahui alamat terakhir Kak Diah.
"Maaf ya dok, mungkin kalo sekedar alamat, kami bisa berikan. Tapi yang aneh, kami pihak HRD baru tau kalo ternyata tidak ada data Bu Diah di Rumah Sakit ini. Belum bisa disimpulkan apa karena terselip atau memang ada yang ambil" kata HRD.
"Data karyawan bukannya sudah terekam secara komputerisasi Pak?" tanya dokbar.
"Itu dia dok yang kami juga bingung saat akan mengurus jamsostek beliau. Datanya benar-benar hilang semua, baik manual maupun yang disistem" cerita HRD.
"Baik.. terima kasih atas informasinya, kalo ada yang tau keberadaan anaknya Kak Diah, saya minta diinformasikan, ada amanah yang harus sampai di tangannya" lanjut Barra.
🌿
Perkuliahan memang sampai Jum'at, tapi Sabtu pagi para mahasiswi diajak ikut mengunjungi pasien Ibu melahirkan dan yang bermasalah saat kehamilan. Nanti jam sebelas siang mereka bebas. Boleh keluar asrama selambatnya besok malam sudah masuk asrama kembali. Bagi yang rumahnya tidak jauh, biasanya akan pulang ke rumah. Ada juga yang mengunjungi keluarga lainnya. Bhree dan Luna biasanya menghabiskan malam minggu di pasar malam atau di alun-alun.
Bhree bisa dibilang berkecukupan, uang yang dikirim Pak Daliman ke rekeningnya jumlahnya lebih dari cukup. Luna pun sama, si anak Betawi ini Bapaknya juragan kontrakan, katanya punya empat puluh pintu kontrakan rumah dan lima Ruko.
"Bhree.. Bokap gw mau ngirim motor nih, jadi kita bisa jalan-jalan agak jauhan kalo libur" ucap Luna hepi.
"Udah ga kepikiran jalan-jalan jauh .. Tugas dah mulai numpuk. Apalagi kalo abis praktek, tangan rasanya mau copot karena nulis puluhan lembar asuhan kebidanan" oceh Bhree.
"Ini nih.. Yang bikin kita jadi jomblo terus.. lembar asuhan kebidanan ..." keluh Luna.