
Dasuki menjalani pemeriksaan awal di Rumah Sakit untuk dinilai apakah layak mendonorkan ginjalnya atau tidak.
"Sebagai langkah awal akan dilakukan pemeriksaan golongan darah untuk memastikan kesamaan golongan darah antara pendonor dan penerima. Setelah itu crossmatch, yaitu mencampurkan sampel darah pendonor dan penerima untuk melihat reaksi kecocokan darah agar tidak ada antibodi yang dapat menyebabkan kegagalan pada transplantasi ginjal" buka dokter.
"Baik dok" jawab Dasuki yang tidak memikirkan tahapannya karena dia melakukan hal ini untuk anaknya.
"Lanjut HLA typing untuk melihat kecocokan penanda genetik tertentu antara pendonor dan penerima. Ada juga pemeriksaan darah lainnya, seperti fungsi organ dan pemeriksaan serologis. Lanjut ke pemeriksaan urin, rontgen dada, pemeriksaan ginjal, EKG dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh" papar dokter.
"Iya dok" jawab Dasuki lagi.
"Perlu juga saya jelaskan tentang resikonya ya Pak. Jadi sebagai bahan pertimbangan jika mau mundur masih ada waktu. Setelah proses operasi berjalan, pasca tindakan tersebut bisa saja timbul infeksi, kegagalan operasi, pendarahan. Ada juga jangka panjangnya seperti kemungkinan terjadinya hipertensi, gagal ginjal, infeksi, perdarahan bahkan kematian. Meski demikian, pendonor tidak perlu khawatir karena orang yang mendonorkan ginjalnya dapat hidup sama seperti orang yang memiliki dua ginjal" jelas dokter.
Dasuki sudah pasrah, semua berkas telah ia tandatangani, karena prosedur tindakan ini meminta keterangan bahwa tidak ada transaksi jual beli ginjal didalamnya. Pihak keluarga sudah tau sama tau, jadi sama-sama menandatangani surat persetujuan tersebut.
.
Setelah dari Rumah Sakit, Dasuki janjian sama Bhree disebuah taman. Beliau tidak bercerita tentang donor ginjal karena memang pihak keluarga Dasuki minta dirahasiakan.
"Bhree .. udah tau mau kuliah dimana? ga bisa tahun ini kan? semua kampus baik negeri maupun swasta sudah mulai perkuliahan" tanya Pak Dasuki.
"Gap year memang Pak.. sekarang kan Bhree lagi menikmati dunia kerja, semoga ada rejekinya buat daftar kuliah tahun depan" jawab Bhree.
"Kalo Bapak punya rejeki buat kuliahin kamu, tapi ambil jurusan lain mau?" tanya Pak Dasuki hati-hati.
"Bapak mau kaya Ibu? memaksakan sesuatu yang Bhree ga mau?" ucap Bhree.
"Bhree... setiap jurusan kuliah pasti ada tujuan pada akhirnya. Semua jurusan bagus, mau itu jurusan medis, non medis, ekonomi, politik dan budaya. Tapi kita juga harus melihat jangka panjang dan kesempatannya. Jadi fotografer profesional memang dambaan setiap orang yang cinta dunia itu, tapi di Indonesia belum bisa dijadikan pegangan profesi. Hanya kalangan atas berduit yang memakai jasa fotografer. Kalangan menengah aja bisa jadi hanya pakai jasa fotografer yang standar, bukan fotografer yang punya banyak sertifikat baik dalam maupun luar negeri. Bahkan sekarang tukang fotokopi aja bisa edit-edit foto. Bapak sudah pernah menapaki dunia itu Bhree ... liat sekarang.. boro-boro jadi fotografer, yang ada jadi tukang kebun" ucap Pak Dasuki penuh penekanan.
"Kalo ada orang tua atau keluarga yang gagal, bukan berarti Bhree juga akan gagal kan Pak?" ujar Bhree.
"Bhree.. kadang kita harus menurunkan ego kita. Buka mata ... tujuan hidup pada akhirnya semua berujung pada uang. Memangnya kalo jadi fotografer, kamu sekedar nyari kepuasan? beli kamera, ikut kursus atau mencari klien itu semua pakai uang Bhree. Jadi baiknya kamu pikir-pikir lagi. Sejujurnya Bapak ada penawaran beasiswa full untuk kamu kuliah, tapi ambil kebidanan" papar Pak Dasuki.
"Jadi bidan? jadi perawat aja Bhree ga mau Pak" jawab Bhree.
"Yang kasih biaya kuliah ini hanya meminta kamu bergabung di Klinik yang mereka punya nantinya. Klinik ini baru ada dokter umum, tahun ini akan ada praktek bidan. Penawaran ini jarang kan Bhree.. dikuliahin, terus langsung kerja lagi" kata Pak Dasuki.
"Tapi Pak.. apa bedanya sama kemauan Ibu yang juga siap menanggung biaya kuliah keperawatan plus nanti dicariin kerja di Rumah Sakit tempat Ibu kerja" ujar Bhree.
"Paling ga.. ini uang halal ..." jawab Pak Dasuki.
"Bapak tau sepak terjangnya Ibu?" tanya Bhree.
"Sudahlah Bhree... kita berdua pernah menikmati uang halal dan haram dari Diah kan? kita ga usah perdebatkan lagi. Tapi Bapak harap kamu pikir ulang tawaran kuliah di kebidanan" kata Pak Dasuki.
⬅️
"Kuliah boleh.. tapi bidang medis. Adik dan ipar kamu sudah ada yang dokter dan apoteker, kita kurang bidan saja untuk melengkapi bisnis yang sudah ada. Papa ingin anak kamu jadi bidan, kedepannya Apotek dan Klinik akan ditambah dengan praktek bidan. Tujuannya agar Klinik bisa berkembang menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak. Papa sudah ada lahan dibelakang Klinik, tapi menjadi RSIA butuh ijin dan persyaratan yang lumayan banyak. Sambil persiapan kearah sana, kita ramaikan dulu dengan menerima pasien melahirkan dan kerjasama dengan Rumah Sakit" papar Pak Daliman.
"Mimpi Bhree bukan disana Pa" jawab Dasuki.
"Mau jadi sampah kaya kamu?" tembak Pak Daliman.
"Pa.. " ucap Dasuki.
"Jadi bidan atau ga perlu kuliah. Jadi orang tua itu harus bisa mengarahkan anak, mereka ga tau kedepannya dunia seperti apa. Liat Papa.. anak-anak yang ikut perkataan Papa semua jadi orang" dengan angkuhnya Pak Daliman berkata.
"Pa.. kita ga tau masa depan seseorang itu seperti apa. Siapa tau Bhree bisa berhasil dibanding orang tuanya" kata Dasuki.
"Masa depan memang ga bisa kita ketahui, tapi bisa kita rencanakan" ujar Pak Daliman ngotot.
"Nanti coba ngomong dulu sama Bhree, kalo dia setuju, ya monggo. Tapi kalo dia ga mau, saya minta sejumlah uang untuk Bhree kuliah, kan saya sudah setuju akan memberikan satu ginjal" tukas Dasuki.
➡️
Setelah bertemu Bapaknya, Bhree pulang ke kontrakan, dia sudah resmi pindah ke kontrakan, dia tinggal disana bareng Mba Uli. Rumah itu setengahnya dibayarkan sewanya oleh Tama karena yang lelaki tinggal di Ruko.
"Bhree .. dicariin Bang Tama, sampe datang kesini dua kali" lapor Mba Uli.
"Ada apa ya Mba? kan hari ini jadwal libur" tanya Bhree.
"Ga tau.. padahal kan ada nomer Lo ya.. kenapa dia ga hubungin sendiri aja sih. Dari mukanya kaya lagi banyak pikiran, tau ga ada masalah apa?" jawab Mba Uli.
"Ga Mba.. Bhree coba telepon dulu deh, siapa tau ada perlu" ujar Bhree.
Baru aja Bhree mau menelpon Tama, tiba-tiba ada ucapan salam dari luar. Mba Uli yang membukakan pintu.
Tama datang dan duduk di teras depan. Mba Uli memanggil Bhree untuk menemui Tama.
"Ada apa ya Bang? malam-malam kesini" tanya Bhree sambil duduk.
"HP kenapa ga aktif?" kata Tama.
"Maaf Bang tadi ada keperluan keluarga, eh ga taunya lobet pula HP ini" jawab Bhree.
"Udah baca pesan kan?" ujar Tama.
"Udah Bang, besok ga bikin konten tapi kita mau ke Mall buat cari baju resmi, ada acara lamaran Kakaknya Bang Tama" papar Bhree mengingat isi pesan.
"Emang kita ikut ke Solo juga Bang?" Mba Uli ikut nimbrung.
"Tapi Bang.. ini kan acara keluarga, kaya artis aja semua dibikin konten, ga ada privasinya. Setau Bhree ... Bang Tama ga pernah expose keluarga" ucap Bhree.
"Ga dibuat kontenlah pas acara, Kakak udah wanti-wanti buat ga dikontenin. Kita hadir ya kaya keluarga aja. Nanti baru deh cari wisata murah meriah atau jajanan khas sana yang bisa kita angkat" papar Tama.
"Buru-buru ga sih persiapannya?" tanya Mba Uli.
"Masih ada waktu, kan kita berangkat Jum'at depan" kata Tama.
Mba Uli mendapat telepon dari kekasihnya, dia kembali masuk kedalam rumah.
"Bhree... kayanya lagi sedih ya? kurang ceria kaya biasanya" ucap Tama penasaran melihat wajah Bhree yang murung.
"Beda dimananya Bang .. biasa aja" jawab Bhree menutupi.
"Apa ada kabar yang kurang enak dari orang tua atau keluarga?" tanya Tama.
"Ga Bang.. biasa aja" sahut Bhree.
"Bhree... udah punya pacar belum?" kata Tama pelan.
"Ga ada dan ga kepikiran kayanya Bang.. lagi menikmati masa-masa kerja dan menggapai impian tanpa diribetin sama urusan percintaan" putus Bhree.
"Emangnya percintaan bikin ribet? dah pernah pacaran?" ucap Tama.
"Liat temen-temen sih Bang.. ya begini aja udah nyaman ngapain nyari sesuatu yang belum tentu buat kita senyaman ini kan. Belum kepikiran buat pacaran lebih tepatnya" ungkap Bhree.
"Jadi kesimpulannya cowo itu ga bikin nyaman ya? itu cowo apa kasur?" canda Tama sambil nyengir.
"Bhree ga buat kesimpulan kaya gitu loh Bang, intinya masih mau sendiri aja" sahut Bhree.
🌿
Bapaknya Lili, Lili dan Hari sedang bertiga di ruang rawat inap.
"Pak Hari.. saya sudah diskusi sama keluarga disini. Saya harap Bapak tidak tersinggung dan ga anggap kami aji mumpung ya" buka Bapaknya Lili.
"Ada apa ya Pak? kaya ada sesuatu yang penting. Santai aja.. kita kan keluarga, ga perlu sungkan begitu" jawab Hari.
"Kondisi saya sekarang ini kan sering sakit-sakitan, adiknya Lili juga masih kecil-kecil.. sepertinya sudah saatnya Lili saya percayakan ke orang lain. Agar ada yang bisa mengurus dan memperhatikan dia dengan baik. Dan orang yang paling tepat saat ini adalah Pak Hari" kata Bapaknya Lili.
"Pak.. selama ini kan Lili memang sudah kami anggap seperti anak sendiri, dia kami urus dengan baik. Jadi ga perlu khawatir. Tanpa Bapak minta juga sudah kami urus kok.. tanya aja ke Lilinya langsung" ucap Hari sok polos.
"Bukan begitu maksudnya Pak.. gimana ya... bingung mau mulai dari mana.. rasanya malu mau ngomong hal ini" kata Bapaknya Lili kebingungan.
"Langsung aja Pak.. mau ngomong apa? ga perlu ga enak atau gimana gitu sama saya" ucap Hari.
"Bagaimana kalo Bapak menikahi Lili, gapapa secara agama dulu, usia Lili memang belum tujuh belas tahun, jadi belum bisa ngurus surat resminya. Banyak disini seperti itu Pak, nanti kalo sudah cukup umur baru diurus suratnya. Bukannya saya ambil kesempatan ya Pak.. tapi biar saya tenang aja kalo Lili ada yang jaga" ungkap Bapaknya Lili.
Lili terlihat kaget. Hari juga pura-pura ikut kaget. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Maaf ya Pak.. saya tau Pak Hari sudah beristri, tapi kan secara agama boleh menikah lagi jika istri tidak bisa melayani suami. Saya juga ga nuntut segera resmi kok. Pelan-pelan sambil jelasin ke istri Pak Hari. Ini demi ketenangan hati keluarga dan masa depannya Lili" kata Bapaknya Lili ga enak hati.
Hari menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Gimana ya Pak.. ini kesannya saya mengkhianati istri ga sih? saya cinta banget dan menerima dia apa adanya loh. Sampai detik ini ga pernah kepikiran buat nikah lagi" ucap Hari dengan wajah penuh kesedihan.
"Maaf Pak Hari.. maaf kalo permintaan saya berlebihan dan sangat berat buat Bapak" pinta Bapaknya Lili.
"Saya pikir-pikir dulu ya Pak .. tapi saya mau tau dulu pendapatnya Lili? pernikahan itu kan dasarnya cinta. Sedangkan diantara kami ga ada cinta. Apa dia bisa terima situasi dan kondisi yang pastinya akan banyak berbohong dalam tanda kutip ya" tanya Hari.
Semua pandangan menuju kearah Lili yang sudah menahan tangisnya sedari tadi. Ada rasa kaget, takut, kecewa atas keputusan Bapaknya, marah dan ingin rasanya pergi dari sini. Tapi apa dayanya melawan Bapak sendiri.
"Ya Allah.. harus gimana ini? disatu sisi ga mau menikah muda, lagipula Pak Hari kan sudah punya Bu Melati. Tapi ga nikah nanti malah selalu bikin dosa.. kemarin-kemarin peluk cium .. eh sekarang nambah megang dada.. bisa aja kan maksa minta lebih dari itu. Apa ga sebaiknya nikah aja ya, biar ga nambah dosa. Kayanya Pak Hari juga baik dan romantis. Cinta bisa dipupuk .. tapi apa Bu Melati bisa terima? Bu Melati baik banget selama ini, masa tega banget mengkhianati orang yang sebaik beliau" kata Lili dalam hatinya.
Lili masih ada perang batin dalam hatinya.
"Li..." panggil Hari dengan lembut.
Lili kaget.
"Gimana Li? Bapak minta kita nikah secara agama dulu. Apa kamu bersedia? saya ga maksa loh Li.. tapi kalo dipikir-pikir.. permintaan Bapak kamu itu wajar adanya, mungkin kalo saya punya anak seperti kamu, akan melakukan hal yang sama" ucap Hari.
Lili memandang kearah Hari. Hari tersenyum penuh kemenangan.
"Terserah Bapak saja.. Lili ikut semua perkataan Bapak. Semoga pilihan Bapak adalah yang terbaik buat Lili" jawab Lili.
"Alhamdulillah... " kata Bapaknya Lili lega.
Hari mencoba tetap cool. Rasanya jantung mau copot mendengar "dipaksa menikah". Sudah lama Hari menginginkan tubuh Lili, tanpa memaksa dan effort yang besar, sebentar lagi Lili akan ada dalam dekapannya. Bagi Hari menikah secara agama hanya sekedar formalitas untuk menikmati tubuh yang masih ranum dan polos. Belum disentuh lelaki selain dirinya.
"Orang tua sekarang gampang banget ditipu.. hehehe.. asal kita sopan dan baik serta uang yang bicara... apapun bisa dengan sukarela diberikan. Rasanya udah ga sabar menikmatinya Lili yang baru beranjak dewasa. Masih lima belas tahun, tapi bisalah diajak tempur di kasur, malah bisa disuruh gaya macam-macam. Perlu beli obat kuat nih biar bisa semalaman on fire terus ... hahahaha" kata Hari dalam hatinya.