
Romonya Elsa sudah keluar dari Rumah Sakit kemarin, tapi masih memakai kursi roda karena kakinya terasa lemas. Kondisi kesehatan sudah ada perbaikan. Bisa berkomunikasi dengan baik dan terlihat segar.
"Sa.. sudah yakin sama pilihan kamu ini? kan kenalnya baru setahun terakhir saja. Sama dokter Barra kan kenal lama" kata Romo pelan.
"Romo.. ini pilihan terbaik buat Elsa. Sudah merasa sangat cocok dan sevisi misi" jawab Elsa.
"Jangan nyesel nantinya Dek.." ingat Kakaknya Elsa.
"Mas.. kan semua keluarga sudah sepakat untuk menerima lamaran ini. Kok sekarang malah jadi ragu? Sabtu ini loh acaranya" tuka gas Elsa heran.
"Bukan ragu.. tapi kita kan juga baru ketemu sama calon suami kamu itu sekali, pas di Rumah Sakit kemarin. Kamu juga ndak cerita banyak tentang dia. Beda saat kamu pernah cerita sekilas tentang dokter Barra. Kami ini baru sekali lihat, malah Romo belum ketemu karena masih di ICU. Tau-tau langsung bilang mau antar rombongan ke rumah. Sebagai orang yang masih memegang adat, pantang kita menolak lamaran, nanti bisa ga ketemu jodoh lagi" papar Ibunya Elsa.
"Kami ini selama setahun selalu ketemu Bu, berinteraksi.. kan kerja bareng, jadi sudah mengenal satu dengan lainnya. Pernah dikenalin juga ke keluarganya. Please jangan bahas lagi tentang Mas Barra, semua sudah denger kan kalo Mas Barra yang memutuskan hubungan ini karena mau fokus ke keluarga dan kuliah spesialisnya. Mau sampai kapan ga ada kepastian" ungkap Elsa.
"Romo sudah ga mau banyak pikiran, kalo menurut kamu lelaki ini baik, ya Romo ikut saja. Kalian semua sudah dewasa, jadi tau mana yang baik dan tidak. Sekarang Romo mau istirahat dulu di kamar" putus Romonya Elsa.
🌿
Sepulang dari rumah keluarganya Tama, Bhree ketemu sama Mas Wisnu di jalan. Akhirnya Mas Wisnu meminta Bhree ikut dia dulu, sudah dua mingguan mereka ga ketemu.
Wisnu mengajak Bhree ke warung soto dipinggir jalan. Mereka memesan makanan, kalo Bhree hanya memesan minuman karena sudah kenyang.
"Fenti katanya cemburu sama kamu Bhree" lapor Mas Wisnu
"Hah?" jawab Bhree kaget
"Dia liat kita masuk kontrakan berdua, yang Mas anterin kamu pindahan itu loh, padahal kan ada Uli ya didalam kontrakan, ada juga teman kerja kamu yang lelaki" jelas Mas Wisnu.
"Jadi Mas udah ketemu Mba Fenti? terus gimana Mas?" ujar Bhree.
"Ya ga gimana-gimana.. dia mau mengajukan permohonan perceraian" sahut Mas Wisnu pasrah.
"Yah Bhree jadi ga enak dong kalo begini" ucap Bhree.
"Udahlah ... santai aja. Mas udah coba jelasin semuanya, sekarang terserah dia. Mau percaya ya Alhamdulillah, ga percaya ya udah. Mungkin memang perlu mediasi dari orang yang lebih paham. Nanti kan di Pengadilan kami akan dimediasi dulu" putus Mas Wisnu.
"Tapi kan semua jadi gara-gara Bhree" lanjut Bhree.
"Ga juga.. itu alasan dia aja. Fenti banyak mengubah hidup Mas jadi lebih baik, dia yang membantu Mas menjadi fotografer hingga seperti sekarang ini. Memang salah Mas juga yang ga berterus terang tentang banyak hal, semua dipendam sendiri. Kehadiran kamu itu cuma alasan akhir aja Bhree. Banyak akumulasi permasalahan yang kami hadapi. Makanya Bhree.. nanti kalo kamu berumah tangga, jangan menyimpan sesuatu dari pasangan, diskusikan dulu, duduk bareng cari solusi" papar Mas Wisnu.
"Iya Mas" jawab Bhree singkat.
"Awal mulanya ini karena ada keluarga yang datang ke rumah minta Mas mengurus anak lelaki berusia sekitar lima tahunan. Keluarga itu bilang kalo Mas ini Bapak dari anak tersebut" cerita Mas Wisnu.
"Mba Fenti langsung marah?" ucap Bhree spontan.
"Wanita mana yang ga ngamuk kalo ada orang yang datang bawa anak dan bilang kalo anak itu anak suaminya. Mas udah ceritain semua, tapi Fenti terlanjur kecewa. Ditambah Mas sering nganterin wanita simpanannya Papa buat.. " curhat Mas Wisnu tapi dia menghentikan ucapan.
"Maaf Mas ... kayanya udah terlalu pribadi deh ceritanya.. Bhree ga enak kalo sampe tau hal kaya gini" ungkap Bhree.
"Ga taulah Bhree .. rasanya tenang aja bisa ngobrol sama kamu. Please Bhree.. Mas mau cerita biar berkurang sedikit beban didada... Mas dulu sering begadang ngerjain tugas kuliah atau sekedar nongkrong sama teman. Pada akhirnya terjerumus ke obat terlarang. Lama kelamaan pintu kemaksiatan mulai terbuka. Pergi ke club malam, mabuk sambil party, tidur dengan wanita .. ada yang bayar dan ada yang suka sama suka...ah pokoknya parah deh saat itu. Ada teman wanita yang tinggal bersama, hubungan terlarang itu berujung pada kehamilan. Papa ngamuk. Beliau ga mau Mas nikah sama sembarang perempuan. Papa datangi wanita itu dan meminta untuk menjauh dari Mas. Entah gimana caranya Papa, dia beneran hilang, ga pernah ketemu sampai sekarang. Hidup berantakan membuat sisi sadar justru timbul, Mas sempat tinggal disalah satu rumah guru ngaji, sekitar sebulan disana. Alhamdulillah disana insyaf, keluar dari sana, Mas ketemu sama Fenti. Karyawan salah satu Bank swasta, perkenalan kami berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Ya Fenti ketemu sama Mas saat kondisi Mas sudah lebih baik. Bersamanya karier Mas sebagai fotografer menanjak. Kami dikarunia anak yang lucu, makinlah melengkapi kebahagiaan rumah tangga kami. Fenti itu hidupnya lurus-lurus aja Bhree. Ga bergelombang seperti kita. Belum usai masalah anak itu, ada wanita silih berganti ke studio dan mengaku hamil anaknya Papa. Ditambah kehadiran kamu.. makinlah rasa cemburu Fenti ga terkontrol" ungkap Mas Wisnu.
"Tapi Mas sebagai laki-laki harus berusaha dong. Kapal belum karam kan Mas. Bhree hanya bisa bantu do'a. Tapi kalo Mba Fenti butuh penjelasan dari Bhree, kapanpun Bhree siap" ucap Bhree.
"Mas Wisnu....." sapa Fenti dari arah samping.
Fenti langsung memeluk Mas Wisnu, tangan Mas Wisnu pun langsung menyambutnya. Pemandangan yang mengharukan bagi Bhree.
Bhree langsung ijin pamit duluan, Mas Wisnu dan Mba Fenti masih melanjutkan pembicaraan.
💐
"dokter Raz.. sudah delapan puluh persen rencana kerja tim terpenuhi. Laporan bulanan secara kontinyu sudah dikirim ke pusat. Untuk wilayah Sumatera sudah ditambah stok obat disetiap Puskesmas, karena sudah banyak kesadaran dari masyarakat untuk memeriksakan diri jika batuk lama dan mau mengikuti program pengobatan selama enam bulan tanpa terputus" lapor wakil ketua tim.
"Alhamdulillah.. masih tersisa satu bulan lagi ya, next tinggal Pulau Jawa saja. Lumayan banyak yang dikunjunginya untuk Pulau Jawa" kata dokter Raz.
"Oh ya dok.. lusa kan kita akan meninggalkan Papua.. besok bisa diatur jadwal bertemu dokter Simon?" tanya wakil ketua tim.
"dokter Simon siapa ya? belum pernah dengar namanya" ujar dokter Raz.
"Putra daerah dok.. kelahiran Fakfak, kebetulan lagi ada di Timika, dekat sama kita. Dia mau menyampaikan proposal untuk dititipkan ke pusat nanti dokter Raz ngobrol langsung aja ya untuk lebih jelasnya" jelas wakil ketua tim.
"Ada hubungannya sama program kita ga?" tanya dokter Raz.
"Besok langsung tanya sama yang bersangkutan aja ya dok, saya khawatir salah menyampaikan" jawab wakil ketua tim.
🌿
Hari tertidur pulas, ngorok pula. Sedangkan Lili menangis di pojok ruangan, duduk dilantai sambil menyedekapkan kakinya.
Dari tadi sore hingga tengah malam, tak terhitung berapa kali Hari menggaulinya, hingga daerah kewanitaannya terasa sakit. Hari juga tidak membolehkannya sholat Maghrib karena masih ingin bercinta.
Badan Lili mulai terasa sakit, karena Hari meminta posisi yang bagi Lili kurang nyaman. Seharusnya sepantaran Hari ini lebih cocok jadi Bapaknya. Usia Bapaknya Lili saja sepantaran sama Hari. Lili yang baru pertama kali melakukan hal ini tentunya kaget, ditambah Hari yang nakal, jadinya Hari hanya menikmati seorang diri dan Lili menahan tangisnya.
"Ya Allah.. semoga pilihan untuk menikah ini adalah keputusan yang tepat. Bisa saja kan Pak Hari melakukan apapun saat kita berduaan aja di rumah. Seperti kemarin-kemarin, awalnya minta cium terus lanjut yang lain. Paling tidak kalo sudah menikah, pasti ga jadi dosa. Semoga pengorbanan ini membawa kebahagiaan untuk keluarga dan diriku sendiri. Ya Allah.. berkahilah rumah tangga yang baru kubina ini, tumbuhkan rasa sayang diantara kami. Semoga Bu Melati pelan-pelan bisa menerima kehadiran hamba" lirih Lili berkata.
Dengan sekuat tenaga, dia ngesot dari tempatnya duduk menuju kamar mandi, dia hendak mandi wajib dan mendirikan sholat.
.
Jam dua malam, Lili masih bersimpuh diatas sajadahnya, meminta ampunan pada Sang Pencipta.
HP nya Hari berbunyi, ada panggilan masuk dari Melati. Lili membangunkan Hari, memberitahukan jika HP nya berbunyi.
"Ada apa sih? orang lagi tidur diganggu" hardik Hari yang masih ngantuk.
"HP nya bunyi Pak.." jawab Lili pelan.
"Udah dibilang kalo lagi sama gw tuh panggilnya sayang.. paham ga?" oceh Hari.
"Iya .. ya sayang" ucap Lili pelan.
"Ini ngapain pake mukena segala? inget ya.. kalo lagi berduaan, ga boleh tertutup, harus seksi. Melayani suami juga ibadah.. makanya belajar agama yang bener" perintah Hari dengan kasar sambil mengambil HP nya.
"Ya sayang ada apa?" tanya Hari dengan mesra melalui sambungan telepon.
"Sayang.. teman ngajakin ke Pulau Seribu pagi ini, dadakan sih.. birthday party. Boleh ya?" lapor Melati.
"Berapa hari?" tanya Hari.
"Dua hari.. boleh ya sayang?" tanya Melati.
"Apa yang membuat kamu bahagia.. silahkan aja.. kalo gitu Abang pulangnya dua hari lagi ya, kayanya ga enak pas pulang ga disambut istri tercinta" rayu Hari.
"Iya.. lagian masa Abang cuma berdua aja sama Lili sepanjang hari selama dua hari, apa nanti tetangga ga banyak gosip tuh. Ya udah.. Abang tidur lagi aja, pasti cape banget kan jagain Bapaknya Lili sama ngurus kelurganya Lili yang ga bisa ini itu. Ya namanya orang kampung ya Bang .. takut kalo berurusan sama pihak Rumah Sakit. Abang jangan capek-capek. Oh ya Bang.. HP nya Lili ga aktif ya?" ujar Melati.
"Oh.. HP nya hilang, mungkin jatuh pas di Rumah Sakit" tipu Hari.
"Kasian amat Bang.. besok beliin aja yang sekitar satu setengah jutaan, biar gampang komunikasinya" pinta Melati.
"Lili itu udah kaya anak sendiri, jadi wajar kalo kita beliin ini itu" jelas Melati.
"Nanti aja kalo udah sampe Jakarta ya, disini ga ada toko HP gede" jawab Hari.
"Terserah sayangku aja deh.. love you Bang" kata Melati menyudahi pembicaraan.
Lili duduk di lantai bawah tempat tidur.
"Ngapain Lo malah duduk disana ... sini ... cepet" gertak Hari.
Lili bangkit dari duduknya, dilepaskan mukena yang dia pakai.
"Udah dibilang ga usah pake baju" ucap Hari kasar.
"Dingin Pak.." alasan Lili.
"Kan ada selimut, lagian daerah sini mana dingin sih, gw aja gerah .. mana adanya kipas angin doang. Hotel kok gini" ucap Hari.
Hari memang dari tadi menggerutu gerah, ya namanya hotel-hotelan, murah pula. Apa sih yang bisa diharapkan dari pembayaran sewa kamar enam puluh ribu semalam. Ada kasur yang empuk saja sudah bersyukur harusnya.
Lili duduk ditepi ranjang.
"Budek ya.. dibilang buka bajunya" omel Hari.
Lili yang ketakutan segera menjalankan perintah Hari.
"Pijitin ... gw cape" suruh Hari.
Lili memijat tubuh Hari, tapi melihat Lili dengan kondisi tanpa sehelai benang pun, kembali Hari memaksanya untuk melayani secara membabi buta.
"Sayang.. bisa pelan-pelan ga? sakit" bisik Lili.
"Mana bisa enak kalo pelan-pelan" ucap Hari kasar.
Lili diam tak berani bicara lagi.
💐
"Gimana anak kamu? mau ga masuk akademi kebidanan?" tembak Pak Daliman.
"Pah.. please ... biarlah dia bahagia dengan pilihannya" kata Dasuki.
"Anak sekarang susah diatur orang tua, dikasih pilihan hidup senang malah milih hidup melarat. Papa aja yang langsung ketemu sama anak kamu" pinta Pak Daliman.
"Dia ga tau tentang donor ginjal Pah.." ujar Dasuki.
"Keras kepala...." omel Pak Daliman.
"Pah.. kalo hasil tes ga bisa donor, apa Papa akan tetap biayain kuliah Bhree?" tanya Dasuki penasaran.
"Jadi bidan.. titik tidak ada koma" jawab Pak Daliman tegas.
🍄
"dokbar.. ada anak yang sesak di kamar anak 215.." panggil perawat.
Barra langsung berlari ke kamar yang dimaksud.
Sudah terpasang oksigen, kesadaran menurun. dokbar melakukan langkah penilaian pasien untuk mengambil tindakan yang tepat.
"dokter anaknya ada di poli... telepon minta kesini" perintah dokbar.
Perawat berlari kearah nurse station. Menghubungi pihak poli anak.
"Pindahin dulu pasien sebelah ke tempat lain. Ambil alat" lanjut dokbar kepada perawat.
"Apa saja dok?" tanya perawat.
Pasien anak tiga tahun seperti ini memang beda cara melakukan RJP (resusitasi jantung paru) nya.
"Bag-valve mask(untuk memberikan ventilasi yang efektif dan aman), defibrillator (alat yang dibutuhkan dalam memberikan bantuan hidup lanjut bila ada irama jantung), laringoskop, endotrakeal tube, supraglottic airway devices, laryngeal mask airway/LMA, cek tabung oksigen, suction" ucap dokbar dengan cepat.
Alat monitor detak dan irama jantung sudah terpasang sejak tadi pagi, jadi bisa langsung dilihat. Monitor saturasi dan EtCO2 (end-tidal carbon dioxide) sedang dipasang.
Posisi pasien yang akan dilakukan RJP sudah telentang, pada permukaan yang datar dan keras (bed tadi sudah diganti dengan bed seperti brankar yang ada di IGD). Pada anak usia ≤8 tahun dapat menggunakan teknik satu tangan.
dokbar memberikan dua kali bantuan nafas memakai oksigen yang dipompakan, lalu dilakukan lima belas kali kompresi dada.
dokter anak datang, langsung membantu dokbar.
"Lima belas dua dok (RJP diawali dengan memberikan bantuan nafas/initial breaths dilanjutkan kompresi dada. Rasio yang diberikan adalah 15x kompresi disertai 2x bantuan napas)" lapor dokbar.
dokter anak melanjutkan tindakan medis yang telah dilakukan oleh dokbar.
"Kejut listrik dua joule, epinefrin dua mili per lima menit" perintah dokter anak.
dokbar menyiapkan dibantu perawat.
"Berhenti dok... cukup dok... cukup.... " teriak Ibu pasien histeris.
dokbar menghampiri sang Ibu yang tengah menunggu suaminya datang.
Layar monitor flat.
Sang Ibu langsung memeluk dokbar dan menangis, tidak lama kemudian pingsan.
dokbar memberikan pertolongan pertama kepada Ibunya pasien. Sedangkan dokter anak menulis di medical record pasien. Dinyatakan plus (meninggal dunia) karena henti jantung. Anak ini masuk dengan diagnosa asma semalam, kondisi memburuk sejak pagi. Sudah disarankan masuk ICU, tapi kondisi ICU di Rumah Sakit ini penuh dan belum dapat Rumah Sakit rujukan.
.
Dua jam berlalu, dokter anak yang tadi menghampiri dokbar, beliau baru selesai memeriksa pasien poli rawat jalan.
"Good job.. siapa namanya?" tanya dokter anak.
"Barra dok.. " jawab dokbar.
"Barra.. yang mau lanjut ke ortopedi ya?" terka dokter anak.
"Iya dok.." jawab dokbar.
"Ikut pelatihan dari dokter Farraz dua bulan yang lalu ya?" terka dokter anak.
"Ya dok, enaknya disini kita bisa dapat upgrade ilmu dari spesialis setiap bulannya" jawab dokbar.
"Begini memang seharusnya, kalo dokter ruang rawat inap, gerakan cepat, mampu mengambil keputusan tindakan yang tepat disaat genting. Sebelumnya, kebanyakan dokter yang baru punya ijin praktek ditugaskan dirawat inap, jadi banyak nanyanya" ungkap dokter anak.
dokbar tidak berani menjawab, memang di profesi ini, kesenioran termasuk dihormati, baik dari usia maupun pengalamannya. Jadi jika ada kritik dari mereka dinilai wajar adanya.