
"Tam.. bukannya calon kakak ipar itu orang Solo? kenapa foto preweddingnya sama orang Malaysia?" ujar Mas Wisnu kaget begitu sampai venue, salah satu restoran di Malaysia.
"Inilah.. kalo udah niat nikah jangan ditunda-tunda ya kaya gini. Ngelamar cewe yang mana, eh jadinya sama yang mana" jawab Tama dengan santai.
"Kakaknya aselingkuh?" tanya Mas Wisnu yang memang sudah akrab sama Tama.
"Tertangkap khalwat" bisik Tama.
"Maksudnya gimana?" ucap Mas Wisnu ga paham.
"Di Malaysia itu memang ketat aturannya Mas, jadi kalo ada lawan jenis yang bukan mahram berduaan, bisa diciduk. Jadi mereka ini kan rekan kerja. Kakak saya anterin pulang nih cewe ke rumah sewanya. Pas sampe sana, listrik rumahnya mati, rumah yang lain nyala. Berinisiatif deh buat liat MCB listrik yang letaknya didekat dapur. Cewe ini mau ga mau nunjukin tempatnya dan nyalain senter di HP. Begitu lampu nyala... taraaaa... Pak Ustadz dan petugas sudah ada didepan pintu. Mereka dibawa ke Balai apa gitu namanya, ya intinya disuruh menikah. Udah sama-sama jelasin kondisi saat itu, tapi orang tua cewe ga bisa diajak damai. Nuntut anaknya segera dinikahin" cerita Tama.
"Gampang amat ya kalo mau nikah modelan begini disini" kata Mas Wisnu.
"Malu kali Mas.. Bisa dibilang nikah karena nutupin aib. Meskipun mereka berdua mengaku tidak melakukan hal negatif" lanjut Tama.
"Lah terus tunangannya di Solo udah tau?" tanya Mas Wisnu penasaran.
"Belum .. orang tua saya lagi nyari waktu yang tepat buat datang kesana. Biar disini ga rame, akhirnya orang tua datang ngelamar dan foto prewedding buat liatin bukti keseriusan, padahal udah bilang juga kalo Kakak saya itu tunangan orang. Minta waktu buat jelasin ke keluarga Mba Elsa" jawab Tama.
"Ada-ada aja ya cobaan orang mau nikah" ucap Mas Wisnu.
"Pusing banget ini Mas.. mana Bapaknya Mba Elsa minggu depan mau pasang ring di jantung, harus hati-hati ngejelasinnya. Bisa-bisa serangan jantung, kita yang disalahin" kata Tama sambil mengusap wajahnya.
🌿
Sabtu pagi, dokter Raz dan kedua anaknya sudah ada di rumah orangtuanya Hana. Anak-anak yang punya ide untuk ajak Hana dan Nabila hangout bareng.
Orangtuanya Hana mengijinkan tapi tidak boleh pulang diatas jam delapan malam. Rupanya mereka hanya akan menghabiskan waktu di Mall aja, diawali sekedar nongkrong disalah satu cafe, kemudian akan nonton film di bioskop, lanjut makan dan beli sepatu.
Haziq yang sudah mengatur semuanya, dia memesan tiket nonton yang jam sebelas siang. Sambil menunggu waktu, mereka ke toko buku dulu. Dokter Raz tau kalo Hana suka membaca. Beberapa kali ketemu pasti ada buku bacaan didekat Hana.
Bukan Haziq namanya kalo ga punya ide usil terhadap Ayahnya dan Hana. Jadi dia memesan tiket dengan komposisi bangku yang berjajar untuk anak-anak dan dokter Raz dipesankan yang hanya dua bangku disebelah kanan mereka.
Haziq dan Raifa langsung menarik Nabila untuk duduk sejajar dengan mereka. Hana hanya bisa pasrah, dia duduk paling pojok. Cemilan popcorn dan coke sudah dipesan, untuk dokter Raz dan Hana dipesankan butter stick dan Java tea.
Seusai nonton mereka menuju Musholla karena sudah jam satu siang. Selepas itu cari makan siang.
Karena hari ini khusus memanjakan anak-anak, jadinya dokter Raz mempersilahkan anak-anak untuk memilih makan dimana. Raifa punya usul untuk menikmati masakan melayu, teringat saat pernah tinggal di Malaysia. Kebetulan di Mall ini ada restoran melayu yang jadi favorit mereka.
Nabila dibimbing oleh Raifa dan Haziq untuk memilih menu. Hana yang belum pernah mencoba masakannya melayu lumayan bingung, dokter Raz tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Beliau merekomendasikan makanan yang sekiranya akan nyaman di mulut orang yang belum pernah makan masakan melayu.
"Hampir mirip sama masakan indo, berbumbu gitu" ucap dokter Raz.
Selepas makan, mereka menuju toko sepatu. Nabila diminta dokter Raz untuk memilih. Dokter Raz duduk sendiri di toko sepatu sambil melihat Hana dan anak-anak yang sedang sibuk memilih sepatu. Namanya anak muda, pasti beda selera dengan Hana, akhirnya Hana menyerah, kakinya terasa pegal harus bolak-balik melihat deretan sepatu. Dia duduk disampingnya dokter Raz.
"Pilih De.. buat kerja" pinta dokter Raz.
Hana hanya tersenyum.
"Mas ga pernah ngantar mereka beli sepatu, happy banget keliatannya.. makasih ya.. sejak kamu ada bersama mereka, ada senyum yang lama ga Mas liat" ucap dokter Raz sambil memandang anak-anak.
Hana diam tidak menjawab.
"Jangan terlalu keras sama Nabila De.. Tadi Mas liat dia tertarik sama salah satu sepatu" kata dokter Raz.
"Bukan keras Mas, tapi keadaan yang memaksa saya bersikap seperti itu" jawab Hana.
"Sebagai orang tua, jangan tunjukin kalo kita lagi susah. Kasian perkembangan psikologis anak-anak. Sehancur-hancurnya Mas dulu, anak-anak ga tau cerita yang sebenarnya saat itu. Sekarang mungkin sudah tau dari internet, tapi mereka sudah siap menerima kenyataan karena pemikirannya makin matang. Nabila itu tau kekerasan yang dilakukan Ayahnya, dia juga melihat Bundanya rapuh terus" saran dokter Raz.
Hana kembali terdiam. Tapi Hana memandang dokter Raz dari samping. Hidungnya mancung, rahangnya tampak menonjol menambah kesan macho serta mulai ada kerutan di wajah dan mata panda. dokter Raz langsung menoleh karena merasa diperhatikan. Dan pandangan mereka pun bertemu, buru-buru Hana memalingkan wajahnya kearah anak-anak.
"Ga perlu curi-curi pandang, Mas tau kok kalo masih ada sisa-sisa kegantengan waktu jaman muda dulu" goda dokter Raz.
Sambil menahan malu, Hana berusaha menenangkan jantungnya biar ga sampai ketahuan dia nervous.
.
Dokter Raz membelikan puding dan kue disalah satu bakery ternama di Mall. Kemudian mengantar Hana dan Nabila pulang.
.
"Ini kue enak banget ya .. lumer banget di mulut, ga seret kaya bolu yang suka ada pas pengajian" kata Bapaknya Hana.
"Ini merek terkenal Pak.. mahal ini" ucap Kakaknya Hana yang pernah kerja disalah satu Mall.
"Pudingnya juga enak, berasa susunya dan lembut. Ga kaya ager-ager buatan kita" sahut Ibunya Hana.
Hana tersenyum melihat keluarganya sangat menikmatinya buah tangan dari dokter Raz.
"Ya pasti enak.. Wong seloyangnya sekitar tiga ratus ribuan, coklatnya juga pake dari Belgia" kata Hana dalam hatinya.
Dokter Raz memang meminta Hana untuk tidak memberitahukan harga kue dan puding tersebut ke keluarganya.
.
Setelah merebahkan tubuhnya diatas kasur, dokter Raz menelepon Hana.
"Makasih ya atas jalan-jalannya, atas traktirannya dan oleh-olehnya. Keluarga suka banget sama bawaan dari Mas" ucap Hana dengan tulus.
"Alhamdulillah.. Ini bukan sogokan loh, anggap aja sebagai ganti oleh-oleh setiap Mas keluar kota kan ga pernah bawain" jawab dokter Raz.
"Saya tau Mas ga tunjuk kekayaan, terlihat tulus sayang sama saya dan Nabila. Rasanya luar biasa melihat Nabila bisa ketawa lepas. Mungkin dia rindu sosok seorang Ayah yang selama ini ga pernah hadir dalam hidupnya. Mas memang bukan Ayahnya, tapi Nabila sangat nyaman ada didekat Mas.. sekali lagi.. Thank you..." ungkap Hana.
"U'r almost welcome dear" jawab dokter Raz keceplosan sambil tersenyum lebar.
Hana jadi salah tingkah mendengar dokter Raz berkata semanis itu.
Malam itu bayangan hangout asyik menari-nari dalam benak Hana. Betapa dia melihat dokter Raz sebagai sosok idaman yang dido'akan selama ini. Bukan karena silau dengan harta, tapi kepribadian dokter Raz yang pekerja keras dan bertanggung jawab terhadap keluarga menjadi nilai plus.
Menikah dengan dokter Raz pasti akan mengubah keadaan ekonominya menjadi lebih baik. Rasa khawatir akan mengalami KDRT membuatnya masih takut untuk melangkah lagi. Hari saja yang dulu tampak baik mendadak jadi monster setelah menikah.
Penghasilan kerja di Klinik sampe banyak lembur pun hanya cukup buat sekolah dan kebutuhan sehari-hari, boro-boro bisa hangout atau ditabung. Dia juga sesekali menerima pesanan kue, meskipun keuntungannya sekadar bisa menikmati kue gratis. Kalo tetangganya sedang banyak orderan pasang payet dari salah satu toko di Tanah Abang, Hana ikut membantu, per baju dia dapat lima ribu rupiah untuk pasang full payet. Setelah lelah mencari nafkah, masih juga mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyetrika atau bebenah. Sekitar jam dua belas malam, Hana baru bisa merehatkan tubuhnya.
Dokter Raz malam ini tidur amat nyenyak. Efek bahagia bisa hangout dengan orang-orang tercinta.
🌿
Rejeki Barra lagi bagus, saat ulang tahun perusahaan farmasi yang memberikannya beasiswa, dia hadir sebagai undangan dan mendapatkan door prize motor matic berbody besar. Tidak perlu ditanya bagaimana bahagianya dia, karena pajak juga ditanggung oleh pemberi hadiah. Dia hanya tinggal tunggu STNK dan BPKBnya yang akan diurus dua minggu kedepan.
Sepulang dari perusahaan tersebut, Barra langsung ke Rumah Sakit untuk jaga malam.
"Loh.. jam delapan malam kok belum pulang?" tanya dokbar ketika melihat suster Arni ada di nurse station kamar rawat inap.
"Abis ngerujuk pasien bayi baru lahir" jawab suster Arni.
dokbar mengeluarkan minuman ion dari dalam tasnya kemudian diserahkan ke suster Arni (Barra dapat minuman lumayan banyak dari acara tadi siang).
"Thanks dok" jawab suster Arni sambil minum.
"Lemes banget Bestie?" ucap dokbar.
"Bayinya plus di jalan dok.. ditangan saya pula. Rasanya jadi ga karuan. Ibunya sekarang lagi persiapan minta pulang. Jenazah bayinya udah di rumah" kata suster Arni datar.
Perawat yang ada disana memperhatikan interaksi diantara dokbar dan suster Arni.
dokbar mengambilkan tissue dan diserahkan ke suster Arni.
"Hapus air matanya.. jelek tau kalo nangis" tukas dokbar.
"Baru kejadian pertama kaya gini dok.. shock banget" kata suster Arni.
"Resiko kerjaan.. Yang penting udah jalanin tugas kita sesuai prosedur yang seharusnya, hasilnya kita serahkan kepada Allah" jawab dokbar memberikan support.
"Ya" kata suster Arni memandang kearah dokbar.
Keduanya bertatapan. Keluarga pasien mendekati nurse station.
"Terima kasih suster Arni.. kita sudah ikhlas, jangan sedih terus ya" ucap Ibu sang bayi.
Suster Arni dan Ibu tersebut berpelukan.