
Sejak tinggal di rumah keluarga Ustadz Amirul, Bhree banyak merasakan perubahan. Bisa sholat tepat waktu, belajar mengaji lagi, bahkan mendengar ceramah secara langsung, hal yang bisa dibilang sudah amat langka untuknya. Disela jadwal kunjungan bersama Bidan Kokom, Bhree juga ikut membantu Ummi masak di dapur jika tidak ikut praktek di tempat Bidan Kokom. Meskipun tugasnya baru sekedar mengupas bumbu dan memotong sayuran. Bhree sekedar bisa masak standar saja, karena dulu Ibunya tidak punya waktu untuk mengajarinya memasak. Disinilah dia banyak belajar masak, karena dapur rumah Ustadz Amirul bisa dikatakan selalu berasap karena setiap tamu yang datang selalu dijamu oleh keluarga Ustadz Amirul.
Kasih sayang dari istrinya Ustadz Amirul dan Ummi, makin menambah rasa syukur dalam hatinya Bhree. Mereka menjadi sosok Kakak dan Ibu baru untuk Bhree yang haus akan bimbingan keluarga.
Ustadz Amirul sendiri akhirnya tidak jadi menikah lagi, beliau yang tidak melanjutkan ta'aruf yang diatur oleh istrinya, beliau merasa tidak sanggup membagi hati. Istrinya Ustadz Amirul pun sudah berobat ke dokter yang direkomendasikan oleh Barra. Meskipun belum bisa terlalu banyak berjalan, tapi kakinya sudah tidak panjang sebelah setelah dilakukan operasi koreksi.
Bhree mendapatkan pesan dari Klinik kecantikan Aura yang menanyakan kenapa Bhree tidak datang selama sebulan terakhir. Bhree menjelaskan bahwa dia sedang ada kerja praktek. Pihak Klinik kecantikan Aura meminta Bhree datang ke cabang mereka yang terdekat dari tempat tinggal Bhree yang sekarang.
"Aneh banget kadang deh. Apa untungnya coba ngasih gratis perawatan dan skincarenya? Luna aja ga dapat treatment kaya gini. Sampe ditanyain kalo ga datang kesana. Sebenarnya ini keberuntungan bukan sih? Khawatir juga lama-lama ada udang dibalik batu. So far.. muka udah lumayan glowing sih, ga kusam kaya dulu lagi. Ga ada jerawat dan tirusan dikit nih pipinya. Mana kulit seluruh tubuh juga lebih kenyal dan putihan dikit, ga coklat kaya kemarin .. Hahaha. Beneran ini bikin jadi cantik" kata Bhree ngomong sendiri.
🌿
Tama secara ga sengaja ketemu sama Elsa disebuah tempat makan kaki lima. Sekarang jam tujuh malam dan Tama sedang membuat konten makan setelah jam kerja. Ada masukan dari pengikutnya untuk membuat konten yang ditujukan untuk para karyawan yang mau berwisata kuliner yang murah meriah dan dinikmati diatas jam lima sore.
"Mba di Jakarta sekarang?" buka Tama.
"Ya .. Ga lama dari kejadian itu, Mba kerja di Jakarta sekarang" jelas Elsa.
"Sendiri?" tanya Tama lagi.
"Ya.. Jum'at malam kaya gini kan iseng ya kalo langsung pulang ke kost, jadi cari-cari hiburan aja daripada bengong di kost" jawab Elsa.
"Mba mau makan bareng? saya mau makan nasi goreng gila Bang Gondrong" tawar Tama.
"Kebetulan dong, Mba juga baru dapat rekomendasi dari teman kalo nasgor gilanya enak" kata Elsa.
"Tapi saya sambil bikin konten, terserah Mba aja, mau masuk atau ngga ke konten saya" ujar Tama.
"Ga usahlah .. Mba bareng kru kamu aja makannya" ucap Elsa.
Kuliner malam disudut-sudut kota menjadi tujuan bercengkerama sembari dugem alias duduk gembira. Kali ini di Taman Suropati (Tamsur) didekat Jalan Imam Bonjol, Jakarta. Rasanya tepat untuk menggila bersama teman disini sambil menikmati seporsi nasi goreng gila dengan berbagai tingkat kepedasan.
Dedaunan hijau, pelataran asri dan ramainya pengunjung memberikan kesan tersendiri. Deretan mobil dipinggir jalan memang sedikit menutupi gerobak, memang tak hanya kelas menengah kebawah yang doyan menggila bersama nasi gila di Tamsur, tapi mobil-mobil mewah pun tampak terparkir disana.
Elsa duduk disampingnya Diva, mereka berbincang ringan saja. Kali ini Tama hanya membawa Diva dan Bima, yang lain ga ikut karena ada kesibukan lain.
Tama memesan terlebih dahulu sambil mencari tempat agar pengambilan video bisa bagus.
"Saya suka nih (nasi goreng gila) rasanya pas. Gorengnya pakai mentega, jadi asinnya beda dan lebih harum, ditambah suasana tamannya cukup rame dan yang lebih penting harganya nyaman di kantong, seporsinya cuma empat belas ribu, nanti dicantumin alamatnya dideskripsi" kata Tama menjelaskan dalam kontennya.
Seporsi nasi goreng gila berisi nasi goreng dengan limpahan topping yang banyak. Biasanya terdiri orak-arik telur, sosis, ayam dan sayuran. Ada juga tersedia nasi gila, nasi putih dengan topping yang sama seperti nasi goreng gila. Proses pembuatan topping terpisah dari nasinya. Jadi diletakkan diatas nasi.
Setelah makan, Tama berbincang dengan pemilik usaha untuk mengetahui informasi tambahan.
"Mas Gondrong sendiri sudah berjualan sejak kapan?" tanya Tama.
"Kalo di Tamsur sejak 1998, sebelumnya pindah-pindah" jawab Mas Gondrong.
"Setiap hari habis berapa kilo beras Mas?" tanya Tama lagi.
"Kalo hari biasa antara sepuluh sampe lima belas kilo, weekend bisa sekitar dua puluh sampe dua puluh lima kiloan" ucap Mas Gondrong.
"Dulu awal mula jualan nasi goreng gila ini gimana Mas ceritanya?" ujar Tama.
"Nasi gila itu awalnya dari Taman Lembang. Dulu, pedagang disana coba-coba pakai nasi putih dikasih campuran sosis, telur, ayam yang digoreng pakai bumbu nasi goreng. Habis itu nyebar kemana-mana. Nah pas banget orang tua punya usaha nasi goreng, saya bikin versi nasi goreng gila, eh malah laku Mas" sahut Mas Gondrong.
"Kalo boleh tau nih Mas, bumbunya apa aja ya?" kata Tama.
"Sama aja Mas, ada kemiri, bawang putih, bawang merah, penyedap rasa, kecap asin dan kecap manis. Mungkin karena kita tambahkan mentega jadi gurihnya nambah" jelas Mas Gondrong.
.
"Oh kamu asistennya Tama, kirain pacarnya. Soalnya dulu setau saya bukan kamu deh" kata Elsa.
"Ya Mba, saya belum ada setahun kerja sama Bang Tama" jawab Diva.
"Sebelumnya kerja dimana?" tanya Elsa.
"Jadi artis Mba, saya kan pernah ikut ajang pencarian bakat. Sampe final loh" pamer Diva.
"Oh ya.. Kok saya kayanya ga kenal ya? Sorry ya.. Mungkin saya ga ikutin acara ajang pencarian bakat kali ya" jawab Elsa buru-buru.
"Udah masa lalu Mba, saya terjebak di palung depresi" kata Diva dengan santai.
"Barang terlarang Mba.. yang akhirnya membuat masa depan jadi sangat gelap. Kontrak diputus dan masuk rehabilitasi. Untunglah Bang Tama mau terima orang seperti saya" ucap Diva.
"Kebodohan pada akhirnya kita sesali ya... Rasanya kebahagiaan menjadi sesuatu yang mustahil buat kita saat ini. Terus diselimuti oleh ketakutan, perasaan bersalah, amarah, kebencian dan kesedihan. Satu-satunya kekuatan yang bisa kita andalkan adalah harapan. Jika kita masih percaya bahwa ada harapan baik didepan, semuanya akan membaik, kita akan kuat menghadapi episode saat ini. Sudah banyak orang yang bisa melalui masa lalu yang suram" ungkap Elsa.
"Mba lagi curhat atau gimana nih? Atau Mba pernah tersandung kasus yang sama?" sahut Diva.
"Ga.. saya ga punya kasus yang sama kaya kamu, hanya pernah memutuskan hal yang bodoh aja dalam hidup" kata Elsa.
"Dulu waktu masih rehab, ada seorang dokter muda ngomong begini... Ingat hidup cuma sekali, jangan sampai ada penyesalan. Kesempatan tidak selamanya datang dua kali, bahkan ada yang datang cuma sekali dan ga pernah datang lagi. Makanya kita harus bisa manfaatkan kesempatan yang datang dengan sebaik-baiknya. Yakinkan dalam hati kalau kita bisa. Akhirnya saya bisa sampai sekarang ini ya karena motivasi itu Mba" papar Diva.
Elsa tetiba teringat perkataan yang sering Barra ucapkan ketika memberikan semangat. Persis seperti apa yang Diva katakan tadi.
"Ya Allah.. mirip banget ucapannya sama Mas Barra. Dia memang lelaki baik, semoga ada wanita baik yang bisa menjadi pendampingnya dan bisa menerima dia apa adanya" harap Elsa dalam hatinya.
🌿
Selasa pagi, Barra langsung meluncur ke rumah Ustadz Amirul, sepulang dinas malam, dia akan menyerahkan titipan dari Pak Dasuki ke Bhree.
Bhree memang menolak untuk memberikan nomer teleponnya ke Barra saat istrinya Ustadz Amirul minta. Jadi melalui beliau, Barra membuat janji ketemuan sama Bhree.
Barra akan menemui Bhree di rumah Bidan Kokom. Karena Bhree jaga shift di tempat Bidan Kokom.
Sesampainya ditujuan, Barra minta ijin sama Bidan Kokom untuk berbincang sama Bhree di teras depan rumah. Bidan Kokom sudah diberitahu oleh Bhree maksud kedatangan Barra menemuinya.
"Kita kan belum kenalan secara formal ya, nama saya Barra, kamu mau dipanggil Bhree atau ada nama lain?" kata Barra.
"Panggil Bhree aja gapapa dok" jawab Bhree.
Barra membuka tas ranselnya dan menyerahkan map plastik ke Bhree. Bhree menerimanya.
"Maaf kalo saya sudah dengan lancangnya buka amplop itu. Saat itu kayanya mustahil bisa ketemu, jadi memutuskan untuk melihat isinya. Siapa tau kita ketemu tiba-tiba jadi gampang ngenalinnya. Buktinya saya bisa ngenalin kamu pas pertama ketemu. Memang ada perbedaan antara real dan fotonya" ungkap Barra.
"Gapapa dok" jawab Bhree.
"Tunai sudah janji saya ke Almarhum, kalo kamu ke makamnya, sampaikan bahwa saya sudah menepati janji buat nyerahin ini ke kamu" kata Barra.
"Sudah lama saya ga ke makam orang tua, sekitar tiga tahunan dok" ujar Bhree jujur.
Ada pasien datang dalam kondisi hamil besar dan pendarahan.
Bhree dan Barra spontan menghampiri. Bidan Kokom langsung keluar rumah karena suaminya pasien teriak-teriak minta tolong. Keluarga pasien memberikan buku kesehatan Ibu ke Bidan Kokom (pasien ini tidak pernah datang ke Bidan Kokom sebelumnya, rumahnya pun jauh dari sini).
"Sebelumnya Bapak sudah datang ke Bidan yang biasa tempat kontrol?" tanya Bidan Kokom.
"Udah dok, ga mau bantu katanya harus di sesar. Makanya kesini buat minta bantuan Bu Bidan" jawab suami pasien.
"Baiknya memang dibawa ke Rumah Sakit Pak, plasenta previa dan sudah pendarahan" saran Bidan Kokom.
"Heran deh sama Bidan sekarang, males banget nungguin pasien bisa lahiran normal. Maunya cepet aja" omel suami pasien.
"Saya dokter.. memang bukan dokter kandungan, tapi setidaknya saya tau mengenai hal ini. Saya bisa jelaskan sambil jalan ke Rumah Sakit" potong dokbar.
Karena mobil yang membawa pasien tiba-tiba mogok, akhirnya pakai mobil Bidan Kokom, dokbar yang menyetir. Bhree dan Bidan Kokom menemani Ibu hamil di kursi belakang, suami pasien disebelahnya dokbar.
Suasana memang agak menegangkan, hingga map milik Bhree tercecer. dokbar sigap memasukkan kembali ke ranselnya agar tidak hilang. Nantinya akan diserahkan ke Bhree lagi.
.
"Saya sudah ketiga Bidan dan semua nolak" adu suami pasien.
"Plasenta previa atau lebih mudahnya kita bisa bilang kondisi dimana jalan lahir tertutupi sebagian atau seluruhnya oleh plasenta (ari-ari). Kondisi ini memang sangat berisiko jika dipaksakan lahir normal, plasenta yang menghalangi jalan lahir bisa membuat turunnya janin ke panggul menjadi terhambat, bahkan bisa memicu perdarahan yang mengancam nyawa ibu maupun janinnya. Seperti sekarang ini sudah mulai pendarahan" jelas dokbar singkat.
"Emang ga bisa normal dok?" tanya suami pasien.
"Pada beberapa kasus, plasenta previa masih mungkin bisa berubah seiring bertambahnya usia kandungan. Jika plasenta sang ibu bergeser terus tidak menghalangi jalan lahir saat waktunya bersalin, mungkin persalinan masih bisa diupayakan berjalan secara normal. Tapi kalo plasenta masih tetap bertahan diposisinya hingga waktu bersalin, maka demi kebaikan ibu dan janinnya, akan lebih mengarahkan agar dilakukan persalinan secara sesar" lanjut dokbar.
"Jadi bukan akal-akalan Bidannya yang males nungguin orang melahirkan yang ga bisa diprediksi waktunya?" kata suami pasien.
"Pak.. Kami para medis, sudah disumpah untuk menjalankan kewajiban kami sesuai aturan yang ada. Jika Bidan menyarankan untuk ke Rumah Sakit itu bukan karena malas, tapi pasien perlu penanganan lebih lanjut dengan alat yang lebih lengkap dan pendampingan seorang dokter spesialis tentunya. Tidak perlu ngotot harus lahir normal Pak, dokter menyarankan melahirkan secara sesar juga karena ada alasan medisnya" tukas dokbar.
"Nah ini dok.. Kalo dijelaskan kaya gini kita kan jadi bisa terima. Ga langsung bilang rujuk aja ke Rumah Sakit dengan alasan ga bisa ditangani di Bidan" sahut suami pasien.