HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 48, Kedua kalinya



dokbar sibuk dengan PPDS nya seminggu ini, ada ujian jadi banyak yang harus dikerjakan. Keluarga Elsa mencari dokbar di Rumah Sakit tapi ga ketemu karena dokbar memang cuti selama dua pekan. Hingga Romo kondisinya sudah stabil untuk dibawa balik ke Solo, dokbar tidak kunjung bertemu dengan Romo dan keluarga Elsa.


Sudah duduk bersama keluarga Elsa dan keluarga Bagas. Menjelaskan semua yang terjadi dengan sejujur-jujurnya. Bagas menerima semua hinaan dari Elsa, dia sadar ini adalah kesalahannya.


Romo juga sudah lebih legowo menerima semua suratan takdir ini. Beliau merasa sudah diberikan kesempatan untuk hidup lebih panjang lagi, jadi tidak mau dibawa stress yang malah akan membuatnya jadi sakit lagi.


"Sekali lagi.. Kami mohon maaf, harusnya Kami menjelaskan sebelum pernikahan Bagas. Tapi Kami merasa waktunya tidak tepat. Hingga keluarga Elsa tau pernikahan Bagas dari media sosial" kata Bapaknya Bagas.


"Anggap sudah tidak berjodoh Pak. Nak Bagas.. Selamat menempuh hidup baru, minta do'anya semoga Elsa bisa melanjutkan hidup yang lebih baik lagi. Kita kekeluargaan saja. Mau dikata apalagi, memang cukup sampai disini jodoh Elsa dengan Nak Bagas" jawab Romo pelan-pelan.


"Sa.. Saya minta maaf, ga seharusnya seperti ini. Andai saya setuju sama usulan Romo untuk menikah dulu sebelum berangkat, mungkin ga seperti ini kejadiannya" lanjut Bagas.


Elsa diam. Kebenciannya sudah dilevel maksimal terhadap Bagas. Memandangnya pun sudah ga sudi.


"Sudah Gas.. Sekarang kamu sungguh-sungguh bangun rumah tangga sama istri. Yang berlalu jangan diungkit lagi" nasehat Bapaknya Bagas.


.


Ibunya Tama sudah pulang dari Rumah Sakit. Tapi pembahasan tentang Elsa masih terdengar di rumah ini. Mereka membahas saat istrinya Bagas tidak ada, untuk menghormatinya agar tidak timbul kecemburuan.


Tama yang sekarang jadi pusing karena permintaan orang tuanya untuk melanjutkan pernikahan dengan Elsa. Orang tuanya Tama benar-benar merasa tak enak hati terhadap orang tuanya Elsa. Kemarahan Tama ga bisa terbendung, sudah protes dengan tidak pulang ke rumah selama seminggu, tapi Bapaknya selalu menyusul ke kantor. Konten jadi berantakan, dia hanya buat konten Q&A dan dikerjakan di studio yang ada didalam kantor.


.


Ibunya Tama masuk kedalam kamarnya Tama yang tengah duduk didepan laptop.


"Ibu mau maksa kaya yang lain?" buka Tama.


"Yang terbaik akan datang dari keikhlasan dan ketulusan hati. Pikirkan dengan matang mana yang terbaik dan bisa membuat bahagia. Pilihan itu mungkin akan menyakitkan bagi salah satu pihak, namun dampaknya akan lebih buruk jika dilanjutkan" Ibunya Tama memberi pendapat.


"Ibu ada di kubu yang mana? Mendukung atau malah menolak usulan Bapak?" tanya Tama penasaran.


"Ibu mau anak-anak bahagia. Rasa malu ini ga sebanding dengan mengorbankan masa depan kamu Tam.. Kamu berhak bahagia. Kamu ga layak menanggung kesalahan Mas Bagas. Nanti Ibu ngomong ke Bapak biar ga maksa kamu lagi" ujar Ibunya Tama.


"Makasih ya Bu .. sudah paham bagaimana perasaan Tama" kata Tama.


"Rasa cinta adalah fitrah manusia. Cinta itu kadang kita artikan sebagai rasa ketertarikan antara dua lawan jenis dan cinta pulalah yang biasanya mendasari suatu hubungan dalam hal ini adalah pernikahan. Kamu pasti paham kan kalo kita harus mencintai seseorang karena Allah dan bukan karena nafsu semata. Akan ada waktunya kamu akan memutuskan untuk menikah" lanjut Ibunya Tama.


"Teorinya begitu Bu.. Tapi kenyataannya susah" jawab Tama.


"Masih suka sama Bhree?" tanya Ibunya Tama.


Tama kaget mendengar pertanyaan Ibu. Selama ini dia tidak pernah membuka cerita apapun ke orang tuanya terhadap perasaannya ke Bhree.


"Ibu tau?" Tama balik bertanya.


Ibunya Tama mengangguk.


"Udah setahun Bhree menghilang Bu" kata Tama sedih.


🌿


Rupanya Romo masih merajut asa bisa menikahkan Elsa dengan Barra. Kakaknya Elsa yang diutus ke Jakarta untuk bertemu dengan Barra dan menyampaikan keinginannya Romo.


Barra janjian bertemu disela-sela kesibukannya. Dia tidak kaget dengan permintaan Romo. Tapi banyak hal yang harus dibicarakan terlebih dahulu antara kedua belah pihak. Orang tua Barra sudah menyerahkan keputusan ini ke Barra. Mereka menganggap Barra sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupnya.


Barra juga meminta pertimbangan dari Walid dan Ustadz Amirul mengenai hal ini. Pada intinya semua hanya bisa memberikan gambaran, mengenai keputusan tetap ada di tangannya Barra.


Setelah Barra sudah menemukan jawaban, dia pamit kepada orang tua untuk berangkat ke Solo. Menemui keluarga Elsa, rasanya tidak sopan jika menjawab hanya lewat sambungan telepon.


.


"Baiklah semua... terima kasih sudah memberikan waktu berpikir tanpa batas waktu. Maaf baru datang sebulan setelah bertemu dengan Mas Banu di Jakarta. Kedatangan saya kali ini, untuk menjawab permintaan Romo yang ingin saya menikah dengan Elsa. Merajut kembali tali kasih kami yang terputus. Semua pihak sudah saya ajak bicara tentang hal ini, termasuk memohon petunjuk Allah SWT. Romo ... Saya bersedia menikah dengan Elsa, bukan sekedar memenuhi keinginan Romo, tapi memang hati saya yang memilih seperti ini" kata Barra tegas.


"Alhamdulillah..." Ibunya Elsa yang duduk disebelahnya Barra langsung memeluk Barra.


Wajah Elsa tidak tampak bahagia.


"Tapi saya minta waktu mencari jadwal kosong untuk menikah, mengurus dulu surat-surat yang akan diperlukan. Kita akad nikah dulu saja, yang penting sahnya" pinta Barra.


Elsa berdiri dan berjalan mendekati Barra.


"Mas Barra ga perlu mengorbankan diri, saya sudah ikhlas atas semua yang terjadi" kata Elsa tegas.


"Mas juga ikhlas Ca... ga ada tekanan dari siapapun" jawab Barra.


"Ga bisa Mas, kondisi kita sudah berbeda" ucap Elsa.


"Baiknya kalian berbincang dulu berdua di taman belakang. Bicara dengan kepala dingin dan secara dewasa" potong Romo.


Akhirnya Barra dan Elsa menuju taman belakang, keduanya duduk berhadapan.


"Ga ada sisa kenangan kita Ca? Udah mati rasa sama Mas?" buka Barra.


"Mungkin karena selama ini kita LDR ya, jadi ga terasa kehilangan. Lagipula bukannya saya udah berkhianat terhadap Mas Barra? Rasanya malu Mas menjilat ludah sendiri. Saya sudah memilih Mas Bagas daripada Mas Barra. Mas paham kan apa maksudnya?" ujar Elsa.


"Maaf Mas.. udah ga bisa" jawab Elsa.


"Karena kondisi keuangan Mas dan keluarga kan Ca? Kamu khawatir ga bisa mendapatkan apa yang selama ini kamu dapatkan" papar Barra.


"Kenapa Mas harus datang kesini untuk melamar? Mau jadi pahlawan dengan menutup pernikahan Mas Bagas dari semua orang?" Elsa mengalihkan pembicaraan.


"Ya Allah Ca... Setega itu kamu menilai Mas? Ga ada niat kaya gitu" seru Barra agak kesal.


"Kalo nikah sama Mas pasti banyak yang harus kita bahas kan? Masalah tinggal, penghasilan dan lain sebagainya" ujar Elsa.


"Masih berkutat disana juga Ca? itu ada solusinya.. Kita bisa ngontrak dulu" jawab Barra.


"Ngontrak? Mas ga liat rumah Romo kaya begini?" ujar Elsa.


"Mas akan cari uang lebih Ca.. percayalah biar hal itu Mas yang pikirkan gimana caranya" janji Barra.


"Mas ga malu ya.. udah pernah ditolak, terus sekarang mau ambil kesempatan atas musibah yang menimpa saya?" kata Elsa makin menjadi.


"Coba kamu pertimbangkan kesehatan Romo Ca" akhirnya Barra pasrah.


"Kalo bukan permintaan Romo, Mas Barra ga akan datang kan?" tanya Elsa lagi.


"Mas masih menyimpan kamu disini Ca" kata Barra menunjuk jantungnya.


"Satu lagi... jangan panggil Ceca ... nama saya Elsa..." ucap Elsa sambil meninggalkan Barra.


Barra menarik napas panjang dan mengusap mukanya. Setelah agak tenang, dia duduk kembali disamping ibunya Elsa.


"Maafkan saya... Kayanya ga bisa meyakinkan Elsa untuk kembali bersama" buka Barra.


Ibunya Elsa kembali memeluknya. Tangisnya pecah dalam dekapan Barra.


"Terimakasih ya Nak Barra... sudah membahagiakan kami walaupun sebentar. Memang Elsa yang keras hati, susah menerima masukan orang lain" kata Ibunya Elsa.


.


Sebelum meninggalkan Solo, dokbar makan di angkringan.


Saat akan duduk, bertabrakan dengan Luna yang juga akan duduk di bangku tersebut. Bhree sedang memarkir motornya Luna.


"Maaf Mas.. maaf..." pinta Luna.


"Gapapa... Silahkan Mba yang duduk saja, saya cari bangku yang lain" jawab Barra.


"Makasih Mas.. " ucap Luna.


Bhree datang dan duduk disebelahnya Luna, selisih lima bangku dari Barra. Masing-masing menikmati makanan yang dipesan. Meskipun ramai suara lalu lintas dan obrolan orang-orang, Barra tidak memperhatikan lingkungan sekitar.


"Lun.. abis ujian balik Jakarta?" tanya Bhree.


"Yoi.. Lumayan dua mingguan pulang kampung, kangen aja sama keluarga. Lo gapapa disini? atau mau ikut gw ke rumah?" tanya Luna.


"Gw disini aja" jawab Bhree.


Kembali mereka makan dan menghabiskan hidangan yang tersaji di piring.


"Eh ya... Lupa, tadi ada cowo keren banget. Tuh yang duduk dipojok, yang pake kaos coklat..liat deh" bisik Luna.


Bhree langsung melihat kearah orang yang dimaksud. Tapi Barra sudah bangkit dari duduknya. Yang terlihat hanya bagian punggung. Barra keluar dari warung tenda.


"Yah.. Lama sih Lo ngeliatnya.." ucap Luna.


"Mau ganteng atau ngga, kita kan ga kenal. Siapa tau dia laki orang. Ga usah lenje jadi cewe" saran Bhree.


"Come on Bhree.. Lo ga santuy banget deh kalo sama makhluk yang namanya lelaki" protes Luna.



Mobilnya Wulan terbakar bersama Wulan didalamnya. Jadi dia sedang ada tugas kantor kearah Cibinong, dia menyetir sendiri seperti biasa. Tadinya minta Hari menemani, tapi Hari ga bisa karena menemani Melati kondangan.


Begitu mendengar hal itu, Hari mengucap syukur dalam hatinya, paling tidak dia masih dikasih umur panjang.


Rumah Wulan juga langsung didatangi oleh Polisi, Pak RW dan Pak RT ikut menemani. Polisi memeriksa tiap sudut rumah, mencari apakah ada petunjuk mobil ini disabotase atau murni kecelakaan.


Suaminya Wulan yang ada diluar negeri juga sudah dihubungi. Beliau meminta ke Pak RW dan Pak RT untuk menjual aset milik Wulan dan disumbangkan untuk masyarakat sekitar. Suaminya Wulan tidak akan datang ke Indonesia.


Rekan kantor juga sudah mendatangi rumah Wulan, tapi hanya diterima oleh Pak RT dan Ibu-ibu sekitar. Tidak ada saudara sama sekali. Rencananya akan dimakamkan oleh pihak Rumah Sakit mengingat tidak ada yang mengurus jika disemayamkan terlebih dahulu.


Jenazah Wulan memang sulit dikenali karena mobil terbakar total. Hanya tersisa kepala dan tulang-tulang, daging sudah banyak terbakar. Kecelakaan tersebut terjadi di daerah yang lumayan sepi, jadi pertolongan lama dilakukan.


"Udah dua kali kejadian nih .. Kenapa cewe yang deket sama gw nasibnya tragis. Lili kecelakaan ditabrak, sekarang Wulan kecelakaan terbakar. Apa gw bawa sial? Ah tapi bini gw sehat-sehat aja" ujar Hari dalam hatinya.